Jenis Huruf untuk Disleksia

Sudah lama tidak update blog ini, dan saya membaca kabar gembira bagi mereka yang kesulitan membaca dan menulis dengan jenis huruf Arial atau Times New Roman.

Sebuah penelitian Christian Boer desainer grafis lulusan Universitas Twente, Belanda, membuat jenis huruf yang membantu mengurangi kesalahan membaca dan menulis. Ia sendiri adalah anak disleksik.

Penelitian itu bisa dibaca bahasannya di sini.

Jenis huruf (font) itu bisa dibeli di sini.

Seorang Sahabat

Tulisan di bawah ini adalah liputan Kompas, Selasa, 3 Agustus 2010 | 12:18 WIB. Seorang sahabat virtual saya yang banyak membantu saya dan Indra dengan berbagai informasi disleksia. She’s a survivor, a new Einstein female on the making.

***

JAKARTA, KOMPAS.com – Sepintas, Aigis Arira (21) terlihat seperti mahasiswa pada umumnya. Kini, ia menempuh semester 7 jurusan di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Tak ada yang menduga bahwa ia seorang penyandang disleksia.

Pada beberapa fase hidupnya, Aigis pernah mengalami masa-masa sulit. Saat ia dianggap memiliki hambatan belajar. Sesuatu yang menurutnya biasa-biasa saja. Tetapi, tak biasa bagi orang-orang sekitarnya. Saat menginjak kelas 3 SD, orangtuanya baru menyadari bahwa Aigis mengalami perkembangan yang berbeda dari anak-anak sebayanya. Ia menceritakan, awalnya, ia menempuh sekolah dasar di SD Cinere 03 pada tahun 1995-1997.

“Di sini, saya pribadi tidak merasakan kesulitan di dalam diri saya. Tetapi, di mata orang sekeliling saya, mereka berpendapat lain. Saya tidak bisa membedakan ‘b’ dan ‘d’ bahkan sering kebalik, menyalin suka salah, padahal saya duduk paling depan. Menghafal perkalian dan pembagian saya tidak bisa, menggambar kubus hasilnya bisa trapesium,” kisah Aigis, dalam sebuah seminar nasional mengenai disleksia, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Aigis juga mengalami hambatan dalam mengutarakan pendapatnya, sehingga berakibat ia malu bertanya dan tidak bisa bergaul dengan teman-temannya. “Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui kondisi saya, bila orangtua saya tidak mencari info, maka mungkin sampai sekarang tidak akan tahu bahwa saya mempunyai sesuatu yang unik,” ujarnya.

Menyadari ada kekhususan yang dibutuhkan anaknya, orangtua Aigis kemudian memindahkannya ke sekolah khusus, SD Pantara, yang menangani anak-anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (specific learning difficulties/LD). Di sekolah ini, Aigis lebih merasakan kenyamanan karena mendapat penanganan khusus dan lingkungan yang lebih kondusif. Pendidikan dasarpun berhasil ditamatkannya.

Melanjutkan ke SMP Umum

Masa SMP dirasakan Aigis adalah masa terberatnya. Setamat SD, Aigis dan keluarganya hijrah ke Bandung. Disana, Aigis tak lagi mengenyam pendidikan di sekolah khusus. Ia kembali melanjutkan ke sekolah umum, SMPN 4 Cimahi. Pada masa SMP inilah, Aigis diberitahu oleh orangtuanya bahwa ia seorang penyandang disleksia. “Ketika SMP, orangtua saya baru menjelaskan bahwa kondisi saya seperti ini, seperti ini. Inilah titik terberat yang saya alami, karena harus sekolah di sekolah umum, beda dengan SD saya yang muridnya sedikit,” kata Aigis.

Ia pun harus beradaptasi. Dari semula di SD hanya memiliki teman 8 orang dalam satu kelas dengan dua guru, kini 44 orang orang dengan satu guru. “Waktu SMP, saya selalu memilih duduk di belakang karena takut ditanya guru,” ujarnya enteng.

Bagaimana prestasi belajarnya? “Saya ranking 44 dari 44 murid. Lumayanlah, ada rankingnya, daripada enggak ranking,” kata Aigis sambil tertawa.
Tetapi, saat SMP ini, dorongan orangtua sangat kuat dirasakan Aigis. Ia diminta hanya mencatat seluruh pelajaran dan perkataan gurunya. “Saya belajarnya di rumah, dengan orangtua saya,” kata gadis hitam manis ini.

SMA Juara Mengetik 10 Jari

Memasuki jenjang pendidikan menengah atas, Aigis merasa sudah lebih bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Ia melanjutkan ke SMK dengan jurusan RPL alias Rekayasa Perangkat Lunak. Ya, Aigis memang suka dengan segala seuatu yang berhubungan dengan computer. Lagipula, sekolah kejuruan dianggapnya sebagai pilihan tepat karena tak harus berhadapan dengan pelajaran-pelajaran di sekolah umum yang dirasanya sangat sulit.

“Selain itu, jumlah muridnya hanya 28 orang per kelas ditambah dengan pembagian jurusan menjadikan perbandingan guru dan murid menjadi lebih sedikit. Di sekolah ini pelajaran praktek lebih banyak daripada teori sehingga pemahaman mata pelajaran terasa lebih nyata,” ujarnya.

Prestasii sekolahnya pun bisa menyamai nilai rata-rata di kelasnya. Hal inilah yang membuat Aigis semakin termotivasi dan percaya diri. Di masa ini pula, Aigis meraih prestasi yang sangat membanggakan orangtua dan dirinya sendiri : juara untuk pelajaran mengetik sepuluh jari (blind system). “Saya mendapatkan point tertinggi di sekolah. Padahal, untuk menghafalkan abjad dari A sampai Z saya masih belum bisa. Dan sampai saat ini pun saya tidak mengerti kenapa saya bisa juara,” kata Aigis.

Selepas menamatkan pendidikan menengah atasnya, Aigis akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan dengan jurusan Ilmu Komputer di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Di masa ini, bantuan materi pelajaran dari orangtua sudah sangat terkurangi. Aigis lebih didorong secara motivasi. Ia pun menyadari bahwa ia harus mandiri. Prestasi belajar Aigis pun, hingga menginjak semester VII tak jauh berbeda dengan teman seangkatannya. Kini, Aigis tengah menyusun skripsi untuk meraih gelar sarjananya.

Peran orangtua

Bagi anak-anak penyandang disleksia, dukungan dan peran orangtua sangatlah menentukan. Setidaknya, itu yang dirasakan Aigis. Selain berharap motivasi dari pihak di luar diri, ia juga menekankan, perlunya memberikan rasa percaya pada diri sendiri.

“Camkan bahwa saya mampu dan saya bisa. Dengan begitu, saudara, teman bisa menerima saya. Tetapi, saya berterima kasih, karena kesabaran dan peran orangtua saya bisa seperti sekarang. Saya selalu ingat kata-kata orangtua saya, ‘biar hasilnya jelek, yang penting hasil saya sendiri’. Kata-kata ini membuat saya merasa dipercaya dan mampu,” ungkapnya.

Aigis yakin ia tak sendiri. Di luar sana banyak juga anak-anak penyandang seperti dirinya. Ia berharap, pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar bagi anak-anak berkesulitan belajar spesifik seperti dirinya. “Saya yakin, anak-anak yang mengalami disleksia tidak semuanya dari kalangan mampu. Selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dan berimbang kepada anak-anak seperti kami,” harapnya.

Lebih dari Satu Kecerdasan

(tulisan ini dikutip dan disadur dari childcareaware.org atas tulisan Different Kinds of “Smarts”:  Supporting Children’s Intelligence Styles)

Ada beberapa jenis kecerdasan.  Howard Gardner merumuskan tujuh sampai sembilan jenis. Kita fokuskan pada tujuh pertama (dua lainnya disebut naturalis dan kecerdasan spiritual). Menurut teori ini, semua orang memiliki kecerdasan dalam semua bidang. Gambarkan tujuh jenis kecerdasan dalam diagram lingkaran dan tentukan persentase setiap satu bagian anak Anda, mana yang tertinggi, mana yang terendah.

Mengetahui Kecerdasan Anak Anda

Jadi bagaimana mengetahui jenis kecerdasan anak Anda? Bagaimana tindakan ini akan membantu Anda? Tindakan ini membantu Anda untuk menyediakan jenis kegiatan dan pengalaman di rumah. Anda bisa membantu anak Anda untuk belajar dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang paling alami baginya.  Meskipun demikian, anak-anak perlu diperkenalkan berbagai pengalaman. Mereka pun dapat turut dalam berbagai kegiatan belajar.

Mengetahui jenis kecerdasan anak Anda tidak berarti Anda mengabaikan keterampilan dan kemampuan lainnya. Sebagai contoh, walaupun anak Anda mungkin tidak mampu bermain sepakbola dengan baik, Anda tetap dapat membiarkan anak Anda berpartisipasi.  Juga, jika kekuatan anak Anda bukan soal bahasa atau matematika, bukan berarti anak Anda tidak bisa belajar untuk membaca atau belajar untuk tambah-kurang. Semua anak-anak harus belajar membaca, bahasa yang digunakan, dan berhitung.  Ini artinya bahwa menggunakan kelebihan sang anak, Anda dapat membantu mereka belajar untuk membaca dan melakukan matematika lebih mudah.

Anak-anak baru menunjukkan tipe kecerdasan yang kuat sampai setelah usia 2.  Berapapun usia anak Anda, sebaiknya Anda mendukung anak belajar dengan membiarkan dia berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan pengalaman. Seperti anak Anda bertambah usia, keterampilan yang paling menonjol akan menjadi lebih jelas. Dengan menyadari tipe anak Anda atau cara yang disukai untuk belajar, Anda dapat bekerja dengan pengasuh anak dan guru untuk memastikan bahwa metode pengajaran yang mencerminkan tipe anak Anda kemampuan. Sebagai orang tua, cara terbaik untuk mendukung anak Anda di sekolah adalah memiliki banyak informasi tentang anak Anda sebanyak mungkin. Setiap anak memiliki bakat mereka sendiri.  Setelah Anda tahu apa kelebihan anak Anda maka Anda dapat berbicara dengan guru anak Anda dan berkata, “Lihatlah bagaimana pintarnya anak saya.”

JENIS KECERDASAN

Visual-Spatial: Teka-teki, membaca, menulis, menggambar, seni visual, mengetahu arah dengan baik, merancang objek, memperbaiki sesuatu

Verbal-Linguistik: Berbicara, bercerita, menulis, mendengarkan, menggunakan humor, mengingat informasi, menggunakan bahasa cerdik

Logical-Mathematical: Pemecahan masalah, kategorisasi mengelompokkan, bekerja dengan bentuk geometris

Bodily-Kinesthetic: Menari, olahraga, akting, apa saja yang membutuhkan koordinasi fisik, menciptakan dengan tangan

Musical-Rhythmic: Menyanyi, bermain alat musik, menggubah musik

Interpersonal: Bisa melihat titik pandang lain, mendengarkan, mampu menangkap isyarat dari orang lain, baik dalam membentuk hubungan baik dengan orang lain, resolusi konflik; pemimpin yang baik

Intrapersonal: Mencari tahu kekuatan dan kelemahan sendiri, menganalisis, memahami diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain

Dyslexia Awareness Diknas, 31 Juli 2010

Dyslexia Awareness

SEMINAR & WORKSHOP, 31 Juli 2010, Gedung D Kantor Kementerian Pendidikan dan Nasional

Seminar Utama: “Mengenal Disleksia: Akomodasi dan Layanan Pendukung yang Dibutuhkan”

Seminar 1: “Dukungan Profesional bagi Anak Disleksia”

Seminar 2: “Menemukan Disleksia Lebih Dini”

Workshop: “Strategi Pembelajaran Disleksia”

Membangun Percaya Diri Sang Anak: Keluar Dari Awan Disleksia Secara Meyakinkan

Saya meyakini di setiap sekolah setiap saat sepanjang tahun ada saja satu dua anak yang menderita disleksia. Sang anak kerap mengalami hambatan di kelas. Segala bentuk menulis atau menghitung seakan hadir seperti monster. “Mengapa aku tidak bisa membaca dan mengeja?” hingga pernyataan sang kepala sekolah di sekolah Indra sebelumnya. Dengan dinginia mengomentari kejadian saat Indra berlari ke lapangan di hari hujan, “Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak bodoh.” Ah, mungkin yang ia maksud dunia pendidikan di Timbuktu, saya tak ambil pusing.

Saya kemudian mencoba mencari tahu keunikan Indra sampai ke akar permasalahan, jauh di bawah permukaan yang dilihat sang kepala sekolah itu. Yang patut dipahami dari Indra adalah kemampuannya dalam bidang koordinasi fisik, kreativitas,  empati dengan orang lain. Kekuatannya mungkin ada di beberapa daerah tersebut. Indra mudah menari jika mendengar musik menghentak (koordinasi fisik). Ia mampu menggambar sejam penuh atas apapun yang menjadi minatnya hari itu (kreativitas). Ia pun mudah jatuh iba akan hal kecil, seperti melihat pengemis kecil di jalan, atau bahkan melihat saya termenung kelelahan di satu sore (empati).

Saya telah mencoba metode pengajaran bahasa semasa kuliah dulu (linguistik) dengan kesadaran fonem. Saya pun mencoba mendapatkan buku-buku menarik dan permainan kata, sebagai fondasi dasar bagi Indra. Saya pun mencoba menyakinkan ia tiap malam dengan mengatakan kepadanya bahwa semua yang ia kerjakan itu baik, bahwa ia adalah anak cerdas. Setiap malam. Walau saya telah mengatakan padanya bahwa selama bertahun-tahun, ia perlu bukti.

Di satu saat, saya pernah melakukan latihan berikut ini, yang bisa memiliki efek pada Indra. Bisa dilakukan sendirian ataupun bersama sang anak . Ambil selembar kertas dan membuat dua kolom: dalam satu kolom menambahkan ‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ dan pada yang lain ‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’

Tulislah daftar ini selama sekitar lima atau sepuluh menit, lalu diskusikan bersama anak Anda. Kajilah dari sudut pandang objektif.  Daftarnya akan terlihat seperti ini, tentu saja tergantung pada minat setiap anak:

‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ (GOOD AT)
o berenang
o menyelam
o bola basket
o merawat kelinci saya
o menggambar
o membuat lukisan
o mengumpulkan perangko
o bermain dengan anak-anak lain
o membersihkan meja
o membuat orang tertawa
o softball
o bersikap ramah kepada kakek
o mengetahui tentang ruang dan planet-planet
o dll

‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’ (NOT GOOD AT)
o ejaan
o membaca
o menulis
o matematika

Saya menaatap wajah Indra untuk memastikan ke dia bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan daripada hal-hal yang ia anggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Dia jelas-jelas orang yang bakal sukses dengan segala kemampuannya.

Tapi di matanya seakan muncul pertanyaan: apakah kelemahannya itu adalah hal-hal yang penting dalam hidup. “Jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?” Ini adalah tahap di mana saya harus berdebat dengannya, dan saya yakinkan bahwa saya menghargai semua jenis kualitas yang Indra tonjolkan, terutama kemampuannya untuk menjadi pribadi ramah, memikirkan orang lain sebelum diri mereka sendiri dan seterusnya. Bukan karena dia tidak mencoba atau bahkan orang tua memberi klaim bahwa sang anak itu bodoh (seperti, sayangnya, ucapan sang kepala sekolah Indra di sekolah lama).

Membangun kepercayaan diri sang anak bisa menjadi satu titik balik – berapa pun usia nya – yang penting bagi  fondasi pembelajaran khusus; yaitu mengeja dan menulis dengan lebih mudah.

Sharing Acara di Manado: DETEKSI MASALAH PERKEMBANGAN ANAK

Acara ini menarik tapi jauh sih. Paling tidak buat siapapun yang tertarik, silakan ke Manado. Detailnya adalah sebagai berikut:

Pra-kongres Nasional VI PDSKJI

Simposium dan Workshop

DETEKSI MASALAH PERKEMBANGAN ANAK DAN PENATALAKSANAANNYA

Keterlambatan bicara, autisme, hiperaktif, kesulitan belajar, dan masalah perilaku

Sintesa Peninsula Hotel, Manado

2 November 2009

Sekretariat Pusat: Alam Segar 10 no 3 Pondok Indah, Jakarta 12310, telp. 021-70226052, 369 71365, 310 7741 ext. 107 (Tiana, Desi, Vina)

Sekretariat Daerah: Bagian Psikiatri FK Unsrat Manado, Rumah Sakit Prof. dr Kandou, Jl Raya Tanawangko, Malalayang, Manado, Telp/Fax: 0431-869 528

Contact person: dr Anita E Dundu SpKJ telp 0815 805 2825 & dr Nenny Eka Wardhani 0431-348 2274

GOOD LUCK!

Indra dan Sekolah Barunya

“Bu, aku suka di sini, aku sekolah di sini ya!”

Ucapan Indra itu membuat Bu Gayatri tertawa, “Indra memang sekolah di sini.”

Saat ditanya mengapa ia menyukai sekolah barunya, Indra menyatakan bahwa kelas yang hanya berjumlah 6 orang itu nyaman dan tidak berisik. Di SD Negeri tempat Indra dahulu belajar memang cukup ramai, mengingat per kelas bisa mencapai 40 orang! Setiap jam ada murid berolahraga di lapangan, dengan suara-suara yang kerap mengganggu konsentrasi Indra saat menghadapi pelajaran di kelasnya.

Betul, saya memindahkan Indra ke sekolah baru ini. Lebih jauh, tapi masih ada yang dua kali lipat jauhnya daripada jarak rumah-sekolah saya. Informasi sekolah ini saya dapatkan dari sahabat virtual saya, Mbak Aigis, yang kebetulan memang passer-by di blog saya ini. Terima kasih, ya. Mungkin saya terlambat, tapi memang ada masa pembelajaran bagi saya, yang mungkin sebuah kemewahan, karena tak semua orang bisa tahu lebih awal tentang anaknya. Di sekolah Indra dahulu, mulai dari TK hingga SD yang lampau, tak ada yang tahu tentang kesulitan belajar (learning difficulties) yang dialami Indra; apalagi tahu tentang sekolah khusus ini. Apa saja yang diberikan, bagaimana metode belajarnya, dan bagaimana mekanisme seleksi anak murid sebelum diterima; semuanya harus saya pelajari sambil merasakan bagaimana emosi saya terayun-ayun kencang.

Jika tak ada kawan-kawan di blog ini, mungkin saya sudah menyerah pada nasib. Dan jika ada kawan-kawan lain yang belum mengetahui bahwa anaknya mengalami kesulitan belajar, ada deteksi dini terhadap anak yang mengalami kesulitan belajar di tahap awal (prasekolah). Silakan ke Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia di Kampus Salemba, Jakarta Pusat  (klik sini) atau ke Yayasan Pantara di Jl. Senopati 72, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sekali lagi, terima kasih Mbak Aigis. Terima kasih semua kawan virtual saya. It’s just the beginning…

Mules, Rasa Adil, dan Intesitas Terhadap Anak Disleksik

Akhirnya Indra masuk sekolah dasar favorit!

Sakit perut selama dua minggu intensif melatih Indra membaca-menulis untuk ikut ujian masuk salah satu sekolah dasar (SD) percontohan, saya akhirnya bisa bernafas lega. Indra diterima walaupun hasil akademisnya masih kalah dibanding hasil wawancara dan kesehatan. Di hari kedua ujian (wawancara) saya sempat mules karena melihat Indra tak bisa diam duduk; ia selalu ingin tahu dan nyelonong ke dalam kelas tempat wawancara. Ia diusir keluar dan saat disuruh duduk, kakinya sempat diangkat karena bersandar dengan teman satu TK-nya. Terlihat guru yang ‘menghalau’ ia keluar ruangan menggeleng kepala. Ah…

Perut mules tentu tak berhenti di saat ia diterima di sekolah favorit ini. Masih akan ada tantangan lebih kompleks lagi di masa depan. Menjelang liburan panjang ini, saya ditawari untuk membantu kawan di Kalimantan selama sebulan. Terus terang saya akan membawanya ke sana, untuk menggali pengalaman lain. Mungkin akan ada kecemburuan dari adik atau kakaknya jika saya hanya mengajak Indra. Ah… sebuah dilema yang harus dipikir dalam suasana tenang. Dilema antara “rasa adil untuk setiap anak” dengan “intensitas terhadap anak yang memiliki kekurangan khusus”. Mungkin saya tak sendiri.

Keuntungan Jadi Anak Disleksia

THE ADVANTAGES of BEING DYSLEXIC and ADD

WHAT CAN DYSLEXIC AND ADD PEOPLE DO better than others ?
Strengths of Creative Thinkers *

Many people with learning differences of Dyslexia and ADD are capable of some extraordinary

thinking and can be extremely successful once they learn some coping strategies. This is why

we prefer to call them, more appropriately, Creative Thinkers. Some of the Creative Thinkers

strengths are:

  • Persistence,
  • Concentration,
  • Perception,
  • Vivid imagination,
  • Creativity,
  • Drive and ambition,
  • Curiosity,
  • Thinking in pictures instead of words,
  • Superior reasoning,
  • Capable of seeing things differently from others,
  • Love of complexity,
  • Simultaneous multiple thought processing,
  • Quickly mastering new concepts, and
  • Not following the Crowd.

Most people who are not dyslexic and rate low on the scale of Creative Thinking, are verbal learners, based on word acquisition by hearing. Verbal learning is limited to the speed of a person’s speech. This auditory information goes into the conscious mind, so that the non-dyslexic person is aware of the information.

Thinking and learning in pictures rather than words is thousands of times faster, and is subliminal, going directly into the subconscious mind. This visual learning style is what a Creative Thinker uses. The acquisition of information as pictures create an immense amountof multi-dimensional information, that can be manipulated in many forms by the brain to enable intuitive thinking, perception, and other interesting thought processes.

Frequently this learning style leads to thought delays, because of the tremendous amounts of information processed.

Unusual Abilities of Some Creative Thinkers

Although each Creative Thinker is distinctly different in their mental capabilities, some of these abilities can be evidence of the intellectual and creative powers of a genius waiting to be unlocked. Imagine feeling that someone is behind you before you can see or hear them. Some Creative Thinkers have mental abilities that go well beyond this common phenomena and approach the supernatural. Examples include:

  • Controlling the perception of time, causing it to operate in slow motion or rapidly,
  • Doing complex math in their head quickly; but not knowing how they did it,
  • Seeing a solution from a mental examination of the components, such as projecting interest rates for investments, or creating a new computer chip,
  • Communicating telepathically with others, or
  • Controlling the outcome of events, like calling the correct numbers on dice before they are rolled.

Although not all Creative Thinkers possess these talents, extrasensory perceptions like these represent abilities that are uniquely valuable to some; but ludicrous to others who do not understand the learning and mental processing differences of making effective use of the right side of the brain by Creative Thinkers.

Some of the Successful People Who Admit That They Are
Dyslexic or ADD Include:

Tom Cruise – Actor

Jay Leno – Television personality (Tonight Show )

Thomas Edison – Inventor

Albert Einstein – Inventor

Winston Churchill – British Prime Minister, WWII

George Bush- Former US President

George Patton – US General, WWII

George Burns – Comedian

Whoopi Goldberg, Actress

Danny Glover, Actor

Cher – Actress, Singer

SOURCE: “The Many Facets of Dyslexia”

Some Common Traits Associated with the Learning Differences of Dyslexia and ADD

Each person is different and will have a unique combination of the common traits listed below.

1. Thinks visually.

2. Daydreams.

3. Easily distractible.

4. Aware of everything.

5. Able to do multiple things at the same time.

6. Seeks stimulation.

7. Highly creative.

8. Immature social behavior, says what comes to mind.

9. Poor penmanship.

10. Difficulty remembering names.

11. Seeks immediate gratification.

12. Impulsive and impatient.

13. Suffers from motion sickness.

14. Can see patterns into the future.

15. Capable of intense short-term focus.

16. Quick decision maker.

17. Bored by ordinary tasks.

18. Risk taker.

19. Have had problems with ears.

20. More independent than a team player.

21. Sees the big picture.

22. Curious.

23. Experience thoughts as reality.

24. Subject to disorientation.

25. Sometimes has psychic – extrasensory abilities.

26. Highly intuitive.

27. Short attention span, inattentive.

28. Has a vivid imagination.

29. Artistic.

30. Has a sense of under achievement.

31. Have spatial orientation problems (left/right, north/south)

32. Talks excessively.

33. Reverses letters and numbers.

34. Slow reader when young.

35. Difficulty with math concepts.

36. Problems with self-esteem.

37. Problems mastering phonics and spelling.

38. Problems understanding the rules of grammar.

39. Reads best by memorizing, the “Look-Say System.”

40. Always active-constantly thinking,

41. Learns best by hands on, rather than lecture or reading.

42. Low tolerance for frustration.

43. Realize that they are different from others.

44. Take longer to think and respond than others.

45. Able to create a complete mental picture from pieces.

46. Somewhat disorganized.

47. Capable of changing on a moments notice.

48. Have phobias: like fear of dark, heights, speaking in public.

49. Prefer unstructured situations with freedom.

50. Feels like they see problems from the perspective of a helicopter flying above forests of problems rather than working from the root of trees in one forest.

51. See things that others don’t.

Indra dan Keisha: Dua Pribadi Ramah

Mudah-mudahan saya tidak salah menulis nama kawan Indra di sekolahnya.

Indra sering memanggilnya “Esha”, dan Esha sering memanggil saya “mama-nya Indra”. Sebulan lalu saya ingat saya berdialog dengan Esha di samping kelas, sambil bermain pasir di kotak pasir. Sesungguhnya saya sedang membaca majalah, dan ia bermain bersama anak lain yang lebih muda dari usianya. Tak ada orang dewasa lain duduk dekat situ. Ia menegur saya, “Mama-nya Indra, lagi baca apa?” Saya senyum dan jawab seadanya. Esha terus men-donder saya dengan pertanyaan dan cerita-cerita. Yang saya ingat dari dialog ini ada senyumnya yang tulus dan menyejukkan. Minggu depannya saya dan Indra sempat papasan dengan dia dan mamanya sepulang sekolah. Yang ditegur adalah saya, “Halo Mama Indra!”, diiringi senyum cantiknya.

Keisha adalah anak lain di kelas Indra yang tak mampu membaca menulis. Mungkin disleksia, mungkin juga bukan. Guru kelasnya pernah menyinggung namanya soal kesulitan membaca ini. Saya malam ini hanya mau membandingkan pribadi ramah anak saya dan Keisha. Indra, khususnya, memiliki senyum yang lucu dibanding saudara-saudaranya. Ia suka ‘nge-dagel dan memeluk kawan-kawannya. Ia suka momong dan melindungi anak yang lebih kecil.

Saya melihat Indra, Keisha dan keramahan mereka. They are lovable creatures. Mungkinkah anak-anak disleksik memiliki emotional intelligence yang lebih tinggi?

Wallahualam. Saya perlu data lebih banyak untuk tegaskan hipotesis ini, dan saya tak mampu memperdalam hal ini lebih lanjut. Mudah-mudahan ada tulisan penelitian tentang ini yang tersimpan di internet… let’s check ’em out!

Ah dapat… tapi saya terjemahkan sepertinya bukan keramahan, tapi justru “ANXIETY to cope with intellectual boredom”. Halah…

Klik sini untuk link/pranala penelitian itu.

Di bawah ini saya terjemahkan kesimpulannya saja (mudah-mudahan membantu):

KESIMPULAN

Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa tren umum dari temuan tulisan 1990 dengan beberapa perbaikan dapat memberikan pengertian tata hubungan antara disleksia dan manusianya. Riset ini menganalisis, tentunya, beberapa kelompok penderita disleksia, yang diketahui memiliki pola dan penilaian berbeda antara kemampuan inteligensia konvensional dan “the Cattell Culture Fair test”.

Kelompok disleksia biasa diperlakukan “kurang mampu” dari yang seharusnya. Satu hipotesis adalah melihat mereka lebih rentan berakhir frustasi, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil dan mengalami tingkat kebosanan intelektual yang tinggi. Yang terakhir ini terjadi di saat mereka diberikan stimulasi akademis yang dianggap cocok untuk kemampuannya, tapi sesungguhnya jauh lebih sederhana dari yang mereka inginkan. Situasi ini bisa membuat mereka stres tinggi yang disebabkan faktor disleksia. Beberapa penelitian membedakan perilaku berdasarkan gender yang mungkin tak bisa diterima. Dodd (1995) melaporkan:

Margaret’s frustration finally snapped whilst doing a national curriculum test. She couldn’t do it but could have no help and she had an outburst in which she threw the textbook, chair and desk at the headmaster who was taking the class. (Dodd, 1995)

Kita bisa melihat manifestasi dari asumsi bahwa saat orang lulus pendidikan, ia akan mengembangkan kemampuan khusus yang membantu mereka menyelesaikan masalah sehari-hari. Hal ini juga diharapkan terjadi pada anak-anak disleksik; bahwa mereka harus tahu menyelesaikan masalah dengan latihan kemampuan di sekolah. Mereka diharapkan beradaptasi dan jika di tahun-tahun berikutnya mereka gagal, mereka harus menanggungnya sebagai satu kesalahan. Hasilnya membuktikan bahwa beberapa aspek kehidupan memburuk, sehingga dukungan dan bantuan tetap harus diberikan.

Ada hal menarik, yaitu saat memperhatikan murid sekolah yang disleksik yang meninggalkan sekolah menengah, mereka menjadi murid yang lebih baik di bangku kuliah. Ada kecurigaan bahwa pendidik di bangku kuliah lebih memberikan perhatian dan dukungan daripada bangku sekolah menengah (Hales, 2001). Namun, tak harus selalu mereka menyelesaikan kuliahnya, karena ada perihal situasi beradaptasi yang luar biasa berat bagi mereka. Dari data kami, ada perkembangan dampak terhadap anak disleksik yang berlanjut ke usia dewasa dan harus diperhatikan seksama sepanjang hidupnya.

Dalam data riset tahun 1990, ditemukan bahwa dampak terbesar lebih kepada anak perempuan daripada anak lelaki. Walau demikian, perbandingan jumlah anak perempuan dan anak lelaki adalah 1:3. Yang menarik, peserta kelompok penelitian ini adalah perempuan, karena mereka lebih menarik diteliti dalam kondisi yang diinginkan dalam riset ini. Hal ini memperlihatkan bahwa anak perempuan atau perempuan dewasa adalah lebih sulit beradaptasi dibanding anak lelaki atau lelaki dewasa; dalam konteks pengaruh terhadap aspek non-akademis saat menghadapi situasi tertentu.

*yang di bawah ini terjemahkan sendiri ya… capek!*

We already seen that in terms of ability components the differences between the Culture Fair IQ scores and Wechsler Full Scale IQ scores were smaller for females than for males dung school years (Figure 6), but the effects of their position on the personality components appears to be more pronounced.

There is currently an improved and improving understanding of the need to consider the personal and integrative needs of dyslexic people. However, this is often set within the context of specific counselling for those who are seen to have ‘personal difficulties’. The results of this study suggest that many of those who are vulnerable in this way are not, in fact, obvious and therefore do not receive appropriate help and assistance. The dyslexic individual is still the person he or she always was, with the same natural talents, aptitudes and life possibilities. However, those of us who are professionals or who make provision for dyslexic people need to give much more thought to the depth and complexity of what we provide in order to preserve, develop and enhance those talents. We must support dyslexic people in every way so that they become not just coping and capable but whole, coping and capable.