Seorang Sahabat

Tulisan di bawah ini adalah liputan Kompas, Selasa, 3 Agustus 2010 | 12:18 WIB. Seorang sahabat virtual saya yang banyak membantu saya dan Indra dengan berbagai informasi disleksia. She’s a survivor, a new Einstein female on the making.

***

JAKARTA, KOMPAS.com – Sepintas, Aigis Arira (21) terlihat seperti mahasiswa pada umumnya. Kini, ia menempuh semester 7 jurusan di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Tak ada yang menduga bahwa ia seorang penyandang disleksia.

Pada beberapa fase hidupnya, Aigis pernah mengalami masa-masa sulit. Saat ia dianggap memiliki hambatan belajar. Sesuatu yang menurutnya biasa-biasa saja. Tetapi, tak biasa bagi orang-orang sekitarnya. Saat menginjak kelas 3 SD, orangtuanya baru menyadari bahwa Aigis mengalami perkembangan yang berbeda dari anak-anak sebayanya. Ia menceritakan, awalnya, ia menempuh sekolah dasar di SD Cinere 03 pada tahun 1995-1997.

“Di sini, saya pribadi tidak merasakan kesulitan di dalam diri saya. Tetapi, di mata orang sekeliling saya, mereka berpendapat lain. Saya tidak bisa membedakan ‘b’ dan ‘d’ bahkan sering kebalik, menyalin suka salah, padahal saya duduk paling depan. Menghafal perkalian dan pembagian saya tidak bisa, menggambar kubus hasilnya bisa trapesium,” kisah Aigis, dalam sebuah seminar nasional mengenai disleksia, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Aigis juga mengalami hambatan dalam mengutarakan pendapatnya, sehingga berakibat ia malu bertanya dan tidak bisa bergaul dengan teman-temannya. “Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui kondisi saya, bila orangtua saya tidak mencari info, maka mungkin sampai sekarang tidak akan tahu bahwa saya mempunyai sesuatu yang unik,” ujarnya.

Menyadari ada kekhususan yang dibutuhkan anaknya, orangtua Aigis kemudian memindahkannya ke sekolah khusus, SD Pantara, yang menangani anak-anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (specific learning difficulties/LD). Di sekolah ini, Aigis lebih merasakan kenyamanan karena mendapat penanganan khusus dan lingkungan yang lebih kondusif. Pendidikan dasarpun berhasil ditamatkannya.

Melanjutkan ke SMP Umum

Masa SMP dirasakan Aigis adalah masa terberatnya. Setamat SD, Aigis dan keluarganya hijrah ke Bandung. Disana, Aigis tak lagi mengenyam pendidikan di sekolah khusus. Ia kembali melanjutkan ke sekolah umum, SMPN 4 Cimahi. Pada masa SMP inilah, Aigis diberitahu oleh orangtuanya bahwa ia seorang penyandang disleksia. “Ketika SMP, orangtua saya baru menjelaskan bahwa kondisi saya seperti ini, seperti ini. Inilah titik terberat yang saya alami, karena harus sekolah di sekolah umum, beda dengan SD saya yang muridnya sedikit,” kata Aigis.

Ia pun harus beradaptasi. Dari semula di SD hanya memiliki teman 8 orang dalam satu kelas dengan dua guru, kini 44 orang orang dengan satu guru. “Waktu SMP, saya selalu memilih duduk di belakang karena takut ditanya guru,” ujarnya enteng.

Bagaimana prestasi belajarnya? “Saya ranking 44 dari 44 murid. Lumayanlah, ada rankingnya, daripada enggak ranking,” kata Aigis sambil tertawa.
Tetapi, saat SMP ini, dorongan orangtua sangat kuat dirasakan Aigis. Ia diminta hanya mencatat seluruh pelajaran dan perkataan gurunya. “Saya belajarnya di rumah, dengan orangtua saya,” kata gadis hitam manis ini.

SMA Juara Mengetik 10 Jari

Memasuki jenjang pendidikan menengah atas, Aigis merasa sudah lebih bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Ia melanjutkan ke SMK dengan jurusan RPL alias Rekayasa Perangkat Lunak. Ya, Aigis memang suka dengan segala seuatu yang berhubungan dengan computer. Lagipula, sekolah kejuruan dianggapnya sebagai pilihan tepat karena tak harus berhadapan dengan pelajaran-pelajaran di sekolah umum yang dirasanya sangat sulit.

“Selain itu, jumlah muridnya hanya 28 orang per kelas ditambah dengan pembagian jurusan menjadikan perbandingan guru dan murid menjadi lebih sedikit. Di sekolah ini pelajaran praktek lebih banyak daripada teori sehingga pemahaman mata pelajaran terasa lebih nyata,” ujarnya.

Prestasii sekolahnya pun bisa menyamai nilai rata-rata di kelasnya. Hal inilah yang membuat Aigis semakin termotivasi dan percaya diri. Di masa ini pula, Aigis meraih prestasi yang sangat membanggakan orangtua dan dirinya sendiri : juara untuk pelajaran mengetik sepuluh jari (blind system). “Saya mendapatkan point tertinggi di sekolah. Padahal, untuk menghafalkan abjad dari A sampai Z saya masih belum bisa. Dan sampai saat ini pun saya tidak mengerti kenapa saya bisa juara,” kata Aigis.

Selepas menamatkan pendidikan menengah atasnya, Aigis akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan dengan jurusan Ilmu Komputer di Institut Teknologi Harapan, Bandung. Di masa ini, bantuan materi pelajaran dari orangtua sudah sangat terkurangi. Aigis lebih didorong secara motivasi. Ia pun menyadari bahwa ia harus mandiri. Prestasi belajar Aigis pun, hingga menginjak semester VII tak jauh berbeda dengan teman seangkatannya. Kini, Aigis tengah menyusun skripsi untuk meraih gelar sarjananya.

Peran orangtua

Bagi anak-anak penyandang disleksia, dukungan dan peran orangtua sangatlah menentukan. Setidaknya, itu yang dirasakan Aigis. Selain berharap motivasi dari pihak di luar diri, ia juga menekankan, perlunya memberikan rasa percaya pada diri sendiri.

“Camkan bahwa saya mampu dan saya bisa. Dengan begitu, saudara, teman bisa menerima saya. Tetapi, saya berterima kasih, karena kesabaran dan peran orangtua saya bisa seperti sekarang. Saya selalu ingat kata-kata orangtua saya, ‘biar hasilnya jelek, yang penting hasil saya sendiri’. Kata-kata ini membuat saya merasa dipercaya dan mampu,” ungkapnya.

Aigis yakin ia tak sendiri. Di luar sana banyak juga anak-anak penyandang seperti dirinya. Ia berharap, pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar bagi anak-anak berkesulitan belajar spesifik seperti dirinya. “Saya yakin, anak-anak yang mengalami disleksia tidak semuanya dari kalangan mampu. Selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dan berimbang kepada anak-anak seperti kami,” harapnya.

21 Komentar

  1. Setelah membaca artikel tentang disleksia di Kompas kemarin, saya baru menyadari anak pertama saya, Paundra kemungkinan juga menderita disleksia. Sekarang Paundra kelas 1 SD, tetapi mulai dari TK A, saya harus sering menghadap guru kelasnya. Indikasi kesulitan-kesulitan yang dialami di sekolah tampaknya sama dengan yang tertulis di artikel tersebut. Kami tinggal di Surabaya, dan saya tidak tahu di mana sekolah khusus untuk disleksia. Saya begitu sedih dengan rasa tidak percaya diri nya. Dari luar tampak cuek, tapi saya tahu sebenarnya dia tidak percaya diri. Mungkin ada yang bisa membantu saya?

    • Salam kenal buat Mbak Lilik dan Paundra,

      Setahu saya, belum ada sekolah khusus disleksia selain Pantara. Penanganan disleksia, ADHD dan seterusnya belum diadopsi oleh sistem kurikulum negeri ini, sehingga hanya swasta (Pantara) yang melaksanakan ini. Pantara dikelola oleh yayasan yang dimotori Ibu Umar Wirahadikusumah, yang peduli akan keunikan setiap anak. Perihal Paundra, percayalah, tak ada anak bodoh (JANGAN pernah katakan anak bodoh di belakang apalagi di depannya), dan kata Prof Yohannes Surya, “tak ada anak bodoh, yang ada sang anak belum ketemu guru yang baik.” Dan guru yang baik karena memang intensinya baik ada di banyak sekolah yang peduli, salah satunya Pantara.

      Silakan dites di Unair Fakultas Psikologi jika memang kampus menyiapkan tes semacam Tes Intervensi Dini seperti yang diadakan di Pantara ataupun di LPT UI Salemba. Good luck!

    • Bu Lilik, kalau boleh tahu sekarang anaknya sekolah dimana, ya? Terima kasih…

  2. Saya mempunyai anak pertama laki-laki usianya saat ini 7 tahun, nama anakku Kiki sampai saat ini kiki duduk dikelas 2 SDIT Insan Utama Pekanbaru-Riau belum bisa membaca dan menulis, tapi untuk matematika nilainya sama dengan temannya yang juara 1 bahkan saya sampai heran kiki mendapat penghargaan untuk pelajaran ilmu komputer untuk siswa berprestasi dikelas 1. Saya mau bertanya dan minta berbagi ilmu bagaimana cara yang mudah dan tepat untuk mengajar kiki belajar membaca dan menulis. Semoga mbak mila bersedia berbagi dengan saya, makasih ya mbak.

    • Salam kenal buat Mbak Livia dan Kiki,

      Membaca dan menulis ada gerbang masuk ke ilmu pengetahuan yang lebih luas lagi. Saya yakin Kiki anak berbakat “gifted”; dan memang harus dicari akar permasalahannya mengapa Kiki belum bisa membaca menulis lancar. Ada kalanya hanya suasana (ramai, panas, dst.) atau metode guru mengajar yang belum pas (karena muridnya terlalu banyak?).

      Disiplin di Pantara itu dimulai saat masuk kelas, anak berbaris dan kalau mau masuk kelas harus dapat menjawab pertanyaan. Duduk di kelas pertama kali sang guru setiap hari menerapkan sistem “target hari ini” seperti Indra tak boleh banyak jalan-jalan kalau sedang diterangkan. Jika target tercapai, di siang harinya, Indra berhak mendapatkan stiker senyum. Jika tidak, tentu ia akan kehilangan kesempatan itu. Sistem target dan hadiah ini menjadi pemicu Indra mengikuti petunjuk gurunya lebih baik lagi, sehingga materi pelajaran bisa dimengerti dengan baik.

      Ini cuma satu… alat peraga juga bisa membantu Kiki membaca tanpa harus merasa terbebani. Seringlah mengajak ke luar dan tulislah suku-suku kata yang dirangkaikan di atas daun, pohon atau apapun yang menjadi “interest” atak minat Kiki… masuk dari hal yang “fun” akan membuat Kiki ingin menggali lebih jauh lagi.

      Good luck!

    • Hi, mau sekedar sharing ya.. Anak sy 12thn skrg dan jg seorg dislexis. Sy br mengetahui 2bln yg lalu stlh berthn2 sy keliling kemana2 utk mencari åþå problema anak sy. Anak sy skrg di kls 6 sd, tdk ada rasa percaya diri, temperamental, selalu failed in chinese subject selama 3thn. Anak sy lahir dan besar di spore. Sy pikir krn pendidikan disana memang strict saja, thn lalu anak sy tdk blh melanjutkan kls 6 nya di level std lg di sklhnya jd hrs turun ke foundation krn peraturan di spore itu, bagaimanapun english dan chinese hrs passed, gak peduli math and sciencenya dpt 100. Sad, angry, frustrated, tp åþå daya. Akhirnya dengan amat sangat terpaksa dan gak ada pilihan lg, akhirnya sy pindah sementara ke jkt krn memang suami di jkt. Dan br 2bln yg lalu tmn sy kenal dgn dokter specialist dislexis dan ada solusinya. Instant effect, no medication mrk hny mengunakan kacamata khusus, ofcos si anak hrs di test dl ya utk penentuan lensesnya. My big burden jst lifted after many years. Anak sy skrg sdh jauh lbh tenang, bs fokus, kl baca tulisannya sudah gak disappear lg ktnya. Udh gak frustasi lg skrg kl baca
      Feel free to contact me ya if u hv any questions or u may drop ur all ur queries @ rosy_chen74@hotmail.com

  3. Dear mbak mila,
    Ini ada info, (maaf klo sdh tau sebelumnya), semoga bermanfaat buat mbak atau teman2 lain yang memerlukannya. Terima kasih🙂

    INTERNATIONAL SYMPOSIUM AND WORKSHOP on “Teaching English for Dyslexics”
    Do you have any student who is smart but struggles in learning to read, spelling, writing or even math?These students might have DYSLEXIA, a learning difficulties which affect children with normal to high level of IQ. Some of the famous people who also have dyslexia are: Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Walt Disney, Tom Cruise and many more…Statistically it affects 5 -10% of students, which is the largest in number amongst the Learning Difficulties. 1 in every 20 – 500,000 school going children are DYSLEXIC..Imagine that..Hence, please attend the INTERNATIONAL SYMPOSIUM AND WORKSHOP on “Teaching English for Dyslexics”:Day                        : Saturday and Sunday
    Date                       : 23 -24 October  2010 
    Time                       : 09.00 – 17.00Venue                    : KIDZPotentia Jl. Terusan Sutami II No. 19 A Bandung Telp : 022-2008557Investment             : Rp. 500.000,00 (Include Certificate, Lunch and 2x snacks)Speakers: (Material presented in English) :
    1. Puan Sariah Arimin
    Founder and President Director of Persatuan Disleksia Malaysia
    2. Dr. Aziz Abu Hassan 
    Vice President of Persatuan Disleksia Malaysia
    3. dr. Purboyo Solek, Sp.A.(K) 
    Consultant of Asosiasi Disleksia Indonesia
    4. dr. Kristiantini Dewi, Sp.A 
    Daily Executor of Asosiasi Disleksia Indonesia
    LIMITED SEAT!!
    For more information & registration, please contact: KIDZPotentia at 022-2008557 (Dewi / Doni) 

  4. dear mba mila.
    salam kenal mba.saya seorang guru SD negeri di daerah jakarta timur.salah seorang murid saya mengalami disleksia. Sebenarnya saya tahu kelainan( disleksia) ini ada namanya namun saya baru mengetahui nama kelainan(disleksia) anak murid saya kemarin. kemudian saya berusaha mencari tahu informasi melalui internet. Mungkin orang tua maupun guru yang lain juga tidak mengetahui nama kelainan pada anak murid saya ini. anak murid saya berusia 10 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD. Dia menjalani 2 tahun di kelas 1 dan 2 tahun di kelas 2 SD. Ada banyak kendala dalam mengajarkan anak murid saya ini karena murid saya berjumlah 40 orang sehingga sangat sulit memberikan perhatian secara khusus kepada anak disleksia ini. sampai saat ini murid saya belum dapat menulis dan membaca dengan baik, saya sampai merasa tidak enak hati dengan orang tuanya karena belum berhasil mendidik anaknya dengan baik. yang ingin saya tanyakan, apakah sampai anak ini besar ia tidak dapat membaca dan menulis dengan baik?bagaimana cara mengajar anak disleksia di sekolah umum dengan jumlah murid dalam satu kelas sedemikian banyak. ataas perhatiannya saya ucapkan terima kasih..salam manis

    • Salam kenal Bu Rivana…
      Setahu saya, kekurangan Indra membaca bahkan terbalik “b” dan “d” itu tak akan sembuh sampai kapanpun; sehingga apa yang diminta Bu Guru di SD Pantara, Indra menulis b dengan huruf besar saja (B) agar mudah mengenali huruf itu. Intinya, memang kesulitan calistung (membaca menulis berhitung) itu bisa terbawa hingga dewasa namun ada banyak terapi untuk mengurangi kesalahan atau kekurangan sang anak. Kalau tak bisa fokus ke satu anak di antara 39 siswa lainnya, memang ada baiknya ortu si anak diberitahu tentang gejala ini; dan pastikan sang ortu Ibu berikan semangat: “Anak Anda tidak bodoh”. Masih bisa ditolong sedini mungkin jika ortu menyadari bahwa itu bukan masalah IQ semata; ada perilaku dan kondisi biologis yang harus diberi terapi khusus. Indra hanya butuh kelas kecil untuk bisa konsentrasi. Di rumah, sekarang, Indra tetap duduk di sebelah saya saat mengerjakan PR tapi tak perlu takut ia terganggu akan detak keyboard saya… ia sudah bisa mengatasi masalah konsentrasi berada ruang tak sepi.

      Bu, silakan konsultasikan ke Intervensi Dini di SD Pantara ada di Jl Senopati 72, Kebayoran Baru. Telp. 021-7234 581, 7234 582. Semoga banyak lagi orang tua yang bisa dicerahkan oleh guru sebaik Ibu…

    • Selamat malam, Mba..
      Salam kenal, saya Rosana Yuniasih, mahasiswa Fakultas Psikologi UI.
      Saat ini saya sedang menyusun skripsi mengenai remaja disleksia. Dan terus terang, saya mengalami kesulitan dalam mencari remaja disleksia yang berusia 11-20 tahun. Yang sering saya temui adalah anak-anak yang berusia dibawah 11 tahun.
      Saya membaca tulisan Mba bahwa salah satu siswa Mba ada yang mengalami disleksia. Boleh saya tahu lebih lanjut mengenai sekolah Mba? Apakah memungkinkan jika saya meminta bantuan siswa Mba untuk menjadi partisipan saya? Terima kasih atas perhatiannya, Mba.

      • Hai Rosana, saya hanya seorang ibu yang memiliki anak dengan awal belajar tak fokus. Thanx to SD Pantara, anak saya sudah mandiri belajar. Jika ingin ke SD Pantara (saya tak pernah catat nomor teleponnya setelah pindah ke Tebet) silakan datangi saja, kalau dari arah KFC Gelael MT Haryono, Jakarta Selatan, menuju ke Soepomo (ada McD di pojok jalan). Setelah melewati pertigaan Pasar Tebet (barat) terus saja dan di sebelah kanan ada SD-SMP Dewi Sartika dan mesjid warna hijau di pojoknya, silakan belok kanan. Di jalan pertama langsung belok kanan, jadi letak SD Pantara itu persis di belakang kompleks SD-SMP Dewi Sartika dan mesjid. Masih ada data lulusan SD Pantara di sana, mudah-mudahan bisa membantu. Sukses dengan skripsinya ya…

  5. salam kenal mba🙂
    saya azizah suli, mahasiswa psikologi UGM
    saat ini saya sedang berencana melakukan penelitian dengan topik disleksia, apalagi karena kesadaran masyarakat tentang disleksia masih sangat minim. tapi sangat sulit menemukan anak dengan disleksia karena yang saya tahu belum ada komunitas resmi untuk disleksia di jogja.
    yang ingin saya tanyakan, apa mba tahu bagaimana caranya menghubungi aigis arira? mungkin saya berencana melakukan single-case study dengan aigis tapi sampai saat ini bingung bgaaimana menghubunginya😮
    terimakasih sebelumnya mba atas perhatian dan juga membagi info di blog ini😀

    • Mbak Aigis bisa dihubungi di Facebook (namanya Aigis Arira, atau email aigisarira @ hotmail.com). Atau Mbak Azizah bisa hubungi Ibu Sebti, yang merasa anaknya/kerabatnya disleksik… minta izin saja dulu ke email beliau kadot_kedebuk @ yahoo.com. Beliau juga mencari tahu di mana dan bagaimana soal SD Pantara di blog saya ini, tapi Pantara ‘kan cuma di Jakarta. Mutualisma, karena Ibu Sebti bisa tanya langsung ke UGM ya… Sukses atas penelitiannya yaaaa…

      • wah terimakasih banyak ya mba infonyaa🙂
        terimakasih😀

  6. Dear mba mila,

    Saya mempunyai adik yang berusia 12 thn yang mengalami kesulitan dalam memahami bahasa verbal sehingga mengganggu kegiatan belajar adik saya. Sekarang ini dia sudah duduk dibangku kelas 6 SD (sekolah inklusi) dan sudah mau lulus. Yang saya mau tanyakan apakah ada sekolah SMP khusus anak disleksia. Soalnya di sekolah inklusi tempat adik saya, kepala sekolahnya menjelaskan bahwa adik saya kemungkinan besar tidak mengikuti UAN. Jadi hasilnya nanti pada kelulusan hanya menerima STTB. Padahal dari beberapa testimony yang saya baca di internet anak disleksia bisa mengikuti UAN tetapi dengan bantuan dan waktu yang mengerjakan soal yang lebih lama dibanding dengan anak reguler lainnya. Saya takut adik saya susah cari sekolah SMP khusus (inklusi). Maka dari itu saya mohon bantuan informasi dimana sekolah SMP khusus anak disleksia di jakarta.

    regards,

    indri

    • Mbak Indri…. maaf, sepertinya belum ada sekolah khusus seperti Pantara setingkat SMP. Yang ada hanya homeschooling yang nilainya disetarakan dan anak bisa ikut ujian juga. Saya tak terlalu mengikuti prosedur homeschooling, tapi memang intinya ortu harus lebih aktif memberikan asupan pelajaran ke anak. Homeschooling itu masalah disiplin kok, dan disiplin (struktur) inilah yang kurang dimengerti oleh anak-anak disleksia. Mereka itu ibarat “loose canon” melesat tanpa arah… Mbak Indri harus temui kesukaan adiknya, baru gali terus minat dan bakat sang adik di situ… yakin, ia akan lebih berprestasi dari anak biasa! Ia lebih mudah belajar disiplin jika ia suka topiknya.

      Untuk informasi homeschooling dan perihal syarat ujian, Mbak Indri sebaiknya tanyakan langsung ke Kantor Sudin Diknas terdekat (bisa cari alamatnya via Google). Bisa juga langsung ke Kementerian Diknas di Jl Jend. Sudirman, Jakarta. Mudah-mudahan info ini membantu… semoga sukses mencari infonya!

  7. Kira2 SD Pantara bisa menangani anak indigo juga gak ya?

    • Pak Jimmy, mohon maaf saya tak pelajari “anak indigo” secara spesifik. Tapi buat saya, semua anak itu unik. Untuk lebih jelas, silakan hubungi Pantara langsung.

  8. Siang Mama Indra,

    Namanya mbak Mila y?
    Kenalkan saya tyas..

    Singkat cerita, saya sedang membuat cerpen mengenai anak penderita disleksia.dan dalam pencarian saya mengenai disleksia, saya bertemu dengan blog anda.

    Nah pertanyaan nya, maukah Mba .Mila membaca cerpen saya? Saya ingin masukan dari orang yang bersentuhan langsung dengan disleksia
    ,apakah cerita saya sudah ‘logis’ atau melenceng.

    Jika Mba Mila berkenan, masukannya akan sangat berharga sekali buat saya.

    Terimakasih banyak,
    Tyas

  9. Assalamualaikum Wr Wb mba mila

    Saya seorang ibu yang memiliki seorang putri (safa) berusia 8 tahun dan duduk di kelas 2 SD. Awal mulanya putri saya di usia 3 tahun belum bisa untuk bicara, tapi saya selalu mendampinginya dan mengikuti sertakan putri saya belajar mengenal benda benda, warna warna dll bersama kakaknya yang berusia 9 tahun. Kakaknya masuk paud putri saya juga saya ikutin juga. Awalnya saya berpikir dia terlambat biasa,karna setiap apa yang saya bicarakan safa memahaminya tapi safa tidak pernah bicara sama saya. Apa yang safa mau dia cuma main tunjuk dan menarik saya.

    Singkat cerita saya membawa safa ke rumah sakit THT Proklamsi dan di test Pendengarannya hasilnya bagus dan dokter disana menganjurkan safa untuk ikut Terapi Wicara karna diagnosa mereka Safa mengalami keterlambatan bicara. Akhirnya safa saya masukan ke Tumbuh Kembang Anak di RS Hermina Jatinegara.Disana dia diterapi wicara ada 3.5 tahun sampai masuk usia sekolah. Sewaktu mau masuk usia sekolah saya berkonsultasi sama Dr. Satrio dan Dr. Diah mereka menyarankan agar safa masuk ke sekolah umum, karna safa bukan tergolong Autis dan safa sudah bisa membaca dan menulis serta berhitung untuk materi se usia safa. Akhirnya safa saya masukin ke sekolah negeri yang muridnya cuma 28 orang.

    Sekarang yang menjadi kendala bagi saya safa di sekolah tidak mau bergaul sama teman temannya sering menghindar dan juga kesulitan dalam belajar terutama dalam memahami kalimat dan juga untuk penalarannya masih kurang. Safa juga kesulitan untuk bercerita suatu kejadian. Misalnya saya suruh membaca cerita hanya 2 paragraf yang mana 1 paragraf ada 4 baris dan saya minta dia untuk menceritakan kembali apa yang dia baca tersebut. Dia merasa kesulitan dan agak binggung. Trus safa juga kurang memahami pertanyaan yang diberikan.
    Kalau bermain dia cendrung sendiri dan tidak mau menjawab apa yang saya tanyakan kalau ada teman teman sepantaran dia dan cendrung menghindar atau melihat lihat temanya seolah olah ada yang safa takuti, itu berlaku pada semua anak sepantaran dia. Tapi bila temannya atau anak itu tidak ada dan cuma ada orang yang lebih dewasa baru dia mau menjawab. Safa juga merasa binggung dan tidak fokus kalau orang atau saya bicara terlalu cepat dan sering lupa jawaban jika pertanyaan itu ditanyakan lagi berulang ulang dalam jeda waktu 15 menit.

    Kadang di rumah saya ajarin matematika atau pelajaran lain dan dia bisa memahaminya tapi pas di sekolah kok tidak bisa dan nilai pelajarnya antara 20 dan 60 dengan maksud pertanyaan sama cuma penulisan berbeda misalnya pertanyaan dari saya : ” Mengapa adik menangis?” dengan pertanyaan: ” Apa yang menyebabkan adik menangis?”

    dan juga bisa di hitung mendapat nilai di atas 70. Saya selalu berusaha membangkitkan rasa percaya diri safa karna di sekolahpun saya tidak pernah mendampingi dia karna saya mau safa mandiri.

    Apakah safa menyandang disleksia bu?

    Apa solusi yang terbaik buat safa ya bu mila ?

    Hanya itu dulu yang mau saya diskusikan dengan ibu, mohon maaf kalau ada kata atau kalimat saya yang salah.

    Terima kasih,
    Wassalam

    Bunda Safa

    • Waalaikumsalam Wr Wb Bunda Safa,
      Saya kagum dengan pendampingan Bunda selama ini. Apa yang Bunda lakukan itu sudah benar kok, dan hanya perlu difokuskan saja. Saya sarankan Bunda ke LPTUI di Kampus UI Salemba (masuk dari sisi utara Masjid UI). Akan ditemukenali bakat minat dan apapun… karena psikolog di sana memang pakarnya.

      Saya cuma tambahkan sedikit bahwa setiap anak itu punya cara unik memahami pelajaran. Anak saya Indra suka sekali visual, dan kalau menghapal PKn ia akan merangkaikan satu bab menjadi cerita yang lucu. Adiknya suka angka. Kenali saja keunikan setiap anak, dan ajak ia tertawa terus untuk menggali minat bakatnya. Positivity works.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s