Day 8

Hari ini saya terbangun dengan Indra memeluk leher saya. So sweet. Dia pindah tempat tidur. Saya tak banyak berinteraksi dengan dia seharian. Masih jetlag alias belum bisa menyesuaikan diri lagi ke metabolisme WIB (waktu Indonesia bagian barat). Belum lagi saya harus temani si sulung membuat kacamata baru yang hilang beberapa bulan lalu dan membuat prestasi di kelasnya menurun. Four months since his glasses gone? How thoughtful of me!

Indra hari ini tetap bertanya banyak, “Kenapa alat itu jalan sih?” Atau, “Siapa yang membuat itu, Ibu?” Jawaban saya belum terlalu baik untuk menjawab keingintahuannya, karena saya masih terlalu lelah merangkai kata-kata. Words. That is all he wants to establish.

Iklan

Day 7

Tak banyak yang saya lakukan untuk membantu terapi Indra hari ini. Saya biarkan ia bermain dengan saudara atau kawannya sepanjang hari. Siang hari, ia sempat bermain tamiya yang baru dirakit tadi pagi oleh pedagang mainan di lapangan sekolah. Ia membongkar-pasang dan memodifikasi beberapa bagian. Saya tak terlalu memperhatikan kualitasnya, namun ia bisa duduk satu jam mengutak-atik mainan itu. Sore hari saya harus pergi hingga baru kembali sejam lalu. Ah… besok saya harus lebih intensif lagi.

Day 4 – 5 – 6

Saya baru kembali dari luar kota. Rindu saya tak tertahankan sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta. Sebelum tidur malam ini, Indra membisiki saya, “Aku ingin bangun kota di sini.” Saya pikir di ruangan kamar ini. Indra melanjutkan, “Nanti ada gedungnya, ada jembatannya.” Saya masih berpikir bahwa imajinasinya dilanjutkan setelah ia bermain Microsoft Visio untuk membuat denah secara user friendly, click and drag. Kemudian saya tanya, “Bahannya apa, Ndra? Dari kertas ya? Karton?”. Ia menggeleng dan berkata tegas, “Bahan kimia.” Halah? Saya tanyakan maksudnya lebih lanjut. Ia menjawab panjang lebar, ada besi, ada baja, dan batu bata.

What an imagination!

Day 3

Karena kemarin sore Indra main hujan lebih dari setengah jam, pagi ini badannya hangat. Ia sedikit menggigil dan bilang kepalanya pusing. Kebetulan stok Tempra di rumah habis, jadi saya peluk dan membiarkannya tidur. Sepanjang pagi ia tidur, break sebentar makan siang, lalu tidur lagi. Hari ini ia tidak masuk sekolah.

Sore pukul 3 ia bangun dan bilang bahwa kepalanya sudah sedikit ringan.  Sekarang justru yang mulai pusing adalah saya, apalagi setelah mendapat telepon bahwa besok malam saya jadi ke Papua hingga hari Minggu. What would he be  not having me around for three nights? What would I do? Sigh.

Malamnya, kami duduk lagi membaca dongeng Dinosaurus. Hanya kali ini saya membaca satu halaman, tentang Brenda dan baju tua. Saya bertanya satu per satu, “Tua apa? Dua apa? Gua apa? Buah apa?”. Indra menjawab: tua itu sudah lama, dua (sambil mengangkat jarinya), gua itu terowongan seram gelap, dan buah semangka! Tadi sore memang kami makan buah semangka.

Saya memintanya mengucapkan keempat kata itu sekali lagi. Buku harus ditutup karena saya harus bergegas merapikan meja belajar si sulung yang berantakan. Indra pun sepertinya mengantuk dan kedinginan. Ia meminta saya menyelimutinya. Tak ada lima menit ia tertidur.

Day 2

Hari ini saya bertemu guru dan pemilik TK anak saya. Kita berbagi ilmu/bacaan dan pengalaman. Ibu Henny, wali kelas yang sangat menguasai ilmu pedagogis, bercerita saat menugaskan Indra dan kawan satu kelasnya untuk membentuk lilin menyerupai binatang kesukaan setiap anak. “Apa yang dilakukan Indra, Bu?” tanya Ibu Henny, “Dia membuat kebun binatang!” Di saat semua kawannya membuat satu binatang besar, Indra membuat banyak binatang kecil lengkap dengan pembatas kebun binatang.

Membaca satu artikel khusus membahas tes disleksia di Australia (klik di sini) saya mengerti mengapa Indra membuat kebun binatang. Otak orang normal seperti rumah dengan beberapa kamar, dan saat berpikir seorang dengan kemampuan normal akan berpikir satu kamar dan bisa meloncat ke kamar lain. Sedangkan anak autis akan berada di satu kamar gelap saja, tak tahu bagaimana meloncat ke luar kamar tersebut. Bagaimana anak yang disleksik? Ah, rumah utuh tapi beratap-dinding kaca. Memandang ke luar seluas-luasnya.

Indah.

dyslexic-mind.jpg pic: Dawn Matthews 

Sepulang dari TK saya sengaja berjalan kaki bersamanya ke Gunung Agung Kwitang sambil bercerita tentang kantor pos kuno, kopi dan topik-topik yang kami berdua lalui sepanjang jalan. Di dalam toko buku, ia langsung berlari ke belakang, bagian buku anak-anak. Di balik rak buku anak terdapat peraga tubuh manusia, gigi hingga bola dunia. Ini juga daerah yang Indra gemari. Ia bertanya soal gigi.

Di lorong itu juga ada buku matematika TK. Saya melihat satu buku yang memiliki ukuran besar, memuat angka “22” dan “25”. Saat saya tanyakan “22” Indra langsung menjawab benar. Saat saya menanyakan “25”, jika dieja satu per satu benar “2” dan “5”, hanya saat diucapkan bersama ia mengucap terbalik “52”.

Ia seperti mengeluh saat saya memintanya mengulang, lalu ia berlari. Banyak buku yang ia ambil dan ingin bawa pulang, namun sejak awal memasuki toko saya sudah memintanya hanya membeli satu buku saja. Akhirnya dipilihnya buku stiker Kereta Thomas.

Malam menjelang tidur, Indra meminta saya meneruskan buku dongeng dinosaurus. Saat membaca Billy dan Dilly Brontosaurus, dua tokoh di satu halaman yang sama, saya memintanya mengucapkan “Billy Suka Bola” dan “Dilly Suka Dodol”. Ia memegang pipi saya untuk memperhatikan dan meniru posisi bibir, gigi, dan lidah saya. Ia seakan ingin memahami sinkronisasi suara dan gerakan bibir/gigi/lidah. Malam ini saya berupaya melatih pengelompokan fonetikal.

Setelah sepuluh halaman, saya kembali ke meja komputer lagi. Indra meneruskan membaca buku yang lain. Kali ini ia memperhatikan buku flap (yang kepak tiap halamannya bisa digerakkan) tentang galaksi. Saya kian mengerti Indra dengan rumah kacanya. Ia bisa memandang keindahan dunia (dan angkasa) dengan seksama.

Day 1

Hari ini saya mencoba membuat jurnal perkembangan Indra. Mudah-mudahan bisa membantu saya dan banyak ibu lainnya memahami anak yang mengalami “dyslexia” (learning and reading disorder).

***

Indra minta dibacakan buku dongeng Dinosaurus. Setiap halaman memuat cerita pendek bermoral dengan personifikasi dinosaurus (stegosaurus, brontosaurus hingga tyrannosaurus rex). Yang ditanyakan di setiap halaman adalah, “Ini dinosaurus apa, Bu?” bukan isi dari setiap cerita atau detail kelucuan tiap tokoh.

Saat saya tanyakan, “Ini huruf apa, Ndra?” dan ia jawab “b” untuk huruf “d”, saya kemudian mencoba menulis dan merangkaikan b untuk “bebek” dengan cerita. Huruf b saya gambar menyerupai bebek yang menggandeng “anak bebek” huruf e. Kalau huruf d saya nyatakan sebagai huruf yang meninggalkan anaknya huruf e: dadaaahh. Saya meminta Indra mengucapkan setiap kata dengan keras. Ia mengikuti petunjuk saya dan tertawa-tawa. Setelah itu saya baru mendongeng cerita-cerita dinosaurus.

Setelah membaca sepuluh halaman, saya bergegas kembali ke belakang meja komputer. Ada beberapa hal yang perlu saya tuntaskan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.20 malam, tapi Indra masih terpaku di depan Kamus Visual sejak setengah jam lalu. Saya sempat memijat kakinya, berusaha agar ia cepat tidur, tapi ia tetap memperhatikan detail pembagian lantai pesawat luar angkasa (seperti Apollo) dan detail lapangan yang digambari pemain-pemain olahraga berbagai cabang (baseball, sepakbola, dll.). Indra terkadang meloncat ke halaman secara random, dari depan ke belakang. Ia akan berhenti di saat ada gambar yang menarik untuk diperhatikan lebih lanjut.

Saat saya selesai mengetik kalimat di atas, ia baru saja tertidur. Good night, my precious baby.