Literacy versus Creativity

Kemarin saya bertemu dengan kepala sekolah sebuah SD swasta di bilangan Jakarta Selatan, sesaat setelah saya  berbicara dengan kepala sekolahnya Indra. Menghadapi dua kepala sekolah dengan orientasi pendidikan anak yang berbeda, saya sungguh tak habis pikir. Di SD negeri favorit ini Indra dianggap nakal hanya karena menadahkan mukanya ke langit saat hari hujan, di tengah lapangan sekolah. Di SD itu Indra dianggap trouble-maker karena ia masuk ke dalam kolam membantu kawannya yang pensilnya terjatuh di sana. Sayangnya, memang ia masih menggunakan kaos kakinya. Salahkah jika Indra impulsif karena ia anak-anak? Indra bukan orang dewasa yang mengenakan baju seragam SD. Ia memang anak kecil. For crying out loud, treat him like a kid!

Bertemu dengan Bu Lili, kepala sekolah SD swasta itu, sungguh saya seperti rasa haus yang disiram air segar. Ingin rasanya saya menangis di pelukannya untuk dapat menyalurkan rasa kesal saya terhadap sistem sekolah negeri (dan seluruh sistem pendidikan di negeri ini). Bukan sebuah kebetulan bahwa saat saya mengutarakan maksud saya memindahkan Indra ke sekolahnya, Bu Lili menyela, “Mengapa minggu ini saya menemui 3 orang tua murid dari SD Anda mau pindah ke sini ya?”

Saya terhenyak. Ach so… I am not alone.

Apakah memang seluruh pemikir pendidikan di negeri ini hanya melihat anak dalam satu dimensi, dimensi literasi? Tak adakah dimensi kreativitas? Bisa membaca, menulis, berhitung adalah segalanya. Bisa menari, menyanyi, bermain bola, tertawa… adalah tindakan edan seorang anak kecil? Kalimat “Indra adalah anak nakal!” keluar dari mulut sang kepala sekolah SD Negeri itu, tanpa mencari alasan mengapa Indra mencemplungkan kakinya ke kolam ikan.

Inilah Indonesiaku… guru dan kepala sekolah negeri hanya melihat anak-anak itu hanya dari kacamata negatif.  Berkreasi dan mengungkapkan perasaan anak adalah hal terakhir yang bisa dilakukan Indra di sekolah itu?

HE’S OUTTA THERE FOR GOOD!

3 Komentar

  1. Assalamu’alaikum..

    Saya terharu membaca apa yang sedang ada dalam pikiran seorang ibu dengan memiliki anak yang spesial.. Secara kebetulan saja saya sedang mendalami masalah anak-anak dengan spesial berkebutuhan khusus..

    Anak-anak spesial seperti ini terutama Indra.. karena dia spesial.. jadi orangtuanya pun harus spesial.. anak ini pintar dan perasa, mudah menolong .. tapi dibalik itu jangan salah ya b u… anak seperti ini sering menjadi bulan-bulanan teman-temannya.. (bullying)..

    Karena itu ada baiknya ibu adaptasikan anak-anak spesial dengan teman-teman di sekolah yang spesial juga… di sana guru-gurunya spesial juga.. tapi.. itu tidak akan selamanya Indra di situ jika sudah waktunya dia siap menyatu lagi dengan anak-anak biasa..
    Sekolah khusus itu misi visinya adalah sebagai sekolah transisi..
    Ibu bisa pertimbangkan.. agar yang pertama penting untuk Indra adalah rasa percaya dirinya muncul.. bisa bertahan dengan lingkungan..

    Salam kenal saya.. semoga bearhasil

  2. Salam kenal

    Aku baru baca ini blog. Salut untuk mama Indra…2 thumbs for u…gak mudah menjadi ibu yang selalu mengerti apa kebutuhan dan kemauan anak..walaupun gak sulit untuk belajar menjadi seorang ibu yang baik dan bijak..

    Sistem pendidikan kita boleh dibilang agak kacau..kalau kata “kacau” saja terlalu ekstrim.
    Sejak pendidikan dasar anak hanya dicekoki dan dituntut kemampuan akademiknya….apalagi anak sekarang yang beban kurikulumnya minta ampun.

    Daya kreatifitas anak kurang diasah…bahkan anak TK sudah dituntut HARUS bisa baca & tulis serta pegang komputer tanpa mempedulikan kemampuan penyerapan anak yg bersangkutan.

    Memang kalau dilihat secara global bahwa item ini akan meningkatkan standar mutu pendidikan nasional..oke lah..
    Cuman sayangnya di banyak sekolah — khususnya sekolah negeri, entah itu SSN, SBI atau yang tak berstandar sekalipun — tidak ada evaluasi yang diberikan kepada ortu secara berkala sebagai quality control dan ikatan komunikasi. mungkin malas atau budget ke arah situ tidak ada.
    Alhasil kelihatan kejar setoran materi dan tidak peduli akan aspek humanisnya.

    Akhirnya semua dikembalikan pada kita sebagai ortu…iya kalau ada biaya..coba bayangkan kl secara finansial ortu yg bersangkutan tdk mampu..
    Apakah anaknya akan dibiarkan dgn stigma negatif yang ditempelkan padanya?
    Anak tidak salah..kalau ortunya tidak punya cukup biaya utk memberikan yg terbaik jg tidak salah….semua itu nasib yg harus disandang.

    Cuma..tidak adakah empati dari sekolah utk bener2 mengerti anak didiknya..lalu apa fungsi guru?…jika di SMP dan SMA ada guru BK yg tidak sepenuhnya berfungsi ke arah sana..di SD kan bisa di take over sama wali kelas..

    Lebih parahnya lagi guru sekarang lebih sibuk mencari sertifikat utk mengupgrade poin daripada memang benar2 menjadi seorang GURU – yg kata org jawa kepanjangannya digugu lan ditiru , artinya dipercaya omongannya dan ditiru kelakuannya –

    Sedih….

    Semoga Indra berhasil.
    moga2 kita bisa saling share ya mama Indra..good luck 4 u too..

  3. Salam kenal Ibu Novita,

    Hiruk-pikuk kurikulum dan “sekolah gratis” yang kita hadapi ini memang seperti “jebakan Batman” hahaha jika kita tak hati-hati… anggaran negara untuk pendidikan sebesar 20% juga tak bisa dipercaya untuk sepenuhnya diberikan ke rakyat… mengingat negeri ini masih penuh koruptor hihihi hush kok gosip politik. Kita orangtualah yang akhirnya harus dapat menjaga dan membimbing anak kita DENGAN KONSISTEN DAN KASIH SAYANG! Sukses juga untuk Ibu Novita… jabat erat.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s