Jenis Huruf untuk Disleksia

Sudah lama tidak update blog ini, dan saya membaca kabar gembira bagi mereka yang kesulitan membaca dan menulis dengan jenis huruf Arial atau Times New Roman.

Sebuah penelitian Christian Boer desainer grafis lulusan Universitas Twente, Belanda, membuat jenis huruf yang membantu mengurangi kesalahan membaca dan menulis. Ia sendiri adalah anak disleksik.

Penelitian itu bisa dibaca bahasannya di sini.

Jenis huruf (font) itu bisa dibeli di sini.

Iklan

Seorang Sahabat

Tulisan di bawah ini adalah liputan Kompas, Selasa, 3 Agustus 2010 | 12:18 WIB. Seorang sahabat virtual saya yang banyak membantu saya dan Indra dengan berbagai informasi disleksia. She’s a survivor, a new Einstein female on the making.

***

JAKARTA, KOMPAS.com – Sepintas, Aigis Arira (21) terlihat seperti mahasiswa pada umumnya. Kini, ia menempuh semester 7 jurusan di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Tak ada yang menduga bahwa ia seorang penyandang disleksia.

Pada beberapa fase hidupnya, Aigis pernah mengalami masa-masa sulit. Saat ia dianggap memiliki hambatan belajar. Sesuatu yang menurutnya biasa-biasa saja. Tetapi, tak biasa bagi orang-orang sekitarnya. Saat menginjak kelas 3 SD, orangtuanya baru menyadari bahwa Aigis mengalami perkembangan yang berbeda dari anak-anak sebayanya. Ia menceritakan, awalnya, ia menempuh sekolah dasar di SD Cinere 03 pada tahun 1995-1997.

“Di sini, saya pribadi tidak merasakan kesulitan di dalam diri saya. Tetapi, di mata orang sekeliling saya, mereka berpendapat lain. Saya tidak bisa membedakan ‘b’ dan ‘d’ bahkan sering kebalik, menyalin suka salah, padahal saya duduk paling depan. Menghafal perkalian dan pembagian saya tidak bisa, menggambar kubus hasilnya bisa trapesium,” kisah Aigis, dalam sebuah seminar nasional mengenai disleksia, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Aigis juga mengalami hambatan dalam mengutarakan pendapatnya, sehingga berakibat ia malu bertanya dan tidak bisa bergaul dengan teman-temannya. “Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui kondisi saya, bila orangtua saya tidak mencari info, maka mungkin sampai sekarang tidak akan tahu bahwa saya mempunyai sesuatu yang unik,” ujarnya.

Menyadari ada kekhususan yang dibutuhkan anaknya, orangtua Aigis kemudian memindahkannya ke sekolah khusus, SD Pantara, yang menangani anak-anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (specific learning difficulties/LD). Di sekolah ini, Aigis lebih merasakan kenyamanan karena mendapat penanganan khusus dan lingkungan yang lebih kondusif. Pendidikan dasarpun berhasil ditamatkannya.

Melanjutkan ke SMP Umum

Masa SMP dirasakan Aigis adalah masa terberatnya. Setamat SD, Aigis dan keluarganya hijrah ke Bandung. Disana, Aigis tak lagi mengenyam pendidikan di sekolah khusus. Ia kembali melanjutkan ke sekolah umum, SMPN 4 Cimahi. Pada masa SMP inilah, Aigis diberitahu oleh orangtuanya bahwa ia seorang penyandang disleksia. “Ketika SMP, orangtua saya baru menjelaskan bahwa kondisi saya seperti ini, seperti ini. Inilah titik terberat yang saya alami, karena harus sekolah di sekolah umum, beda dengan SD saya yang muridnya sedikit,” kata Aigis.

Ia pun harus beradaptasi. Dari semula di SD hanya memiliki teman 8 orang dalam satu kelas dengan dua guru, kini 44 orang orang dengan satu guru. “Waktu SMP, saya selalu memilih duduk di belakang karena takut ditanya guru,” ujarnya enteng.

Bagaimana prestasi belajarnya? “Saya ranking 44 dari 44 murid. Lumayanlah, ada rankingnya, daripada enggak ranking,” kata Aigis sambil tertawa.
Tetapi, saat SMP ini, dorongan orangtua sangat kuat dirasakan Aigis. Ia diminta hanya mencatat seluruh pelajaran dan perkataan gurunya. “Saya belajarnya di rumah, dengan orangtua saya,” kata gadis hitam manis ini.

SMA Juara Mengetik 10 Jari

Memasuki jenjang pendidikan menengah atas, Aigis merasa sudah lebih bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Ia melanjutkan ke SMK dengan jurusan RPL alias Rekayasa Perangkat Lunak. Ya, Aigis memang suka dengan segala seuatu yang berhubungan dengan computer. Lagipula, sekolah kejuruan dianggapnya sebagai pilihan tepat karena tak harus berhadapan dengan pelajaran-pelajaran di sekolah umum yang dirasanya sangat sulit.

“Selain itu, jumlah muridnya hanya 28 orang per kelas ditambah dengan pembagian jurusan menjadikan perbandingan guru dan murid menjadi lebih sedikit. Di sekolah ini pelajaran praktek lebih banyak daripada teori sehingga pemahaman mata pelajaran terasa lebih nyata,” ujarnya.

Prestasii sekolahnya pun bisa menyamai nilai rata-rata di kelasnya. Hal inilah yang membuat Aigis semakin termotivasi dan percaya diri. Di masa ini pula, Aigis meraih prestasi yang sangat membanggakan orangtua dan dirinya sendiri : juara untuk pelajaran mengetik sepuluh jari (blind system). “Saya mendapatkan point tertinggi di sekolah. Padahal, untuk menghafalkan abjad dari A sampai Z saya masih belum bisa. Dan sampai saat ini pun saya tidak mengerti kenapa saya bisa juara,” kata Aigis.

Selepas menamatkan pendidikan menengah atasnya, Aigis akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan dengan jurusan Ilmu Komputer di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Di masa ini, bantuan materi pelajaran dari orangtua sudah sangat terkurangi. Aigis lebih didorong secara motivasi. Ia pun menyadari bahwa ia harus mandiri. Prestasi belajar Aigis pun, hingga menginjak semester VII tak jauh berbeda dengan teman seangkatannya. Kini, Aigis tengah menyusun skripsi untuk meraih gelar sarjananya.

Peran orangtua

Bagi anak-anak penyandang disleksia, dukungan dan peran orangtua sangatlah menentukan. Setidaknya, itu yang dirasakan Aigis. Selain berharap motivasi dari pihak di luar diri, ia juga menekankan, perlunya memberikan rasa percaya pada diri sendiri.

“Camkan bahwa saya mampu dan saya bisa. Dengan begitu, saudara, teman bisa menerima saya. Tetapi, saya berterima kasih, karena kesabaran dan peran orangtua saya bisa seperti sekarang. Saya selalu ingat kata-kata orangtua saya, ‘biar hasilnya jelek, yang penting hasil saya sendiri’. Kata-kata ini membuat saya merasa dipercaya dan mampu,” ungkapnya.

Aigis yakin ia tak sendiri. Di luar sana banyak juga anak-anak penyandang seperti dirinya. Ia berharap, pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar bagi anak-anak berkesulitan belajar spesifik seperti dirinya. “Saya yakin, anak-anak yang mengalami disleksia tidak semuanya dari kalangan mampu. Selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dan berimbang kepada anak-anak seperti kami,” harapnya.

Lebih dari Satu Kecerdasan

(tulisan ini dikutip dan disadur dari childcareaware.org atas tulisan Different Kinds of “Smarts”:  Supporting Children’s Intelligence Styles)

Ada beberapa jenis kecerdasan.  Howard Gardner merumuskan tujuh sampai sembilan jenis. Kita fokuskan pada tujuh pertama (dua lainnya disebut naturalis dan kecerdasan spiritual). Menurut teori ini, semua orang memiliki kecerdasan dalam semua bidang. Gambarkan tujuh jenis kecerdasan dalam diagram lingkaran dan tentukan persentase setiap satu bagian anak Anda, mana yang tertinggi, mana yang terendah.

Mengetahui Kecerdasan Anak Anda

Jadi bagaimana mengetahui jenis kecerdasan anak Anda? Bagaimana tindakan ini akan membantu Anda? Tindakan ini membantu Anda untuk menyediakan jenis kegiatan dan pengalaman di rumah. Anda bisa membantu anak Anda untuk belajar dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang paling alami baginya.  Meskipun demikian, anak-anak perlu diperkenalkan berbagai pengalaman. Mereka pun dapat turut dalam berbagai kegiatan belajar.

Mengetahui jenis kecerdasan anak Anda tidak berarti Anda mengabaikan keterampilan dan kemampuan lainnya. Sebagai contoh, walaupun anak Anda mungkin tidak mampu bermain sepakbola dengan baik, Anda tetap dapat membiarkan anak Anda berpartisipasi.  Juga, jika kekuatan anak Anda bukan soal bahasa atau matematika, bukan berarti anak Anda tidak bisa belajar untuk membaca atau belajar untuk tambah-kurang. Semua anak-anak harus belajar membaca, bahasa yang digunakan, dan berhitung.  Ini artinya bahwa menggunakan kelebihan sang anak, Anda dapat membantu mereka belajar untuk membaca dan melakukan matematika lebih mudah.

Anak-anak baru menunjukkan tipe kecerdasan yang kuat sampai setelah usia 2.  Berapapun usia anak Anda, sebaiknya Anda mendukung anak belajar dengan membiarkan dia berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan pengalaman. Seperti anak Anda bertambah usia, keterampilan yang paling menonjol akan menjadi lebih jelas. Dengan menyadari tipe anak Anda atau cara yang disukai untuk belajar, Anda dapat bekerja dengan pengasuh anak dan guru untuk memastikan bahwa metode pengajaran yang mencerminkan tipe anak Anda kemampuan. Sebagai orang tua, cara terbaik untuk mendukung anak Anda di sekolah adalah memiliki banyak informasi tentang anak Anda sebanyak mungkin. Setiap anak memiliki bakat mereka sendiri.  Setelah Anda tahu apa kelebihan anak Anda maka Anda dapat berbicara dengan guru anak Anda dan berkata, “Lihatlah bagaimana pintarnya anak saya.”

JENIS KECERDASAN

Visual-Spatial: Teka-teki, membaca, menulis, menggambar, seni visual, mengetahu arah dengan baik, merancang objek, memperbaiki sesuatu

Verbal-Linguistik: Berbicara, bercerita, menulis, mendengarkan, menggunakan humor, mengingat informasi, menggunakan bahasa cerdik

Logical-Mathematical: Pemecahan masalah, kategorisasi mengelompokkan, bekerja dengan bentuk geometris

Bodily-Kinesthetic: Menari, olahraga, akting, apa saja yang membutuhkan koordinasi fisik, menciptakan dengan tangan

Musical-Rhythmic: Menyanyi, bermain alat musik, menggubah musik

Interpersonal: Bisa melihat titik pandang lain, mendengarkan, mampu menangkap isyarat dari orang lain, baik dalam membentuk hubungan baik dengan orang lain, resolusi konflik; pemimpin yang baik

Intrapersonal: Mencari tahu kekuatan dan kelemahan sendiri, menganalisis, memahami diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain

Dyslexia Awareness Diknas, 31 Juli 2010

Dyslexia Awareness

SEMINAR & WORKSHOP, 31 Juli 2010, Gedung D Kantor Kementerian Pendidikan dan Nasional

Seminar Utama: “Mengenal Disleksia: Akomodasi dan Layanan Pendukung yang Dibutuhkan”

Seminar 1: “Dukungan Profesional bagi Anak Disleksia”

Seminar 2: “Menemukan Disleksia Lebih Dini”

Workshop: “Strategi Pembelajaran Disleksia”

Sekolah Khusus? Sekolah Masa Depan, Tauk!

Malam ini saya berdiskusi (tepatnya, berdebat) dengan suami saya tentang konsep sekolah masa lalu, hari ini dan esok. Sir Kenneth Robinson dalam presentasinya menyatakan bahwa sistem sekolah yang ada sekarang adalah produk era industrialisasi dengan salah satu produknya “standardisasi”. Saya sepakat bahwa ada “passing grade” dan sertifikasi dalam proses anak sekolah jaman sekarang. Yang saya tak setuju adalah menyamaratakan kemampuan anak, sementara setiap anak itu unik. Mengapa tak dibuatkan sistem untuk “pendalaman minat dan bakat” anak sebelum ia menempuh pendidikan yang lebih tinggi?

Hari ini ada SMK (sekolah menengah kejuruan) yang dianggap “sekolah tukang” oleh banyak orang, dan SMA (sekolah menengah atas) yang kemudian lanjut ke jenjang S1 (universitas dan setaranya). Kemudian lulusan SMA dicap sebagai bos-nya tukang itu. Ini konsep pabrikan, bukan?

Dari “thread” sekolah seperti ini, selayaknya hari ini pemerintah dan masyarakat kita mulai membangun sebuah sekolah khusus yang memberikan “pendidikan alternatif”. Bahwa setiap anak unik, dan setiap anak harus mampu mengenali dan menggali lebih lanjut minat dan bakat yang paling menonjol dalam dirinya.  Menemukan hal ini tentulah harus dengan berbagai pendekatan, seperti:

  • rasio guru-murid kecil sehingga penanganan lebih fokus
  • penerapan “pemahaman materi” daripada sekadar “hapalan materi”
  • perkenalan satu topik dengan menarik agar titik ini menjadi titik awal di mana sang anak mampu menggalinya lebih jauh lagi sendirian (Sir Ken Robinson bilang, kalau murid bosan atau tak memperhatikan guru, itu yang salah gurunya kok!)

Masih banyak hal lainnya yang kami diskusikan. Akhirnya kami sepakat bahwa tetap perlu mengikuti sistem sekolah formal yang ada sekarang (karena kita hidup di masa sekarang), lalu kami perlu menambah pengetahuan dan pengalaman lain di luar jalur formal tadi. Akhirul kalam, kami juga sepakat untuk mencari tahu jawaban semua pertanyaan anak-anak agar kelak mereka bisa menjawab pula tantangan 40 tahun mendatang, “Now what?”. Mereka sekarang adalah digital natives yang tak lagi hidup di era industrialisasi.

It’s pretty productive debate, I must say.

Here’s a thought to ponder: Did you know? (youtube presentation).

Kepadaaa Pembina Upacaraaa…

Hari ini Indra menjadi pemimpin upacara bendera di sekolahnya. Dengan sigap Indra berdiri, dan iapun dengan lantang mengucapkan komando protokoler upacara hari ini., “Kepadaaa Pembina Upacaraaa, hormaaaat g’rak!”

Di detik-detik upacara itu, saya hendak menangis senang memandang Indra. Beberapa detik silam ia tak pernah duduk diam, ia yang clumsy dan selalu bertanya; hari ini Indra memimpin upacara dengan serius dan tertib. Di akhir upacara, Bu Ade, wali kelas Indra, memanggil petugas upacara untuk minggu selanjutnya. Ah, menjadi petugas upacara di sekolah ini tak eksklusif seperti di sekolah lainnya. Semua anak mendapat kesempatan sama, dan semua anak mengalami pengalaman mendebarkan untuk menjadi pemimpin pertama kali.  Indra akan memulai hari-hari ke depan dengan lebih optimistis. Ia akan menjadi pemimpin kaumnya… insya Allah.

Terima kasih, Bu Ade. Terima kasih, Pantara.

Membangun Percaya Diri Sang Anak: Keluar Dari Awan Disleksia Secara Meyakinkan

Saya meyakini di setiap sekolah setiap saat sepanjang tahun ada saja satu dua anak yang menderita disleksia. Sang anak kerap mengalami hambatan di kelas. Segala bentuk menulis atau menghitung seakan hadir seperti monster. “Mengapa aku tidak bisa membaca dan mengeja?” hingga pernyataan sang kepala sekolah di sekolah Indra sebelumnya. Dengan dinginia mengomentari kejadian saat Indra berlari ke lapangan di hari hujan, “Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak bodoh.” Ah, mungkin yang ia maksud dunia pendidikan di Timbuktu, saya tak ambil pusing.

Saya kemudian mencoba mencari tahu keunikan Indra sampai ke akar permasalahan, jauh di bawah permukaan yang dilihat sang kepala sekolah itu. Yang patut dipahami dari Indra adalah kemampuannya dalam bidang koordinasi fisik, kreativitas,  empati dengan orang lain. Kekuatannya mungkin ada di beberapa daerah tersebut. Indra mudah menari jika mendengar musik menghentak (koordinasi fisik). Ia mampu menggambar sejam penuh atas apapun yang menjadi minatnya hari itu (kreativitas). Ia pun mudah jatuh iba akan hal kecil, seperti melihat pengemis kecil di jalan, atau bahkan melihat saya termenung kelelahan di satu sore (empati).

Saya telah mencoba metode pengajaran bahasa semasa kuliah dulu (linguistik) dengan kesadaran fonem. Saya pun mencoba mendapatkan buku-buku menarik dan permainan kata, sebagai fondasi dasar bagi Indra. Saya pun mencoba menyakinkan ia tiap malam dengan mengatakan kepadanya bahwa semua yang ia kerjakan itu baik, bahwa ia adalah anak cerdas. Setiap malam. Walau saya telah mengatakan padanya bahwa selama bertahun-tahun, ia perlu bukti.

Di satu saat, saya pernah melakukan latihan berikut ini, yang bisa memiliki efek pada Indra. Bisa dilakukan sendirian ataupun bersama sang anak . Ambil selembar kertas dan membuat dua kolom: dalam satu kolom menambahkan ‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ dan pada yang lain ‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’

Tulislah daftar ini selama sekitar lima atau sepuluh menit, lalu diskusikan bersama anak Anda. Kajilah dari sudut pandang objektif.  Daftarnya akan terlihat seperti ini, tentu saja tergantung pada minat setiap anak:

‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ (GOOD AT)
o berenang
o menyelam
o bola basket
o merawat kelinci saya
o menggambar
o membuat lukisan
o mengumpulkan perangko
o bermain dengan anak-anak lain
o membersihkan meja
o membuat orang tertawa
o softball
o bersikap ramah kepada kakek
o mengetahui tentang ruang dan planet-planet
o dll

‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’ (NOT GOOD AT)
o ejaan
o membaca
o menulis
o matematika

Saya menaatap wajah Indra untuk memastikan ke dia bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan daripada hal-hal yang ia anggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Dia jelas-jelas orang yang bakal sukses dengan segala kemampuannya.

Tapi di matanya seakan muncul pertanyaan: apakah kelemahannya itu adalah hal-hal yang penting dalam hidup. “Jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?” Ini adalah tahap di mana saya harus berdebat dengannya, dan saya yakinkan bahwa saya menghargai semua jenis kualitas yang Indra tonjolkan, terutama kemampuannya untuk menjadi pribadi ramah, memikirkan orang lain sebelum diri mereka sendiri dan seterusnya. Bukan karena dia tidak mencoba atau bahkan orang tua memberi klaim bahwa sang anak itu bodoh (seperti, sayangnya, ucapan sang kepala sekolah Indra di sekolah lama).

Membangun kepercayaan diri sang anak bisa menjadi satu titik balik – berapa pun usia nya – yang penting bagi  fondasi pembelajaran khusus; yaitu mengeja dan menulis dengan lebih mudah.

  • Kalender

    • November 2017
      S S R K J S M
      « Nov    
       12345
      6789101112
      13141516171819
      20212223242526
      27282930  
  • Cari