Seorang Sahabat

Tulisan di bawah ini adalah liputan Kompas, Selasa, 3 Agustus 2010 | 12:18 WIB. Seorang sahabat virtual saya yang banyak membantu saya dan Indra dengan berbagai informasi disleksia. She’s a survivor, a new Einstein female on the making.

***

JAKARTA, KOMPAS.com – Sepintas, Aigis Arira (21) terlihat seperti mahasiswa pada umumnya. Kini, ia menempuh semester 7 jurusan di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Tak ada yang menduga bahwa ia seorang penyandang disleksia.

Pada beberapa fase hidupnya, Aigis pernah mengalami masa-masa sulit. Saat ia dianggap memiliki hambatan belajar. Sesuatu yang menurutnya biasa-biasa saja. Tetapi, tak biasa bagi orang-orang sekitarnya. Saat menginjak kelas 3 SD, orangtuanya baru menyadari bahwa Aigis mengalami perkembangan yang berbeda dari anak-anak sebayanya. Ia menceritakan, awalnya, ia menempuh sekolah dasar di SD Cinere 03 pada tahun 1995-1997.

“Di sini, saya pribadi tidak merasakan kesulitan di dalam diri saya. Tetapi, di mata orang sekeliling saya, mereka berpendapat lain. Saya tidak bisa membedakan ‘b’ dan ‘d’ bahkan sering kebalik, menyalin suka salah, padahal saya duduk paling depan. Menghafal perkalian dan pembagian saya tidak bisa, menggambar kubus hasilnya bisa trapesium,” kisah Aigis, dalam sebuah seminar nasional mengenai disleksia, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Aigis juga mengalami hambatan dalam mengutarakan pendapatnya, sehingga berakibat ia malu bertanya dan tidak bisa bergaul dengan teman-temannya. “Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui kondisi saya, bila orangtua saya tidak mencari info, maka mungkin sampai sekarang tidak akan tahu bahwa saya mempunyai sesuatu yang unik,” ujarnya.

Menyadari ada kekhususan yang dibutuhkan anaknya, orangtua Aigis kemudian memindahkannya ke sekolah khusus, SD Pantara, yang menangani anak-anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (specific learning difficulties/LD). Di sekolah ini, Aigis lebih merasakan kenyamanan karena mendapat penanganan khusus dan lingkungan yang lebih kondusif. Pendidikan dasarpun berhasil ditamatkannya.

Melanjutkan ke SMP Umum

Masa SMP dirasakan Aigis adalah masa terberatnya. Setamat SD, Aigis dan keluarganya hijrah ke Bandung. Disana, Aigis tak lagi mengenyam pendidikan di sekolah khusus. Ia kembali melanjutkan ke sekolah umum, SMPN 4 Cimahi. Pada masa SMP inilah, Aigis diberitahu oleh orangtuanya bahwa ia seorang penyandang disleksia. “Ketika SMP, orangtua saya baru menjelaskan bahwa kondisi saya seperti ini, seperti ini. Inilah titik terberat yang saya alami, karena harus sekolah di sekolah umum, beda dengan SD saya yang muridnya sedikit,” kata Aigis.

Ia pun harus beradaptasi. Dari semula di SD hanya memiliki teman 8 orang dalam satu kelas dengan dua guru, kini 44 orang orang dengan satu guru. “Waktu SMP, saya selalu memilih duduk di belakang karena takut ditanya guru,” ujarnya enteng.

Bagaimana prestasi belajarnya? “Saya ranking 44 dari 44 murid. Lumayanlah, ada rankingnya, daripada enggak ranking,” kata Aigis sambil tertawa.
Tetapi, saat SMP ini, dorongan orangtua sangat kuat dirasakan Aigis. Ia diminta hanya mencatat seluruh pelajaran dan perkataan gurunya. “Saya belajarnya di rumah, dengan orangtua saya,” kata gadis hitam manis ini.

SMA Juara Mengetik 10 Jari

Memasuki jenjang pendidikan menengah atas, Aigis merasa sudah lebih bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Ia melanjutkan ke SMK dengan jurusan RPL alias Rekayasa Perangkat Lunak. Ya, Aigis memang suka dengan segala seuatu yang berhubungan dengan computer. Lagipula, sekolah kejuruan dianggapnya sebagai pilihan tepat karena tak harus berhadapan dengan pelajaran-pelajaran di sekolah umum yang dirasanya sangat sulit.

“Selain itu, jumlah muridnya hanya 28 orang per kelas ditambah dengan pembagian jurusan menjadikan perbandingan guru dan murid menjadi lebih sedikit. Di sekolah ini pelajaran praktek lebih banyak daripada teori sehingga pemahaman mata pelajaran terasa lebih nyata,” ujarnya.

Prestasii sekolahnya pun bisa menyamai nilai rata-rata di kelasnya. Hal inilah yang membuat Aigis semakin termotivasi dan percaya diri. Di masa ini pula, Aigis meraih prestasi yang sangat membanggakan orangtua dan dirinya sendiri : juara untuk pelajaran mengetik sepuluh jari (blind system). “Saya mendapatkan point tertinggi di sekolah. Padahal, untuk menghafalkan abjad dari A sampai Z saya masih belum bisa. Dan sampai saat ini pun saya tidak mengerti kenapa saya bisa juara,” kata Aigis.

Selepas menamatkan pendidikan menengah atasnya, Aigis akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan dengan jurusan Ilmu Komputer di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Di masa ini, bantuan materi pelajaran dari orangtua sudah sangat terkurangi. Aigis lebih didorong secara motivasi. Ia pun menyadari bahwa ia harus mandiri. Prestasi belajar Aigis pun, hingga menginjak semester VII tak jauh berbeda dengan teman seangkatannya. Kini, Aigis tengah menyusun skripsi untuk meraih gelar sarjananya.

Peran orangtua

Bagi anak-anak penyandang disleksia, dukungan dan peran orangtua sangatlah menentukan. Setidaknya, itu yang dirasakan Aigis. Selain berharap motivasi dari pihak di luar diri, ia juga menekankan, perlunya memberikan rasa percaya pada diri sendiri.

“Camkan bahwa saya mampu dan saya bisa. Dengan begitu, saudara, teman bisa menerima saya. Tetapi, saya berterima kasih, karena kesabaran dan peran orangtua saya bisa seperti sekarang. Saya selalu ingat kata-kata orangtua saya, ‘biar hasilnya jelek, yang penting hasil saya sendiri’. Kata-kata ini membuat saya merasa dipercaya dan mampu,” ungkapnya.

Aigis yakin ia tak sendiri. Di luar sana banyak juga anak-anak penyandang seperti dirinya. Ia berharap, pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar bagi anak-anak berkesulitan belajar spesifik seperti dirinya. “Saya yakin, anak-anak yang mengalami disleksia tidak semuanya dari kalangan mampu. Selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dan berimbang kepada anak-anak seperti kami,” harapnya.

Iklan

Kepadaaa Pembina Upacaraaa…

Hari ini Indra menjadi pemimpin upacara bendera di sekolahnya. Dengan sigap Indra berdiri, dan iapun dengan lantang mengucapkan komando protokoler upacara hari ini., “Kepadaaa Pembina Upacaraaa, hormaaaat g’rak!”

Di detik-detik upacara itu, saya hendak menangis senang memandang Indra. Beberapa detik silam ia tak pernah duduk diam, ia yang clumsy dan selalu bertanya; hari ini Indra memimpin upacara dengan serius dan tertib. Di akhir upacara, Bu Ade, wali kelas Indra, memanggil petugas upacara untuk minggu selanjutnya. Ah, menjadi petugas upacara di sekolah ini tak eksklusif seperti di sekolah lainnya. Semua anak mendapat kesempatan sama, dan semua anak mengalami pengalaman mendebarkan untuk menjadi pemimpin pertama kali.  Indra akan memulai hari-hari ke depan dengan lebih optimistis. Ia akan menjadi pemimpin kaumnya… insya Allah.

Terima kasih, Bu Ade. Terima kasih, Pantara.

  • Kalender

    • November 2017
      S S R K J S M
      « Nov    
       12345
      6789101112
      13141516171819
      20212223242526
      27282930  
  • Cari