Day 23 through 27?

I worked all weekend. Out of Jakarta for sure. I was exhausted, and always like this every time I traveled more than 2 nights. My baby is left with his father.

Indra malam ini menggambar, menghitung dan membaca sendiri. Ia terlihat tidak konsentrasi di satu halaman. Saat memperhatikan satu gambar yang harus menyelesaikan empat kata yang harus ditulis mengikuti garis-garis putus, Indra loncat ke halaman lain. Menghitung bola sepak ia mencoba menggambar garis ke angka lima (sesuai dengan jumlah bola). Belum selesai menggambar garis angka lima itu, ia lalu meloncat lagi ke halaman lain.

Saya membiarkan ia membolak-balik buku dan majalah yang sekarang berantakan di kamar ini. Tadi pagi sempat saya lakukan sedikit terapi fonetis. Tadi sore Indra mendatangi saya dan meminta saya mengobati bibirnya yang sakit “risawan” yang sesungguhnya “sariawan”. Beberapa kali saya memintanya mengucap yang benar, ia merengek sakit. Saya obati dengan albothyl. Haha lucu sekali saat ia menjerit kesakitan lalu semenit kemudian tertawa, “Sembuh ya Bu!”.

Saya akui, di antara waktu yang tersedia untuk ketiga anak, dapur, sekolah dan pekerjaan, porsi waktu untuk Indra kian menipis. Ah! Saya ingin tidur malam ini memeluk Indra.

Day 21-22

Dua hari ini saya mencoba menerapkan terapi fonetis. Seperti barusan saja, dia membuka kamus Disney bergambar untuk bahasa Spanyol. Buku ini kebetulan saya beli mengingat anak saya tertua di sekolahnya juga diajar bahasa Spanyol walau hanya sedikit. Di kamus ini penggunaan “la” cukup banyak, salah satunya “la mano” atau tangan.

Saya mengeja huruf [l] dengan huruf [a] membacanya [la] dengan penekanan pertama pada konsonan (letaknya lidah di gigi atas). Penekanan kedua saya sengaja mengucap [la] dengan memanjangkan vokal [a], seperti [laaaa].

Saya kemudian ganti dengan vokal-vokal lain (i, u, e, o) yang digabungkan dengan konsonan [l]. Mengganti ke suku kata lain ini kemudian saya carikan contohnya di buku: (li, lu, le, lo).

Setiap saya memintanya merangkaikan atau mengulang pengucapan, saya selalu meminta Indra menatap mata saya. Hasilnya memang cukup baik; malam ini ia bisa merangkaikan dengan benar.

Day 16 to 20?

1. Saya ketularan batuk yang amat sangat gatal tapi tidak membuat radang tenggorokan. Konsentrasi berbicara saja sulit, apalagi menulis.

2. Dengan kondisi tak enak badan, saya juga kurang istirahat 4 hari terakhir ini karena hampir setiap hari dari pagi hingga malam harus berkegiatan di luar rumah; ada sahabat dari Papua dan Kalimantan datang ke Jakarta.

Karena kedua alasan itu, saya tidak bisa meng-update kegiatan harian saya dengan Indra di blog ini. Saya bahkan tak banyak berinteraksi dengan Indra kecuali malam hari. Empat hari terakhir ini saya mencoba melatih kemampuan fonetis dan mengenal vokal.

250px-illu01_head_neck.jpg

Dua tahun lalu ia bisa terbalik mengucapkan “gajah” menjadi “jagah” padahal konsonan “j” [dʒ] dan “g” [g] berada pada posisi ucap beda. “Jeh” diucapkan dengan menggunakan lidah yang menempel langit-langit mulut sebelah atas, sedangkan “geh” diucapkan dengan dorongan angin dari kerongkongan (pharyngeal consonant).
Secara fonetis, huruf itu dibagi atas dua: yang disuarakan dan tidak (voiced & voiceless). Konsonan disuarakan adalah /b, d, g/ sedangkan yang tidak adalah /p, t, k/. Rasakan saja bahwa “beh” berbeda dengan “peh” dengan posisi ucap sama (bilabial, atau antara dua bibir). Tak seperti anak seusianya, Indra harus melihat bibir dan posisi lidah baik-baik untuk bisa mengucapkan satu suku kata secara sempurna. Saya harus mengkontraskan “b” dan “p” dengan kata “bapak” agar Indra bisa membedakan kedua konsonan itu dengan baik.

Mengucapkan kata yang lebih dari 2 (dua) suku kata, Indra mengalami kesulitan. Saat ia bercerita soal naik kereta, saya bertanya sudah ke mana saja. Ia menjawab dua kota yang sulit diucapkannya: “Purwokerto” dan “Yogyakarta”. Saat harus mengucap “wo” sebagai satu suku kata saja ia terlihat ragu. Saya mencoba “pur-wo-ker-to” diucapkan satu per satu. Saya kemudian juga mencoba “purwo” dan “kerto”. Terakhir kemudian mengucapkan kata itu dalam satu nafas.

Inilah latihan-latihan fonetis awal yang bisa saya terapkan terhadap Indra. Saya baru akan memulai latihan fonetis terhadap vokal. Semalam ia tak bisa membedakan “e” dengan “te”. Hari ini saya akan mulai dengan huruf “e” taling (seperti dalam “bebek”) dan “e” pepet (seperti dalam “pelajar”.

Day 15

Indra turut ketularan batuk dari saya, adik, kakak dan bapaknya. Lengkap sudah. Saya juga masih teler dengan kondisi batuk ini. Hilir-mudik mengerjakan banyak hal (dan banyak hal lain tertunda karena saya mengantuk sepanjang hari karena obat Actifed). Indra hari ini beberapa kali mengutak-atik Microsoft Visio, mencoba menggambar denah kamar tidur atau sebuah kompleks. Sejak awal ia menyukai gambar via Visio ini, saya selalu menyimpan di folder khusus namanya. Salah satu contoh gambarnya seperti di bawah ini:

 280208.jpg

Gambar ini dibuat tanggal 28 Februari 2008. Seingat saya, ia baru saja menonton sebuah DVD tentang alat transportasi. Ia paling menyukai kereta api. Oh ya, ia pernah ketakutan waktu naik pesawat terbang ke Padang sehingga meminta dipangku. Persis kemarin saat menonton DVD itu ia berkata, “Ibu, aku sudah tidak takut lagi naik pesawat.” Saya tersenyum. My brave baby boy.

Day 14

Saya bisa membayangkan bagaimana memiliki anak lebih dari 3 orang. Satu sakit yang lain ikut sakit, tentulah kelelahan yang amat sangat yang harus diterima sang ibu. Sepuluh hari lalu Indra sempat sakit, dan sejak beberapa hari ini sudah kembali ke sekolah. Sekarang giliran adiknya dan kakaknya. Panas tinggi disertai batuk berdahak. Penyakit pancaroba. Saya hanya  menemani Indra ke sekolah di pagi hari untuk memberinya semangat. Dia bertanya banyak sepanjang perjalanan ke sekolah. Sesampai lagi di rumah, suami saya bilang, “Indra tidak butuh jawaban atas semua pertanyaan itu.” Saya tak setuju. Semua pertanyaannya harus dijawab. Detail. “Ada apa di dalam tulang,” atau “Mengapa ada rasa sakit.” Saya tekankan kepada suami saya, bahwa Indra itu perekam yang baik. Ia bisa mengungkapkan banyak hal yang kita hanya ucapkan sekali. Ia bisa merangkaikan banyak hal tersebut dalam satu nafas. It’s his gift.

Day 13

Kita membaca buku SOre SUper SIbuk karya Clara Ng (teks) dan Emte (ilustrasi). Indra bisa menunjuk So Su Si karena menghapal. Hapalan, ini adalah satu kelebihan Indra. Ia harus diperkenalkan huruf dengan cara menghapal letak terlebih dahulu. Jika ia telah mampu mengingat letak, tentunya ia juga bisa menghapal bentuk huruf. Sore Super Sibuk adalah cerita favoritnya, tentang pemadam kebakaran, polisi dan ambulans yang menolong orang. Saya pernah naik bus TransJakarta di satu hari Sabtu sore bersama Indra dan kakaknya. Macet luar biasa mulai dari Harmoni hingga depan Lindeteves. Ada kebakaran di salah satu ruko di sana. Pengalaman nyata ini membekas, dan Indra memperhatikan buku Clara Ng/Emte ini dengan seksama sepanjang malam ini. Apapun yang menjadi minat Indra, saya selalu mencoba menggali lebih untuknya, baik dengan pengalaman langsung ataupun bercerita dengan intonasi yang menghibur. It’s a start.

Day 12

Sejam yang lalu kami sekeluarga membuka beberapa posting YouTube. Awalnya hanya kartun beberapa dinosaurus, tapi kemudian beralih ke klip video musik. Membuka Sergio Mendes “Magalenha” Indra mulai berjoget sambil tertawa-tawa. Selanjutnya suami saya dan seluruh keluarga turut menari dan meloncat-loncat meniru tarian di klip video itu. Kami memutarnya hingga 7 kali dan mencari video klip serupa. Sore hari sesungguhnya Indra melakukan kesalahan kolektif dengan anak-anak tetangga. Mereka naik ke atap dan melempar batu ke bawah, mengenai genteng tetangga yang kemudian pecah. Mengetahui itu, saya marah kepada mereka tapi mengerti bahwa ini adalah kesalahan kolektif. Jika sendiri, Indra mungkin tak berani berbuat seperti itu. Saya kemudian meminta maaf ke tetangga dan berjanji mengganti besok pagi. Indra pun saya ajak untuk meminta maaf. Hari ini pelajarannya tak terkait dengan hal fonetis secara akademis, tapi lebih pada gerakan motorik yang tak boleh berlebihan kecuali jika dilakukan dengan iringan musik Sergio Mendes dan Black Eyed Peas!