Jenis Huruf untuk Disleksia

Sudah lama tidak update blog ini, dan saya membaca kabar gembira bagi mereka yang kesulitan membaca dan menulis dengan jenis huruf Arial atau Times New Roman.

Sebuah penelitian Christian Boer desainer grafis lulusan Universitas Twente, Belanda, membuat jenis huruf yang membantu mengurangi kesalahan membaca dan menulis. Ia sendiri adalah anak disleksik.

Penelitian itu bisa dibaca bahasannya di sini.

Jenis huruf (font) itu bisa dibeli di sini.

Iklan

Lebih dari Satu Kecerdasan

(tulisan ini dikutip dan disadur dari childcareaware.org atas tulisan Different Kinds of “Smarts”:  Supporting Children’s Intelligence Styles)

Ada beberapa jenis kecerdasan.  Howard Gardner merumuskan tujuh sampai sembilan jenis. Kita fokuskan pada tujuh pertama (dua lainnya disebut naturalis dan kecerdasan spiritual). Menurut teori ini, semua orang memiliki kecerdasan dalam semua bidang. Gambarkan tujuh jenis kecerdasan dalam diagram lingkaran dan tentukan persentase setiap satu bagian anak Anda, mana yang tertinggi, mana yang terendah.

Mengetahui Kecerdasan Anak Anda

Jadi bagaimana mengetahui jenis kecerdasan anak Anda? Bagaimana tindakan ini akan membantu Anda? Tindakan ini membantu Anda untuk menyediakan jenis kegiatan dan pengalaman di rumah. Anda bisa membantu anak Anda untuk belajar dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang paling alami baginya.  Meskipun demikian, anak-anak perlu diperkenalkan berbagai pengalaman. Mereka pun dapat turut dalam berbagai kegiatan belajar.

Mengetahui jenis kecerdasan anak Anda tidak berarti Anda mengabaikan keterampilan dan kemampuan lainnya. Sebagai contoh, walaupun anak Anda mungkin tidak mampu bermain sepakbola dengan baik, Anda tetap dapat membiarkan anak Anda berpartisipasi.  Juga, jika kekuatan anak Anda bukan soal bahasa atau matematika, bukan berarti anak Anda tidak bisa belajar untuk membaca atau belajar untuk tambah-kurang. Semua anak-anak harus belajar membaca, bahasa yang digunakan, dan berhitung.  Ini artinya bahwa menggunakan kelebihan sang anak, Anda dapat membantu mereka belajar untuk membaca dan melakukan matematika lebih mudah.

Anak-anak baru menunjukkan tipe kecerdasan yang kuat sampai setelah usia 2.  Berapapun usia anak Anda, sebaiknya Anda mendukung anak belajar dengan membiarkan dia berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan pengalaman. Seperti anak Anda bertambah usia, keterampilan yang paling menonjol akan menjadi lebih jelas. Dengan menyadari tipe anak Anda atau cara yang disukai untuk belajar, Anda dapat bekerja dengan pengasuh anak dan guru untuk memastikan bahwa metode pengajaran yang mencerminkan tipe anak Anda kemampuan. Sebagai orang tua, cara terbaik untuk mendukung anak Anda di sekolah adalah memiliki banyak informasi tentang anak Anda sebanyak mungkin. Setiap anak memiliki bakat mereka sendiri.  Setelah Anda tahu apa kelebihan anak Anda maka Anda dapat berbicara dengan guru anak Anda dan berkata, “Lihatlah bagaimana pintarnya anak saya.”

JENIS KECERDASAN

Visual-Spatial: Teka-teki, membaca, menulis, menggambar, seni visual, mengetahu arah dengan baik, merancang objek, memperbaiki sesuatu

Verbal-Linguistik: Berbicara, bercerita, menulis, mendengarkan, menggunakan humor, mengingat informasi, menggunakan bahasa cerdik

Logical-Mathematical: Pemecahan masalah, kategorisasi mengelompokkan, bekerja dengan bentuk geometris

Bodily-Kinesthetic: Menari, olahraga, akting, apa saja yang membutuhkan koordinasi fisik, menciptakan dengan tangan

Musical-Rhythmic: Menyanyi, bermain alat musik, menggubah musik

Interpersonal: Bisa melihat titik pandang lain, mendengarkan, mampu menangkap isyarat dari orang lain, baik dalam membentuk hubungan baik dengan orang lain, resolusi konflik; pemimpin yang baik

Intrapersonal: Mencari tahu kekuatan dan kelemahan sendiri, menganalisis, memahami diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain

Sekolah Khusus? Sekolah Masa Depan, Tauk!

Malam ini saya berdiskusi (tepatnya, berdebat) dengan suami saya tentang konsep sekolah masa lalu, hari ini dan esok. Sir Kenneth Robinson dalam presentasinya menyatakan bahwa sistem sekolah yang ada sekarang adalah produk era industrialisasi dengan salah satu produknya “standardisasi”. Saya sepakat bahwa ada “passing grade” dan sertifikasi dalam proses anak sekolah jaman sekarang. Yang saya tak setuju adalah menyamaratakan kemampuan anak, sementara setiap anak itu unik. Mengapa tak dibuatkan sistem untuk “pendalaman minat dan bakat” anak sebelum ia menempuh pendidikan yang lebih tinggi?

Hari ini ada SMK (sekolah menengah kejuruan) yang dianggap “sekolah tukang” oleh banyak orang, dan SMA (sekolah menengah atas) yang kemudian lanjut ke jenjang S1 (universitas dan setaranya). Kemudian lulusan SMA dicap sebagai bos-nya tukang itu. Ini konsep pabrikan, bukan?

Dari “thread” sekolah seperti ini, selayaknya hari ini pemerintah dan masyarakat kita mulai membangun sebuah sekolah khusus yang memberikan “pendidikan alternatif”. Bahwa setiap anak unik, dan setiap anak harus mampu mengenali dan menggali lebih lanjut minat dan bakat yang paling menonjol dalam dirinya.  Menemukan hal ini tentulah harus dengan berbagai pendekatan, seperti:

  • rasio guru-murid kecil sehingga penanganan lebih fokus
  • penerapan “pemahaman materi” daripada sekadar “hapalan materi”
  • perkenalan satu topik dengan menarik agar titik ini menjadi titik awal di mana sang anak mampu menggalinya lebih jauh lagi sendirian (Sir Ken Robinson bilang, kalau murid bosan atau tak memperhatikan guru, itu yang salah gurunya kok!)

Masih banyak hal lainnya yang kami diskusikan. Akhirnya kami sepakat bahwa tetap perlu mengikuti sistem sekolah formal yang ada sekarang (karena kita hidup di masa sekarang), lalu kami perlu menambah pengetahuan dan pengalaman lain di luar jalur formal tadi. Akhirul kalam, kami juga sepakat untuk mencari tahu jawaban semua pertanyaan anak-anak agar kelak mereka bisa menjawab pula tantangan 40 tahun mendatang, “Now what?”. Mereka sekarang adalah digital natives yang tak lagi hidup di era industrialisasi.

It’s pretty productive debate, I must say.

Here’s a thought to ponder: Did you know? (youtube presentation).

Membangun Percaya Diri Sang Anak: Keluar Dari Awan Disleksia Secara Meyakinkan

Saya meyakini di setiap sekolah setiap saat sepanjang tahun ada saja satu dua anak yang menderita disleksia. Sang anak kerap mengalami hambatan di kelas. Segala bentuk menulis atau menghitung seakan hadir seperti monster. “Mengapa aku tidak bisa membaca dan mengeja?” hingga pernyataan sang kepala sekolah di sekolah Indra sebelumnya. Dengan dinginia mengomentari kejadian saat Indra berlari ke lapangan di hari hujan, “Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak bodoh.” Ah, mungkin yang ia maksud dunia pendidikan di Timbuktu, saya tak ambil pusing.

Saya kemudian mencoba mencari tahu keunikan Indra sampai ke akar permasalahan, jauh di bawah permukaan yang dilihat sang kepala sekolah itu. Yang patut dipahami dari Indra adalah kemampuannya dalam bidang koordinasi fisik, kreativitas,  empati dengan orang lain. Kekuatannya mungkin ada di beberapa daerah tersebut. Indra mudah menari jika mendengar musik menghentak (koordinasi fisik). Ia mampu menggambar sejam penuh atas apapun yang menjadi minatnya hari itu (kreativitas). Ia pun mudah jatuh iba akan hal kecil, seperti melihat pengemis kecil di jalan, atau bahkan melihat saya termenung kelelahan di satu sore (empati).

Saya telah mencoba metode pengajaran bahasa semasa kuliah dulu (linguistik) dengan kesadaran fonem. Saya pun mencoba mendapatkan buku-buku menarik dan permainan kata, sebagai fondasi dasar bagi Indra. Saya pun mencoba menyakinkan ia tiap malam dengan mengatakan kepadanya bahwa semua yang ia kerjakan itu baik, bahwa ia adalah anak cerdas. Setiap malam. Walau saya telah mengatakan padanya bahwa selama bertahun-tahun, ia perlu bukti.

Di satu saat, saya pernah melakukan latihan berikut ini, yang bisa memiliki efek pada Indra. Bisa dilakukan sendirian ataupun bersama sang anak . Ambil selembar kertas dan membuat dua kolom: dalam satu kolom menambahkan ‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ dan pada yang lain ‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’

Tulislah daftar ini selama sekitar lima atau sepuluh menit, lalu diskusikan bersama anak Anda. Kajilah dari sudut pandang objektif.  Daftarnya akan terlihat seperti ini, tentu saja tergantung pada minat setiap anak:

‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ (GOOD AT)
o berenang
o menyelam
o bola basket
o merawat kelinci saya
o menggambar
o membuat lukisan
o mengumpulkan perangko
o bermain dengan anak-anak lain
o membersihkan meja
o membuat orang tertawa
o softball
o bersikap ramah kepada kakek
o mengetahui tentang ruang dan planet-planet
o dll

‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’ (NOT GOOD AT)
o ejaan
o membaca
o menulis
o matematika

Saya menaatap wajah Indra untuk memastikan ke dia bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan daripada hal-hal yang ia anggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Dia jelas-jelas orang yang bakal sukses dengan segala kemampuannya.

Tapi di matanya seakan muncul pertanyaan: apakah kelemahannya itu adalah hal-hal yang penting dalam hidup. “Jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?” Ini adalah tahap di mana saya harus berdebat dengannya, dan saya yakinkan bahwa saya menghargai semua jenis kualitas yang Indra tonjolkan, terutama kemampuannya untuk menjadi pribadi ramah, memikirkan orang lain sebelum diri mereka sendiri dan seterusnya. Bukan karena dia tidak mencoba atau bahkan orang tua memberi klaim bahwa sang anak itu bodoh (seperti, sayangnya, ucapan sang kepala sekolah Indra di sekolah lama).

Membangun kepercayaan diri sang anak bisa menjadi satu titik balik – berapa pun usia nya – yang penting bagi  fondasi pembelajaran khusus; yaitu mengeja dan menulis dengan lebih mudah.

Motorik Sang Anak

Setiap malam saat memandang Indra tertidur dengan posisi telungkup, saya usahakan mengelus-memijat punggungnya selama 5 menit. Saya biarkan juga ia berlari di lapangan dekat rumah bersama kawan-kawannya. Ia pun senang naik sepeda ayahnya yang cukup besar.

Beberapa bulan ini, clumsiness atau kekakuan gerakan tubuhnya lumayan hilang. Ia jarang menjatuhkan pensil atau setip saat membuat PR. Ia juga tak pernah lagi terjatuh saat berjalan atau berlari (padahal jalanannya lurus dan mulus!).

Sebulan berada di SD baru, ia pun mulai memahami arti sekolah. Setiap saya jemput, ia pasti duduk manis di ruangan sembari menggambar. Latihan menggambar juga menjadi salah satu terapi motorik yang baik selain mengasah daya hayalnya.

Literacy versus Creativity

Kemarin saya bertemu dengan kepala sekolah sebuah SD swasta di bilangan Jakarta Selatan, sesaat setelah saya  berbicara dengan kepala sekolahnya Indra. Menghadapi dua kepala sekolah dengan orientasi pendidikan anak yang berbeda, saya sungguh tak habis pikir. Di SD negeri favorit ini Indra dianggap nakal hanya karena menadahkan mukanya ke langit saat hari hujan, di tengah lapangan sekolah. Di SD itu Indra dianggap trouble-maker karena ia masuk ke dalam kolam membantu kawannya yang pensilnya terjatuh di sana. Sayangnya, memang ia masih menggunakan kaos kakinya. Salahkah jika Indra impulsif karena ia anak-anak? Indra bukan orang dewasa yang mengenakan baju seragam SD. Ia memang anak kecil. For crying out loud, treat him like a kid!

Bertemu dengan Bu Lili, kepala sekolah SD swasta itu, sungguh saya seperti rasa haus yang disiram air segar. Ingin rasanya saya menangis di pelukannya untuk dapat menyalurkan rasa kesal saya terhadap sistem sekolah negeri (dan seluruh sistem pendidikan di negeri ini). Bukan sebuah kebetulan bahwa saat saya mengutarakan maksud saya memindahkan Indra ke sekolahnya, Bu Lili menyela, “Mengapa minggu ini saya menemui 3 orang tua murid dari SD Anda mau pindah ke sini ya?”

Saya terhenyak. Ach so… I am not alone.

Apakah memang seluruh pemikir pendidikan di negeri ini hanya melihat anak dalam satu dimensi, dimensi literasi? Tak adakah dimensi kreativitas? Bisa membaca, menulis, berhitung adalah segalanya. Bisa menari, menyanyi, bermain bola, tertawa… adalah tindakan edan seorang anak kecil? Kalimat “Indra adalah anak nakal!” keluar dari mulut sang kepala sekolah SD Negeri itu, tanpa mencari alasan mengapa Indra mencemplungkan kakinya ke kolam ikan.

Inilah Indonesiaku… guru dan kepala sekolah negeri hanya melihat anak-anak itu hanya dari kacamata negatif.  Berkreasi dan mengungkapkan perasaan anak adalah hal terakhir yang bisa dilakukan Indra di sekolah itu?

HE’S OUTTA THERE FOR GOOD!

Sistem Sekolah Harus Melihat Keunikan Anak, Harus!

Di satu sisi saya merasa gagal sebagai orang tua; di sisi lain saya juga tak percaya dengan sistem sekolah hari ini  yang menyamaratakan setiap kepala anak. Menonton paparan Sir Ken Robinson di TedTalks Forum 2009, saya terhenyak. Di jaman serba mudah informasi tapi sulit kompetisi, anak harus diajarkan berkreasi selain membaca-menulis-berhitung. Ia sampaikan bahwa siapapun jika punya uang bisa mencapai gelar S1. Tidak cukup S1, ia bisa melanjutkan S2. Jika merasa persaingan kian ketat, S3 bisa mendongkrak gengsi orang itu dalam masyarakat. Orang itu kemudian melupakan ia memiliki otak untuk menciptakan hal baru selain apa yang ia dapatkan turun-temurun di organisasi sekolah. Ia pun tidak berusaha menggerakkan kaki dan tangannya untuk berkreasi. Ia hanya menganggap otaknya berdiri sendiri. Itulah bedanya cara berpikir profesor di negara maju dan profesor pasif di negeri ini; karena saya mengenal beberapa yang suka korupsi dan tidak punya inovasi lain selain ilmunya untuk menggarap “proyek pemerintah”.

Analisis psikolog di LPT UI (sebuah organisasi belajar yang solid kokoh itu) menyatakan Indra cerdas di atas rata-rata, hanya kemampuan membaca-menulis-berhitung yang belum lancar. Sekolah negeri tempat Indra menuntut ilmu HANYA peduli ia tak lancar membaca, menulis dan berhitung di saat semua kawannya sudah mampu berkonsentrasi. Indra yang suka menari, menyanyi, dan loncat-loncat setiap saat dianggap bocah edan. Menganggap kreativitas adalah kegilaan yang harus dihapus?!?!?!?!?!^%#(@&!?

Kemarin saya menangis saat mendengar akhirnya jajaran guru SD memutuskan Indra tidak naik kelas. Mengapa tak naik kelas, jerit saya sekeras-kerasnya di dalam hati. Dengan segala kemampuan yang saya miliki, saya berusaha terbaik untuk dia dua tahun terakhir ini. Indra pun bukan anak pemalas. Seluruh tugas yang saya berikan memang sulit dikerjakannya di saat adiknya menganggu di ruangan, atau ada suara di luar yang membangunkan rasa penasarannya. Jika suasana belajar baik, seluruh buku bisa ia lahap, seluruh pertanyaan di atas kertas bisa ditulisnya dengan jawaban sempurna!

Saya bisa membayangkan saat ia bertanya, “Kenapa aku tak naik kelas, Bu?”

Apa yang harus saya sampaikan besok saat ia menerima rapornya?