Indra dan Keisha: Dua Pribadi Ramah

Mudah-mudahan saya tidak salah menulis nama kawan Indra di sekolahnya.

Indra sering memanggilnya “Esha”, dan Esha sering memanggil saya “mama-nya Indra”. Sebulan lalu saya ingat saya berdialog dengan Esha di samping kelas, sambil bermain pasir di kotak pasir. Sesungguhnya saya sedang membaca majalah, dan ia bermain bersama anak lain yang lebih muda dari usianya. Tak ada orang dewasa lain duduk dekat situ. Ia menegur saya, “Mama-nya Indra, lagi baca apa?” Saya senyum dan jawab seadanya. Esha terus men-donder saya dengan pertanyaan dan cerita-cerita. Yang saya ingat dari dialog ini ada senyumnya yang tulus dan menyejukkan. Minggu depannya saya dan Indra sempat papasan dengan dia dan mamanya sepulang sekolah. Yang ditegur adalah saya, “Halo Mama Indra!”, diiringi senyum cantiknya.

Keisha adalah anak lain di kelas Indra yang tak mampu membaca menulis. Mungkin disleksia, mungkin juga bukan. Guru kelasnya pernah menyinggung namanya soal kesulitan membaca ini. Saya malam ini hanya mau membandingkan pribadi ramah anak saya dan Keisha. Indra, khususnya, memiliki senyum yang lucu dibanding saudara-saudaranya. Ia suka ‘nge-dagel dan memeluk kawan-kawannya. Ia suka momong dan melindungi anak yang lebih kecil.

Saya melihat Indra, Keisha dan keramahan mereka. They are lovable creatures. Mungkinkah anak-anak disleksik memiliki emotional intelligence yang lebih tinggi?

Wallahualam. Saya perlu data lebih banyak untuk tegaskan hipotesis ini, dan saya tak mampu memperdalam hal ini lebih lanjut. Mudah-mudahan ada tulisan penelitian tentang ini yang tersimpan di internet… let’s check ’em out!

Ah dapat… tapi saya terjemahkan sepertinya bukan keramahan, tapi justru “ANXIETY to cope with intellectual boredom”. Halah…

Klik sini untuk link/pranala penelitian itu.

Di bawah ini saya terjemahkan kesimpulannya saja (mudah-mudahan membantu):

KESIMPULAN

Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa tren umum dari temuan tulisan 1990 dengan beberapa perbaikan dapat memberikan pengertian tata hubungan antara disleksia dan manusianya. Riset ini menganalisis, tentunya, beberapa kelompok penderita disleksia, yang diketahui memiliki pola dan penilaian berbeda antara kemampuan inteligensia konvensional dan “the Cattell Culture Fair test”.

Kelompok disleksia biasa diperlakukan “kurang mampu” dari yang seharusnya. Satu hipotesis adalah melihat mereka lebih rentan berakhir frustasi, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil dan mengalami tingkat kebosanan intelektual yang tinggi. Yang terakhir ini terjadi di saat mereka diberikan stimulasi akademis yang dianggap cocok untuk kemampuannya, tapi sesungguhnya jauh lebih sederhana dari yang mereka inginkan. Situasi ini bisa membuat mereka stres tinggi yang disebabkan faktor disleksia. Beberapa penelitian membedakan perilaku berdasarkan gender yang mungkin tak bisa diterima. Dodd (1995) melaporkan:

Margaret’s frustration finally snapped whilst doing a national curriculum test. She couldn’t do it but could have no help and she had an outburst in which she threw the textbook, chair and desk at the headmaster who was taking the class. (Dodd, 1995)

Kita bisa melihat manifestasi dari asumsi bahwa saat orang lulus pendidikan, ia akan mengembangkan kemampuan khusus yang membantu mereka menyelesaikan masalah sehari-hari. Hal ini juga diharapkan terjadi pada anak-anak disleksik; bahwa mereka harus tahu menyelesaikan masalah dengan latihan kemampuan di sekolah. Mereka diharapkan beradaptasi dan jika di tahun-tahun berikutnya mereka gagal, mereka harus menanggungnya sebagai satu kesalahan. Hasilnya membuktikan bahwa beberapa aspek kehidupan memburuk, sehingga dukungan dan bantuan tetap harus diberikan.

Ada hal menarik, yaitu saat memperhatikan murid sekolah yang disleksik yang meninggalkan sekolah menengah, mereka menjadi murid yang lebih baik di bangku kuliah. Ada kecurigaan bahwa pendidik di bangku kuliah lebih memberikan perhatian dan dukungan daripada bangku sekolah menengah (Hales, 2001). Namun, tak harus selalu mereka menyelesaikan kuliahnya, karena ada perihal situasi beradaptasi yang luar biasa berat bagi mereka. Dari data kami, ada perkembangan dampak terhadap anak disleksik yang berlanjut ke usia dewasa dan harus diperhatikan seksama sepanjang hidupnya.

Dalam data riset tahun 1990, ditemukan bahwa dampak terbesar lebih kepada anak perempuan daripada anak lelaki. Walau demikian, perbandingan jumlah anak perempuan dan anak lelaki adalah 1:3. Yang menarik, peserta kelompok penelitian ini adalah perempuan, karena mereka lebih menarik diteliti dalam kondisi yang diinginkan dalam riset ini. Hal ini memperlihatkan bahwa anak perempuan atau perempuan dewasa adalah lebih sulit beradaptasi dibanding anak lelaki atau lelaki dewasa; dalam konteks pengaruh terhadap aspek non-akademis saat menghadapi situasi tertentu.

*yang di bawah ini terjemahkan sendiri ya… capek!*

We already seen that in terms of ability components the differences between the Culture Fair IQ scores and Wechsler Full Scale IQ scores were smaller for females than for males dung school years (Figure 6), but the effects of their position on the personality components appears to be more pronounced.

There is currently an improved and improving understanding of the need to consider the personal and integrative needs of dyslexic people. However, this is often set within the context of specific counselling for those who are seen to have ‘personal difficulties’. The results of this study suggest that many of those who are vulnerable in this way are not, in fact, obvious and therefore do not receive appropriate help and assistance. The dyslexic individual is still the person he or she always was, with the same natural talents, aptitudes and life possibilities. However, those of us who are professionals or who make provision for dyslexic people need to give much more thought to the depth and complexity of what we provide in order to preserve, develop and enhance those talents. We must support dyslexic people in every way so that they become not just coping and capable but whole, coping and capable.

Iklan

Maaf tidak update reguler

Yang tetap saya update adalah kemampuan menulis huruf Indra berdasarkan ucapan. Dua minggu terakhir ini (setiap hari, kecuali Sabtu) saya berdiri d i belakang Indra yang duduk menulis. Saya mendikte setiap huruf yang ada di sebuah ensiklopedia bergambar (terletak di hadapan Indra), kemudian Indra menuliskan huruf itu di buku tulis. Jika ia tak tahu cara menulis huruf “b”, perutnya ke arah mana, saya memintanya melihat ensiklopedia itu (contekan).

Sekarang Indra telah mampu duduk sendiri tanpa bantuan dikte dari saya. Hari ini saya memilih sebuah gambar kamar tidur, dan setiap barang di kamar itu diberi nama. Saat ia selesai menuliskan semua barang (ada dua belas nama barang ditulis dalam waktu satu jam), saya selalu menciumnya dan memberikan pujian.

Satu hal lagi yang menjadi catatan saya minggu ini: Indra selalu bertanya “Kenapa?” untuk hal-hal yang ia tak mengerti sebab-musababnya. Dan pertanyaan ini bukan pertanyaan numpang lewat; harus dijawab dengan baik.

Satu contoh, kondisinya adalah saya ajak ia dan kakaknya pergi Sabtu kemarin, dan sang adik saya tinggal di rumah dengan ayahnya. Lalu tadi sore saya hanya ajak sang adik pergi dan ia saya tinggal, ia menangis. Setelah kembali, saya bilang, “‘Kan kemarin adik tidak ikut kita jalan-jalan, jadi sekarang Ibu ajak ia pergi.” Indra hanya singkat bertanya, “Kenapa adik tidak diajak kemarin?” Kalau saya terangkan bahwa merepotkan membawa 3 anak sekaligus, tentu akan ada pertanyaan yang lebih panjang. Akhirnya jawaban saya juga singkat, “Biar Bapak ada temannya, ‘kan Bapak juga tidak ikut kita jalan-jalan.” Akhirul kalam, menjawab pertanyaan anak (tak hanya disleksia, mungkin) terkadang kita harus sedikit diplomatis.

Day 23 through 27?

I worked all weekend. Out of Jakarta for sure. I was exhausted, and always like this every time I traveled more than 2 nights. My baby is left with his father.

Indra malam ini menggambar, menghitung dan membaca sendiri. Ia terlihat tidak konsentrasi di satu halaman. Saat memperhatikan satu gambar yang harus menyelesaikan empat kata yang harus ditulis mengikuti garis-garis putus, Indra loncat ke halaman lain. Menghitung bola sepak ia mencoba menggambar garis ke angka lima (sesuai dengan jumlah bola). Belum selesai menggambar garis angka lima itu, ia lalu meloncat lagi ke halaman lain.

Saya membiarkan ia membolak-balik buku dan majalah yang sekarang berantakan di kamar ini. Tadi pagi sempat saya lakukan sedikit terapi fonetis. Tadi sore Indra mendatangi saya dan meminta saya mengobati bibirnya yang sakit “risawan” yang sesungguhnya “sariawan”. Beberapa kali saya memintanya mengucap yang benar, ia merengek sakit. Saya obati dengan albothyl. Haha lucu sekali saat ia menjerit kesakitan lalu semenit kemudian tertawa, “Sembuh ya Bu!”.

Saya akui, di antara waktu yang tersedia untuk ketiga anak, dapur, sekolah dan pekerjaan, porsi waktu untuk Indra kian menipis. Ah! Saya ingin tidur malam ini memeluk Indra.

Day 16 to 20?

1. Saya ketularan batuk yang amat sangat gatal tapi tidak membuat radang tenggorokan. Konsentrasi berbicara saja sulit, apalagi menulis.

2. Dengan kondisi tak enak badan, saya juga kurang istirahat 4 hari terakhir ini karena hampir setiap hari dari pagi hingga malam harus berkegiatan di luar rumah; ada sahabat dari Papua dan Kalimantan datang ke Jakarta.

Karena kedua alasan itu, saya tidak bisa meng-update kegiatan harian saya dengan Indra di blog ini. Saya bahkan tak banyak berinteraksi dengan Indra kecuali malam hari. Empat hari terakhir ini saya mencoba melatih kemampuan fonetis dan mengenal vokal.

250px-illu01_head_neck.jpg

Dua tahun lalu ia bisa terbalik mengucapkan “gajah” menjadi “jagah” padahal konsonan “j” [dʒ] dan “g” [g] berada pada posisi ucap beda. “Jeh” diucapkan dengan menggunakan lidah yang menempel langit-langit mulut sebelah atas, sedangkan “geh” diucapkan dengan dorongan angin dari kerongkongan (pharyngeal consonant).
Secara fonetis, huruf itu dibagi atas dua: yang disuarakan dan tidak (voiced & voiceless). Konsonan disuarakan adalah /b, d, g/ sedangkan yang tidak adalah /p, t, k/. Rasakan saja bahwa “beh” berbeda dengan “peh” dengan posisi ucap sama (bilabial, atau antara dua bibir). Tak seperti anak seusianya, Indra harus melihat bibir dan posisi lidah baik-baik untuk bisa mengucapkan satu suku kata secara sempurna. Saya harus mengkontraskan “b” dan “p” dengan kata “bapak” agar Indra bisa membedakan kedua konsonan itu dengan baik.

Mengucapkan kata yang lebih dari 2 (dua) suku kata, Indra mengalami kesulitan. Saat ia bercerita soal naik kereta, saya bertanya sudah ke mana saja. Ia menjawab dua kota yang sulit diucapkannya: “Purwokerto” dan “Yogyakarta”. Saat harus mengucap “wo” sebagai satu suku kata saja ia terlihat ragu. Saya mencoba “pur-wo-ker-to” diucapkan satu per satu. Saya kemudian juga mencoba “purwo” dan “kerto”. Terakhir kemudian mengucapkan kata itu dalam satu nafas.

Inilah latihan-latihan fonetis awal yang bisa saya terapkan terhadap Indra. Saya baru akan memulai latihan fonetis terhadap vokal. Semalam ia tak bisa membedakan “e” dengan “te”. Hari ini saya akan mulai dengan huruf “e” taling (seperti dalam “bebek”) dan “e” pepet (seperti dalam “pelajar”.

Day 15

Indra turut ketularan batuk dari saya, adik, kakak dan bapaknya. Lengkap sudah. Saya juga masih teler dengan kondisi batuk ini. Hilir-mudik mengerjakan banyak hal (dan banyak hal lain tertunda karena saya mengantuk sepanjang hari karena obat Actifed). Indra hari ini beberapa kali mengutak-atik Microsoft Visio, mencoba menggambar denah kamar tidur atau sebuah kompleks. Sejak awal ia menyukai gambar via Visio ini, saya selalu menyimpan di folder khusus namanya. Salah satu contoh gambarnya seperti di bawah ini:

 280208.jpg

Gambar ini dibuat tanggal 28 Februari 2008. Seingat saya, ia baru saja menonton sebuah DVD tentang alat transportasi. Ia paling menyukai kereta api. Oh ya, ia pernah ketakutan waktu naik pesawat terbang ke Padang sehingga meminta dipangku. Persis kemarin saat menonton DVD itu ia berkata, “Ibu, aku sudah tidak takut lagi naik pesawat.” Saya tersenyum. My brave baby boy.

Day 14

Saya bisa membayangkan bagaimana memiliki anak lebih dari 3 orang. Satu sakit yang lain ikut sakit, tentulah kelelahan yang amat sangat yang harus diterima sang ibu. Sepuluh hari lalu Indra sempat sakit, dan sejak beberapa hari ini sudah kembali ke sekolah. Sekarang giliran adiknya dan kakaknya. Panas tinggi disertai batuk berdahak. Penyakit pancaroba. Saya hanya  menemani Indra ke sekolah di pagi hari untuk memberinya semangat. Dia bertanya banyak sepanjang perjalanan ke sekolah. Sesampai lagi di rumah, suami saya bilang, “Indra tidak butuh jawaban atas semua pertanyaan itu.” Saya tak setuju. Semua pertanyaannya harus dijawab. Detail. “Ada apa di dalam tulang,” atau “Mengapa ada rasa sakit.” Saya tekankan kepada suami saya, bahwa Indra itu perekam yang baik. Ia bisa mengungkapkan banyak hal yang kita hanya ucapkan sekali. Ia bisa merangkaikan banyak hal tersebut dalam satu nafas. It’s his gift.

Day 13

Kita membaca buku SOre SUper SIbuk karya Clara Ng (teks) dan Emte (ilustrasi). Indra bisa menunjuk So Su Si karena menghapal. Hapalan, ini adalah satu kelebihan Indra. Ia harus diperkenalkan huruf dengan cara menghapal letak terlebih dahulu. Jika ia telah mampu mengingat letak, tentunya ia juga bisa menghapal bentuk huruf. Sore Super Sibuk adalah cerita favoritnya, tentang pemadam kebakaran, polisi dan ambulans yang menolong orang. Saya pernah naik bus TransJakarta di satu hari Sabtu sore bersama Indra dan kakaknya. Macet luar biasa mulai dari Harmoni hingga depan Lindeteves. Ada kebakaran di salah satu ruko di sana. Pengalaman nyata ini membekas, dan Indra memperhatikan buku Clara Ng/Emte ini dengan seksama sepanjang malam ini. Apapun yang menjadi minat Indra, saya selalu mencoba menggali lebih untuknya, baik dengan pengalaman langsung ataupun bercerita dengan intonasi yang menghibur. It’s a start.