Day 15

Indra turut ketularan batuk dari saya, adik, kakak dan bapaknya. Lengkap sudah. Saya juga masih teler dengan kondisi batuk ini. Hilir-mudik mengerjakan banyak hal (dan banyak hal lain tertunda karena saya mengantuk sepanjang hari karena obat Actifed). Indra hari ini beberapa kali mengutak-atik Microsoft Visio, mencoba menggambar denah kamar tidur atau sebuah kompleks. Sejak awal ia menyukai gambar via Visio ini, saya selalu menyimpan di folder khusus namanya. Salah satu contoh gambarnya seperti di bawah ini:

 280208.jpg

Gambar ini dibuat tanggal 28 Februari 2008. Seingat saya, ia baru saja menonton sebuah DVD tentang alat transportasi. Ia paling menyukai kereta api. Oh ya, ia pernah ketakutan waktu naik pesawat terbang ke Padang sehingga meminta dipangku. Persis kemarin saat menonton DVD itu ia berkata, “Ibu, aku sudah tidak takut lagi naik pesawat.” Saya tersenyum. My brave baby boy.

Day 11

Lepas dari Pameran IFFINA 2008 di PRJ, saya menggonceng Indra ke Alfamart terdekat untuk membeli kado kawan mainnya di daerah sini. Ia memilih 3 mobil balap (karena saya terbiasa membelikan tiga kado untuk dibawa setiap anak). Kami pulang dan membungkus kado di ruang makan. Indra duduk di meja makan memerhatikan saya melipat dan mengelem bungkus kado. Ia memerhatikan dengan seksama. Saya yakin proses ini akan direkam di kepalanya dan satu saat ia akan mencoba dengan detail dan tahapan seperti yang telah saya lakukan.

tongue.jpeg

Satu bukti bahwa ia akan mengingat setiap detail yang saya ucapkan atau lakukan soal letak rasa di lidah. Indra hanya tidak menyebut asam (karena saya pun tak tahu letak persisnya); tapi letak rasa asin, manis dan pahit ia tunjuk dengan benar. Saya memberitahu soal lidah ini ke Indra dua tahun lalu saat pertama kali membeli buku anatomi tubuh yang beberapa bagiannya bisa digerakkan menyesuaikan dengan fungsi dan gerak tubuh. Dan buku itu telah rusak hari ini. Ini membuktikan bahwa daya rekam jangka panjangnya (long term memory) memang sangat baik walau hanya diberitahu sekali saja.

Lepas magrib kami sekeluarga bergegas menuju pameran buku di Senayan. Sayangnya karena ada banyak acara di sana saat ini, akses ke sana macet dan kami pun pulang. Tak ada lima menit, Indra dan kedua saudaranya tertidur di mobil. Kelelahan setelah seharian bermain dan menghadiri acara ulang tahun.

Day 9 & 10

Sesungguhnya saya tak punya banyak waktu mengetik beberapa hari terakhir ini. Masih lelah sepulang dari luar kota tempo hari, dan pekerjaan menumpuk. Mulai belanja ke pasar (saya menyukai ritual ini karena harus naik sepeda ke pasar yang menjual kebutuhan lebih murah) hingga menemani Indra ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaan lain. Hari ini saya tersenyum setiap kali Indra memasukkan bola kain ke dalam keranjang. Ia pun selalu melirik ke tempat saya duduk, seakan bangga telah memasukan beberapa bola. Hari ini saya selalu mengingatkan ia untuk menggunakan tangan kanan, “Berikan ini pakai tangan kananmu,” atau  sekadar bertanya, “Tangan kanan sebelah mana?” Saya berharap ia akan selalu mengingat jika saya bilang, “Kanan dulu.” Sebuah nasehat yang islami, selalu mendahulukan kaki atau tangan kanan.

Day 8

Hari ini saya terbangun dengan Indra memeluk leher saya. So sweet. Dia pindah tempat tidur. Saya tak banyak berinteraksi dengan dia seharian. Masih jetlag alias belum bisa menyesuaikan diri lagi ke metabolisme WIB (waktu Indonesia bagian barat). Belum lagi saya harus temani si sulung membuat kacamata baru yang hilang beberapa bulan lalu dan membuat prestasi di kelasnya menurun. Four months since his glasses gone? How thoughtful of me!

Indra hari ini tetap bertanya banyak, “Kenapa alat itu jalan sih?” Atau, “Siapa yang membuat itu, Ibu?” Jawaban saya belum terlalu baik untuk menjawab keingintahuannya, karena saya masih terlalu lelah merangkai kata-kata. Words. That is all he wants to establish.

Day 7

Tak banyak yang saya lakukan untuk membantu terapi Indra hari ini. Saya biarkan ia bermain dengan saudara atau kawannya sepanjang hari. Siang hari, ia sempat bermain tamiya yang baru dirakit tadi pagi oleh pedagang mainan di lapangan sekolah. Ia membongkar-pasang dan memodifikasi beberapa bagian. Saya tak terlalu memperhatikan kualitasnya, namun ia bisa duduk satu jam mengutak-atik mainan itu. Sore hari saya harus pergi hingga baru kembali sejam lalu. Ah… besok saya harus lebih intensif lagi.

Day 4 – 5 – 6

Saya baru kembali dari luar kota. Rindu saya tak tertahankan sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta. Sebelum tidur malam ini, Indra membisiki saya, “Aku ingin bangun kota di sini.” Saya pikir di ruangan kamar ini. Indra melanjutkan, “Nanti ada gedungnya, ada jembatannya.” Saya masih berpikir bahwa imajinasinya dilanjutkan setelah ia bermain Microsoft Visio untuk membuat denah secara user friendly, click and drag. Kemudian saya tanya, “Bahannya apa, Ndra? Dari kertas ya? Karton?”. Ia menggeleng dan berkata tegas, “Bahan kimia.” Halah? Saya tanyakan maksudnya lebih lanjut. Ia menjawab panjang lebar, ada besi, ada baja, dan batu bata.

What an imagination!

Day 3

Karena kemarin sore Indra main hujan lebih dari setengah jam, pagi ini badannya hangat. Ia sedikit menggigil dan bilang kepalanya pusing. Kebetulan stok Tempra di rumah habis, jadi saya peluk dan membiarkannya tidur. Sepanjang pagi ia tidur, break sebentar makan siang, lalu tidur lagi. Hari ini ia tidak masuk sekolah.

Sore pukul 3 ia bangun dan bilang bahwa kepalanya sudah sedikit ringan.  Sekarang justru yang mulai pusing adalah saya, apalagi setelah mendapat telepon bahwa besok malam saya jadi ke Papua hingga hari Minggu. What would he be  not having me around for three nights? What would I do? Sigh.

Malamnya, kami duduk lagi membaca dongeng Dinosaurus. Hanya kali ini saya membaca satu halaman, tentang Brenda dan baju tua. Saya bertanya satu per satu, “Tua apa? Dua apa? Gua apa? Buah apa?”. Indra menjawab: tua itu sudah lama, dua (sambil mengangkat jarinya), gua itu terowongan seram gelap, dan buah semangka! Tadi sore memang kami makan buah semangka.

Saya memintanya mengucapkan keempat kata itu sekali lagi. Buku harus ditutup karena saya harus bergegas merapikan meja belajar si sulung yang berantakan. Indra pun sepertinya mengantuk dan kedinginan. Ia meminta saya menyelimutinya. Tak ada lima menit ia tertidur.