Day 16 to 20?

1. Saya ketularan batuk yang amat sangat gatal tapi tidak membuat radang tenggorokan. Konsentrasi berbicara saja sulit, apalagi menulis.

2. Dengan kondisi tak enak badan, saya juga kurang istirahat 4 hari terakhir ini karena hampir setiap hari dari pagi hingga malam harus berkegiatan di luar rumah; ada sahabat dari Papua dan Kalimantan datang ke Jakarta.

Karena kedua alasan itu, saya tidak bisa meng-update kegiatan harian saya dengan Indra di blog ini. Saya bahkan tak banyak berinteraksi dengan Indra kecuali malam hari. Empat hari terakhir ini saya mencoba melatih kemampuan fonetis dan mengenal vokal.

250px-illu01_head_neck.jpg

Dua tahun lalu ia bisa terbalik mengucapkan “gajah” menjadi “jagah” padahal konsonan “j” [dʒ] dan “g” [g] berada pada posisi ucap beda. “Jeh” diucapkan dengan menggunakan lidah yang menempel langit-langit mulut sebelah atas, sedangkan “geh” diucapkan dengan dorongan angin dari kerongkongan (pharyngeal consonant).
Secara fonetis, huruf itu dibagi atas dua: yang disuarakan dan tidak (voiced & voiceless). Konsonan disuarakan adalah /b, d, g/ sedangkan yang tidak adalah /p, t, k/. Rasakan saja bahwa “beh” berbeda dengan “peh” dengan posisi ucap sama (bilabial, atau antara dua bibir). Tak seperti anak seusianya, Indra harus melihat bibir dan posisi lidah baik-baik untuk bisa mengucapkan satu suku kata secara sempurna. Saya harus mengkontraskan “b” dan “p” dengan kata “bapak” agar Indra bisa membedakan kedua konsonan itu dengan baik.

Mengucapkan kata yang lebih dari 2 (dua) suku kata, Indra mengalami kesulitan. Saat ia bercerita soal naik kereta, saya bertanya sudah ke mana saja. Ia menjawab dua kota yang sulit diucapkannya: “Purwokerto” dan “Yogyakarta”. Saat harus mengucap “wo” sebagai satu suku kata saja ia terlihat ragu. Saya mencoba “pur-wo-ker-to” diucapkan satu per satu. Saya kemudian juga mencoba “purwo” dan “kerto”. Terakhir kemudian mengucapkan kata itu dalam satu nafas.

Inilah latihan-latihan fonetis awal yang bisa saya terapkan terhadap Indra. Saya baru akan memulai latihan fonetis terhadap vokal. Semalam ia tak bisa membedakan “e” dengan “te”. Hari ini saya akan mulai dengan huruf “e” taling (seperti dalam “bebek”) dan “e” pepet (seperti dalam “pelajar”.

Iklan

Day 13

Kita membaca buku SOre SUper SIbuk karya Clara Ng (teks) dan Emte (ilustrasi). Indra bisa menunjuk So Su Si karena menghapal. Hapalan, ini adalah satu kelebihan Indra. Ia harus diperkenalkan huruf dengan cara menghapal letak terlebih dahulu. Jika ia telah mampu mengingat letak, tentunya ia juga bisa menghapal bentuk huruf. Sore Super Sibuk adalah cerita favoritnya, tentang pemadam kebakaran, polisi dan ambulans yang menolong orang. Saya pernah naik bus TransJakarta di satu hari Sabtu sore bersama Indra dan kakaknya. Macet luar biasa mulai dari Harmoni hingga depan Lindeteves. Ada kebakaran di salah satu ruko di sana. Pengalaman nyata ini membekas, dan Indra memperhatikan buku Clara Ng/Emte ini dengan seksama sepanjang malam ini. Apapun yang menjadi minat Indra, saya selalu mencoba menggali lebih untuknya, baik dengan pengalaman langsung ataupun bercerita dengan intonasi yang menghibur. It’s a start.

Day 12

Sejam yang lalu kami sekeluarga membuka beberapa posting YouTube. Awalnya hanya kartun beberapa dinosaurus, tapi kemudian beralih ke klip video musik. Membuka Sergio Mendes “Magalenha” Indra mulai berjoget sambil tertawa-tawa. Selanjutnya suami saya dan seluruh keluarga turut menari dan meloncat-loncat meniru tarian di klip video itu. Kami memutarnya hingga 7 kali dan mencari video klip serupa. Sore hari sesungguhnya Indra melakukan kesalahan kolektif dengan anak-anak tetangga. Mereka naik ke atap dan melempar batu ke bawah, mengenai genteng tetangga yang kemudian pecah. Mengetahui itu, saya marah kepada mereka tapi mengerti bahwa ini adalah kesalahan kolektif. Jika sendiri, Indra mungkin tak berani berbuat seperti itu. Saya kemudian meminta maaf ke tetangga dan berjanji mengganti besok pagi. Indra pun saya ajak untuk meminta maaf. Hari ini pelajarannya tak terkait dengan hal fonetis secara akademis, tapi lebih pada gerakan motorik yang tak boleh berlebihan kecuali jika dilakukan dengan iringan musik Sergio Mendes dan Black Eyed Peas!

Day 11

Lepas dari Pameran IFFINA 2008 di PRJ, saya menggonceng Indra ke Alfamart terdekat untuk membeli kado kawan mainnya di daerah sini. Ia memilih 3 mobil balap (karena saya terbiasa membelikan tiga kado untuk dibawa setiap anak). Kami pulang dan membungkus kado di ruang makan. Indra duduk di meja makan memerhatikan saya melipat dan mengelem bungkus kado. Ia memerhatikan dengan seksama. Saya yakin proses ini akan direkam di kepalanya dan satu saat ia akan mencoba dengan detail dan tahapan seperti yang telah saya lakukan.

tongue.jpeg

Satu bukti bahwa ia akan mengingat setiap detail yang saya ucapkan atau lakukan soal letak rasa di lidah. Indra hanya tidak menyebut asam (karena saya pun tak tahu letak persisnya); tapi letak rasa asin, manis dan pahit ia tunjuk dengan benar. Saya memberitahu soal lidah ini ke Indra dua tahun lalu saat pertama kali membeli buku anatomi tubuh yang beberapa bagiannya bisa digerakkan menyesuaikan dengan fungsi dan gerak tubuh. Dan buku itu telah rusak hari ini. Ini membuktikan bahwa daya rekam jangka panjangnya (long term memory) memang sangat baik walau hanya diberitahu sekali saja.

Lepas magrib kami sekeluarga bergegas menuju pameran buku di Senayan. Sayangnya karena ada banyak acara di sana saat ini, akses ke sana macet dan kami pun pulang. Tak ada lima menit, Indra dan kedua saudaranya tertidur di mobil. Kelelahan setelah seharian bermain dan menghadiri acara ulang tahun.

Day 9 & 10

Sesungguhnya saya tak punya banyak waktu mengetik beberapa hari terakhir ini. Masih lelah sepulang dari luar kota tempo hari, dan pekerjaan menumpuk. Mulai belanja ke pasar (saya menyukai ritual ini karena harus naik sepeda ke pasar yang menjual kebutuhan lebih murah) hingga menemani Indra ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaan lain. Hari ini saya tersenyum setiap kali Indra memasukkan bola kain ke dalam keranjang. Ia pun selalu melirik ke tempat saya duduk, seakan bangga telah memasukan beberapa bola. Hari ini saya selalu mengingatkan ia untuk menggunakan tangan kanan, “Berikan ini pakai tangan kananmu,” atau  sekadar bertanya, “Tangan kanan sebelah mana?” Saya berharap ia akan selalu mengingat jika saya bilang, “Kanan dulu.” Sebuah nasehat yang islami, selalu mendahulukan kaki atau tangan kanan.

Day 8

Hari ini saya terbangun dengan Indra memeluk leher saya. So sweet. Dia pindah tempat tidur. Saya tak banyak berinteraksi dengan dia seharian. Masih jetlag alias belum bisa menyesuaikan diri lagi ke metabolisme WIB (waktu Indonesia bagian barat). Belum lagi saya harus temani si sulung membuat kacamata baru yang hilang beberapa bulan lalu dan membuat prestasi di kelasnya menurun. Four months since his glasses gone? How thoughtful of me!

Indra hari ini tetap bertanya banyak, “Kenapa alat itu jalan sih?” Atau, “Siapa yang membuat itu, Ibu?” Jawaban saya belum terlalu baik untuk menjawab keingintahuannya, karena saya masih terlalu lelah merangkai kata-kata. Words. That is all he wants to establish.

Day 7

Tak banyak yang saya lakukan untuk membantu terapi Indra hari ini. Saya biarkan ia bermain dengan saudara atau kawannya sepanjang hari. Siang hari, ia sempat bermain tamiya yang baru dirakit tadi pagi oleh pedagang mainan di lapangan sekolah. Ia membongkar-pasang dan memodifikasi beberapa bagian. Saya tak terlalu memperhatikan kualitasnya, namun ia bisa duduk satu jam mengutak-atik mainan itu. Sore hari saya harus pergi hingga baru kembali sejam lalu. Ah… besok saya harus lebih intensif lagi.