Lebih dari Satu Kecerdasan

(tulisan ini dikutip dan disadur dari childcareaware.org atas tulisan Different Kinds of “Smarts”:  Supporting Children’s Intelligence Styles)

Ada beberapa jenis kecerdasan.  Howard Gardner merumuskan tujuh sampai sembilan jenis. Kita fokuskan pada tujuh pertama (dua lainnya disebut naturalis dan kecerdasan spiritual). Menurut teori ini, semua orang memiliki kecerdasan dalam semua bidang. Gambarkan tujuh jenis kecerdasan dalam diagram lingkaran dan tentukan persentase setiap satu bagian anak Anda, mana yang tertinggi, mana yang terendah.

Mengetahui Kecerdasan Anak Anda

Jadi bagaimana mengetahui jenis kecerdasan anak Anda? Bagaimana tindakan ini akan membantu Anda? Tindakan ini membantu Anda untuk menyediakan jenis kegiatan dan pengalaman di rumah. Anda bisa membantu anak Anda untuk belajar dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang paling alami baginya.  Meskipun demikian, anak-anak perlu diperkenalkan berbagai pengalaman. Mereka pun dapat turut dalam berbagai kegiatan belajar.

Mengetahui jenis kecerdasan anak Anda tidak berarti Anda mengabaikan keterampilan dan kemampuan lainnya. Sebagai contoh, walaupun anak Anda mungkin tidak mampu bermain sepakbola dengan baik, Anda tetap dapat membiarkan anak Anda berpartisipasi.  Juga, jika kekuatan anak Anda bukan soal bahasa atau matematika, bukan berarti anak Anda tidak bisa belajar untuk membaca atau belajar untuk tambah-kurang. Semua anak-anak harus belajar membaca, bahasa yang digunakan, dan berhitung.  Ini artinya bahwa menggunakan kelebihan sang anak, Anda dapat membantu mereka belajar untuk membaca dan melakukan matematika lebih mudah.

Anak-anak baru menunjukkan tipe kecerdasan yang kuat sampai setelah usia 2.  Berapapun usia anak Anda, sebaiknya Anda mendukung anak belajar dengan membiarkan dia berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan pengalaman. Seperti anak Anda bertambah usia, keterampilan yang paling menonjol akan menjadi lebih jelas. Dengan menyadari tipe anak Anda atau cara yang disukai untuk belajar, Anda dapat bekerja dengan pengasuh anak dan guru untuk memastikan bahwa metode pengajaran yang mencerminkan tipe anak Anda kemampuan. Sebagai orang tua, cara terbaik untuk mendukung anak Anda di sekolah adalah memiliki banyak informasi tentang anak Anda sebanyak mungkin. Setiap anak memiliki bakat mereka sendiri.  Setelah Anda tahu apa kelebihan anak Anda maka Anda dapat berbicara dengan guru anak Anda dan berkata, “Lihatlah bagaimana pintarnya anak saya.”

JENIS KECERDASAN

Visual-Spatial: Teka-teki, membaca, menulis, menggambar, seni visual, mengetahu arah dengan baik, merancang objek, memperbaiki sesuatu

Verbal-Linguistik: Berbicara, bercerita, menulis, mendengarkan, menggunakan humor, mengingat informasi, menggunakan bahasa cerdik

Logical-Mathematical: Pemecahan masalah, kategorisasi mengelompokkan, bekerja dengan bentuk geometris

Bodily-Kinesthetic: Menari, olahraga, akting, apa saja yang membutuhkan koordinasi fisik, menciptakan dengan tangan

Musical-Rhythmic: Menyanyi, bermain alat musik, menggubah musik

Interpersonal: Bisa melihat titik pandang lain, mendengarkan, mampu menangkap isyarat dari orang lain, baik dalam membentuk hubungan baik dengan orang lain, resolusi konflik; pemimpin yang baik

Intrapersonal: Mencari tahu kekuatan dan kelemahan sendiri, menganalisis, memahami diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain

Dyslexia Awareness Diknas, 31 Juli 2010

Dyslexia Awareness

SEMINAR & WORKSHOP, 31 Juli 2010, Gedung D Kantor Kementerian Pendidikan dan Nasional

Seminar Utama: “Mengenal Disleksia: Akomodasi dan Layanan Pendukung yang Dibutuhkan”

Seminar 1: “Dukungan Profesional bagi Anak Disleksia”

Seminar 2: “Menemukan Disleksia Lebih Dini”

Workshop: “Strategi Pembelajaran Disleksia”

Sekolah Khusus? Sekolah Masa Depan, Tauk!

Malam ini saya berdiskusi (tepatnya, berdebat) dengan suami saya tentang konsep sekolah masa lalu, hari ini dan esok. Sir Kenneth Robinson dalam presentasinya menyatakan bahwa sistem sekolah yang ada sekarang adalah produk era industrialisasi dengan salah satu produknya “standardisasi”. Saya sepakat bahwa ada “passing grade” dan sertifikasi dalam proses anak sekolah jaman sekarang. Yang saya tak setuju adalah menyamaratakan kemampuan anak, sementara setiap anak itu unik. Mengapa tak dibuatkan sistem untuk “pendalaman minat dan bakat” anak sebelum ia menempuh pendidikan yang lebih tinggi?

Hari ini ada SMK (sekolah menengah kejuruan) yang dianggap “sekolah tukang” oleh banyak orang, dan SMA (sekolah menengah atas) yang kemudian lanjut ke jenjang S1 (universitas dan setaranya). Kemudian lulusan SMA dicap sebagai bos-nya tukang itu. Ini konsep pabrikan, bukan?

Dari “thread” sekolah seperti ini, selayaknya hari ini pemerintah dan masyarakat kita mulai membangun sebuah sekolah khusus yang memberikan “pendidikan alternatif”. Bahwa setiap anak unik, dan setiap anak harus mampu mengenali dan menggali lebih lanjut minat dan bakat yang paling menonjol dalam dirinya.  Menemukan hal ini tentulah harus dengan berbagai pendekatan, seperti:

  • rasio guru-murid kecil sehingga penanganan lebih fokus
  • penerapan “pemahaman materi” daripada sekadar “hapalan materi”
  • perkenalan satu topik dengan menarik agar titik ini menjadi titik awal di mana sang anak mampu menggalinya lebih jauh lagi sendirian (Sir Ken Robinson bilang, kalau murid bosan atau tak memperhatikan guru, itu yang salah gurunya kok!)

Masih banyak hal lainnya yang kami diskusikan. Akhirnya kami sepakat bahwa tetap perlu mengikuti sistem sekolah formal yang ada sekarang (karena kita hidup di masa sekarang), lalu kami perlu menambah pengetahuan dan pengalaman lain di luar jalur formal tadi. Akhirul kalam, kami juga sepakat untuk mencari tahu jawaban semua pertanyaan anak-anak agar kelak mereka bisa menjawab pula tantangan 40 tahun mendatang, “Now what?”. Mereka sekarang adalah digital natives yang tak lagi hidup di era industrialisasi.

It’s pretty productive debate, I must say.

Here’s a thought to ponder: Did you know? (youtube presentation).

Membangun Percaya Diri Sang Anak: Keluar Dari Awan Disleksia Secara Meyakinkan

Saya meyakini di setiap sekolah setiap saat sepanjang tahun ada saja satu dua anak yang menderita disleksia. Sang anak kerap mengalami hambatan di kelas. Segala bentuk menulis atau menghitung seakan hadir seperti monster. “Mengapa aku tidak bisa membaca dan mengeja?” hingga pernyataan sang kepala sekolah di sekolah Indra sebelumnya. Dengan dinginia mengomentari kejadian saat Indra berlari ke lapangan di hari hujan, “Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak bodoh.” Ah, mungkin yang ia maksud dunia pendidikan di Timbuktu, saya tak ambil pusing.

Saya kemudian mencoba mencari tahu keunikan Indra sampai ke akar permasalahan, jauh di bawah permukaan yang dilihat sang kepala sekolah itu. Yang patut dipahami dari Indra adalah kemampuannya dalam bidang koordinasi fisik, kreativitas,  empati dengan orang lain. Kekuatannya mungkin ada di beberapa daerah tersebut. Indra mudah menari jika mendengar musik menghentak (koordinasi fisik). Ia mampu menggambar sejam penuh atas apapun yang menjadi minatnya hari itu (kreativitas). Ia pun mudah jatuh iba akan hal kecil, seperti melihat pengemis kecil di jalan, atau bahkan melihat saya termenung kelelahan di satu sore (empati).

Saya telah mencoba metode pengajaran bahasa semasa kuliah dulu (linguistik) dengan kesadaran fonem. Saya pun mencoba mendapatkan buku-buku menarik dan permainan kata, sebagai fondasi dasar bagi Indra. Saya pun mencoba menyakinkan ia tiap malam dengan mengatakan kepadanya bahwa semua yang ia kerjakan itu baik, bahwa ia adalah anak cerdas. Setiap malam. Walau saya telah mengatakan padanya bahwa selama bertahun-tahun, ia perlu bukti.

Di satu saat, saya pernah melakukan latihan berikut ini, yang bisa memiliki efek pada Indra. Bisa dilakukan sendirian ataupun bersama sang anak . Ambil selembar kertas dan membuat dua kolom: dalam satu kolom menambahkan ‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ dan pada yang lain ‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’

Tulislah daftar ini selama sekitar lima atau sepuluh menit, lalu diskusikan bersama anak Anda. Kajilah dari sudut pandang objektif.  Daftarnya akan terlihat seperti ini, tentu saja tergantung pada minat setiap anak:

‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ (GOOD AT)
o berenang
o menyelam
o bola basket
o merawat kelinci saya
o menggambar
o membuat lukisan
o mengumpulkan perangko
o bermain dengan anak-anak lain
o membersihkan meja
o membuat orang tertawa
o softball
o bersikap ramah kepada kakek
o mengetahui tentang ruang dan planet-planet
o dll

‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’ (NOT GOOD AT)
o ejaan
o membaca
o menulis
o matematika

Saya menaatap wajah Indra untuk memastikan ke dia bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan daripada hal-hal yang ia anggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Dia jelas-jelas orang yang bakal sukses dengan segala kemampuannya.

Tapi di matanya seakan muncul pertanyaan: apakah kelemahannya itu adalah hal-hal yang penting dalam hidup. “Jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?” Ini adalah tahap di mana saya harus berdebat dengannya, dan saya yakinkan bahwa saya menghargai semua jenis kualitas yang Indra tonjolkan, terutama kemampuannya untuk menjadi pribadi ramah, memikirkan orang lain sebelum diri mereka sendiri dan seterusnya. Bukan karena dia tidak mencoba atau bahkan orang tua memberi klaim bahwa sang anak itu bodoh (seperti, sayangnya, ucapan sang kepala sekolah Indra di sekolah lama).

Membangun kepercayaan diri sang anak bisa menjadi satu titik balik – berapa pun usia nya – yang penting bagi  fondasi pembelajaran khusus; yaitu mengeja dan menulis dengan lebih mudah.

My Baby Turns 7 Today

Sudah sekian lama saya tak update blog ini. Kesibukan IRL (in real life) menguras waktu. Saya tak bisa leluasa duduk termenung depan komputer. Hari ini 2 menit sebelum berganti tanggal, saya mensyukuri Indra yang telah mampu membaca lancar. Ia pun kian mampu mengetahui dan menghapal apa yang ia baca.

Alhamdulillah… semoga Indra bisa menghadapi tahun-tahun ke depan lebih mantap lagi.

Terima kasih juga untuk kawan-kawan virtual saya… you are also my hopes to brave this.

Sistem Sekolah Harus Melihat Keunikan Anak, Harus!

Di satu sisi saya merasa gagal sebagai orang tua; di sisi lain saya juga tak percaya dengan sistem sekolah hari ini  yang menyamaratakan setiap kepala anak. Menonton paparan Sir Ken Robinson di TedTalks Forum 2009, saya terhenyak. Di jaman serba mudah informasi tapi sulit kompetisi, anak harus diajarkan berkreasi selain membaca-menulis-berhitung. Ia sampaikan bahwa siapapun jika punya uang bisa mencapai gelar S1. Tidak cukup S1, ia bisa melanjutkan S2. Jika merasa persaingan kian ketat, S3 bisa mendongkrak gengsi orang itu dalam masyarakat. Orang itu kemudian melupakan ia memiliki otak untuk menciptakan hal baru selain apa yang ia dapatkan turun-temurun di organisasi sekolah. Ia pun tidak berusaha menggerakkan kaki dan tangannya untuk berkreasi. Ia hanya menganggap otaknya berdiri sendiri. Itulah bedanya cara berpikir profesor di negara maju dan profesor pasif di negeri ini; karena saya mengenal beberapa yang suka korupsi dan tidak punya inovasi lain selain ilmunya untuk menggarap “proyek pemerintah”.

Analisis psikolog di LPT UI (sebuah organisasi belajar yang solid kokoh itu) menyatakan Indra cerdas di atas rata-rata, hanya kemampuan membaca-menulis-berhitung yang belum lancar. Sekolah negeri tempat Indra menuntut ilmu HANYA peduli ia tak lancar membaca, menulis dan berhitung di saat semua kawannya sudah mampu berkonsentrasi. Indra yang suka menari, menyanyi, dan loncat-loncat setiap saat dianggap bocah edan. Menganggap kreativitas adalah kegilaan yang harus dihapus?!?!?!?!?!^%#(@&!?

Kemarin saya menangis saat mendengar akhirnya jajaran guru SD memutuskan Indra tidak naik kelas. Mengapa tak naik kelas, jerit saya sekeras-kerasnya di dalam hati. Dengan segala kemampuan yang saya miliki, saya berusaha terbaik untuk dia dua tahun terakhir ini. Indra pun bukan anak pemalas. Seluruh tugas yang saya berikan memang sulit dikerjakannya di saat adiknya menganggu di ruangan, atau ada suara di luar yang membangunkan rasa penasarannya. Jika suasana belajar baik, seluruh buku bisa ia lahap, seluruh pertanyaan di atas kertas bisa ditulisnya dengan jawaban sempurna!

Saya bisa membayangkan saat ia bertanya, “Kenapa aku tak naik kelas, Bu?”

Apa yang harus saya sampaikan besok saat ia menerima rapornya?

Keuntungan Jadi Anak Disleksia

THE ADVANTAGES of BEING DYSLEXIC and ADD

WHAT CAN DYSLEXIC AND ADD PEOPLE DO better than others ?
Strengths of Creative Thinkers *

Many people with learning differences of Dyslexia and ADD are capable of some extraordinary

thinking and can be extremely successful once they learn some coping strategies. This is why

we prefer to call them, more appropriately, Creative Thinkers. Some of the Creative Thinkers

strengths are:

  • Persistence,
  • Concentration,
  • Perception,
  • Vivid imagination,
  • Creativity,
  • Drive and ambition,
  • Curiosity,
  • Thinking in pictures instead of words,
  • Superior reasoning,
  • Capable of seeing things differently from others,
  • Love of complexity,
  • Simultaneous multiple thought processing,
  • Quickly mastering new concepts, and
  • Not following the Crowd.

Most people who are not dyslexic and rate low on the scale of Creative Thinking, are verbal learners, based on word acquisition by hearing. Verbal learning is limited to the speed of a person’s speech. This auditory information goes into the conscious mind, so that the non-dyslexic person is aware of the information.

Thinking and learning in pictures rather than words is thousands of times faster, and is subliminal, going directly into the subconscious mind. This visual learning style is what a Creative Thinker uses. The acquisition of information as pictures create an immense amountof multi-dimensional information, that can be manipulated in many forms by the brain to enable intuitive thinking, perception, and other interesting thought processes.

Frequently this learning style leads to thought delays, because of the tremendous amounts of information processed.

Unusual Abilities of Some Creative Thinkers

Although each Creative Thinker is distinctly different in their mental capabilities, some of these abilities can be evidence of the intellectual and creative powers of a genius waiting to be unlocked. Imagine feeling that someone is behind you before you can see or hear them. Some Creative Thinkers have mental abilities that go well beyond this common phenomena and approach the supernatural. Examples include:

  • Controlling the perception of time, causing it to operate in slow motion or rapidly,
  • Doing complex math in their head quickly; but not knowing how they did it,
  • Seeing a solution from a mental examination of the components, such as projecting interest rates for investments, or creating a new computer chip,
  • Communicating telepathically with others, or
  • Controlling the outcome of events, like calling the correct numbers on dice before they are rolled.

Although not all Creative Thinkers possess these talents, extrasensory perceptions like these represent abilities that are uniquely valuable to some; but ludicrous to others who do not understand the learning and mental processing differences of making effective use of the right side of the brain by Creative Thinkers.

Some of the Successful People Who Admit That They Are
Dyslexic or ADD Include:

Tom Cruise – Actor

Jay Leno – Television personality (Tonight Show )

Thomas Edison – Inventor

Albert Einstein – Inventor

Winston Churchill – British Prime Minister, WWII

George Bush- Former US President

George Patton – US General, WWII

George Burns – Comedian

Whoopi Goldberg, Actress

Danny Glover, Actor

Cher – Actress, Singer

SOURCE: “The Many Facets of Dyslexia”

Some Common Traits Associated with the Learning Differences of Dyslexia and ADD

Each person is different and will have a unique combination of the common traits listed below.

1. Thinks visually.

2. Daydreams.

3. Easily distractible.

4. Aware of everything.

5. Able to do multiple things at the same time.

6. Seeks stimulation.

7. Highly creative.

8. Immature social behavior, says what comes to mind.

9. Poor penmanship.

10. Difficulty remembering names.

11. Seeks immediate gratification.

12. Impulsive and impatient.

13. Suffers from motion sickness.

14. Can see patterns into the future.

15. Capable of intense short-term focus.

16. Quick decision maker.

17. Bored by ordinary tasks.

18. Risk taker.

19. Have had problems with ears.

20. More independent than a team player.

21. Sees the big picture.

22. Curious.

23. Experience thoughts as reality.

24. Subject to disorientation.

25. Sometimes has psychic – extrasensory abilities.

26. Highly intuitive.

27. Short attention span, inattentive.

28. Has a vivid imagination.

29. Artistic.

30. Has a sense of under achievement.

31. Have spatial orientation problems (left/right, north/south)

32. Talks excessively.

33. Reverses letters and numbers.

34. Slow reader when young.

35. Difficulty with math concepts.

36. Problems with self-esteem.

37. Problems mastering phonics and spelling.

38. Problems understanding the rules of grammar.

39. Reads best by memorizing, the “Look-Say System.”

40. Always active-constantly thinking,

41. Learns best by hands on, rather than lecture or reading.

42. Low tolerance for frustration.

43. Realize that they are different from others.

44. Take longer to think and respond than others.

45. Able to create a complete mental picture from pieces.

46. Somewhat disorganized.

47. Capable of changing on a moments notice.

48. Have phobias: like fear of dark, heights, speaking in public.

49. Prefer unstructured situations with freedom.

50. Feels like they see problems from the perspective of a helicopter flying above forests of problems rather than working from the root of trees in one forest.

51. See things that others don’t.