Dyslexia Awareness Diknas, 31 Juli 2010

Dyslexia Awareness

SEMINAR & WORKSHOP, 31 Juli 2010, Gedung D Kantor Kementerian Pendidikan dan Nasional

Seminar Utama: “Mengenal Disleksia: Akomodasi dan Layanan Pendukung yang Dibutuhkan”

Seminar 1: “Dukungan Profesional bagi Anak Disleksia”

Seminar 2: “Menemukan Disleksia Lebih Dini”

Workshop: “Strategi Pembelajaran Disleksia”

Sekolah Khusus? Sekolah Masa Depan, Tauk!

Malam ini saya berdiskusi (tepatnya, berdebat) dengan suami saya tentang konsep sekolah masa lalu, hari ini dan esok. Sir Kenneth Robinson dalam presentasinya menyatakan bahwa sistem sekolah yang ada sekarang adalah produk era industrialisasi dengan salah satu produknya “standardisasi”. Saya sepakat bahwa ada “passing grade” dan sertifikasi dalam proses anak sekolah jaman sekarang. Yang saya tak setuju adalah menyamaratakan kemampuan anak, sementara setiap anak itu unik. Mengapa tak dibuatkan sistem untuk “pendalaman minat dan bakat” anak sebelum ia menempuh pendidikan yang lebih tinggi?

Hari ini ada SMK (sekolah menengah kejuruan) yang dianggap “sekolah tukang” oleh banyak orang, dan SMA (sekolah menengah atas) yang kemudian lanjut ke jenjang S1 (universitas dan setaranya). Kemudian lulusan SMA dicap sebagai bos-nya tukang itu. Ini konsep pabrikan, bukan?

Dari “thread” sekolah seperti ini, selayaknya hari ini pemerintah dan masyarakat kita mulai membangun sebuah sekolah khusus yang memberikan “pendidikan alternatif”. Bahwa setiap anak unik, dan setiap anak harus mampu mengenali dan menggali lebih lanjut minat dan bakat yang paling menonjol dalam dirinya.  Menemukan hal ini tentulah harus dengan berbagai pendekatan, seperti:

  • rasio guru-murid kecil sehingga penanganan lebih fokus
  • penerapan “pemahaman materi” daripada sekadar “hapalan materi”
  • perkenalan satu topik dengan menarik agar titik ini menjadi titik awal di mana sang anak mampu menggalinya lebih jauh lagi sendirian (Sir Ken Robinson bilang, kalau murid bosan atau tak memperhatikan guru, itu yang salah gurunya kok!)

Masih banyak hal lainnya yang kami diskusikan. Akhirnya kami sepakat bahwa tetap perlu mengikuti sistem sekolah formal yang ada sekarang (karena kita hidup di masa sekarang), lalu kami perlu menambah pengetahuan dan pengalaman lain di luar jalur formal tadi. Akhirul kalam, kami juga sepakat untuk mencari tahu jawaban semua pertanyaan anak-anak agar kelak mereka bisa menjawab pula tantangan 40 tahun mendatang, “Now what?”. Mereka sekarang adalah digital natives yang tak lagi hidup di era industrialisasi.

It’s pretty productive debate, I must say.

Here’s a thought to ponder: Did you know? (youtube presentation).

Kepadaaa Pembina Upacaraaa…

Hari ini Indra menjadi pemimpin upacara bendera di sekolahnya. Dengan sigap Indra berdiri, dan iapun dengan lantang mengucapkan komando protokoler upacara hari ini., “Kepadaaa Pembina Upacaraaa, hormaaaat g’rak!”

Di detik-detik upacara itu, saya hendak menangis senang memandang Indra. Beberapa detik silam ia tak pernah duduk diam, ia yang clumsy dan selalu bertanya; hari ini Indra memimpin upacara dengan serius dan tertib. Di akhir upacara, Bu Ade, wali kelas Indra, memanggil petugas upacara untuk minggu selanjutnya. Ah, menjadi petugas upacara di sekolah ini tak eksklusif seperti di sekolah lainnya. Semua anak mendapat kesempatan sama, dan semua anak mengalami pengalaman mendebarkan untuk menjadi pemimpin pertama kali.  Indra akan memulai hari-hari ke depan dengan lebih optimistis. Ia akan menjadi pemimpin kaumnya… insya Allah.

Terima kasih, Bu Ade. Terima kasih, Pantara.

Membangun Percaya Diri Sang Anak: Keluar Dari Awan Disleksia Secara Meyakinkan

Saya meyakini di setiap sekolah setiap saat sepanjang tahun ada saja satu dua anak yang menderita disleksia. Sang anak kerap mengalami hambatan di kelas. Segala bentuk menulis atau menghitung seakan hadir seperti monster. “Mengapa aku tidak bisa membaca dan mengeja?” hingga pernyataan sang kepala sekolah di sekolah Indra sebelumnya. Dengan dinginia mengomentari kejadian saat Indra berlari ke lapangan di hari hujan, “Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak bodoh.” Ah, mungkin yang ia maksud dunia pendidikan di Timbuktu, saya tak ambil pusing.

Saya kemudian mencoba mencari tahu keunikan Indra sampai ke akar permasalahan, jauh di bawah permukaan yang dilihat sang kepala sekolah itu. Yang patut dipahami dari Indra adalah kemampuannya dalam bidang koordinasi fisik, kreativitas,  empati dengan orang lain. Kekuatannya mungkin ada di beberapa daerah tersebut. Indra mudah menari jika mendengar musik menghentak (koordinasi fisik). Ia mampu menggambar sejam penuh atas apapun yang menjadi minatnya hari itu (kreativitas). Ia pun mudah jatuh iba akan hal kecil, seperti melihat pengemis kecil di jalan, atau bahkan melihat saya termenung kelelahan di satu sore (empati).

Saya telah mencoba metode pengajaran bahasa semasa kuliah dulu (linguistik) dengan kesadaran fonem. Saya pun mencoba mendapatkan buku-buku menarik dan permainan kata, sebagai fondasi dasar bagi Indra. Saya pun mencoba menyakinkan ia tiap malam dengan mengatakan kepadanya bahwa semua yang ia kerjakan itu baik, bahwa ia adalah anak cerdas. Setiap malam. Walau saya telah mengatakan padanya bahwa selama bertahun-tahun, ia perlu bukti.

Di satu saat, saya pernah melakukan latihan berikut ini, yang bisa memiliki efek pada Indra. Bisa dilakukan sendirian ataupun bersama sang anak . Ambil selembar kertas dan membuat dua kolom: dalam satu kolom menambahkan ‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ dan pada yang lain ‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’

Tulislah daftar ini selama sekitar lima atau sepuluh menit, lalu diskusikan bersama anak Anda. Kajilah dari sudut pandang objektif.  Daftarnya akan terlihat seperti ini, tentu saja tergantung pada minat setiap anak:

‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ (GOOD AT)
o berenang
o menyelam
o bola basket
o merawat kelinci saya
o menggambar
o membuat lukisan
o mengumpulkan perangko
o bermain dengan anak-anak lain
o membersihkan meja
o membuat orang tertawa
o softball
o bersikap ramah kepada kakek
o mengetahui tentang ruang dan planet-planet
o dll

‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’ (NOT GOOD AT)
o ejaan
o membaca
o menulis
o matematika

Saya menaatap wajah Indra untuk memastikan ke dia bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan daripada hal-hal yang ia anggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Dia jelas-jelas orang yang bakal sukses dengan segala kemampuannya.

Tapi di matanya seakan muncul pertanyaan: apakah kelemahannya itu adalah hal-hal yang penting dalam hidup. “Jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?” Ini adalah tahap di mana saya harus berdebat dengannya, dan saya yakinkan bahwa saya menghargai semua jenis kualitas yang Indra tonjolkan, terutama kemampuannya untuk menjadi pribadi ramah, memikirkan orang lain sebelum diri mereka sendiri dan seterusnya. Bukan karena dia tidak mencoba atau bahkan orang tua memberi klaim bahwa sang anak itu bodoh (seperti, sayangnya, ucapan sang kepala sekolah Indra di sekolah lama).

Membangun kepercayaan diri sang anak bisa menjadi satu titik balik – berapa pun usia nya – yang penting bagi  fondasi pembelajaran khusus; yaitu mengeja dan menulis dengan lebih mudah.

Day 13

Kita membaca buku SOre SUper SIbuk karya Clara Ng (teks) dan Emte (ilustrasi). Indra bisa menunjuk So Su Si karena menghapal. Hapalan, ini adalah satu kelebihan Indra. Ia harus diperkenalkan huruf dengan cara menghapal letak terlebih dahulu. Jika ia telah mampu mengingat letak, tentunya ia juga bisa menghapal bentuk huruf. Sore Super Sibuk adalah cerita favoritnya, tentang pemadam kebakaran, polisi dan ambulans yang menolong orang. Saya pernah naik bus TransJakarta di satu hari Sabtu sore bersama Indra dan kakaknya. Macet luar biasa mulai dari Harmoni hingga depan Lindeteves. Ada kebakaran di salah satu ruko di sana. Pengalaman nyata ini membekas, dan Indra memperhatikan buku Clara Ng/Emte ini dengan seksama sepanjang malam ini. Apapun yang menjadi minat Indra, saya selalu mencoba menggali lebih untuknya, baik dengan pengalaman langsung ataupun bercerita dengan intonasi yang menghibur. It’s a start.

Day 11

Lepas dari Pameran IFFINA 2008 di PRJ, saya menggonceng Indra ke Alfamart terdekat untuk membeli kado kawan mainnya di daerah sini. Ia memilih 3 mobil balap (karena saya terbiasa membelikan tiga kado untuk dibawa setiap anak). Kami pulang dan membungkus kado di ruang makan. Indra duduk di meja makan memerhatikan saya melipat dan mengelem bungkus kado. Ia memerhatikan dengan seksama. Saya yakin proses ini akan direkam di kepalanya dan satu saat ia akan mencoba dengan detail dan tahapan seperti yang telah saya lakukan.

tongue.jpeg

Satu bukti bahwa ia akan mengingat setiap detail yang saya ucapkan atau lakukan soal letak rasa di lidah. Indra hanya tidak menyebut asam (karena saya pun tak tahu letak persisnya); tapi letak rasa asin, manis dan pahit ia tunjuk dengan benar. Saya memberitahu soal lidah ini ke Indra dua tahun lalu saat pertama kali membeli buku anatomi tubuh yang beberapa bagiannya bisa digerakkan menyesuaikan dengan fungsi dan gerak tubuh. Dan buku itu telah rusak hari ini. Ini membuktikan bahwa daya rekam jangka panjangnya (long term memory) memang sangat baik walau hanya diberitahu sekali saja.

Lepas magrib kami sekeluarga bergegas menuju pameran buku di Senayan. Sayangnya karena ada banyak acara di sana saat ini, akses ke sana macet dan kami pun pulang. Tak ada lima menit, Indra dan kedua saudaranya tertidur di mobil. Kelelahan setelah seharian bermain dan menghadiri acara ulang tahun.

Day 9 & 10

Sesungguhnya saya tak punya banyak waktu mengetik beberapa hari terakhir ini. Masih lelah sepulang dari luar kota tempo hari, dan pekerjaan menumpuk. Mulai belanja ke pasar (saya menyukai ritual ini karena harus naik sepeda ke pasar yang menjual kebutuhan lebih murah) hingga menemani Indra ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaan lain. Hari ini saya tersenyum setiap kali Indra memasukkan bola kain ke dalam keranjang. Ia pun selalu melirik ke tempat saya duduk, seakan bangga telah memasukan beberapa bola. Hari ini saya selalu mengingatkan ia untuk menggunakan tangan kanan, “Berikan ini pakai tangan kananmu,” atau  sekadar bertanya, “Tangan kanan sebelah mana?” Saya berharap ia akan selalu mengingat jika saya bilang, “Kanan dulu.” Sebuah nasehat yang islami, selalu mendahulukan kaki atau tangan kanan.