Sekolah Khusus? Sekolah Masa Depan, Tauk!

Malam ini saya berdiskusi (tepatnya, berdebat) dengan suami saya tentang konsep sekolah masa lalu, hari ini dan esok. Sir Kenneth Robinson dalam presentasinya menyatakan bahwa sistem sekolah yang ada sekarang adalah produk era industrialisasi dengan salah satu produknya “standardisasi”. Saya sepakat bahwa ada “passing grade” dan sertifikasi dalam proses anak sekolah jaman sekarang. Yang saya tak setuju adalah menyamaratakan kemampuan anak, sementara setiap anak itu unik. Mengapa tak dibuatkan sistem untuk “pendalaman minat dan bakat” anak sebelum ia menempuh pendidikan yang lebih tinggi?

Hari ini ada SMK (sekolah menengah kejuruan) yang dianggap “sekolah tukang” oleh banyak orang, dan SMA (sekolah menengah atas) yang kemudian lanjut ke jenjang S1 (universitas dan setaranya). Kemudian lulusan SMA dicap sebagai bos-nya tukang itu. Ini konsep pabrikan, bukan?

Dari “thread” sekolah seperti ini, selayaknya hari ini pemerintah dan masyarakat kita mulai membangun sebuah sekolah khusus yang memberikan “pendidikan alternatif”. Bahwa setiap anak unik, dan setiap anak harus mampu mengenali dan menggali lebih lanjut minat dan bakat yang paling menonjol dalam dirinya.  Menemukan hal ini tentulah harus dengan berbagai pendekatan, seperti:

  • rasio guru-murid kecil sehingga penanganan lebih fokus
  • penerapan “pemahaman materi” daripada sekadar “hapalan materi”
  • perkenalan satu topik dengan menarik agar titik ini menjadi titik awal di mana sang anak mampu menggalinya lebih jauh lagi sendirian (Sir Ken Robinson bilang, kalau murid bosan atau tak memperhatikan guru, itu yang salah gurunya kok!)

Masih banyak hal lainnya yang kami diskusikan. Akhirnya kami sepakat bahwa tetap perlu mengikuti sistem sekolah formal yang ada sekarang (karena kita hidup di masa sekarang), lalu kami perlu menambah pengetahuan dan pengalaman lain di luar jalur formal tadi. Akhirul kalam, kami juga sepakat untuk mencari tahu jawaban semua pertanyaan anak-anak agar kelak mereka bisa menjawab pula tantangan 40 tahun mendatang, “Now what?”. Mereka sekarang adalah digital natives yang tak lagi hidup di era industrialisasi.

It’s pretty productive debate, I must say.

Here’s a thought to ponder: Did you know? (youtube presentation).

3 Komentar

  1. Salam kenal…
    thanks for sharing…^_^
    anak saya disleksia, gifted dan clumsy (istilah yg dr.purboyo berika kepada anak saya)…
    Saat ini, anak saya di kelas 2…dan saya mulai meragukan “kepedulian” mereka menangani anak saya.. sampai beberapa hari terakhir ini terfikir untuk mengHome-schooling kan anak saya..
    Jadi banyak yang ingin saya tanyakan ke ibu Mila…

    • Mbak Anggi, salam kenal juga!
      Betul Mbak, sekolah reguler tidak memiliki kurikulum untuk gifted child seperti anak kita. Ada beberapa fakta:
      1) Anak hari ini tumbuh dengan berbagai sumber informasi (TV, radio, koran anak, dkk.), dan stimuli otak mereka lebih banyak dari kita dahulu seusia mereka.
      2) Setiap anak itu unik; tak boleh dipukul-rata, karena anak kita itu IQ di atas rata-rata dan memiliki kelebihan yang tak dimiliki anak lain, bahkan saudara kandungnya sendiripun.
      3) Saya tetap percaya ada standar minimal karena kalau di bawah itu penangannya lain, karena kategorinya bisa ‘cacat mental’.

      Jika IQ anak kita di atas rata-rata, dan sekolah reguler tak mampu memberikan perhatian khusus, dan kita orang tua pun kewalahan mencari format terbaik untuk anak kita, sebaiknya kita memang harus meminta bantuan guru khusus seperti guru di SD Pantara. Sebaca saya di beberapa literatur, sistem sekolah hari ini adalah sistem era industri/pabrik, bukan era informasi. ‘Kesalahan’ sistem pendidikan hari ini adalah: tidak fleksibel terhadap perkembangan teknologi. Di luar sana, sudah banyak sekolah khusus bahkan sekolah di Inggris Raya itu sudah mengadopsi kelas khusus ini untuk sekolah reguler mereka. Masih jauh perjalanan kita…

  2. Mbak Mila, rasanya saya ingin memeluk Indra, sama seperti arga anak saya… dan beruntungnya Indra mempunyai ibu segesit Mbak Mila… Rasanya, sudah berapa banyak waktu dan biaya habis untuk terapi Arga, namun mgkn krn tidak tuntas, masih saja seperti itu. Arga sudah kls 4, baru saya menemukan jawaban/kecurigaan disleksia dan salah satunya saya banyak mendapat di blog ini. Sekolah anak saya, untungnya (semoga) masih peduli dan mengerti anak seperti Arga. Walaupun jauh bila dibandingkan dengan keseriusan SD Pantara. Namun kami tidak bisa memindahkan arga kesana dengan berbagai macam kesulitan. Tulisan mbak Mila sangat membantu saya, mohon bila ada kesempatan, menulislah lagi, sehingga saya (dan mungkin ibu-ibu lain) bisa terbantu.
    Minggu ini saya harus membawanya lagi ke psikolog (terakhir 2 thn lalu, ini adalah psikolog ke 9 yang akan kami datangi). Capenya di Indonesia untuk anak seperti Arga perlu uang dan uang dengan hasil terapi tak berujung….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s