Day 21-22

Dua hari ini saya mencoba menerapkan terapi fonetis. Seperti barusan saja, dia membuka kamus Disney bergambar untuk bahasa Spanyol. Buku ini kebetulan saya beli mengingat anak saya tertua di sekolahnya juga diajar bahasa Spanyol walau hanya sedikit. Di kamus ini penggunaan “la” cukup banyak, salah satunya “la mano” atau tangan.

Saya mengeja huruf [l] dengan huruf [a] membacanya [la] dengan penekanan pertama pada konsonan (letaknya lidah di gigi atas). Penekanan kedua saya sengaja mengucap [la] dengan memanjangkan vokal [a], seperti [laaaa].

Saya kemudian ganti dengan vokal-vokal lain (i, u, e, o) yang digabungkan dengan konsonan [l]. Mengganti ke suku kata lain ini kemudian saya carikan contohnya di buku: (li, lu, le, lo).

Setiap saya memintanya merangkaikan atau mengulang pengucapan, saya selalu meminta Indra menatap mata saya. Hasilnya memang cukup baik; malam ini ia bisa merangkaikan dengan benar.

Iklan

Day 16 to 20?

1. Saya ketularan batuk yang amat sangat gatal tapi tidak membuat radang tenggorokan. Konsentrasi berbicara saja sulit, apalagi menulis.

2. Dengan kondisi tak enak badan, saya juga kurang istirahat 4 hari terakhir ini karena hampir setiap hari dari pagi hingga malam harus berkegiatan di luar rumah; ada sahabat dari Papua dan Kalimantan datang ke Jakarta.

Karena kedua alasan itu, saya tidak bisa meng-update kegiatan harian saya dengan Indra di blog ini. Saya bahkan tak banyak berinteraksi dengan Indra kecuali malam hari. Empat hari terakhir ini saya mencoba melatih kemampuan fonetis dan mengenal vokal.

250px-illu01_head_neck.jpg

Dua tahun lalu ia bisa terbalik mengucapkan “gajah” menjadi “jagah” padahal konsonan “j” [dʒ] dan “g” [g] berada pada posisi ucap beda. “Jeh” diucapkan dengan menggunakan lidah yang menempel langit-langit mulut sebelah atas, sedangkan “geh” diucapkan dengan dorongan angin dari kerongkongan (pharyngeal consonant).
Secara fonetis, huruf itu dibagi atas dua: yang disuarakan dan tidak (voiced & voiceless). Konsonan disuarakan adalah /b, d, g/ sedangkan yang tidak adalah /p, t, k/. Rasakan saja bahwa “beh” berbeda dengan “peh” dengan posisi ucap sama (bilabial, atau antara dua bibir). Tak seperti anak seusianya, Indra harus melihat bibir dan posisi lidah baik-baik untuk bisa mengucapkan satu suku kata secara sempurna. Saya harus mengkontraskan “b” dan “p” dengan kata “bapak” agar Indra bisa membedakan kedua konsonan itu dengan baik.

Mengucapkan kata yang lebih dari 2 (dua) suku kata, Indra mengalami kesulitan. Saat ia bercerita soal naik kereta, saya bertanya sudah ke mana saja. Ia menjawab dua kota yang sulit diucapkannya: “Purwokerto” dan “Yogyakarta”. Saat harus mengucap “wo” sebagai satu suku kata saja ia terlihat ragu. Saya mencoba “pur-wo-ker-to” diucapkan satu per satu. Saya kemudian juga mencoba “purwo” dan “kerto”. Terakhir kemudian mengucapkan kata itu dalam satu nafas.

Inilah latihan-latihan fonetis awal yang bisa saya terapkan terhadap Indra. Saya baru akan memulai latihan fonetis terhadap vokal. Semalam ia tak bisa membedakan “e” dengan “te”. Hari ini saya akan mulai dengan huruf “e” taling (seperti dalam “bebek”) dan “e” pepet (seperti dalam “pelajar”.

Day 11

Lepas dari Pameran IFFINA 2008 di PRJ, saya menggonceng Indra ke Alfamart terdekat untuk membeli kado kawan mainnya di daerah sini. Ia memilih 3 mobil balap (karena saya terbiasa membelikan tiga kado untuk dibawa setiap anak). Kami pulang dan membungkus kado di ruang makan. Indra duduk di meja makan memerhatikan saya melipat dan mengelem bungkus kado. Ia memerhatikan dengan seksama. Saya yakin proses ini akan direkam di kepalanya dan satu saat ia akan mencoba dengan detail dan tahapan seperti yang telah saya lakukan.

tongue.jpeg

Satu bukti bahwa ia akan mengingat setiap detail yang saya ucapkan atau lakukan soal letak rasa di lidah. Indra hanya tidak menyebut asam (karena saya pun tak tahu letak persisnya); tapi letak rasa asin, manis dan pahit ia tunjuk dengan benar. Saya memberitahu soal lidah ini ke Indra dua tahun lalu saat pertama kali membeli buku anatomi tubuh yang beberapa bagiannya bisa digerakkan menyesuaikan dengan fungsi dan gerak tubuh. Dan buku itu telah rusak hari ini. Ini membuktikan bahwa daya rekam jangka panjangnya (long term memory) memang sangat baik walau hanya diberitahu sekali saja.

Lepas magrib kami sekeluarga bergegas menuju pameran buku di Senayan. Sayangnya karena ada banyak acara di sana saat ini, akses ke sana macet dan kami pun pulang. Tak ada lima menit, Indra dan kedua saudaranya tertidur di mobil. Kelelahan setelah seharian bermain dan menghadiri acara ulang tahun.

Day 9 & 10

Sesungguhnya saya tak punya banyak waktu mengetik beberapa hari terakhir ini. Masih lelah sepulang dari luar kota tempo hari, dan pekerjaan menumpuk. Mulai belanja ke pasar (saya menyukai ritual ini karena harus naik sepeda ke pasar yang menjual kebutuhan lebih murah) hingga menemani Indra ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaan lain. Hari ini saya tersenyum setiap kali Indra memasukkan bola kain ke dalam keranjang. Ia pun selalu melirik ke tempat saya duduk, seakan bangga telah memasukan beberapa bola. Hari ini saya selalu mengingatkan ia untuk menggunakan tangan kanan, “Berikan ini pakai tangan kananmu,” atau  sekadar bertanya, “Tangan kanan sebelah mana?” Saya berharap ia akan selalu mengingat jika saya bilang, “Kanan dulu.” Sebuah nasehat yang islami, selalu mendahulukan kaki atau tangan kanan.

Day 8

Hari ini saya terbangun dengan Indra memeluk leher saya. So sweet. Dia pindah tempat tidur. Saya tak banyak berinteraksi dengan dia seharian. Masih jetlag alias belum bisa menyesuaikan diri lagi ke metabolisme WIB (waktu Indonesia bagian barat). Belum lagi saya harus temani si sulung membuat kacamata baru yang hilang beberapa bulan lalu dan membuat prestasi di kelasnya menurun. Four months since his glasses gone? How thoughtful of me!

Indra hari ini tetap bertanya banyak, “Kenapa alat itu jalan sih?” Atau, “Siapa yang membuat itu, Ibu?” Jawaban saya belum terlalu baik untuk menjawab keingintahuannya, karena saya masih terlalu lelah merangkai kata-kata. Words. That is all he wants to establish.

Day 4 – 5 – 6

Saya baru kembali dari luar kota. Rindu saya tak tertahankan sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta. Sebelum tidur malam ini, Indra membisiki saya, “Aku ingin bangun kota di sini.” Saya pikir di ruangan kamar ini. Indra melanjutkan, “Nanti ada gedungnya, ada jembatannya.” Saya masih berpikir bahwa imajinasinya dilanjutkan setelah ia bermain Microsoft Visio untuk membuat denah secara user friendly, click and drag. Kemudian saya tanya, “Bahannya apa, Ndra? Dari kertas ya? Karton?”. Ia menggeleng dan berkata tegas, “Bahan kimia.” Halah? Saya tanyakan maksudnya lebih lanjut. Ia menjawab panjang lebar, ada besi, ada baja, dan batu bata.

What an imagination!

Day 3

Karena kemarin sore Indra main hujan lebih dari setengah jam, pagi ini badannya hangat. Ia sedikit menggigil dan bilang kepalanya pusing. Kebetulan stok Tempra di rumah habis, jadi saya peluk dan membiarkannya tidur. Sepanjang pagi ia tidur, break sebentar makan siang, lalu tidur lagi. Hari ini ia tidak masuk sekolah.

Sore pukul 3 ia bangun dan bilang bahwa kepalanya sudah sedikit ringan.  Sekarang justru yang mulai pusing adalah saya, apalagi setelah mendapat telepon bahwa besok malam saya jadi ke Papua hingga hari Minggu. What would he be  not having me around for three nights? What would I do? Sigh.

Malamnya, kami duduk lagi membaca dongeng Dinosaurus. Hanya kali ini saya membaca satu halaman, tentang Brenda dan baju tua. Saya bertanya satu per satu, “Tua apa? Dua apa? Gua apa? Buah apa?”. Indra menjawab: tua itu sudah lama, dua (sambil mengangkat jarinya), gua itu terowongan seram gelap, dan buah semangka! Tadi sore memang kami makan buah semangka.

Saya memintanya mengucapkan keempat kata itu sekali lagi. Buku harus ditutup karena saya harus bergegas merapikan meja belajar si sulung yang berantakan. Indra pun sepertinya mengantuk dan kedinginan. Ia meminta saya menyelimutinya. Tak ada lima menit ia tertidur.

  • Kalender

    • September 2017
      S S R K J S M
      « Nov    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Cari