Setip and his parenting tips

Tadi malam saya dan kawan-kawan SMA nongkrong kangen-kangenan. Dari pembicaraan serius (gosip artis kepergok ngelobi di kamar, eh ngamar di lobi?) kita membahas bagaimana penanganan anak. Mulai dari dilarang merokok di rumah hingga “Papi gak tau aja sih!”

Saya rasa memang menjadi orang tua hari ini itu “dua arah” dan penuh peluk cium. Saya ingat dulu itu tidak setiap hari saya dipeluk-cium ortu. Hari ini, kalau saya tak peluk cium anak saya tiap hari, ada yang hilang. Tertawa dan marah itu selang-seling. Kata Setip, kawan saya yang suka gosip artis itu, marah juga jangan pakai kekerasan. Dia bilang kalau mau marah, minumlah segelas air putih. Katanya, “Untuk mendinginkan diri.” Tapi terus ia lanjutkan, “Sebenarnya tidak dingin, cuma kita punya waktu untuk merenung apakah perlu kita marah. Ada sepersekian detik kita menenangkan diri.”

Bravo Setip! Buat emak-emak macam saya yang jumpalitan juggling urusan kompor, mesin cuci dan keyboard menari-nari meminta giliran, anak bertengkar urusan remote control itu sesuatu dehhhh… *minum air dingin dulu*

Iklan

Diproteksi: Defriended you

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Eight Intelligences

Eight ‘intelligences’ defined are:

1) Linguistic. Linguistic learners have good auditory skills, a good memory for names, dates and places and enjoy reading and writing. They like telling stories and learn well by saying and hearing words.

2) Logical-mathematical. Logical-mathematical learners enjoy exploring patterns and relationships, classifying data and using abstract thought. They enjoy working with numbers, solving problems through experimentation and participating in well-ordered tasks.

3) Musical. Musical learners are skilled at pitch and rhythm and are more attuned to the sounds around them including the human voice. They enjoy music, often listen to it as they study, and are more likely to learn through music-based activities.

4) Spatial. Spatial learners enjoy creative and design projects. They are able to clearly visualize mental images such as maps and charts and often learn best through using pictures and videos.

5) Bodily-kinesthetic. Bodily-Kinesthetic learners are good with their hands and have excellent coordination and balance. They learn best through physical activities in which they can use their bodily sensations to gather information.

6) Interpersonal. Interpersonal intelligence are characterized by their sensitivity to others’ moods, feelings, temperaments and motivations, and their ability to cooperate in order to work as part of a group.

7) Intrapersonal. Intrapersonal learners are very aware of self, understanding their own strengths, weaknesses, and feelings. They tend to be reflective, independent and creative learners who study best by engaging in independent study projects rather than group ones.

8) Naturalistic. Naturalistic learners are in touch with nature. They are good at sensing patterns and categorizing natural phenomena. Similar to kinesthetic learners, they gather information more effectively with practical hands-on experience in natural outdoor settings.

Belajar Gaya Anak Disleksia

Ada beberapa teknik belajar secara teori, namun ada sedikit tips tentang anak yang mengalami keterbatasan, terutama disleksia. Ini beberapa tips untuk menolong mereka menghadapi kesulitan di kelas.

  1. Gunakan pena berwarna agar tulisan lebih terlihat. Tandai dengan stabillo kata penting dalam satu kalimat atau paragraf yang panjang.
  2. Sebaiknya memang jangan gunakan kalimat yang terlalu panjang.
  3. Jika ada buku teks yang memiliki paragraf panjang, jadikan pokok bahasan dalam “bullet” atau hitungan 123.
  4. Gunakan juga video, karena mereka akan mengingat lebih baik lagi.
  5. Jangan sering-sering menyuruh mereka membaca keras di kelas. Mereka tak suka suara bising.
  6. “Isi” lebih baik daripada “pengucapan”.
  7. Jika telah selesai dengan baik, segera puji mereka dengan mengucapkan “bagus, hebat”.
  8. Jika mereka terlihat jenuh atau pusing, berikan waktu untuk mereka beristirahat. Menggambar atau mendengarkan lagu atau berlari-lari bersama kawan lain bisa membuat mereka senang kembali.
  9. Mereka juga anak yang suka eksplorasi satu topik yang mereka sukai, berikan mereka seluas mungkin kesempatan untuk melakukan riset atas satu topik pelajaran.Image

Materi Belajar Menulis dan Membaca

Indra telah dua bulan masuk sekolah. Sepertinya saya bisa merasakan apa yang ia rasakan saat-saat pertama ia masuk sekolah, melalui gerbang sekolah tanpa ditemani orang tua (tak seperti waktu di TK). Antara rasa penasaran (matanya nanar mengobservasi setiap sudut dan setiap orang) dan ketakutan (tangannya menggenggam erat tangan saya saat ia harus melangkah sendiri melalui gerbang). Antara rasa bingung memiliki kawan lebih banyak dan rasa senang melihat lapangan yang lebih luas dari lapangan dekat rumah kami.

Saya memang telah lama tak update blog ini (baca: jurnal untuk Indra). Untuk merekap semua, here goes:

Seminggu setelah Indra masuk, saya dan suami saya menemui Ibu Guru. Kami berdua menyampaikan keadaan Indra yang lain dari anak biasa. Yang melegakan saat itu, Ibu Guru menyarankan kami tak perlu khawatir dengan alasan, “Belum ketemu klik-nya, kita tunggu saja ya.”

Selama dua bulan ini, sesungguhnya saya dan suami rajin membantu Indra membuat pekerjaan rumah. Biasanya pekerjaan rumah atau berita apapun ini ditulis atau ditempel Ibu Guru di “buku penghubung”. Sebulan berakhir, saya tak melihat progres yang signifikan dari cara membaca atau menulis Indra. Suatu hari dua minggu yang lalu saya menemui Ibu Guru, dan beliau tak banyak bicara. Ia menyuruh saya menunggu di pintu gerbang dan memanggil Indra untuk ikut masuk mengikutinya ke kelas. Indra kemudian keluar membawa secarik kertas merah muda. Sebuah brosur kursus “menangani anak tak mampu fokus”.

Saya terhenyak…

Ternyata Ibu Guru itu sudah menyerah. Saya pikir waktu telah berjalan cepat, tak akan kembali. Ah, ucapan Ibu Gurup perihal “klik” telah meninabobokan saya. Bergegas saya pulang ke rumah bersama Indra dan adiknya, dan langsung saya membuka dokumen excel baru. Dalam waktu setengah jam, alat bantu ini sudah jadi. Klik sini belajar-menulis-indra dan belajar-membaca-indra untuk alat bantu membaca dan menulis yang saya coba.

Saya memulai dari tahap menulis. Dalam 3 hari saya meminta Indra menyelesaikan 3 lembar berisi kotak suku kata mulai dari huruf A hingga Z. Ia mengerjakan dengan tekun. Semangatnya ternyata juga tinggi, karena (mungkin) ia merasa bingung menghadapi hari-hari di kelas dengan kawan-kawannya yang mampu membaca lancar. Bukti semangatnya yang tinggi ini, hari terakhir saya dan suami saya harus pergi dan meminta Indra menyelesaikan lagi 3 lembar Belajar Menulis Indra. Sepulang dari acara malam itu, Indra sudah tertidur, tapi di mejanya terletak 3 lembar yang sudah rapi dan lengkap terisi.

Saya cium dan peluk dia sampai ia terbangun dan berucap, “Aku tulis, Bu.” Lalu ia tertidur lagi. Ah…

***

Selama sebulan terakhir ini, saya konsisten mengajarnya dua jam sepulang sekolah dan dua jam sebelum tidur setiap harinya. Saya selalu menerapkan punishment dan reward dari setiap usahanya. Jika ia mulai asal-asalan (karena merasa berat, mungkin), saya lalu berikan punishment, “Ibu ambil poin kamu untuk naik busway gandeng ya?” Setiap ia benar menjawab atau menulis, saya berikan “high five” sambil tersenyum atau tertawa bersama. Ternyata acara Metro TV “Nanny 911” itu memang banyak membantu!

***

Beberapa tips membaca:

1. Untuk membedakan ‘b’ dari ‘d’ atau ‘p’ dari ‘q’, jejerkan pada huruf “a”. Saya selalu katakan, “Arah mana perutnya: tabrakan seperti ‘ba’ atau berbaris seperti ‘da’?”.

2. Pengenalan fonetis penting, terutama saat bertemu dengan huruf mati. Huruf ‘k’ bacalah seperti [keh] atau [ekh]. Saat membaca ‘n’, ucapkan dengan menunjukkan posisi lidah menempel langit-langit atas. Saat mengucapkan huruf bilabial (b, p, m), ucapkan dengan perlahan saat bibir bawah dan atas menutup-buka.

3. Buat dahulu daftar kata-kata yang terdiri dari suku kata yang ‘terbuka’ dan mudah, terutama yang merupakan pengulangan dan erat dengan kehidupan sehari-hari, seperti ‘pipi’ atau ‘gigi’ atau ‘kuku’.

> contoh lain: to-pi, da-si, bu-ku, ta-s, se-pa-tu

4. Selanjutnya bisa memperkenalkan tubuh manusia lebih lengkap lagi; memperkenalkan kata secara asosiatif lebih efektif untuk anak yang suka menghayal jauh.

> ra-m-bu-t, a-li-s, ma-ta, te-li-ng-a, hi-du-ng,

Catatan: untuk ‘ng’, dekatkan ‘telinga’ dan ‘hidung’ dalam memberikan soal ke anak, dan sampaikan perbedaan membaca antara ‘nga’-‘ngi’-‘ngu’-‘nge’-‘ngo’ dan ‘ng’ [baca: `eng]

5. Setelah itu, pastikan daftar kosakata (per klaster) berdasarkan fokus huruf/suku kata yang dapat diurut mudah dan erat dengan kehidupan sehari-hari:

> a-bi, a-bu, a-na, a-ni, a-mi, a-pi

> i-bu, i-tu, i-na, i-ma, i-kan, i-da

> u-bi, u-li, u-mi, u-da-ng, u-a-ng, u-mu-r

> ma-ma-n, ma-in, ma-ka-n, ma-ta, ma-lu

> ca-ci-ng, ca-ca-r, ca-n-di, ca-n-ti-k, ca-n-da

> du-lu, du-du-k, du-ka, da-si, da-la-m

Catatan: pisahkan juga ‘ng’ dan ‘ny’ yang dibaca [`eng] dan [`nyeh].

6. Selalu berikan punishment jika ia lengah, tapi selalu juga berikan reward saat ia selesai membaca atau menulis. Pastikan juga suasana belajar yang tenang dan mendukung. Anak yang terganggu konsentrasinya jadi lengah membaca/menulis.

Good luck!

Belajar membaca

Belajar membaca

Ikhsan: Mama I Love You

Tips to Help in Teaching a Super-alert Mind

  • Involve the students in what you are doing.
  • Stop and ask questions as often as possible.
  • Present contextual or verbal information in small chunks.
  • Pay attention to how text is laid out and avoid any complete pages of plain text.
  • Demonstrate ideas and concepts using materials and analogies.
  • Never give a correct and incorrect answer at the same time; For example, do not say, “the answer is two not three”.
  • Intersperse dictation or note taking with talking and pictures or objects.
  • Provide a quiet distraction-free environment, but remember that these students need stimulation all the time. Sometimes background music helps as long as it does not contain words.
  • Keep the attention on you by telling jokes or acting or making deliberate mistakes for your students to notice.
  • Keep the teaching as multi sensory as possible. Videos and DVDs are great because they are both visual and auditory.
  • Getting pupils to move about in the teaching environment is useful as it brings the mind back to the present situation.
  • Present new information in as exciting a way as possible.
  • Never tell a dyslexic or ADD pupilto stop fiddling. This will only make him/her concentrate completely on not fiddling.
  • I allow dyslexic and ADD pupils to draw at the same time as class discussions. This activity distracts a lot of the brain while not competing with what I was saying or demonstrating.
  • Tell your pupil to pay attention when you are giving them the most important information rather than all the time.
  • Kalender

    • September 2017
      S S R K J S M
      « Nov    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Cari