Day 14

Saya bisa membayangkan bagaimana memiliki anak lebih dari 3 orang. Satu sakit yang lain ikut sakit, tentulah kelelahan yang amat sangat yang harus diterima sang ibu. Sepuluh hari lalu Indra sempat sakit, dan sejak beberapa hari ini sudah kembali ke sekolah. Sekarang giliran adiknya dan kakaknya. Panas tinggi disertai batuk berdahak. Penyakit pancaroba. Saya hanya¬† menemani Indra ke sekolah di pagi hari untuk memberinya semangat. Dia bertanya banyak sepanjang perjalanan ke sekolah. Sesampai lagi di rumah, suami saya bilang, “Indra tidak butuh jawaban atas semua pertanyaan itu.” Saya tak setuju. Semua pertanyaannya harus dijawab. Detail. “Ada apa di dalam tulang,” atau “Mengapa ada rasa sakit.” Saya tekankan kepada suami saya, bahwa Indra itu perekam yang baik. Ia bisa mengungkapkan banyak hal yang kita hanya ucapkan sekali. Ia bisa merangkaikan banyak hal tersebut dalam satu nafas. It’s his gift.

Iklan

Day 13

Kita membaca buku SOre SUper SIbuk karya Clara Ng (teks) dan Emte (ilustrasi). Indra bisa menunjuk So Su Si karena menghapal. Hapalan, ini adalah satu kelebihan Indra. Ia harus diperkenalkan huruf dengan cara menghapal letak terlebih dahulu. Jika ia telah mampu mengingat letak, tentunya ia juga bisa menghapal bentuk huruf. Sore Super Sibuk adalah cerita favoritnya, tentang pemadam kebakaran, polisi dan ambulans yang menolong orang. Saya pernah naik bus TransJakarta di satu hari Sabtu sore bersama Indra dan kakaknya. Macet luar biasa mulai dari Harmoni hingga depan Lindeteves. Ada kebakaran di salah satu ruko di sana. Pengalaman nyata ini membekas, dan Indra memperhatikan buku Clara Ng/Emte ini dengan seksama sepanjang malam ini. Apapun yang menjadi minat Indra, saya selalu mencoba menggali lebih untuknya, baik dengan pengalaman langsung ataupun bercerita dengan intonasi yang menghibur. It’s a start.

Day 11

Lepas dari Pameran IFFINA 2008 di PRJ, saya menggonceng Indra ke Alfamart terdekat untuk membeli kado kawan mainnya di daerah sini. Ia memilih 3 mobil balap (karena saya terbiasa membelikan tiga kado untuk dibawa setiap anak). Kami pulang dan membungkus kado di ruang makan. Indra duduk di meja makan memerhatikan saya melipat dan mengelem bungkus kado. Ia memerhatikan dengan seksama. Saya yakin proses ini akan direkam di kepalanya dan satu saat ia akan mencoba dengan detail dan tahapan seperti yang telah saya lakukan.

tongue.jpeg

Satu bukti bahwa ia akan mengingat setiap detail yang saya ucapkan atau lakukan soal letak rasa di lidah. Indra hanya tidak menyebut asam (karena saya pun tak tahu letak persisnya); tapi letak rasa asin, manis dan pahit ia tunjuk dengan benar. Saya memberitahu soal lidah ini ke Indra dua tahun lalu saat pertama kali membeli buku anatomi tubuh yang beberapa bagiannya bisa digerakkan menyesuaikan dengan fungsi dan gerak tubuh. Dan buku itu telah rusak hari ini. Ini membuktikan bahwa daya rekam jangka panjangnya (long term memory) memang sangat baik walau hanya diberitahu sekali saja.

Lepas magrib kami sekeluarga bergegas menuju pameran buku di Senayan. Sayangnya karena ada banyak acara di sana saat ini, akses ke sana macet dan kami pun pulang. Tak ada lima menit, Indra dan kedua saudaranya tertidur di mobil. Kelelahan setelah seharian bermain dan menghadiri acara ulang tahun.

Day 9 & 10

Sesungguhnya saya tak punya banyak waktu mengetik beberapa hari terakhir ini. Masih lelah sepulang dari luar kota tempo hari, dan pekerjaan menumpuk. Mulai belanja ke pasar (saya menyukai ritual ini karena harus naik sepeda ke pasar yang menjual kebutuhan lebih murah) hingga menemani Indra ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaan lain. Hari ini saya tersenyum setiap kali Indra memasukkan bola kain ke dalam keranjang. Ia pun selalu melirik ke tempat saya duduk, seakan bangga telah memasukan beberapa bola. Hari ini saya selalu mengingatkan ia untuk menggunakan tangan kanan, “Berikan ini pakai tangan kananmu,” atau¬† sekadar bertanya, “Tangan kanan sebelah mana?” Saya berharap ia akan selalu mengingat jika saya bilang, “Kanan dulu.” Sebuah nasehat yang islami, selalu mendahulukan kaki atau tangan kanan.

Day 8

Hari ini saya terbangun dengan Indra memeluk leher saya. So sweet. Dia pindah tempat tidur. Saya tak banyak berinteraksi dengan dia seharian. Masih jetlag alias belum bisa menyesuaikan diri lagi ke metabolisme WIB (waktu Indonesia bagian barat). Belum lagi saya harus temani si sulung membuat kacamata baru yang hilang beberapa bulan lalu dan membuat prestasi di kelasnya menurun. Four months since his glasses gone? How thoughtful of me!

Indra hari ini tetap bertanya banyak, “Kenapa alat itu jalan sih?” Atau, “Siapa yang membuat itu, Ibu?” Jawaban saya belum terlalu baik untuk menjawab keingintahuannya, karena saya masih terlalu lelah merangkai kata-kata. Words. That is all he wants to establish.

Day 7

Tak banyak yang saya lakukan untuk membantu terapi Indra hari ini. Saya biarkan ia bermain dengan saudara atau kawannya sepanjang hari. Siang hari, ia sempat bermain tamiya yang baru dirakit tadi pagi oleh pedagang mainan di lapangan sekolah. Ia membongkar-pasang dan memodifikasi beberapa bagian. Saya tak terlalu memperhatikan kualitasnya, namun ia bisa duduk satu jam mengutak-atik mainan itu. Sore hari saya harus pergi hingga baru kembali sejam lalu. Ah… besok saya harus lebih intensif lagi.

Day 4 – 5 – 6

Saya baru kembali dari luar kota. Rindu saya tak tertahankan sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta. Sebelum tidur malam ini, Indra membisiki saya, “Aku ingin bangun kota di sini.” Saya pikir di ruangan kamar ini. Indra melanjutkan, “Nanti ada gedungnya, ada jembatannya.” Saya masih berpikir bahwa imajinasinya dilanjutkan setelah ia bermain Microsoft Visio untuk membuat denah secara user friendly, click and drag. Kemudian saya tanya, “Bahannya apa, Ndra? Dari kertas ya? Karton?”. Ia menggeleng dan berkata tegas, “Bahan kimia.” Halah? Saya tanyakan maksudnya lebih lanjut. Ia menjawab panjang lebar, ada besi, ada baja, dan batu bata.

What an imagination!