Day 2

Hari ini saya bertemu guru dan pemilik TK anak saya. Kita berbagi ilmu/bacaan dan pengalaman. Ibu Henny, wali kelas yang sangat menguasai ilmu pedagogis, bercerita saat menugaskan Indra dan kawan satu kelasnya untuk membentuk lilin menyerupai binatang kesukaan setiap anak. “Apa yang dilakukan Indra, Bu?” tanya Ibu Henny, “Dia membuat kebun binatang!” Di saat semua kawannya membuat satu binatang besar, Indra membuat banyak binatang kecil lengkap dengan pembatas kebun binatang.

Membaca satu artikel khusus membahas tes disleksia di Australia (klik di sini) saya mengerti mengapa Indra membuat kebun binatang. Otak orang normal seperti rumah dengan beberapa kamar, dan saat berpikir seorang dengan kemampuan normal akan berpikir satu kamar dan bisa meloncat ke kamar lain. Sedangkan anak autis akan berada di satu kamar gelap saja, tak tahu bagaimana meloncat ke luar kamar tersebut. Bagaimana anak yang disleksik? Ah, rumah utuh tapi beratap-dinding kaca. Memandang ke luar seluas-luasnya.

Indah.

dyslexic-mind.jpg pic: Dawn Matthews 

Sepulang dari TK saya sengaja berjalan kaki bersamanya ke Gunung Agung Kwitang sambil bercerita tentang kantor pos kuno, kopi dan topik-topik yang kami berdua lalui sepanjang jalan. Di dalam toko buku, ia langsung berlari ke belakang, bagian buku anak-anak. Di balik rak buku anak terdapat peraga tubuh manusia, gigi hingga bola dunia. Ini juga daerah yang Indra gemari. Ia bertanya soal gigi.

Di lorong itu juga ada buku matematika TK. Saya melihat satu buku yang memiliki ukuran besar, memuat angka “22” dan “25”. Saat saya tanyakan “22” Indra langsung menjawab benar. Saat saya menanyakan “25”, jika dieja satu per satu benar “2” dan “5”, hanya saat diucapkan bersama ia mengucap terbalik “52”.

Ia seperti mengeluh saat saya memintanya mengulang, lalu ia berlari. Banyak buku yang ia ambil dan ingin bawa pulang, namun sejak awal memasuki toko saya sudah memintanya hanya membeli satu buku saja. Akhirnya dipilihnya buku stiker Kereta Thomas.

Malam menjelang tidur, Indra meminta saya meneruskan buku dongeng dinosaurus. Saat membaca Billy dan Dilly Brontosaurus, dua tokoh di satu halaman yang sama, saya memintanya mengucapkan “Billy Suka Bola” dan “Dilly Suka Dodol”. Ia memegang pipi saya untuk memperhatikan dan meniru posisi bibir, gigi, dan lidah saya. Ia seakan ingin memahami sinkronisasi suara dan gerakan bibir/gigi/lidah. Malam ini saya berupaya melatih pengelompokan fonetikal.

Setelah sepuluh halaman, saya kembali ke meja komputer lagi. Indra meneruskan membaca buku yang lain. Kali ini ia memperhatikan buku flap (yang kepak tiap halamannya bisa digerakkan) tentang galaksi. Saya kian mengerti Indra dengan rumah kacanya. Ia bisa memandang keindahan dunia (dan angkasa) dengan seksama.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s