Sistem Sekolah Harus Melihat Keunikan Anak, Harus!

Di satu sisi saya merasa gagal sebagai orang tua; di sisi lain saya juga tak percaya dengan sistem sekolah hari ini  yang menyamaratakan setiap kepala anak. Menonton paparan Sir Ken Robinson di TedTalks Forum 2009, saya terhenyak. Di jaman serba mudah informasi tapi sulit kompetisi, anak harus diajarkan berkreasi selain membaca-menulis-berhitung. Ia sampaikan bahwa siapapun jika punya uang bisa mencapai gelar S1. Tidak cukup S1, ia bisa melanjutkan S2. Jika merasa persaingan kian ketat, S3 bisa mendongkrak gengsi orang itu dalam masyarakat. Orang itu kemudian melupakan ia memiliki otak untuk menciptakan hal baru selain apa yang ia dapatkan turun-temurun di organisasi sekolah. Ia pun tidak berusaha menggerakkan kaki dan tangannya untuk berkreasi. Ia hanya menganggap otaknya berdiri sendiri. Itulah bedanya cara berpikir profesor di negara maju dan profesor pasif di negeri ini; karena saya mengenal beberapa yang suka korupsi dan tidak punya inovasi lain selain ilmunya untuk menggarap “proyek pemerintah”.

Analisis psikolog di LPT UI (sebuah organisasi belajar yang solid kokoh itu) menyatakan Indra cerdas di atas rata-rata, hanya kemampuan membaca-menulis-berhitung yang belum lancar. Sekolah negeri tempat Indra menuntut ilmu HANYA peduli ia tak lancar membaca, menulis dan berhitung di saat semua kawannya sudah mampu berkonsentrasi. Indra yang suka menari, menyanyi, dan loncat-loncat setiap saat dianggap bocah edan. Menganggap kreativitas adalah kegilaan yang harus dihapus?!?!?!?!?!^%#(@&!?

Kemarin saya menangis saat mendengar akhirnya jajaran guru SD memutuskan Indra tidak naik kelas. Mengapa tak naik kelas, jerit saya sekeras-kerasnya di dalam hati. Dengan segala kemampuan yang saya miliki, saya berusaha terbaik untuk dia dua tahun terakhir ini. Indra pun bukan anak pemalas. Seluruh tugas yang saya berikan memang sulit dikerjakannya di saat adiknya menganggu di ruangan, atau ada suara di luar yang membangunkan rasa penasarannya. Jika suasana belajar baik, seluruh buku bisa ia lahap, seluruh pertanyaan di atas kertas bisa ditulisnya dengan jawaban sempurna!

Saya bisa membayangkan saat ia bertanya, “Kenapa aku tak naik kelas, Bu?”

Apa yang harus saya sampaikan besok saat ia menerima rapornya?

4 Komentar

  1. Salam kenal,

    Saya seorang ibu memiliki anak dengan sedikit kesulitan sama seperti Indra dan bersekolah di Sekolah Dasar Negeri.. meski pun mungkin spektrumnya tidak sama persis… dengan berbekal ilmu yang saya dapat dari Linguistic Council saya berusaha mempraktekkan cara mengajar anak saya.. dan alhamdulillah sekarang dia naik kelas 6.

    Saya bekerja sama dengan guru-guru dan Kepala Sekolah dengan memberikan buku-buku atau makalah-makalah yang saya tulis kepada mereka, agar mereka sedikitnya mempelajari bahwa anak-anak spesial ini bukan bodoh atau nakal.. bahkan saya baca kisah Indra.. sepertinya Indra anak yang cerdas, perasa.. dan baik hati..

    Dosen saya menghibur di saat saya “curhat” tentang kesulitan saya … tapi apa kata dia?
    “Ibu… kalau memiliki anak seperti ini .. ibu artinya orangtua yang spesial yang telah ditunjuk Allah untuk bersamanya”… kata-kata itu yang sampai sekarang saya pahat dalam kalbu saya.

    Tingkatkan saja rasa percaya diri Indra dengan menunjuk sekolah bukan karena sedikit murid atau mahalnya biaya sekolah.. tapi sekolah yang tepat untuk Indra.. Karena Indra anak istimewa … berlah tempat yang terbaik dan tepat untuknya.. bukan baik dan tepat menurut orangtuanya..

    Semoga berhasil.. salam..

    Dalam kesehariannya.. saya tidak terlalu banyak mengatur dengan kata-kata.. tapi membuatkan jadwal.. karena anak saya spesal masalah lupa…

  2. Dear Mamanya Indra,
    Beberapa minggu ini saya surfing lewant internet cari tahu tenetang Dyslexia, karena anak laki-laki saya Dawam 8 tahun, kebetulan “di- naik-kan” ke kelas dua, raportnya lumayan tapi guru wali kelas nya mengeluh panjang lebar : “Yah Bu, bagaimana ya ini Dawam nilainya lumayan tapi masih belum bisa baca dan nulisnya juga lamaa sekali selalu ketinggalan, kalau tidak saya naikkan dawam sudah cukup umur mana paling besar dikelasnya, kalau naik kelas tapi belum lancar membacanya, gimana nih Bu… ” begitu kata guru wali kelasnya, saya terhenyak. Saya bilang bahwa terserah Ibu Guru, kalau Dawam memang pantas tinggal kelas karena tidak mampu saya terima saja. Saya memeng tidak minta tolong supaya anak saya dinaikkan ke kelas dua, saya pasrah saja. Dihari penerimaan raport, ternyata anak saya naik kelas. Tapi dengan catatan tambahan bahwa harus rajin belajar terutama membaca dan menulis.
    Hasil test dibagi begitu pula soal-soalnya.
    Saya coba bacakan soalnya dan Dawam menjawab, ternyata jawabannya betul semua. Jadi saya pikir jangan-jangan anak saya mengidap Dyslexia.
    Saya menemukan blog ini juga saat saya surfing mencari tahu lebih banyak tentang Dyslexia.
    Saya senang ternyata bukan cuma saya yang mengalami hal ini — bukan berarti saya senang anak anda mengidap Dyslexia, lho — tapi senang karena anda sudah sharing masalah ini, saya merasa ada orang diluar sana yang mengalami hal yang sama dengan saya dan bisa saling tukar informasi, karena orang lain mungkin yang belum tahu tentang dyslexia akan cuma beranggapan bahwa anak saya itu bodoh, kareana sudah besar tapi belum bisa membaca.
    Untuk itu, saya mau berterima kasih pada anda, Mamanya Indra, karena sudah sharing saya jadi percaya diri, dan berusaha untuk menolong anak saya agar bisa mengatasi kesulitannya, dulu-dulu saya sempat membentak anak saya karena tidak mau kalau disuruh belajar, sekarang setelah tahu apa yang dialami anak saya, saya mengerti dan jadi lebih sabar.

    Salam Hangat

  3. Salam kenal Ibu Mulat Kurnia, senang bisa berbagi. Memang menjadi ibu di abad baru ini lebih tricky. Gampangnya sih, temukan minat dan bakat anak lebih awal, dan biarkan ia mengeksplorasi kesukaannya… alam dan seisinya biasanya menjadi perhatian utama anak-anak seperti Indra dan Dawam. Jabat erat! Mila.

  4. Hai mami Indra,

    Saya juga mempunyai anak yang sudah sejak umur 3,5 thn di cap ADHD. Saat itu saya tidak bisa menerima kenyataan. Tetapi selalu mencari data sambil berusaha menerapkan ke anak saya. Saat itu keadaan ekonomi saya sangat terpuruk. Kemudian saya mendapat info seminar untuk anak berkebutuhan khusus. Sangat bersyukur saya belajar dan saya terapkan se maksimal saya bisa sambil berusaha mencari sekolah yg mau menerima anak saya. TK saja sudah 3 sekolah. Umur 6 thn di saat masuk SD perjuangan saya tambah parah, dari 15 data sekolah akhirnya anakku test di 8 sekolah dan ketolak krn tdk bs fokus dan tdk lancar baca. Akhirnya anakku keterima di sekolah di sunter karena kepsek nya ternyata juga dyslexia. Kelas 1 saya sampai menangis menerima raport nya krn nilai nya rata2 70-95. Saya tidak mengharap banyak sebenarnya. Kelas 2 mulai menurun dengan rata2 50-70. Kelas 3 hancur dengan nilai rata2 15-30. Itu pun semua berkat soal ujian nya dibacakan. Tetapi hanya di nilai kalau dia menjawab tertulis. Di kelas 3 soal nya sudah esai. Saat sekarang saya hanya bisa berharap anak saya bisa tetap bersama teman2nya. Saya bercerita karena ingin memberitahukan bahwa anda tak sendiri. Kalau mau coba cari sekolah home schooling seperti ebenezer. Mereka sekolah setiap hari hanya mengikuti kemampuan anak per mata pelajaran. Saya juga berpikir kemungkinan akan pindah kalau memang sudah tidak bisa bersekolah di sekolah normal. Mari kita berjuang, karena kita lah malaikat anak kita. Cuma kita yg mereka punya.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s