Dyslexia Awareness Diknas, 31 Juli 2010

Dyslexia Awareness

SEMINAR & WORKSHOP, 31 Juli 2010, Gedung D Kantor Kementerian Pendidikan dan Nasional

Seminar Utama: “Mengenal Disleksia: Akomodasi dan Layanan Pendukung yang Dibutuhkan”

Seminar 1: “Dukungan Profesional bagi Anak Disleksia”

Seminar 2: “Menemukan Disleksia Lebih Dini”

Workshop: “Strategi Pembelajaran Disleksia”

Iklan

Kepadaaa Pembina Upacaraaa…

Hari ini Indra menjadi pemimpin upacara bendera di sekolahnya. Dengan sigap Indra berdiri, dan iapun dengan lantang mengucapkan komando protokoler upacara hari ini., “Kepadaaa Pembina Upacaraaa, hormaaaat g’rak!”

Di detik-detik upacara itu, saya hendak menangis senang memandang Indra. Beberapa detik silam ia tak pernah duduk diam, ia yang clumsy dan selalu bertanya; hari ini Indra memimpin upacara dengan serius dan tertib. Di akhir upacara, Bu Ade, wali kelas Indra, memanggil petugas upacara untuk minggu selanjutnya. Ah, menjadi petugas upacara di sekolah ini tak eksklusif seperti di sekolah lainnya. Semua anak mendapat kesempatan sama, dan semua anak mengalami pengalaman mendebarkan untuk menjadi pemimpin pertama kali.  Indra akan memulai hari-hari ke depan dengan lebih optimistis. Ia akan menjadi pemimpin kaumnya… insya Allah.

Terima kasih, Bu Ade. Terima kasih, Pantara.

Membangun Percaya Diri Sang Anak: Keluar Dari Awan Disleksia Secara Meyakinkan

Saya meyakini di setiap sekolah setiap saat sepanjang tahun ada saja satu dua anak yang menderita disleksia. Sang anak kerap mengalami hambatan di kelas. Segala bentuk menulis atau menghitung seakan hadir seperti monster. “Mengapa aku tidak bisa membaca dan mengeja?” hingga pernyataan sang kepala sekolah di sekolah Indra sebelumnya. Dengan dinginia mengomentari kejadian saat Indra berlari ke lapangan di hari hujan, “Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak bodoh.” Ah, mungkin yang ia maksud dunia pendidikan di Timbuktu, saya tak ambil pusing.

Saya kemudian mencoba mencari tahu keunikan Indra sampai ke akar permasalahan, jauh di bawah permukaan yang dilihat sang kepala sekolah itu. Yang patut dipahami dari Indra adalah kemampuannya dalam bidang koordinasi fisik, kreativitas,  empati dengan orang lain. Kekuatannya mungkin ada di beberapa daerah tersebut. Indra mudah menari jika mendengar musik menghentak (koordinasi fisik). Ia mampu menggambar sejam penuh atas apapun yang menjadi minatnya hari itu (kreativitas). Ia pun mudah jatuh iba akan hal kecil, seperti melihat pengemis kecil di jalan, atau bahkan melihat saya termenung kelelahan di satu sore (empati).

Saya telah mencoba metode pengajaran bahasa semasa kuliah dulu (linguistik) dengan kesadaran fonem. Saya pun mencoba mendapatkan buku-buku menarik dan permainan kata, sebagai fondasi dasar bagi Indra. Saya pun mencoba menyakinkan ia tiap malam dengan mengatakan kepadanya bahwa semua yang ia kerjakan itu baik, bahwa ia adalah anak cerdas. Setiap malam. Walau saya telah mengatakan padanya bahwa selama bertahun-tahun, ia perlu bukti.

Di satu saat, saya pernah melakukan latihan berikut ini, yang bisa memiliki efek pada Indra. Bisa dilakukan sendirian ataupun bersama sang anak . Ambil selembar kertas dan membuat dua kolom: dalam satu kolom menambahkan ‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ dan pada yang lain ‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’

Tulislah daftar ini selama sekitar lima atau sepuluh menit, lalu diskusikan bersama anak Anda. Kajilah dari sudut pandang objektif.  Daftarnya akan terlihat seperti ini, tentu saja tergantung pada minat setiap anak:

‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ (GOOD AT)
o berenang
o menyelam
o bola basket
o merawat kelinci saya
o menggambar
o membuat lukisan
o mengumpulkan perangko
o bermain dengan anak-anak lain
o membersihkan meja
o membuat orang tertawa
o softball
o bersikap ramah kepada kakek
o mengetahui tentang ruang dan planet-planet
o dll

‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’ (NOT GOOD AT)
o ejaan
o membaca
o menulis
o matematika

Saya menaatap wajah Indra untuk memastikan ke dia bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan daripada hal-hal yang ia anggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Dia jelas-jelas orang yang bakal sukses dengan segala kemampuannya.

Tapi di matanya seakan muncul pertanyaan: apakah kelemahannya itu adalah hal-hal yang penting dalam hidup. “Jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?” Ini adalah tahap di mana saya harus berdebat dengannya, dan saya yakinkan bahwa saya menghargai semua jenis kualitas yang Indra tonjolkan, terutama kemampuannya untuk menjadi pribadi ramah, memikirkan orang lain sebelum diri mereka sendiri dan seterusnya. Bukan karena dia tidak mencoba atau bahkan orang tua memberi klaim bahwa sang anak itu bodoh (seperti, sayangnya, ucapan sang kepala sekolah Indra di sekolah lama).

Membangun kepercayaan diri sang anak bisa menjadi satu titik balik – berapa pun usia nya – yang penting bagi  fondasi pembelajaran khusus; yaitu mengeja dan menulis dengan lebih mudah.

Day 12

Sejam yang lalu kami sekeluarga membuka beberapa posting YouTube. Awalnya hanya kartun beberapa dinosaurus, tapi kemudian beralih ke klip video musik. Membuka Sergio Mendes “Magalenha” Indra mulai berjoget sambil tertawa-tawa. Selanjutnya suami saya dan seluruh keluarga turut menari dan meloncat-loncat meniru tarian di klip video itu. Kami memutarnya hingga 7 kali dan mencari video klip serupa. Sore hari sesungguhnya Indra melakukan kesalahan kolektif dengan anak-anak tetangga. Mereka naik ke atap dan melempar batu ke bawah, mengenai genteng tetangga yang kemudian pecah. Mengetahui itu, saya marah kepada mereka tapi mengerti bahwa ini adalah kesalahan kolektif. Jika sendiri, Indra mungkin tak berani berbuat seperti itu. Saya kemudian meminta maaf ke tetangga dan berjanji mengganti besok pagi. Indra pun saya ajak untuk meminta maaf. Hari ini pelajarannya tak terkait dengan hal fonetis secara akademis, tapi lebih pada gerakan motorik yang tak boleh berlebihan kecuali jika dilakukan dengan iringan musik Sergio Mendes dan Black Eyed Peas!

Day 9 & 10

Sesungguhnya saya tak punya banyak waktu mengetik beberapa hari terakhir ini. Masih lelah sepulang dari luar kota tempo hari, dan pekerjaan menumpuk. Mulai belanja ke pasar (saya menyukai ritual ini karena harus naik sepeda ke pasar yang menjual kebutuhan lebih murah) hingga menemani Indra ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaan lain. Hari ini saya tersenyum setiap kali Indra memasukkan bola kain ke dalam keranjang. Ia pun selalu melirik ke tempat saya duduk, seakan bangga telah memasukan beberapa bola. Hari ini saya selalu mengingatkan ia untuk menggunakan tangan kanan, “Berikan ini pakai tangan kananmu,” atau  sekadar bertanya, “Tangan kanan sebelah mana?” Saya berharap ia akan selalu mengingat jika saya bilang, “Kanan dulu.” Sebuah nasehat yang islami, selalu mendahulukan kaki atau tangan kanan.

  • Kalender

    • September 2017
      S S R K J S M
      « Nov    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Cari