Disleksia

Jaman dahulu, anak tak bisa membaca adalah anak bodoh. Plain stupid. Jaman dulu anak yang suka berhayal adalah anak ngawur. Hari ini manusia kian pandai memilah mana yang bodoh karena tak belajar, atau pintar tapi tak bisa mengungkapkan secara verbal ataupun lisan.

Baru seminggu saya menemukan gejala “disleksia”, istilah dari ketidakmampuan membaca, dalam diri anak saya Indra. Ia sering “membaca” buku dalam waktu lama, tapi tidak membaca huruf. Hanya detail gambar hingga proses kerja dari setiap aktor di gambar itu. Ia membaca “b” menjadi “d”, angka “2” menjadi “5” jika diurut bersama. Ia juga suka bingung antara kiri dan kanan. Ia bisa mengeja semua huruf, tapi harus melihat posisi lidah, gigi dan bibir saya saat mengucap suku kata seperti “ba” atau “da”. Sementara itu, daya rekam atas semua detail peristiwa dan pengetahuan Indra sangatlah tinggi.

Blog ini saya dedikasikan untuk memantau perkembangan Indra. Hanya orang tua yang bisa mengantar anak disleksik menjadi just plain stupid trash. Atau orang tua juga yang mampu mengawal ia menjadi Albert Einstein (jenius fisika) atau Tom Cruise (aktor menjadi produser terkaya di Hollywood) atau George W. Bush (politisi haus perang). Ketiga orang ini contoh mereka yang fokus pada pekerjaannya walau diawali dengan masa kecil disleksik.

Sekarang tergantung saya dan suami saya, akan memberi asupan informasi seperti apa; akan mengawal anak-anak disleksia menjadi jenius yang bisa melihat bumi dan angkasa seluas-luasnya. Sekarang tergantung kita, sang orang tua.

indra1.jpg

183 Komentar

  1. Salam Damai …

    BLOG anda bagus, semoga bermanfaat untuk kita semua!
    jika berkenan silahkan kunjungi BLOG kami di :

    http://tanpabendera.wordpress.com

    terima kasih …

  2. salam kenal,

    senang sekali membaca blog ini. Salut u anda sebagai pribadi yg perduli dgn perkembangan anak. kebetulan saat ini saya juga seorg amatir yang sedang mendalami ttg disleksia… Sangat berharap ke depannya bisa banyak belajar dari anda.

  3. Mbak Meisy, saya juga amatir yang harus belajar tentang disleksia. Semua bahan diskusi saya gali dari internet. Terinspirasi dari film Lorenzo’s Oil yang putranya mengalami satu penyakit khusus, saya mencari semua informasi terkait. Jika dahulu banyak literatur tentang anak autis (yang baru terdengar 5 tahun terakhir), mengapa tak banyak yang memuat soal disleksia. Saya curiga sebenarnya kasus disleksia ada di setiap sekolah dasar kita, hanya para guru atau orang tua menghakimi anak itu “plain stupid” mengapa membaca a-i-u-e-o saja tak bisa. Untuk kasus anak saya, saya percaya akan kemampuan Indra yang luar biasa. Blog ini mungkin bisa menjadi bahan sharing kita semua, karena terbukti di TK anak saya saja ada satu anak lain seusianya yang juga sulit membaca. Mudah-mudahan kita bisa terus diskusi di sini ya Mbak, kalau ada hal-hal yang perlu saya ketahui, it’ll be an honor to have your thoughts and information.

  4. Saya setuju dgn pendapat mbak Mila (jika boleh saya panggil demikian.. hehehe…). hampir disemua jurnal yg saya baca ttg penelitian disleksia mengatakan bhw mereka memiliki kemampuan intelektual yg sama dgn anak normal, bahkan bbrp ada yg melampaui.

    Saya pribadi blm pernah menulis artikel ttg disleksia spt Mbak Mila. Untuk langkah awal, saya tertarik juga nonton film Lorenzo’s Oil. Apa itu film HOllywood ato film dokumenter.. Apa bisa di download di YouTube??

    Selamat menulis terus ya Mbak Mila… belum banyak pribadi seperti anda di Indonesia yg perduli dgn masalah ini. Semoga tulisan2 Mbak Mila boleh terus memotivasi org lain untuk perduli dengan perkembangan anak Indonesia. Saya berusaha u terus hadir membaca blog anda..

    jabat erat perkenalan,
    meisy
    (gak usah dipanggil mbak meisy… hehehe… krn usia saya masih dibawah mbak Mila.. :))

  5. Jabat erat juga, Mbak Meisy (any female alive & kicking character I’d just love to call her “Mbak” to show respect and care)

    (lihat di link ini http://movies.yahoo.com/movie/1800182886/info)
    Lorenzo’s Oil diperankan oleh Nick Nolte, Susan Sarandon, Peter Ustinov, Zack O’Malley Greenburg, Kathleen Wilhoite. Film ini tentang perjuangan orang tua anak yang punya penyakit aneh, dan berusaha untuk mencari obatnya yang kata dokter tidak ada (alias tunggu nasib saja). Film tahun 1992, mungkin bisa dicari DVD-nya.

    Sedikit berbagi, saya kebetulan pernah belajar tentang ilmu fonetis-fonemis dan morfologi (walau tidak terlalu dalam). Saat saya membaca literatur bahwa ada terapi fonetis untuk anak disleksia, saya mencoba untuk anak sendiri. Mbak Meisy sendiri latar belakangnya apa, mungkin kita bisa saling mengisi. Saya tak tahu banyak, tapi saya mencoba semua cara. Di http://www.infoterapi.com pun ada seminar khusus disleksia, tapi ternyata ada di Singapura! Wah, kalau di Indonesia tak ada pusat informasi dan terapi yang baik, kasihan anak-anak lain di semua sekolah dasar, nanti dianggap bodoh!

    Saya sih sudah berkoordinasi dengan ibu-ibu guru di TK anak saya (yang mereka pun baru tahu kalau disleksia itu satu “learning disabilities” yang harus dimengerti dan diperlakukan khusus). Ada anak lain di lain kelas di TK itu yang juga mengalami kesulitan seperti Indra, dan hampir tiap tahun ada saja anak di TK situ yang mengalami kesulitan membaca (dan lebih banyak orang tuanya yang frustasi bukannya malah mencari akar permasalahannya!).

    Bolehkah saya menyarankan agar Mbak Meisy membuka pusat informasi dan terapi khusus disleksia ini? Kesibukan saya ke luar kota dan latar belakang pendidikan saya yang tak ada hubungannya langsung dengan disleksia mungkin menjadi penghambat niat untuk memberikan informasi secara terstruktur. Bagaimana?

    As a start, saya minggu depan berniat mensurvei dua sekolah dasar di dekat rumah saya untuk mencari tahu ada berapa banyak anak yang mengalami disleksia. Nanti saya buatkan kuesioner untuk sang anak dan guru (singkat padat saja). Somewhere to start. Saya curiga, dari 30 anak, pasti ada satu dua anak (bayangkan 3-6% dari anak kita?!?). Di Inggris saja sudah banyak pusat informasi dan terapi ini, dengan materi yang diberikan gratis!

    Wah, kok jadi ngoceh begini ya?
    Nanti kita sambung lagi (email saja ke female . writers . limited @ gmail . com, sengaja saya beri jarak agar tak kena spam tapi ketiklah dengan titik “female.writers bla bla”). Type to you later.
    Mila

  6. Anak saya sepertinya juga disleksia, sekarang umurnya 7th 8 bulan tapi kesulitan membaca dan menulis.

    tahun lalu terpaksa tinggal kelas karena belum bisa membaca dan menulis dan saya pindahkan ke sekolah swasta yang siswanya sedikit jadi terpantau. tetapi sampe saat ini masih kesulitan membaca dan merangkai kata.

    Alhadulillah gurunya biasa diajak kerja sama dan saya print kan dari internet tentang article case dyslexia. Tetapi saya agak kecewa saat gurunya mengatakan mungkin anak saya tinggal kelas lagi.

    Kemudian saya bawa ke psikolog di jakarta. ternyata hasil tesy IQ .. diatas rata2 123 (superior) tetapi hasil test sensoric intergerasi rendah sekali. sayangnya saya tidak boleh minta hasil test SI dan Edukasi tersebut.. padahal lumayan mahal yg harus saya keluarkan dari dana pribadi. Itupun harus mengikuti terapi selama 6 bulan di jakarta sedangkan saya di luar kota.. biaya bisa mencapai 6jtan..

    Sekarang saya lagi mengupayakan pendidikan yg baik untuk putri saya.. mungkin melalui Home scooling atau saya akan diskusikan lagi dengan gurunya..

    Buat yang punya masalah sama silakan sharring dengan saya.

    Terima kasih
    Salam
    Mama Dila

    • Salam kenal,

      Saya seorang ibu yang mempunyai anak laki2 yang sulit sekali membaca dan menulis, sekarang anak saya sudah kelas 1 SD swasta umum, pada dasarnya anak saya anak yang rajin dan berkemauan keras, terbukti dia mau belajar menulis tetapi dengan kemauannya sendiri dan tentunya tulisannya tidak bermakna, dan mau mengikuti les apa saja.

      dalam hal ini saya belum dapat menyimpulkan, apakah anak saya itu disleksia atau tidak, tetapi dari ciri2 yang saya baca dari internet tentang disleksia sama dengan ciri2 yang di alami anak saya.

      saya sudah di sarankan dari pihak sekolah nya untuk mencari sekolah khusus buat anak saya, tetapi saya tidak tahu kemana saya harus mencari sekolah khusus dekat rumah saya yg beralamat di jakarta timur.

      melalui blog ini, saya mohon infonya.

      Terima kasih
      Salam,

      Nur

      • Pantara sekarang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Saya tak bisa membantu informasi lain untuk sekolah di daerah Jakarta Timur. Ibu bisa hubungi sekolah yang memiliki rasio guru-murid 1:10 yang mungkin tak banyak ada di Jakarta pun… di Sekolah Tugasku di Pulomas juga rasionya 1:20. Ibu juga dapat menghubungi Kantor Diknas Sudin Jakarta Timur untuk informasi lebih lengkap… mudah-mudahan membantu.

    • met siang mama Dila perkenalkan nama saya Taufik , anak saya skrg klas dua. dia juga disleksia untuk membaca sdh lancar , tp berhitungnya msh susah. sebetulnya banyak yg ingin sy sampaikan , tp ternyata susah menuangkannya dlm bentuk tulisan sementara segini dulu trims atas perhatiannya. o, ya saya tunggal di kota Ungaran susah cari informasi ttg dsleksia d kota saya.

    • salam kenal mama dila……..
      anak saya sdh lancar membaca walau sulit memahami isi bacaannya, IQ nya 136 (very superior). bagaimana ya ma cara mengatasi permasalahannya di sekolah, krn guru disekolah kan sistem mengajarnya adlh 1 untuk semua.
      saya berlokasi di dumai – riau dan di tempat saya sangat minim sekali info tentang ini

      • Kalau sambungan internet di Dumai bagus, Ibu bisa tambahkan materi pelajaran dengan audiovisual atau audio (lagu) yang banyak di Youtube, silakan cek dengan kata kunci “for kids”. Selain materinya bagus, anak juga bisa diajar bahasa Inggris. Internet itu sorganya ilmu pengetahuan, asal kata kuncinya benar. Semoga bermanfaat.

  7. Mbak Atik, *jabat erat* *hugs* salam kenal.
    Tak banyak ibu-ibu yang punya koneksi internet, kalaupun ada, tak banyak pula yang peduli bahwa anaknya sesungguhnya jenius yang perlu diasah. Kesulitan pendidikan formal di negeri ini adalah birokrasi yang ribet dan update informasi yang terbatas. Guru-guru di TK anak saya juga baru ‘ngeh kalau “tak bisa membaca” itu bisa karena faktor disleksia. Mereka baru saja lewat pelatihan paud (pendidikan anak usia dini) yang salah satu topiknya adalah “learning disabilities” dan kebanyakan adalah isu “broken home” (disleksia hanya disebut satu kalimat saja dalam paper itu). Sayang ‘kan? Pembimbing di sekolah ternyata terbatas juga informasinya.
    Boleh ‘kan saya sarankan? Mbak Atik buat juga jurnal (bisa manual, bisa blog) tentang perkembangan atau progres membaca Dila. Dengan blog ini (walau sudah lama tak saya update) saya bisa mengevaluasi kemajuan Indra. Hari ini saya bisa tinggalkan ia menulis satu halaman ensiklopedia bergambar tanpa harus saya bantu mengucapkan hurufnya. Saya yakin Dila punya interest yang tinggi, perkenalkan ia lebih jauh tentang kegemarannya. Internet bisa menjadi salah satu sumbereksplorasi kesukaannya. Jika Dila bisa belajar menulis diawali dari kegemaran, mungkin akan lebih mudah.

    Terakhir, sebelum tahu kalau Indra disleksik, saya suka tidak sabar mengajarinya membaca. Sekarang, saya justru bangga ternyata saya punya anak disleksia. Hari ini seperti menjalani “eksperimen” untuk membuktikan bahwa Indra itu adalah Newton dan Einstein abad ini. :))))

  8. dear mbak mila,

    sekedar untuk berbagi dengan mbak mila, selain film Taare Zameen Par yg udah aq kirim infonya lewat email… ada juga film Indonesia berjudul “Juli dibulan Juni”. Juga film yg berkisah ttg penderita disleksia. Namun saya lebih salut dengan film ini yg idenya original, dibandingkan dengan film “Ikhsan: mama, i love you” yg akan diperankan oleh Wulan guritno dkk dan disutradai oleh Rico Michael Bradley. Idenya aq bilang gak original krn amat sangat mirip dgn film Taare Zameen Par. Kecewa siy pas baca infonya di internet krn lagi2 karya anak bangsa qt koq gak original…

    btw, udah nonton Taare Zameen Par? kl udah, selamat menonton “Juni di bulan Juni” hehehehehe….

  9. Mengapa saya menyadur film Tarre Zaman Parr adalah karena film itu efektif untuk menjelaskan gejala – gejala dari anak – anak dyslexia ke masyarakat luas, dibanding dengan film juni dibulan juli yg sangat bagus juga, tapi tidak tepat memberikan pengertian mengenai dysleksia. maaf kalau kami mengecewakan anda, kami membuat film IKHSAN karena kami ingin memasyarakatkan penyakit dysleksia..supaya para orang tua tidak mencap anaknya ‘bodo’ atau ‘malas’ atau ‘tidak berguna’, yang saya tanyakan adalah apakah di pelosok tanah air kita ini akan kah menonton sebuah film india, atau film ingris ataukah mungkin mereka menonton film indonesia, yang mampu menjelaskan “hei, anak kamu tidak bodoh, tidak malas, dan hei..anak kamu spesial…! jangan marah dan kecewa mbak meisy leander, i promise you the next time i do a movie, aku akan mencoba untuk lebih original…thank you. and I apreciate bahwa anda cukup peduli pada film nasional untuk kecewa…again i apologize, tapi tontonlah filmnya dan mungkin u will be surprised bahwa it is based on several ideas..bukan hanya satu.. God Bless you all ..

  10. Wah terhormat sekali blog aku didatangi sutradara film ngetop. Salam kenal Mas Rico. Saya kebetulan penggemar nonton film juga, ada kalanya saya suka yang renyah seperti 27 Dresses, ada kalanya kangen nonton Edward Norton atau Al Pacino. *sembah sembah* buat dua aktor ini. Bisa putar bolak-balik semalam suntuk untuk hilangkan rasa suntuk (btw, kenapa juga semalam suntuk ya… karena memang killing time saat kita harusnya tidur!). Kalau Indonesia? Aku pernah kerja di salah satu saluran Star TV yang memuat Film Indonesia 24 jam, dan karena aku sudah uzur skarang, aku senang nonton oldies macam film Benyamin S atau apapun yang black & white.

    Industri film negeri ini (atau televisi atau apapun) adalah industri yang harus punya resep sukses. Mbak Meisy benar, aku salut dengan orisinalitas sebuah karya. Tapi Mas Rico juga tak salah karena Mas Rico berada di industri yang super-ketat kompetisinya. Dan *ahem* beberapa produser andal negeri ini adalah orang India. Disleksia mungkin baru dikenal *sekarang* saat ada seorang aktris cantik bermain di satu film ini (tag promosi infotainment-nya adalah disleksia, bukan Wulan Guritno ciuman atau apalah yang juicy lainnya). Paling tidak dengan membaca novel “Living with Dyslexia” karya Lissa Weinstein atau menonton film-nya Mas Rico, para pendidik kita yang senang nonton sinetron bisa terbuka sedikit. Halah, kayak gak tau ibu-ibu arisan ajah… kudu dirangsang dikit sama yang juicy-juicy baru belajar pinter hehehe

  11. aku (mungkin bisa dikatakan) dyslexia… Umurku 24 thn. Sejak sd aq merasa ada yg tidak beres dg diriku (aq ini payah). Aq kesulitan membaca-mengingat nama2 org (bahkan sampai sekarang aq suka salah sebut nama atau lupa nama kerabatku) – aq selalu ketakutan ketika harus menghapal dan menyebut nama tmn2 sekelas (sprt mau ujian tanpa belajar aja). Kata mamah, itu krn aq kurang perhatian pada org lain, jd aq coba lbh perhatian pd org lain…tp tetap saja aq kesulitan. Berbicarapun masih belepotan-meski dlm bhs ind. Jauh dalam hatiku, aq merasa ada yg salah..tidak normal..tp aq ga tahu jawabannya. sampai akhirnya ada 1 peristiwa yg membuatku mengenal kata dyslexia. Living with dyslexia telah memberiku jawaban yg selama ini kucar-cari.. Lalu aq coba tes sederhana di salah satu website. banyak jawaban dari pertanyaan itu kujawab Yes. Rasanya ingin menagis..krn pd usiaku ini aq baru tahu siapa diriku.. Sekarang aq tidak meyalahkan diri sendiri atas kekuranganku dlm berbicara (tidak teratur) atau membaca (masih kagok ato salah baca) dan aq tidak menganggap diriku bodoh lg. Karena aq si dyslexia. – tapi kadang2 gift of dyslexia (multi-dimensional thinker) itu membuatku cape jg

    jika ada yg ingin berbagi cerita ttng dyslexia hubingin aja aq di
    innakaulima@gmail.com

  12. Ah, Mbak Innaka. Jabat erat, salam kenal.
    Saya mungkin ibu yang merasa “telat” juga mengenali gejala disleksia pada Indra. Saya sempat frustasi setahun terakhir ini, mengingat betapa sulitnya Indra membaca (dibanding pengalaman mengajar membaca ke anak pertamaku dan adik-adik sepupuku yang hanya habiskan 1-2 minggu). Mungkin berbagi pengalaman seperti ini bisa membuka mata setiap orang ataupun orang tua yang menghadapi hal serupa.
    Akhirnya saya hari ini bisa merasakan apa yang Indra rasakan setiap kali Indra bertanya, “Kenapa?” dalam hidup keseharian. Saya berusaha menjawab dan menerangkan semua dengan sederhana.
    Tadi siang saya menemukan satu buku tentang kesulitan mendidik anak dilihat dari berbagai aspek. Mungkin lebih banyak yang bisa saya temukan di situs daripada buku itu, karena di buku itu tak ada yang baru. Tidak update. Kesulitan di negeri ini adalah: literatur, referensi. Kalaupun ada di internet, tak semua orang senang membaca dalam Bahasa Inggris. Untuk semua sahabat virtual saya, blog ini hanya awal. Mudah-mudahan ada sahabat yang mampir di blog ini yang bisa menulis buku yang menjadi referensi setiap sekolah dasar di negeri ini.

  13. Halo teman – teman semua.
    Saya juga adalah seorang dyslexic,( saya tahu saya disleksia ketika menonton serial cosby show..anak laki2 dr huxtable, yang bernama Theo juga disleksik…maafkanlah jika saya berharap untuk membuat film yang benar – benar mengambarkan apa itu disleksia.. sekali lagi filmnya bukan film original dan merupakan saduran dari beberapa film.. tapi saya menjamin kualitas informasi dan kualitasnya dari aktingnya..karena motivasi saya membuat film itu bukan uang tapi mengajar dan memberitakan masalah disleksia ini ke semua kalangan.. dari yg paling bawah ke atas… saya telah melakukan riset dan interview.. dan juga menyimpulkan bahwa masalah disleksia ini tidak bisa disepelekan… saya tidak mau melihat, adik – adik ataupun anak – anak lain mengalami apa yg saya alami sewaktu kecil…selama di smp dan sma saya sendiri tidak punya teman, dianggap malas, saya kena gamparan dan pukulan dari ayah saya..saya melihat mama saya menangis membela saya…saya dibodohi, saya dipermainkan dan di olok – olok, tujuan saya membuat film Ikhsan…dengan dana pribadi saya untuk benar – benar mendidik masyarakat dan membuka pikiran para guru dan orang tua…bahwa tidak selamanya jawaban yang salah itu bearti kita bodoh, dan kalau kita tidak bisa menjawab atau salah bicara ..itu bukan hal yang disengaja…saya harap film Ikhsan mampu membuka pikiran semua orang, pria dan wanita, orangtua dan anak dari semua lapisan masyarakat…Ikhsan akan premiere di BLITZ dan hanya di BLitz (sekali lagi bukti bahwa saya tidak mengejar uang) pada tanggal 20 juni 2008…jangan lah menghakimi karakter orang terdahulu. tapi kemudia saya sudah biasa diperlakukan seperti itu…I am an underdog, but like every dog.. i will have my day. GOD BLESS U ALL

  14. saya senang sekali bisa mengenal, Mbak Milla. Blog mbak ini bener2 bermanfaat. Saya juga senang bahwa Indra,-anak Mbak punya ibu yg aware dg masalahnya. Indra sungguh beuntung punya ibu yg mengerti kondisinya. Semoga banyak ibu2 yang seperti mbak Milla. Sehingga anak bisa merasa dipahami dan diterima. Memang sudah saatnya ibu2 sekarang ini punya pengetahuan lebih terhadap permasalahan perkembangan anak. Boleh juga neh, kapan2 kita KAMPANYE DYSLEXIA.

  15. Mas RIco….
    Salam kenal! senang bisa berkenalan dengan sesama dyslexia :) MAUuuuuuuuuuuuu…..nonton FILMnya donk!!!! eh, kenapa ga sekalian aja kita kampanye DYSLEXIA?! yah kecil2an aja… mau deh ikut nimbrung… atu kita adain ketemuan sesama dyslexia…seru juga tuh..

  16. ini filmnya mas Rico.. http://www.ikhsanmamailoveyou.com/

  17. halo semua… akhirnya film IKHSAN: MAMA I LOVE YOU, selesai di edit dan akan siap tayang pada tanggal 20 juni 2008 di BLITZ jakarta – bandung…saya juga baru bertemu dengan RCTI siang tadi, saya mohon doa teman – teman supaya mereka mau menayangkannya karena terus terang itu akan membukan jalan yang sangat luas, untuk dimulainya perubahan persepsi pemerintah kita kan pendidikan. Semoga ini juga menjadi bukti kepada para orang tua, bahwa dengan tangan penuh kasih orang tua saya…saya berhasil menyutradarakan dua film layar lebar…dan saya juga seorang disleksik…mbak innaka saya tunggu kehadirannya..ibu meisy dan teman – teman yg lain juga….Tuhan bersama anda dan keluarga…

  18. Wah, selamat ya Mas! Jadi pengen datang di acaranya Mas Rico… dukung penuh! Ide Innaka boleh juga tuh… Di sela-sela pemutaran perdana, apa ada acara gathering anak-anak yang kesulitan membaca dan terbukti disleksia (bukan karena penyebab lain)? Bahan-bahan terkait bisa aku siapin loh… online test-nya boleh dong di-share ke kita, Innaka? Bawa ya saat nonton perdana. Meisy, liburan ‘gak, pulang kampung gitu?

    Terus terang, saya pagi dini hari ini terharu membaca tulisan semua sahabat saya di sini. Mungkin harus dibuat sebuah wadah khusus agar bisa secara terstruktur melobi pemerintah dalam membuat kurikulum khusus (DUH! Jauh bener???!!!) serius kok, seperti yang dilakukan sekolah-sekolah negeri di Inggris: kalau ada anak dengan ‘learning disabilities’ sang guru harus menerapkan metode khusus. Mas Rico bisa ‘kan undang Pak Menteri Diknas, atau Ibu Menteri-nya deh… kita siapkan materinya deh! Biar tahu bahwa memang kita harus menciptakan jenius (multiple thinker, ya Mbak Innaka?) dari sosok-sosok disleksik ini. Jika dahulu ada kelas AB (anak berbakat), kali ini harus ada kelas khusus atau terapi khusus di sekolah-sekolah untuk mereka. Dahulu SD Negeri tak ada Bahasa Inggris, tiga puluh tahun kemudian jadi kewajiban setiap anak. Ah, cita-cita…

    Eh, undang juga beberapa SD yang dekat dengan Blitz, Mas. Kasih gratis, khusus untuk kelas satu dan dua SD. Gurunya, ortunya (kalau sanggup hehehe)
    Terus DVD-nya dijual ke SD-SD lengkap dengan materi (tulisannya Mbak Meisy atau kompilasi dari Mbak Innaka) hhehheehe… seru!!!

    GOOD LUCK MAS RICO!

  19. Hallo mbak mila dan temen2 yang lain,
    saya juga orang yang masih awam ttg dyslexia,
    Nama saya Diin,saya seorang guru yang kebutulan tertarik dengan dyslexia, abis dari artikel2 yang saya baca dyslexia menimpa sekitar 5 -10 % dari penduduk dunia, sedangkan di Indonesia orang2 masih byk yang belum ngeh dengan dyslexia jadi bisa dibanyangkan berapa banyak anak Indonesia yang terus strugle di sekolah tampa tahu apa yang salah dgn mereka walaupun mereka bisa baca-tulis.
    terus sekarang mbak pake metode apa buat Indra ? terus umur Indra sekarang berapa ? Aduhh maaf neh kalo kebanyakan nanya. . . hee , terus psikolog nya pake alat apa untuk meng confirm kalau Indra dyslexic?

    Soal special needs di sekolah2 kita, memang sih di beberapa negara di LN setiap sekolah harus punya Education Psychologis/SNO ( Special Needs Officer ) kalau di Indonesia ? mohon maaf saya agak pesimis, masih jauh kali yah… he he he. Bagi saya yang penting saya raih dulu deh lingkungan2 di sekitar saya.

    kebetulan saya baru selesai kursus ttg Identification of Pre school children with literacy delay di DAS ( Dyslexia Association of Singapore ) untuk meng-screen anak umur 4,6 thn s/d 6,5 thn ada indikasi atau tidak ke dyslexia. jika-jika ada yang bisa saya bantu/informasikan dengan senang hati saya berikan, saya mau kok nge-test anak2 , gratis. he he. Alat yang saya pake DEST-II ( Dyslexia Early Screen Test ) , kalau di Singapore test ini biaya nya S $ 150.

    ok.. keep in touch yah….

    • mba kalo di jkt tempat u/ tes dyslexia yg murah di mana ya??
      sepertinya anak saya mempunyai ciri2 seperti itu

      • Mbak Melis,

        Di SD Pantara juga ada tes “deteksi dini”, tapi saya tak tahu biayanya… sepertinya di atas Rp 300 ribu dan hanya satu paket sesi. Mungkin ada dua observasi psikolog, dan observasi sikap di kelas. SD Pantara ada di Jl Senopati 72, Kebayoran Baru. Telp. 021-7234 581, 7234 582.

        Jika ke LPTUI, atau lembaga di bawah fakultas psikologi. Ada 3 sesi per sesi itu 2 jam dan nilainya sekitar Rp 300 ribu juga/sesi.
        Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI)
        Jl. Salemba Raya No. 4
        Jakarta 10430
        Telepon: 021 – 314 5078, 390 7408, 390 8995
        Facsimile: 021 – 314 5077
        E-mail: info@lptui.com

    • halo mbak diin,
      kebetulan saya baru nemu blognya mbak mila ini…mau dong anak ku di tes…bagaimana bisa menghubungi mbak diin ya?

      terimakasih sebelumnya

    • Hallo mbak diin, saya mau share dan ikutan test nya mengenai dyslexia ini, karena kalau saya perhatikan sepertinya anak saya ini terkena dyslexia yach. Saya ingin tahu gimana caranya mengikuti test nya mbak diin itu yach, dan kebetulan saya ini bukan dari orang yang mampu, tetapi saya ingin anak saya bisa sukses dan mandiri.

    • hai mbak diin,

      salam kenal, seneng bgt sy bc tulisan mbak akhirnya ada jg di ind yg bs melakukan tes disleksia krn yg sy tau hanya di singapore yg bs. gmn sy bs hub mbak utk ngetes anak sy 6 th krn smua ciri2 anak disleksia ada smua di dia tp sy bingung mau bw kmn? dmn sy bs hub mbak?

      sy sgt menunggu jwban dr mbak

  20. Saya juga sangat terharu setelah membaca komentar rekan rekan sekalian.. karan saya juga merasakaan bagaimana perjuangan anak disleksia.. Dan saya juga sangat senang kepada Rico Michael yang mau mengangkat tema tersebut.. karna banyak sekali orang diluar sana yang tidak mengetahui apa itu disleksia..

  21. Jabat kenal buat Mbak Aigis dan Ibu Guru Diin… Indra berusia 5 tahun Oktober tahun ini. Film-nya Mas Rico bisa menjadi pemicu untuk menuntaskan masalah anak-anak yang mengalami kesulitan di sekolah. Struktur dan Sistem Pendidikan kita sepertinya memang masih satu arah, seharusnya bisa melihat adanya perkembangan pedagogi hari ini. Bahwa ada anak yang tak mampu membaca di usia seharusnya sudah bisa membaca, tak harus ia dicap “kurang pandai”. Bahwa ada mata pelajaran yang tak perlu diajarkan sejak dini, atau bahkan ada yang tidak diajarkan seharusnya sudah diajarkan (contoh yang terakhir ini adalah: pelajaran komputer di tingkat SD, buku teksnya: MEMBOSANKAN! Belajar Paint dari kelas 2 hingga kelas 6. Padahal apa yang telah dilakukan anak-anak di kota besar di depan komputer lebih dari sekadar bermain PAINT!). Tapi usaha seorang Mas Rico bisa menjadi dobrakan awal untuk khalayak luas, karena blog ini hanya bisa membantu segelintir orang memahami disleksia secara sederhana. Mudah-mudahan Mbak Diin dan kawan-kawan yang membaca blog ini bisa membuat dobrakan sistematis untuk semua anak-anak SD di negeri ini. Amien.
    :))))

  22. Jabat Kenal juga buat mbak Milla dan semua teman teman disini

  23. Wah mas rico webnya http://www.ikhsanmamailoveyou.com/ ndak bisa dibuka

  24. HALO teman – teman, dan kawan seperjuangan.,,,terima kasih dan maaf sekali beberapa minggu terakhir ini saya sempat tidak mampir. Terus terang membuat suatu film seperti IKHSAN: mama i love you tidak gampang seperti yang di kira. Setelah bernegosiasi dngn BLITZ tetap pada akhirnya saya sekali lagi di ingkari janji, PROMOSI yang dijanjikan ternyata tidak terjadi, dan terus terang saya telah menghabiskan seluruh uang saya untuk produksi ini dan …walau film ini bnyk yang bilang bagus (bukan saya saja) tapi hanya di putar di 2 teater. DI GRAND INDONESIA (jakarta) dan DI PARIS VAN JAVA ( bandung) beruntung sekali saya mendapat sedikit dukungan dari EVA LIAN, pemimpin sebuah usaha periklanan BURMA FILM, yang akhirnya banyak membantu saya dalam promosi. beberapa investor lain mundur karena mereka tidak yakin sisi komersil dari film ini, padahal sejak awal saya sudah bilang ini bukan film komersil…tetapi dari kritik dan resensi film di koran- koran mereka tetap menilai film ini menghibur, bahkan banyak yang merasa film yang berdurasi 1:38 menit ini tidak terasa 1 jam lamanya. mengalir dengan cepat. SAYA terus terang ingin sekali melakukan banyak hal lebih untuk dylexia ini, saya sempat berbicara dengan beberapa pengedar DVD/VCD bahwa saya ingin dalam DVDnya ada menu yeng memberikan informasi mengenai DYSLEXIA tersebut juga ada lampiran mengenai “LD”. Saya mohon bantuan dari teman – teman, untuk mulai lebih berani berdiskusi mengenai disleksia, bantu film ini mencapai target penontonnya, bukan quantitas, saya berharap teman2 yang punya ide bisa menhubungi saya di ricobradley@yahoo.com thnk u so much… and please pray so this movie is seen by those who need to see it !

  25. Wah mas rico terus berjuang yah… investor lain mundur itu karna dia tidak merasakan hal apa yang kita rasakan dan hanya memikirkan keuntungan… sebenernya saya juga kasihan sama teman teman saya yang lain. Kemarin ini saya ke sd yang memang menangani anak LD saya sedih dengar cerita mereka apalagi sampe pisikolog salah diagnosa kan kasian anak anak itu… Saya juga berusaha untuk menjelaskan apa Itu LD kepada teman teman saya dan lingkungan saya tetapi kebanyakan dari mereka masa bodo mungkin karna mereka tidak merasakan padahal maksud saya itu hanya memberi tahuu agar mereka pun tahuu… Maka dari itu saya senang sekali mas rico bersedia mengangkat tema tersebut siapa tahu mereka menonton dan mereka mengerti kita..

  26. Mbak bagus banget Blog nya, bermanfaat bagi orang banyak,..

  27. pengen ngobrolin lebih jauh ttng disleksia, ikut bersemangat baca komentar yang lainnya.pengen tahu lebih dalem tentang disleksia, adikku juga mengalami gangguan belajar tapi hanya dugaa2 saja serta asumsi2 saja karena belum konsultasi lebih lanjut dengan pakarnya.

  28. Salam Kenal buat dana.. setelah baca komentar dari anda saya jadi berkeinginan buat forum yang membahas tentang disleksia.. jadi kita buat perkumpulannya gitu.. hehehe (berkeinginan boleh kan) :D

  29. Hai semuaaaa….!
    sudah lama aku tidak mengecek blog ini.. maklum lagi sibuk sama thesis tentang “Kampanye Peduli Autisme” neh. Oh, Mas Rico… aku dah nonton filmmu…
    HEBOH DEH!!!
    AKu niatnya mo nonton pas hari-H tapi berhubung tidak bisa, jadi aku nonton yang hari minggunya jam terpagi yaitu jam 11-an deh… (lupa jamnya). Wah!!!!! bener2 deh.. aku yg pertama beli tuh tiket lalu aku tunggu… celingak-celinguk ada beberapa orang tua dan ku pikir mereka akan nonton juga krn kulihat angka 14 di tiketnya (kebetulan film Ikhasan I Love U Mom ada di studio 14). Udah waktunya masuk neh tapi kok belum ada tanda2 dipanggil. Sempet tegang juga. Bis aku datangnya sendiri seh (aku merasa bangga aja kalau bisa melakukan sesuatu sendiri-nekad juga seh)…
    Akhirnya masuk deh ke studio.. Tapiii……………. Kok CUMA AKU SAJA YANG NONTON
    kupikir hari minggu jadi akan ada keluarga yang menonton… apa aku kepagian yah.
    Wah! panik menyerang… klao nonton sendiri, pintu di tutup, lampu dimatiin?……
    Berharap iklan yang ditayangkan bukan iklan yang menakutkan… sempet takut … telinga jadi sabgat sensitif dengan bunyi2an.. tapi aku coba mikir filmnya aja.

    Ada bagusnya juga nonton sendiri di studio besar gitu… aku pilih kursi yang tengah..
    dingin seh… sambil melahap pop corn caramel dan air mineral… aku menikmati filmnya
    Bagus ceritanya.. tapi kadang kurang puas dengan aksi pemain2nya :(
    Trus ditonton… jadi lupa sama takutnya… sampai pada beberapa adegan….

    WHUAAAAAAAAA…………………
    Aku nagis… hik..hik… kok sama banget sama perasaan aku..
    Sebel juga klo gini semua orang terutama orang tua HARUS! Mesti! KUDU! nonton klo ga
    mau baca buku atau mencari tahu tentang dyslexia ini

    Kami sebagai penyandang dyslexia hanya minta di mengerti saja jika tidak bisa dibantu

    Ba Mila,

    test dyslexia di http://www.dyslexia-test.com , sebenarnya ada satu tempat di jkt yg bisa membantu kita melakukan test dyslexia.. tapi aku cari dulu yah alamatnya (lupa naruh dimana rekomendasinya) nanti aku kabarin lagi

  30. Salam Kenal Buat mbak innaka.. sama mbak aku nonton filmnya mas rico juga nangis sedih memang mbak karna kita merasakan(pas bagian si ikhsan bilang saya hafal perkalian saya hafal abjad terus dia praktekin(walah pas bagian ini neh nyentuh banget))..
    Saya setuju dengan mbak kita cuman minta dimengerti gak lebih dan gak kurang..
    aku juga nonton film ini cuman ber lima mana yang dua orang lagi keluar dipertengahan film sebenernya aku sedih pas liat kok dikit banget yang nonton (Mungkin karna harinya bukan jadwal orang nonton bioskop jadi begini deh)

  31. Halo! Salam kenal juga Mbak Aiqis..

    Aku mo kasih info neh buat yang mau tahu tentang sekolah dyslexia atau mau test dyslexia yang ada di Jkt.. ada di

    Yayasan Pantara
    Jl. Senopati 72 Kebayoran Baru Jkt 12130
    ph: 724 7517, 723 4581, 723 4582
    http://www.yayasanpantara.org

    Hari minggu kemarin sempat dibahas mengenai dyslexia di MetroWorld.
    Senang juga dyslexia mulai diperhatikan meskipun masih kurang intensitasnya juga seh..
    tapi semoga ini adalah awal yang bagus yah..

    Selamat mencoba dan berjuang !!!!!

  32. Salam kenal mbak Mila, anak laki – laki saya berusia 12 tahun sampai saat ini masih kesulitan apabila disuruh membaca, saya mulai menyadari dia kesulitan sejak klas 1 SD, saat ini Ifan (nama anak saya itu) sudah klas 6, seharusnya 1 SMP, pernah tinggal kelas.

    Ifan baru bisa makan dengan normal ketika berumur empat tahun, sejak umur 3 bulan dia tidak mau makan dan kalau makanan harus di blender halus dan cara makannya bubur tersebut dimasukan kedalam mulut agar bubur tersebut tertelah maka hidungnya ditutup oleh istri saya, jadi mau gak mau dia harus bernapas dengan mulut dan dengan sendirinya makanan akan masuk mulutnya. sedih saya melihat dia, begitu juga nenek dan kakeknya yang kebetulan tinggal serumah.

    Segala upaya sudah kita lakukan agar anak saya bisa makan secara normal, tidak ada yang bisa memberikan makan selain istri saya. Sampai suatu ketika saya mencoba menghubungi psikolog yang saya dapat dibuku kuning (Yellow Pages) dia mengatakan tidak ada satu manusiapun didunia yang bernapas tidak ingin makan, biarkan saya si Ifan dalam keadaan kelaparan pasti dia akan makan dengan sendirinya.

    Menurut psikolog tersebut kemungkinan dulu waktu Ifan berumur 3 bulanan pernah dipaksa untuk makan padahal dia sedang tidak ingin makan dan secara naluriah istri saya kawatir kalau pada waktunya makan anaknya tidak mau makan, maka dipaksalah anak saya untuk makan, begitu seterusnya sehingga anak saya beranggapan bahwa makan adalah sesuatu yang harus dihindari dan istri saya juga beranggapan kalau anaknya tidak mau makan maka dilakukanlah sebagai mana sebelumnya. Menurut psikolog biarkan suatu saat anak saya kelaparan dia pasti akan mencari makan dan hal itu saya beritahu ke istri saya tetapi istri saya tidak tega membiarkan anaknya kelaparan. Sehingga hal itu berlangsung sampai anak saya berusia empat tahun

    Mulanya anak saya bisa makan dengan normal dimulai pada saat ibu mertua saya masuk rumah sakit dan harus dirawat, sehingga istri saya saya sibuk mengurus ibunya yang sakit dan kebutuhan makan anak saya terabaikan. dimana pada waktunya makan tidak ada yang bisa memberi makan sebab seluruh keluarga saya tidak ada yang tega meberi makan sebagaimana yang biasa istri saya lakukan.

    Pada waktu besuk saya bawa dia kerumah sakit untuk menjenguk eyangnya yang ditunggui oleh istri saya dan dirumah sakit banyak sekali makanan. Tanpa disengaja saya medapati anak saya sendang memakan biskuit yang belum diblender padahal hal tersebut belum pernah dia lakukan. Alhamdulillah …. anak saya sudah bisa makan dan hal tersebut menjadi keajaiban buat keluarga saya. Maka sejak saat itu istri saya menyadari kesalahannya, bahwa bayi atau balita juga seperti manusia dewasa diaman suatu ketika merasa sedang tidak ingin makan….

    Sejak dua tahun lalu saya mulai mengenal Disleksia dan saya berusaha membantu anak saya untuk keluar dari masalahnya.

    Saya berharap suatu ketika anak saya bisa menjelma menjadi Einstein atau orang hebat lainnya.

  33. Pak Jaelani yang baik,
    Mungkin saya harus terangkan di awal, saya bukan psikolog atau ahli pedagogi. Saudara sepupu saya yang khusus mempelajari ilmu ini pernah wanti-wanti: “Tes dulu, baru bilang Indra disleksik.” Saya tak pernah ambil tes itu, tapi saya langsung intensif mengawal dia saat saya tahu ia mengalami kesulitan membaca..

    Perihal anak Bapak, saya turut prihatin. Saya juga pernah tidak sabar menyuapi anak, tapi sejak kecil juga saya upayakan mereka makan sendiri. Berantakan, tidak habis? Tak mengapa, asal makan sendiri. Jika sudah sangat berantakan, anak-anak saya kebagian piket membereskan makanannya sendiri. :)))

    Soal disleksia, anak Bapak harus di-tes dulu. Bisa dilakukan di Lembaga Psikologi UI di Depok, mungkin. Hari ini Indra mengalami kemajuan, tapi masih tertinggal satu dua langkah di belakang kawan-kawannya. Saya akui, dua minggu ini saya selalu keluar kota. Hari ini saya mengucapkan terima kasih kepada Anda, Pak Jaelani, atas urun rembug permasalahan bersama saya dan kawan-kawan yang mampir di blog ini. Semoga saya bisa membantu, tentu diiringi pemahaman Bapak atau Ibu, bahwa anak itu selain titipan Allah juga merupakan kertas putih bersih yang harus ditulis dengan tangannya sendiri. Salam kenal untuk keluarga, Pak.

  34. Pertanyaan Untuk Yang Mengalami kondisi DisLeksia buat Tugas akhir mhn Bantuan..

    Perkenalkan Nama saya Cut nila fitriani, Mahasisiwi Institut Teknologi NasionaL sem 8 Angkatan 2004. Saya sedang tugas akhir tema Kampanye disleksia. Termotivasi dari keponakan saya yang bernama Razaka yang saat ini bersekolah di sekolah berkebutuhan khusus tempat yang spesial dan unik. Visi dan Misinya mensosialisasikan Disleksia sebuah kondisi yang spesial dan unik ” Different Perspective ”

    Bisakah anda ceritakan mengenai disleksia yang anda alami :
    1.Sejak kapan anda merasa memiliki disleksia?

    2.Darimana anda tahu disleksia?

    3.Bagaimana perasaan anda setelah tahu anda disleksia?

    4.DisLeksia itu kesulitan atau gangguan dalam mengenal huruf maupun angka, Bagaimana anda mengatasi kesulitan tersebut ? ( diatasi sendiri atau dengan orang lain?

    5.Apakah anda suka meminta orang lain membantu anda membacakan sebuah kalimat? Kalo iya dengan siapa ?

    6.Bagaimana anda menyerap sebuah informasi?

    7.Seberapa sering anda merasakan kondisi disleksia?

    8.Apakah dalam membaca dan menulis membutuhkan waktu yang ekstra?

    9.Bisakah anda ceritakan tentang huruf dan angka yang anda dilihat saat membaca dan menulis?

    Pertanyaan Personal:
    1.Apakah salah satu keluarga anda ada yang terkena disleksia?

    2.Apakah ada persaingan keluarga?

    3.Bagaimana hubungan sosial anda?

    Bisakah anda berbagi

    1.Bagaimana cara anda berpikir? (seperti imajinatif, analitik dan detil)

    2.Bagaimana pengalaman anda yang berkaitan dengan masalah disleksia?

    kirimkan jawaban anda di cutnilafitriani@yahoo.com

  35. Mohon bantuannya Yah..
    nterview Question untuk orang tua dari anak berkondisi Disleksia
    1.Bagaimana perasaan anda sebagai orang tua mendapati anak anda mengalami kondisi DisLeksia?

    2.Apa yang anda pikirkan tentang anak anda pada saat kesuLitan sekali dalam beLajar?

    3.Apa yang terlintas saat pertama kali setelah tahu anak anda terkondisikan disleksia?

    4.Apakah anda suka memerhatikan cara si anak membaca dan menulis kalo iya seperti apa?

    5.Apakah anda suka membantu anak anda dalam kesulitan membaca dan menulis tersebut?

    6.Apakah anda orang tua yang suportif atau menerima kondisi tersebut? Jika iya anda sebagai orang memiliki pemikiran yang maju bagaimana cara anda mendukung anak anda yang memiliki kelebihan ini?

    7.Apakah anda sebagai orang tua merasa kesusahan dalam menangani masalah anak anda? Bagaimana mengatasinya?

    8.Bagaimana tingkah laku anak anda pada saat mereka disuruh belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah? (berontak, marah2 atau diam saja)

    9.KaLau sudah begitu bagaimana sikap anda terhadap si anak?

    10.Apakah anak anda suka bercerita? Bagaimana cara si anak bercerita menurut anda?(jauh dari pikiran orang biasakah)

    11.Apakah dia suka bertanya2 haL aneh yang diluar pikiran anak2 pada masanya?

  36. mbak milaaaa…. apa kabar??? huhuhu.. sedih gak bisa pulang krn masih hrs bantuin project profesor aq. penelitian terakhir mengatakan ada 23 kromoson yg diduga penyebab disleksia. itu juga berarti bhw disleksia ditutunkan/diwariskan oleh gen. Ini berarti bhw tpun sebelum anak mengenal hufur pun, resiko anak menderita disleksia sudah bisa diketahui sejak dini. Project kami yg baru selesai adalah bhw anak umur 4 th sdh bisa dideteksi menderita disleksia, meskipun anak tersebut sama skali blm diperkenalkan dgn huruf. Skrg project sedang dilanjutkan u mencari tahu apakah kemungkinan disleksia sdh bisa dideteksi dibawah umur 1,5 th. Sayangnya penelitian dari Utrecht University ini diperuntukan bagi anak2 belanda. Sejauh ini ada kerinduan yg sgt u mengaplikasikannya bagi anak disleksi pengguna bhs Indonesia. Kesulitannya adalah pada penggunaan alat. Sejauh ini masih alat yg digunakan berupa scan otak dgn memakai elektroda. Masih terus belajar mbak…. krn pengoperasian alat sulit skali. Apalagi membaca grafik hasil scan.

    btw, apa kabar Indra??

    salam untuk keluarga ya mbak… sekali lagi terima kasih sdh menginspirasikan saya u mendalami disleksia…

  37. Salam kenal mbak Mila. Terima kasih banyak mau berbagi informasi ttg disleksia.
    Anak saya – Usamah – umur 7 tahun 1 bulan positif menderita disleksia. Ketika Usamah masih duduk di TK saya melihat ada yang tidak beres dengan kemampuan membaca dan menulisnya. Saya konsultasikan ke guru TK-nya, bu guru bilang, “belum waktunya mungkin, Usamah kan masih 6 tahun. Teman-temannya pun masih ada yang belum bisa baca kok bu.” Bu guru kelihatannya mencoba menentramkan saya, padahal sebelum masuk TK yang sekarang Usamah sudah sekolah TK di tempat lain. Jadi dia sudah 3 tahun di TK. Waktu Usamah naik kelas TK B, ibu guru menyarankan Usamah masuk SD, tapi saya masih menahannya di TK. “satu tahun lagi saja bu, biar lebih matang” saya bilang. Saya khawatir Usamah akan kesulitan di SD nanti.

    Sekarang Usamah sudah kelas 1 SD. Sebelum masuk SD saya membawa Usamah ke Pusat Pengembangan Potensi Anak Suryakanti di Jl. Cimuncang Bandung. Dari serangkaian observasi psikolog dan dokter neurologi, anak saya positif disleksia sedangkan hasil test IQ 122. Mengikuti saran psikolog dan dokter Usamah mengikuti terapi pedagogi 1 jam 1 minggu sekali plus di rumah pun saya dan suami membantu usamah belajar baca. Karena terapi pagi hari (jam 8 – 9) maka seminggu sekali Usamah harus izin datang ke sekolah telat. Alhamdulilah guru di sekolah bisa menerima kondisi Usamah bahwa minta info lebih banyak tentang disleksia dan cara2 mengatasinya.

    Sudah 5 bulan lebih Usamah terapi pedagogi tapi sampai sekarang masih belum bisa membaca dan menulis dengan baik. Perkenalan dengan mbak Mila dan rekan-rekan yang perhatian terhadap masalah disleksia membuat saya tidak merasa sendiri. Salam kenal buat semua

    • Hi Bu Aris,
      Saya juga mengalami hal yg sama terhadap ke dua anak kembar saya. Sedihnya lg, anak2 saya telah di misdiagnos bbrp dokter dan mereka mengalami stress berat dan tidak ada percaya diri sama sekali. Tetapi setelah saya berobat ke singapura, dokter yg menangani mereka sangat bagus, lgsg hari pertama ditreat dan dibuatkan lensa khusus anak dyslexia. Dalam waktu hanya 2 minggu saya sudah melihat kemajuan membaca yang pesat, dan dokter ini jg banyak memberikan input utk mengajar anak dyslexia.

      Sy sangat gembira waktu dokter ini mau membuat talk dan seminar di sekolah. Karena saya masih punya anak2 yg duduk dibangku SD (adik dari yg kembar) saya takut salah di diagnos lagi, saya ingin sekali dokter ini memberikan pengetahuan kepada guru2 dan ortu2 perihal melihat ciri2 anak dyslexia dan bagaimana menanganinya.

      Dokter ini bernama dr Ang (Clinical Director and Psycholigist of Dyslexia), Dibuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apapun. Akan diadakan di sekolah Binus Serpong. Pd tgl 24 feb, Jumat jam 9-11 pagi, di Mini library Hall lt 3. Topik yang akan dibawakan adalah Understanding & Supporting Children with Dyslexia. Jg akan dipaparkan bgmana mengetahui bila anak kita mempunyai gejala2 Dyslexia. Kalau teman2 berminat bisa lgsg reservasi ke admission dept Binus di 021-5380400 ext 5101 -5103.

  38. wah blogknya mbak Mila rame yah kita buat forum yuk tentang disleksia. Gimana?

  39. Salam kenal Mbak Aris Wulan, salam sayang juga untuk Usamah. Terus berusaha, dan selalu peluk cium Usamah setiap kesempatan.
    Maaf Mbak Meisy, maaf Mbak Aigis, saya jarang buka blog karena urusan darat panik terus. Saat membaca tulisan Mbak Aris, saya berandai bisa memegang tangan Mbak Aris dan mau terus berbagi informasi. Waktu membaca laporan Mbak Meisy (sori telaaaat banget!) saya tersenyum, for best result, stay and finish it, dear! Tapi waktu membaca tulisan Mbak Aigis dan iseng berkunjung ke blog Mbak Aigis (bahkan sampai ketemu http://www.aigisarira.com, saya langsung kepingin nangis!!!!). Mbak Aigis maju lebih banyak daripada blog ini (yang hanya fokus di Indra dan saya), saya terharu.
    Kalau mau buat forum, bagaimana engine-nya (maaf gaptek soal ini), dan kegiatan nyata apa yang bisa dilakukan? Saya sih cuma bisa membaca materi dari luar dan membantu menerjemahkannya.

    Salam hangat untuk semua kawan-kawan tercinta di sini!!!!

  40. wah mbak mila ketemu juga website saya :D sebenernya website itu sedang saya bangun untuk sekolah tapi belum selesai karna pihak sekolah sedang sibuk. Sebenernya saya ingin buat forum untuk mengumpulkan para penderia maupun orang tua penderita. disini saya ingin kita dapat menyebarluaskan pengetahuan tentang disleksia kepada masyarakat luas. yah kita kita yang bergerak dari forum tersebut kurang lebih begitu… itu usul saya :D

  41. mbak pesanya saya sudah baca. terima kasih atas pesanya jadi terharu nih

  42. Selamat pagi teman – teman. saya hanya ingin memberi kabar bahwa VCD/DVD film IKHSAN : MAMA I LOVE YOU sudah mulai beredar hari ini, dapat dibeli ditoko – toko VCD / rental yang orisinal. mohon ditonton dan semoga bnyak mendapat paemahaman sedikit mengenai dyleksia itu sendiri. kedua, saya ingin mengajak ibu mila untuk bertemu, beberapa minggu lalu sya dipertemukan dengan beberapa lembago NGO dari luar negeri yang tertarik masalh dysleksia di indonesia..jika memang kita ingin melakukan sesuatu yg lebih mari kita cari tempat untuk bertemu bertukar ide, dan saya pastikan menemukan dana yg dapat membantu, membentuk ata memperlengkapkan yempat atau yayasan yg sudah ada…..Misi saya hanya satu dalam satu tahun ini sekolah sekolah di jakarta dan didaerah diperlengkapkan dengna guru atau alat2 yg mampu juga mendidik anank 2 seperti saya …mari cari waktu… SMS saya di 081380676899 atau di email ricobradley@yahoo.com… jangan sungkan ,.. yg dibutuhkan adalah yng punya waktu dan semangat untuk proyek ini..conatct via sms aja.. aku jarang angkat telpon

  43. saya baca comment nya mb. aigis.. terus terang nih.. saya jadi sedikit ‘emosi’ tapi emosi positif.. sebutan si penderita bagi yang dysleksi.. sptnya saya kurang cocok lho.. bagi saya anak2 yg mempunyai masalah disleksia sebenarnya dia itu memiliki kecerdasan lain yang tidak dimiliki oleh orang lain yang merasa normal. Sebutan penderita cocoknya untuk yang normal memiliki masalah.. setujunya orang disleksia disebut si pemikir kreatif, begitu lho mb. aigis..

  44. Kasriati?? kayak nama ua saya apa benarkah :D.hahahaha. mba kasriati itu hanya sebatas penamaan “penderita” karna saya sendiri binggung menamakanya apa.. sebenarnya apapun sebutanya saya rasa saya adalah saya terserah orang lain mau mengagap saya ini apa. sebenarnya saya juga tidak kebaratan atau malah setuju dengan pemikir kreatif.. jadi sebenarnya yang normal itu seperti apa? apa saya bilang anda normal apa saya bilang saya ini normal maka dari itu saya tidak mau ambil pusing dengan penamaan tersebut. yang penting saya adalah saya.. Salam kenal deh untuk mba kasriati trima kasih atas koreksinya.

  45. loh qo tadi saya baca komentnya dari mba kasriati tapi kok setelah saya isi komentarnya qo malah hilang yah commentnya..

  46. 1. Perihal “penderita”, mungkin terlalu ekstrem. ‘Survivor’ seperti Mbak Aigis atau Mas Rico itu seakan menyatakan bahwa orang-orang disleksia itu “menderita”, secara psikologis tentunya. Maaf kalau saya salah, karena saya hanya melihat dari Indra. Ia adalah pribadi yang ramah, tapi jika di kelas ia jadi tertutup dan merasa inferior. Setiap bangun pagi, dialah yang paling terakhir selesai bangun, mandi dan berpakaian seragam. Ada keengganan ia berangkat ke sekolah. Saya selalu memeluk ia di depan gerbang sekolah untuk memberi semangat. Saya mungkin telah “kehabisan gaya” tapi saya yakin Indra lebih kehabisan lagi kalau di kelas.
    2. Perihal alat bantu Mas Rico. Banyak yayasan dan donor (via badan pemerintah) yang memfokuskan pada kesejahteraan anak. Masalahnya, dan paling utama, guru-guru menerapkan kurikulum secara ‘rigid’. Indra bisa menjawab pertanyaan jika dibacakan soalnya (yang biasa panjang) dan menulis jawabannya sendiri. Dia lebih baik diberikan soal dikte daripada tulisan. Seharusnya memang ada pembedaan pemberian soal, setidaknya saat ujian berlangsung. Indra hanya butuh mendengarkan soal verbal. Ini cuma satu contoh. Ah… masih banyak yang belum saya perbuat untuk Indra, Mas Rico. Alat… let me think a while for a more constructive way to realize it.
    3. Jabat erat, peluk sayang untuk semua kawan virtual saya. Blog ini selalu mengingatkan saya bahwa MASIH BANYAK yang bisa saya perbuat tapi belum saya lakukan…. oh well…

  47. Dearl all…
    1. Perihal “penderita”, mungkin terlalu ekstrem. ‘Survivor’ seperti Mbak Aigis atau Mas Rico itu seakan menyatakan bahwa orang-orang disleksia itu “menderita”, secara psikologis tentunya. Maaf kalau saya salah, karena saya hanya melihat dari Indra. Ia adalah pribadi yang ramah, tapi jika di kelas ia jadi tertutup dan merasa inferior. Setiap bangun pagi, dialah yang paling terakhir selesai bangun, mandi dan berpakaian seragam. Ada keengganan ia berangkat ke sekolah. Saya selalu memeluk ia di depan gerbang sekolah untuk memberi semangat. Saya mungkin telah “kehabisan gaya” tapi saya yakin Indra lebih kehabisan lagi kalau di kelas.
    2. Perihal alat bantu Mas Rico. Banyak yayasan dan donor (via badan pemerintah) yang memfokuskan pada kesejahteraan anak. Masalahnya, dan paling utama, guru-guru menerapkan kurikulum secara ‘rigid’. Indra bisa menjawab pertanyaan jika dibacakan soalnya (yang biasa panjang) dan menulis jawabannya sendiri. Dia lebih baik diberikan soal dikte daripada tulisan. Seharusnya memang ada pembedaan pemberian soal, setidaknya saat ujian berlangsung. Indra hanya butuh mendengarkan soal verbal. Ini cuma satu contoh. Ah… masih banyak yang belum saya perbuat untuk Indra, Mas Rico. Alat… let me think a while for a more constructive way to realize it.
    3. Jabat erat, peluk sayang untuk semua kawan virtual saya. Blog ini selalu mengingatkan saya bahwa MASIH BANYAK yang bisa saya perbuat tapi belum saya lakukan…. oh well…

  48. Salam kenal.
    Saya tertarik cerita semua ttg anak-anak disleks, buku yang pernah saya baca “Living with Dyslexia ” pun sudah berulang kali dibaca dan saya mulai bulan depan ambil short course untuk Learning Difficulties, materi pokoknya cenderung ke Autis, sedang materi yang lainnya Dyslexia, Dispraxia, ADD & ADHD. Latar belakang pendidikan saya tidak ada kaitannya dengan hal spt itu, hanya mungkin termotivasi oleh Kisah Aigis, saya cenderung ingin tahu lebih dalam lagi dan kelak ilmu yang saya pelajari bisa berguna.. itusaja sih. Saya ibu rumahtangga dengan dua anak, dan kalau diruntut perilaku kedua anak saya. Anak ke dua hampir mirip dengan Indra, ada kesulitan dalam writing and spelling, sedang anak pertama saya paling sering salah dalam arah, dan paling tidak bisa ditolerir kalau pelajaran baris berbaris… tapi semuanya bisa dilalui dengan “ketabahan” anak-anak saya agar bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan seadanya yang diperoleh di sekolah biasa. Selama saya mendampingi anak-anak, saya selalu berusaha menumbuhkan self confidence agar berbaur dengan teman-temannya tanpa beban. Wass.

  49. Salam kenal Ibu Marinki… senang dapat berbagi dengan Ibu, dan semoga ke depan kita semua dapat mencontoh Ibu Marinki dalam mengasuh anak yang mengalami kesulitan belajar di awal. Jika awal lancar, insya Allah selanjutnya anak-anak kita juga dapat dilepas ke lautan kehidupan dengan lebih percaya diri.

    Terima kasih, Bu.

  50. Mb. Mila,
    Salam kenal, terima kasih support yang diberikan. Saya pun berharap agar akan lebih banyak lagi orangtua yang mau menambah wawasan tentang pendidikan anak sedini mungkin. Sekedar informasi saja, sekarang saya sedang mengikuti short course Psikologi Anak (terutama untuk anak Special Needs) selama 1 tahun di Linguistic Council.

  51. Mba Mila, apakah boleh saya minta contact number mba Mila? Karena saya tertarik untuk mengundang mba di program saya…

    Terima kasih

  52. Salam kenal. Senang skl mengetahui ada yg peduli tentang disleksia. Saya punya anak umur 6,5th (laki2) yg di katakan oleh psikolog di sekolahnya setelah sekian thn di observasi ternyata memiliki ciri2 ke arah disleksia. Anak sy skr msh duduk di TK B (thn ke dua), dg sangat terpaksa sy hrs memasuk kembali ke TK B sblm mengetahui bhw anak saya memiliki ciri2 disleksia. Walaupun sy dan suami sdh mengetahui tetang disleksia atw LD, tp tdk di sangka ternyata anak kami memiliki ciri2 tersebut. Kenapa sy selalu menyebutkan ciri2 bukan disleksia, krn psikolok yg menangani anak saya mengatakan bhw usia 6 th bukanlah usia membaca. Usia membaca adalah usia SD. Jadi anak saya blm bisa di pastikan bhw dia anak disleksia. Walaupun begitu kami berusaha mencari informasi tentang disleksia/ LD, bagaimana cara menanganinya, cara belajarnya. Alhamdulillah anak saya mulai bisa membaca walaupun msh di eja.

  53. hehe..mo komentarin post dari owner-nya yg bulan dec 2008 nih..

    Mba Mila, para dyslexic memang paling merasa menderita di masa2 sekolahnya. Jujur saya sendiri jika mengenang masa2 itu merasa mengkasihi diri sendiri. saya ingat sewaktu TK, mulai dilepas untuk sekolah tanpa ditemani. Aduuuuh..rasanya berat sekali. apa lagi aku tdk punya teman. melihat yg lain asyik bermain & belajar bersama teman2nya membuat aku merasa terkucilkan. aku tdk pandai bersosialisasi. aku rasa semua dyslexic merasa tertekan berada di lingk.sklh. aku tdk bisa menikmati proses belajar kecuali pelajaran menggambar & keterampilan (favorit). hal itu pun terus berlangsung hingga aku sekolah di sma – kelas 1. tapi untuk seterusnya kami pasti bisa menghadapi masa2 yg lebih cerah.

    Indra pasti sangat menginginkan mama-nya atau orang yg ia kenal berada disisinya saat ia bersekolah. itu akan membuatnya tenang tapi jika dituruti rasa ketakutannya itu,tdk akan membantu dy untuk menjadi anak yg mandiri dan tegar di kemudian hari.
    Aku rasa kami merasa tidak mudah nyaman dengan lingkungan baru. kami tdk tahu bagaimana harus bertingkah laku, berbuat dan memulainya. Kami adalah orang yg pasif.

    di sekolah, kami sudah merasa kewalahan menghadapinya, jadi ketika kami pulang…kami ingin suasana yg menenangkan & menyenangkan. Ada pendapat bahwa dlm menghadapi hidup ini, kita harus menghadapinya dengan keras. Hidup ini keras maka kita harus lebih keras lagi terhadap diri kita..agar dunia akan terasa mudah.
    tapi aku rasa itu bukanlah nasihat yg pas untuk kami. Jika kami diharuskan berpikir bahwa dunia ini keras maka yg ada dlm benak kami dunia ini keras dan kami akan merasa ketakutan..dan bertambah rasa itu. jadinya kami malah akan patah semangat untuk berusaha.

    Kesenangan dan penghargaan diri … itulah yg akan menjadi semangat buat kami.

    aku ingin orangtua ku mengatakan
    “Kau adalah kau. Masa2 sekolah memang akan sedikit menyulitkanmu tapi dengan keunikan yg kamu miliki, kamu akan bisa menghadapinya. untuk itu berusahalah kelak kau akan bersuka cita”

    …sayang aku tidak akan pernah mendengarkan kata2 itu dari mereka. orang yg paling dibutuhkan Indra adalah mama-nya. Mba Mila (juga untuk para ibu2 yg diberkahi anak istimewa ini)… aku mohon teruslah mendampingi Indra..menyemangatinya. aku tidak ingin ada luka di hati para dyslexic

  54. dear mbak Milla..
    salam kenal..mbak, aku seneng banget nemu web mbak milla. berasa ga sendirian,berasa ketemu tutor dan berasa ketemu ‘buku’ yang saya cari. bulan lalu anak saya (5,7 yo) ketahuan dyslexia,dyscalculia dan mungkin dysgraphia (akan di uji di tes bulan mei). saya dan suami sih hepi,ketemu juga ‘the something wrong’ yang mengganggu ini. semester lalu di sekolah dia masih pake ‘shadow teacher’ karena ga bisa konsen,ga bisa ikut alur kelas. sekarang sudah mandiri, karena sudah mampu mengikuti alur kelas dan mampu mengikuti petunjuk ibu guru walau ga se’lama’ teman-teman yang lain, pas diketahui bahwa masalahnya bukan ADD, tapi dys-dys itu hehehe..ADD nya nempel jadi bukan ADD murni.
    mbak, aku bole ikut belajar dari mbak yah? mudah2an berguna untuk improve anak ku. terus apa di indonesia belum ada komunitas utk ortu dgn anak2 yang LD ? kalau mbak tau,boleh kah aku di share?
    thx yah mbak milla… slam hangat….

  55. Salam kenal,
    saya carlina, mahasisiwi Universitas Petra sem 8 Angkatan 2005. Saya sedang tugas akhir perancangan iklan layanan masyarakat untuk mengkomunikasikan dan menyadarkan orang tua mengenai kondisi anak disleksia. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Mohon bantuannya untuk mengisi kuisioner di bawah ini……

    Bagi orang tua dan penderita disleksia

    1.Usia berapa anda mengetahui anda/anak anda mengalami disleksia ?

    2. Bagaimana cara anda mengetahuinya ?

    3. Bagaimana perasaan anda setelah tahu anda/anak anda disleksia ? (Apakah menerima, menolak, dan sebagainya ?) Apakah yang anda pikirkan mengenai disleksia kala itu ?

    4. Bagaimana cara anda mengatasi kesulitan tersebut ? Upaya-upaya apa saja yang anda lakukan ?

    5. Bisakah anda ceritakan tentang huruf dan angka yang anda dilihat saat membaca dan menulis? Bagaimana cara anda/anak anda membaca dan menulis, seperti apa ?

    6. Bagaimana kondisi anda saat ini ? Apakah sudah dapat mengatasi / masih mengalami kesulitan membaca dan menulis ?

    7.Bagaimana pengalaman anda berkaitan dengan masalah disleksia ? Berpengaruhkah dalam hal apa ?

    Khusus bagi orang tua

    1. Sebagai orang tua, bagaiman reaksi dan respons anda waktu pertama mendengar mengenai kesulitan belajar yang dialami oleh anak anda ? (menerima, shok, menolak, dan sebagainya)

    2.Sebagai orang tua, apakah anda merasa kesusahan menangani masalah anak anda? Bagaimana mengatasinya?

    3.Bagaimana tingkah laku anak anda pada saat belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah? (rajin, malas, tertarik, bosan, dan sebagainya)

    4.Apakah anak anda menyadari kondisi yang dihadapinya ? Bagaimana perilaku anak menghadapi kondisinya ?

    5. Apakah anda memiliki anak lain ? Bila iya, bagaimana perilaku anak yang mengalami disleksia terhadap saudaranya ? (cenderung iri atau saling mengasihi ?)

    6.Apakah anak anda suka bercerita atau bertanya hal2 yang sangat kritis dibanding anak seusianya ?

    7. Di balik kekurangan, setiap anak pasti memiliki kelebihan. Menurut anda, dimana kelebihan anak anda ?

    Mohon bantuannyai untuk menjawab kuisioner ini….
    Jawabannya bisa tolong dikirimkan ke email saya di crla_s@yahoo.com
    terimakasih….

  56. Dear Mbak,
    boleh minta info ttg sekolah khusus anak disleksia di Indonesia. Kebetulan seorang temen ingin menyekolahkannya putranya yg disleksia ke sekolah khusus. Saat ini mereka masih di Malaysia jadi memerlukan info ttg sekolah dimaksud karena akan pulang kembali ke Indonesia.
    Atas bantuannya, diucapkan terima kasih.

    Salam,
    Pipie

  57. Mbak Pipie,

    Maaf, saya tak banyak tahu tentang sekolah ini. Setelah lama tak update blog ini, saya sesungguhnya fokus saja membimbing Indra. Perkembangan termutakhir,

    1. Saya telah bawa Indra ke Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, di Kampus Salemba (LPT UI), Telepon 021 – 314 5078, 390 7408, 390 8995, Faks, 021 – 314 5077, E-mai: info@lptui.com. Saya tidak sampaikan perihal disleksia ini, karena tak ingin judgmental / sok tahu, namun hasilnya memang melegakan. Indra cerdas di atas rata-rata, tapi IQ Verbal-nya masih rata-rata, hanya IQ Performance-nya yang di atas rata-rata. Jomplang hasil ini membuat “hasil lucu” bagi IQ Totalnya. Sebaiknya kerabat Mbak Pipie dibawa ke sana dulu deh…

    2. Saya juga telah membawa Indra ke tempat les membaca Bimbingan Membaca / Bimba AIUEO di dekat rumah. Untuk 4-5 anak, dijaga 2 guru untuk satu jam selama 3 hari seminggu. Kelasnya nyaman ber-AC, harga per bulannya termasuk murah. Yang lebih penting, progres tiga bulan terakhir jelas sangat baik. Kemampuan membaca dan menulis Indra meningkat pesat! Ia sudah mulai merangkai kalimat dengan tata bahasa yang baik. Setiap hasil tulisannya saya simpan dalam folder khusus di meja belajarnya.

    3. Suami saya bertemu dengan editor (penulis?) buku “Child with Special Needs”, dan dinyatakan olehnya bahwa kasus disleksia TIDAK termasuk dalam kategori ini. Yang masuk misalnya adalah ADHD, Autis, serta Cerebral Palsy. Ternyata memang Indra hanya perlu perhatian khusus, yaitu atensi kedua orangtua secara KONSISTEN dan INTENSIF.

    Sisa dua minggu sebelum ulangan umum; dan bagi optimisme Indra menghadapi ulangan umum adalah air jernih dan sejuk yang menyiram kepala saya yang telah mendidih setahun terakhir, Mbak. Jalan masih panjang, tapi awal ini yang saya jaga. Thanx to Mbak Aigis dan Mas Rico *hugs* mudah-mudahan teman Mbak Pipie bisa belajar juga dari mereka.

    • Dear Mbak,
      thx ya atas infonya. Nanti sy akan info ke temen saya ttg blog mbak ini. Boleh kan?
      Ssekali lagi terima kasih. Mudah2an dg kasih setulus hati dari para orang tua, maka apapun masalah setiap anak Insaya Allah dapat di carikan jalan / solusi terbaiknya.

      Salam,
      Pipie

  58. Hai mama Indra,

    saya “nemu” blog mama indra ketika lg cari info tentang kesulitan baca tulis pada argya (6th, kelas 1 sd) anak saya. saya masih bingung apakah argya termasuk disleksia atau karena saya yang tidak bisa mengajari baca tulis.

    dilihat dari teman2 sebayanya, argya belum hafal abjad. kata ibu gurunya, dia tertinggal jauh dari temen2nya. secara emosi, dia unggul dalam mengontrol emosinya. jarang sekali marah meledak2 spt temannya bila tidak dipenuhi keinginannya.

    saya ingin bawa argya konsultasi ke lpt ui. maaf ya, boleh tau biaya konsultasinya?

    tq banyak ya…

  59. Salam kenal Mbak Mila,
    Mungkin anak saya juga menderita disleksia. Karena sampai umur 9 tahun (kelas 3SD), Wibi masih belum lancar menulis dan membaca. Kelihatan dia juga sangat frustasi karena dianggap bodoh oleh orang disekelilingnya. Saya sendiri mengakui saya kurang sabar dalam membimbing dia dan juga kurang waktu karena saya harus membagi waktu antara pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah. Tahun ini saya baru memindahkan Wibi ke sekolah yang anak muridnya lebih sedikit dan kurikulumnya tidak dengan pembelajaran Tematik yang diterapkan oleh banyak sekolah saat ini. Dia sudah mau menulis tapi memang masih ketinggalan jauh dari teman- temannya. Di sekolah yang baru ini teman dan gurunya menyemangati dia untuk mau menulis dan membaca.
    Saya senang membaca Blog ini. Mbak Mila Ibu yang hebat dan Indra anak yang beruntung sekali.

  60. Salam kenal Mbak Maria. Senang juga dapat berbagi dengan siapapun yang mawas diri atas perkembangan anaknya…

    Awal tahun pelajaran ini, saya dan suami tergopoh-gopoh mencari sekolah yang direkomendasikan LPTUI (harus di bawah 10 anak per kelasnya). Ada les/bimbingan membaca AIUEO (sistem franchise) di banyak tempat di Jakarta, tapi kalau Mbak Maria di luar kota, tentu tak mudah. Bimba AUIEO ini membantu Indra juga di akhir semester kemarin, setidaknya walau hanya 1 jam per hari jumlah murid per kelas hanya 3-4 orang. Indra pun punya motivasi untuk membaca terus. Kata kuncinya, Mbak, ya itu dia “motivasi anak”. Kata kunci lainnya adalah berikan sebanyak mungkin buku bacaan bergambar agar ia temukan interest/minatnya, lalu perdalam di sana. Indra saya perkenalkan juga Google Earth untuk melihat dunia. Hari ini ia bisa mencari sendiri London dengan landmarknya. Ia hapal bentuk dan nama gedung di sepanjang Sudirman-Thamrin via Google Earth. Temukan klik kesukaan Wibi, Mbak. Semoga berhasil.

  61. blog yang sangat bermanfaat buat saya karena saat ini saya juga sedang curiga bahwa anak kedua saya mengalami hal yang sama. Dia sering susah membedakan huruf b dan d, sering lambat dan enggan membaca, kadang kehilangan jejak saat mambaca hingga mengganggu proses dia menyalin catatan dari papan tulis, sering lupa bahkan dengan hal yang baru beberapa menit sebelumnya diajarkan, sering kesulitan membaca kata-kata kecil seperti “ada” dibaca “dan”, dsb. semoga kita bisa sharing pengalaman tentang treatment yang akan kita lakukan demi perkembangan buah hati kita ini ya mbak, salam kenal!

  62. Ibu Nendra, salam kenal… saya kok curiga ya, dengan polusi suara yang bukan main (bajaj lewat, televisi menyala tanpa ada yang nonton, hingga suara tak menyenangkan lainnya) menjadi salah satu penyebab sang anak tidak bisa konsentrasi penuh di lingkungan ini…. tapi dugaan ini seharusnya ada kajiannya hehehe…
    Di sekolah baru Indra, ia diajarkan disiplin yang konsisten. Mungkin bisa dimulai dari hal kecil seperti memakai baju sendiri dan menyimpan mainan ke tempat semula setelah selesai digunakan. Jabat erat!

  63. Dear mbak Milla,

    Ketika saya menemukan blog mbak saya bingung apakah saya harus bahagia dan sedih. Bahagia saya menemukan orang tua yang memiliki problem belajar membaca dengan anak dab sedih karena melihat dari paparan dan komentar yang ada menguatkan puteri saya, Dea, 6 tahun, SD kelas 1 memiliki gejala disklesia..bukan malas seperti saya duga.

    Dea sudah mengenyam TK 2 tahun, namun kemampuan akademisnya sangat rendah padahal test IQ yang pernah dijalani menunjukan superior.

    Ketika masuk SD Dea menunjukan kesulitan membaca dan menulis, sehingga selalu jadi juru kunci di kelas padahal saya sudah memberikan les membaca extra di luar jam sekolah..

    Awalnya saya menganggap Dea malas dan kurang bimbingan saja mengingat saya bekerja dan suami saya kerja di luar negeri dan sehari-hari Dea tinggal bersama ibu saya (neneknya). Namun ketika saya baca artikel mengenai disklesia saya melihat beberapa gejala yang patut dicurigai antara lain:
    1.Sulit mengingat huruf padahal sudah diingatkan selal, dan daya ingatnya pendek.
    2. Kadang-kadang tidak bisa membedakan kanan kiri (sampai sekarang kalau pakai sendal sering terbalik.
    3. Tidak memiliki rasa percaya diri
    4.Dan terakhir, sekedar informasi saya dan suami terlahir sebagai kidal walaupun kami sudah bisa mentralisir ke’kidal’an kami (anak disklesia biasanya lahir dari keluarga kidal).

    Saat ini saya tinggal di Bandung, secepatnya saya ingin mencari akar jawaban permasalahan Dea supaya tidak berlarut-larut. Untuk itu saya putuskan berhenti bekerja, dan membimbing belajar Dea secara intensif sambil mencari lembaga yang tepat untuk membantu masalah ini Bandung.

    Semoga saya bisa seperti mbak dan rekan-rekan yang lain, yang begitu sabar dan bersemangat mengantarkan putra-putrinya untuk mampu mandiri di masa datang lewat membaca….

  64. Mbak Fanny, salam kenal.
    Saya pun terhormat bisa kenal dengan Mbak Fanny dan kawan-kawan yang punya pengalaman serupa. Blog ini awalnya hanya untuk diary perkembangan Indra, agar saya tak lupa progres yang telah dijalani bersama. Alhamdulillah, blog ini ternyata telah menjadi ruang berbagi informasi, yang mungkin masih harus dilengkapi dengan banyaaaaakkk kajian hingga tips yang lebih memudahkan semua orang.

    Saya akan coba melengkapi lebih banyak lagi, mudah-mudahan bisa membantu lebih baik lagi. Peluk cium untuk Dea dari saya, karena mungkin itulah yang diinginkannya saat ia kesulitan.

  65. Dear Mbak Mila.. saya ikut balas untuk mbak Fanny Nasril boleh ya :) (juga buat mbak mila pastinya :) )

    Maaf saya ikutan reply :).. saya juga tinggal di bandung dan putra sulung
    saya (6 tahun) juga dyslexia :) dengan IQ superior. saat ini dia mengikuti
    terapi di CDC RSI santosa bersama dr.purboyo & dr.Tian. ternyata dyslexia
    bukan cuman ‘masalah’ ga bisa baca tapi ada masalah perilaku yang harus
    diperhatikan sebab mereka memiliki cara memahami yang berbeda dan sering
    salah dalam persepsi sosial. alhamdulillah pihak dokter,terapis dan guru di
    sekolah bisa kompak bekerja sama sehingga baik pelajaran di sekolah (program
    pembelajaran individual) & materi terapi di RS bisa berjalan beriringan.
    sekarang dawwi sudah bisa mengeja dua suku kata dan hapal huruf kapital. ini benar-benar pencapaian luar biasa bagi dawwi dan kami satu tim heheheh

    senang bisa berkenalan dengan mbak fanny & mbak mila :)

    sasa
    e.prasty@gmail.com

  66. Dear mbak Mila,
    Senang sekali saya bisa sampai disini. Boleh saya ikutan curhat ya? Hampir setaon lalu anak saya, ravi 7,5 tahun (klas 2 SD) dinyatakan punya kecenderungan disleksia. dia tidak bisa membedakan huruf b dan d, sering terbalik-balik membaca dan menulis sering ada huruf yang hilang. seperti menulis sms yang disingkat-singkat begitu lo mbak… Saya sudah berusaha membelikannya beberapa buku yang full colour, dengan gambar2 yang menarik, tulisan yang besar2 dengan harapan dia berminat membaca tapi ternyata tidak, buku2 itu bahkan nyaris tidak pernah disentuhnya. Saya ajak bermain kata, pakai kartu, sacrabel atau bookworm dll, tapi baru sebentar sudah bosan. Dia juga punya masalah dengan konsentrasi. Kebetulan di kota saya ada tempat terapi untuk anak2 berkebutuhan khusus. Sudah hampir 8 bulan dia saya masukkan di sana, tapi sepertinya tidak ada perkembangan yang berarti. Tulisannya masih kacau, membacanya juga kurang lancar.Jujur saya sering tidak sabar mengajarinya membaca dan menulis karena dia suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca dan menulis 1 halaman saja. Dia malah lebih suka bercerita dan kadang2 berkhayal. Dia senang bermain sendiri dan enggan bergaul dengan teman sebayanya.Dia juga malas diajak belajar. Saat ini saya sedang berada dalam dilema. Saya tau kondisi anak saya, saya ingin dia belajar dengan happy (tidak terpaksa) tapi kurikulum anak SD sekarang materinya banyak dan berat. Mid semester kmarin hampir semua nilai pelajarannya di bawah rata2, jadi karena takut tertinggal pelajaran dia saya ikutkan les. Tapi dia protes, kalok aku les terus mamah, kapan aku punya waktu buat main?? Dia berangkat sekolah juga setengah hati. Sebenernya saya juga tidak tega, pengen sekali melihat dia berangkat sekolah dengan wajah riang dan semangat. tapi apa daya, saya hanya sanggup menyekolahkannya di sekolah biasa, (tanpa fsilitas bermain, olah raga, perpustakaan dll) dekat rumah yang satu kelas diisi lebih dari 40 anak. sebetulnya ada sih, sekolah dengan fasilitas lengkap yang anak2nya nggak terlalu banyak dan suasananya fun, tapi biayanya mahal sekali dan tidak terjangkau oleh kantong saya :(
    Saya akan sangat senang sekali seandainya bisa terus bertukar pikiran dengan mbak dan ibu-ibu lain yang punya anak dengan masalah yang sama. Salam.

  67. Mbak Sasa, terima kasih info Bandungnya…

    Mbak Kautsar, peluk cium untuk Ravi. Saya ingat ucapan psikolog LPTUI saat saya bertanya apakah ada masalah dengan kapasitas/kualitas otak. Dia menjawab, “Variabel penyebab disleksia banyak, dan terkadang tak berdiri sendiri.” Di saat tak yakin apa penyebabnya, beberapa pakar memberi tahu beberapa tindakan jalan keluarnya. Saya dan suami mengikuti salah satu cara yang paling mudah dan murah: peluk cium setiap sang anak merasa seakan ia sendirian menjalani kesulitannya.

    Terhormat sekali saya bisa berbagi dengan semua ibu yang menghadapi keadaan yang sama. Blog ini sesungguhnya saya buat di kala saya merasa tak punya kawan, tak tahu mau berbuat apa. Saya hanya membaca info di internet, kadang saya terjemahkan dan posting di blog ini. Saya ikuti saran — dari satu situs info disleksia di UK sana — agar membuat jurnal perkembangan Indra, namun saya buat jurnal dalam bentuk blog (mengingat saya sudah terlalu malas menulis dengan tangan). Hari ini saya menerima hasil ulangan tengah semester, dan nilainya di atas 80 bahkan ada yang 100! Ia memang masih terlalu malas membaca tulisan terlalu banyak, tapi dengan perkembangan 6 bulan terakhir… Alhamdulillah! Saya pun merasa kekuatan saya dibangun dari jurnal ini. Terima kasih semua… mudah-mudahan kita dapat terus berbagi informasi dan curahan hati… jabat erat buat Bu Kautsar.

  68. dear mbk mila..
    saya nitita, mahsiswa semester 5 di fakultas Psikologi UNAIR
    sya ada tugas membuat suatu rncangan penelitian. sya mau membuat suatu rancangan penelitian tentang disleksia dengan subyek para orang tua anak dengan disleksia seperti mbak,
    disini sya ada beberapa peryanyaan:
    1. jika ada pelatihan seperti ini, pelatihan seperti apa yg mbak inginkan dan harapkan?

    2. apakah pelatihan mengenai pengajaran membaca bisa dijadikan pilihah?

    3. pelatihan seperti apa yang dibutuhkan oleh orang tua anak disleksia seperti mbak?

    sebelumnya terimahkasih…

    • Mbak Nita, terima kasih sudah mampir di sini. Soal pelatihan? Subyek ortu ya? Pelatihan pengenalan fase emosi ortu dan tahapan penanganan konstruktif. Pengajaran membaca itu alamiah, sepertinya harus ada pendekatan linguistik (fonemik-fonetis) yang ada ilmu khususnya. Linguistik membantu memperkenalkan bahasa (pintu gerbang kesulitan belajar) kepada anak. Disiplin dan konsistensi bagi anak membantu konsentrasinya. Pelatihan pengendalian emosi ortu, agar sang anak tak terkena dampak negatifnya.

  69. mbak mila…
    saya nitia, mahsiswa semester 5 di fakultas Psikologi UNAIR
    sya ada tugas membuat suatu rncangan penelitian. sya mau membuat suatu rancangan penelitian tentang disleksia dengan subyek para orang tua anak dengan disleksia seperti mbak,
    disini sya ada beberapa peryanyaan:
    1. pelatihan apa yang dibutuhkan oleh para orang tua anak dengan disleksia?

    2. apakah pelatihan pengajaran membaca bagi orang tua dapat dijadikan alternatif pelatihan?

    3. apa yang diharapkan dari pelatihan seperti itu?

  70. bagus sekali bloh ini.. saya mohon ijin untuk me link ke tempat saya ya buu…

    saya dinda.. mahasiswa psikologi ,,kebetulan saya semasa kecil adalah pengidap disleksia namun tidak terlalu parah.. alhmadulilah.. sekarang saya sudah berada di bangku perkulihan, meskipun berat bagi saya untuk belajar.. tapi saya tak pernah surut untuk berjuang :)

  71. Wow…menakjubkan, memang blog ini mulai membuka fikiran saya dan saya mulai mempercayai apa yang dikatakan istri saya tentang disleksia. Saya pernah nonton film india di TPI itu pun dijelaskan oleh istri saya bahwa anak yang memerankan sebagai disleksia merasa putus asa dan kedua orang tuanya pun putus asa apa yang harus dilakukan.
    Saya baru menyadari kalau anak saya pun mungkin salah satu dalam golongan disleksia. Memang anak saya lahir di LN yang notabenenya tidak mempunyai tetangga orang indonesia, sehingga membuat dirinya taku terhadap orang lain. Saya dan istri beranggapan ini mungkin dikarenakan kurang interaksi dengan teman sebayanya, tapi kalau dirumah dia berani dan mau bermain dengan teman sebayanya. Kesimpulan kami saat itu anak kami “kuper” kurang pergaulan. Saya bertekad untuk pulang dan kerja di Indonesia, suatu hari kami bawa anak saya ke physicolog. Ibu dokter menyarankan untuk terapi, setelah kami datangi tempat terapi itu ternyata tempat terapi autis. Saya dan istri saya pulang setelah dapat sedikit arahan dari pemilik terapi itu. Saya juga putus asa, masa anak saya autis kemudian cari tau tentang autis dan gejala itu tidak ada pada anak saya.
    Saat ini anak saya di TK B, memang cara membacanya aneh dan penyampaian informasi kepada lawan bicaranya juga aneh. Mendengarkan lagu aja yang kemudian dinyanyikan kembali tidak sesuai, kami fikir akh ini mungkin memang belum usianya untuk lancar membaca, tapi anak tetangga kami dulunya pendiam tidak bisa ngomong sekarang sudah lebih pandai dari anak yang.
    Contoh: kata yang sering diucapkan salah “plastik menjadi paslik”, “telkomsel menjadi tengkomsen”, iklan salah satu deterjen “mencuci jadi enteng menjadi mencuci anak…” seperti itulah….
    setelah saya cari artikel tentang disleksia, saya merasa sedih bagaimana nasib nya nanti, tapi setelah membaca banyak artikel dan akhirnya di blog ini merasa terhibur dan secara otomatis saya akan melakukan riset sendiri pada anak saya dan akan melakukan terapi untuk menimbulkan kepercayaannya bahwa dia bisa.

    Salam kepada blogger yang perduli tentang disleksia….
    mohon info ke : fajri@dikti.org

    • Salam kenal Pa’ Fajri…

      comentar bapak ini mengingatkan pada masalah saya waktu kecil bahkan sampai saat ini. saya sering menyebutkan kata ‘cabe rawit ‘menjadi ‘cabe warit’, ‘bisa’ jadi ‘bias’, dll..bahkan akhir2 ini saya salah membaca kata ‘colera’ menjadi kata ‘cleopatra’..saya baru menyadarinya setelah membaca reverensi isi bukunya..saya berpikir tidak ada hubungannya antara judul dengan isinya..setelah saya baca lagi dengan lebih hati2, baru saya menyadari kesalahan itu.

      Disiplin belajar dari kecil akan sangat membantu kehidupannya saat dewasa nanti. Masa2 sulit itu ada pada saat masa sekolah dasar hingga smp.. meski akan tetap mengalami beberapa kesulitan yang sama, tp kelak ..saya yakin anak bapak pasti bisa menangani masalahnya sendiri dengan baik.

      salam kenal
      innaka

  72. Salam kenal,

    saya susah sekali membedakan huruf F dan V, terutama dalam pengucapan..sering kali terbalik dan saya tidak menyadarinya (sadar kalo udah di tegur temen ^^)..apakah ini disleksia juga??

    • F dan V terbalik pengucapannya itu sesungguhnya urusan dialek lokal, di mana etnis China pun tak bisa mengucapkan R sementara Jepang tak bisa mengucapkan L dengan baik.

      Huruf F (ef) dan V (ve) itu hanya berubah di pengucapan, bukan di penulisan… latihan pengucapan “ef ef ef” sambil menunjukkan jenis huruf F, dan “ve ve ve” sambil menunjukkan huruf V… hanya kebiasaan saja, Bu.

  73. Salam,
    Kebiasaan itu hanya untuk istilah orang yang tidak memiliki kebutuhan khusus, untuk anak-anak yg kelak menjadi dewasa dan telah didiagnosa memiliki disleksia hal ini tidak tepat jika dikatakan kebiasaan, karena disleksia akan disandang seumur hidupnya, meski pun sudah dibiasakan dilatih spt orang Cina atau Jepang atau Indonesia atau bangsa Aria dll. Tapi orang dengan disleksia memiliki kepandaian lebih yg orang lain tidak punya.

  74. mbak mila ia yah itu hanya kebiasan saja? aku juga susah banget tuh kalo ngomong f dan v, selalu terbalik, kadang kala harus mikir dulu kalo mau ngomong bagaimana cara mengejanya seperti saat mau bilang v, diotak aku didalam hati berkata vespa agar dapat kata v yang benar tidak terbalik dengan kata f.. mungkin kebiasaan satu ku ini harus segera diperbaiki, dan memang cukup mengganggu..

  75. aku sgt exited menemukan blog ini. sudah hampir 8 tahun aq mencari jawaban apa yang terjadi dg anak pertamaku dan bgmn cara menanganinya karena umur 2 tahun dia belum jg bisa bicara n kurang responsif. Kt dokter dia telat bicara, gejala autis dsb. Lbh gemes lg setelah dia msk sekolah di umur 5 tahun. Dia belum bisa bicara dg jelas tetapi dari pihak sekolah tidak ada perhatian khusus. Sampai akhirnya saya masukin ke SD negeri (karena aku ndak tahu harus disekolahkan kemana… sekolah khusus jauh n mahal). Dia bener2 mengalami kesulitan dalam belajar. Aku dekati semua guru dan menjelaskan kondisinya. Sekarang puji Tuhan dia mengalami perkembangan yang lumayan. Tetapi aku masih was-was untuk selanjutnya. Bagaimana solusinya..

    • Terapi untuk kesulitan berbicara tentu lain, dan memang ada terapi khusus “speech delay”, silakan cari di Google dengan kata kunci ini. Biasanya pendekatan fonetis fonemis (pengucapan dan alat pengucapan yang baik, tatap mata dengan si anak, tentu sang ibu harus konsisten dan super duper sabar). Solusinya cuma dari si ibu… :-)))

  76. Bagus mba, isi blog-nya. Aku link ke blog-ku boleh ga? Anakku umurnya baru 21 bulan. Tapi, bicaranya masih terbatas banget. Sedang mencari-cari segala informasi apa yang menyebabkan “speech delay”. Sekalian belajar. Btw, kalau tes disleksia itu untuk anak yang umur berapa ya mba? kalau masih 2 tahun-an apa bisa dites?

    • Silakan, senang rasanya bisa berbagi, mudah-mudahan ortu seperti kita bisa lebih sabar dan cepat bertindak. Mohon maaf, saya bukan pakar di bidang ini, saya cuma ibu yang pernah kaget-kaget putranya mengalami kesulitan membaca. Setahu saya ‘speech delay’ itu ada tahapannya, dan bisa diterapi oleh orangtuanya. Semakin ‘bawel’ ngajak ngobrol (bukan dimarahi loh!) semakin anak juga ikut ramai. Tes disleksia (istilahnya intervensi dini) itu sepertinya balita, dan mungkin secepatnya 4 tahun, karena kalau 2 tahun belum bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk (mudah-mudahan saya gak salah hehehe). Tapi untuk pastinya silakan saja telepon ke Pantara deh, biar afdol. Kuncinya, ortu harus sabar dan senyum. Salam…

  77. dear mbak mila…

    saya nima dari program dokumenter di DAAITV (televisi swasta lokal Jakarta). two thumbs up untuk blog-nya, mbak.

    kompas hari ini memuat artikel tentang disleksia, saya jadi teringat sekitar 4 tahun lalu saya pernah liputan di SD Pantara. di situlah pertama kali saya tahu tentang disleksia, disgraphia, dan diskalkulia. terus terang pengetahuan saya masih sedikit sekali. tapi saya ingin sekali lagi mengangkat tema ini ke dalam produksi dokumenter kami mbak. tapi kira-kira gambarannya seperti ini, saya akan lebih membahas bagaimana orangtua, atau orang dengan disleksia melewati hari demi hari dengan semangat.

    DAAITV memang berbeda dengan televisi lainnya.kami senantiasa menyajikan tayangan yang menginspirasi dan memberi semangat. tim dokumenter DAAITV ini bermaksud memproduksi satu tayangan dokumenter bertema disleksia. niat saya, mungkin kurang lebih seperti niat Rico Michael, inginnya melalui produksi dokumenter ini memberi indpirasi dan semangat kepada orangtua dan orang dengan disleksia.

    saya ingin sekali bertemu dengan mbak mila membicarakan rencana ini. jika berkenan, please write me an email to ***@yahoo.com atau 0817****14.

    terimakasih mbak mila, salam untuk indra.

  78. Dear mbak mila,
    Maaf jika sudah tau, jika lau belum,semoga info ini berguna. 27 dec 2009 telah berdiri asosiai dyslexia indonesia. Situs nya http://www.dyslexia-indonesia.org ada kanal2 d dalamnya yg bisa membantu kita dan guru. salah satu pendiri ADI adalah dr.poerboyo solek dan dr.kristiantini dewi. Semoga info ini bermanfaat.
    Salam,
    Sasa

  79. salam kenal,
    saya baru menyadri penyakit ini ada pada diri saya selama ini saya menganggap kesulitan membaca beberapa hurup, dan mendengar vokal saya anggap hal biasa saja, namun ketika usia saya 27 tahun rekan2 kerja saya mulai melihat kelainan ini, saya sedang binggung untk mencari tempat terapi. untuk mengurangi penyakit ini..saya mohon bantuan dan informasiny

  80. Dear mbak nurul,
    Maaf say ikut menjawab :) para pakar sepakat penyandang dyslexi adalah mereka dengan “neurodiversity’ bukan penyakit, krn memamng bukan sakit :) para dyslexics memiliki cara unik/berbeda/personal untuk belajar and sometimes survival … Semoga membantu dan salam kenal :)

    Sasa

  81. kami di sini kesulitan mencari alamat tempat atau contact person yang menangani kasus disleksia, kami membutuhkan data statistik tentang penyandang disleksia danpenanganannya di daerah yogyakarta untuk bahan Tugas Akhir kami. mohon infonya…. :)

    terimakasih

    • Dear Dini, kalau untuk Yogyakarta, maaf saya tak tahu tempatnya (mungkin bisa ditanyakan ke Psikologi UGM @ psikologi.ugm.ac.id). Satu hal pasti, disleksia itu bukan penyakit sehingga tak usah diberi status “penyandang”. Keterbatasan anak disleksia adalah kelebihannya: ia dapat berkhayal jauh ke banyak tempat dan kurun waktu jauh ke masa depan, untuk itu ia dinyatakan tak bisa fokus terhadap “hari ini, di sini”.

  82. apakah ada tempat terapi disleksia selain di bandung !! sya tinggal ditasik malaya apakh ditasikmalaya sudah ada tempat terapinya gan??

    • Mohon maaf Ibu Nani… saya rasa tempat konsultasi yang dimaksud cuma ada di kota yang memiliki Fakultas Psikologi saja. Kalau sempat main ke Bandung di hari kerja, mungkin ada. “Terapi” yang dimaksud sebenarnya bisa juga diupayakan oleh Ibu Nani sendiri, karena banyak bahan yang bisa di-download, dan tentunya setelah mendapatkan hasil tes dari psikolog atau Fakultas Psikologi setempat. Sukses!

  83. Salam kenal.
    Saya Ira. Anak saya yang pertama, bernama Kanti. Dia bulan Jan 2012 nanti, 12 th. Kita baru mengetahui kalau dia disleksia, belum lama. Sekitar tahun ini, kita sdh observasi ke SD PANTARA yg sekarang ada di Tebet.Kita merasa menyesal karena termasuk terlambat mengetahui gejala itu. Tetapi kita juga bersyukur karena kita sdh sedikit banyak mengetahui bakat dia ( lukis & musik ). Hanya kita sampai sekarang kadang, masih belum juga bisa sabar dalam menghadapi dia, dalam hal belajar ( per th ini dia home schooling ).
    Semoga dgn masuknya saya dlm komunitas di blog ini, maka paling tidak bisa menguatkan, mengingatkan & menambah pengetahuan.
    God bless you all.

    • Ibu Ira yang beruntung…

      Saya juga masih suka gak sabar kok, tapi setiap kali mulai “naik” saya langsung bilang ke diri sendiri, “Lupakan pekerjaan lain, lupakan pikiran lain, FOKUS ke Indra dulu!” Harapannya semoga Indra juga lebih fokus ke PR atau tugasnya atau sekadar membereskan isi tas sekolahnya.

      Ibu Ira juga bisa membuat blog serupa, semacam “progress update” dari kegiatan Kanti yang bisa dikaji sepuluh dua puluh tahun kemudian. Blog ini niatannya juga begitu, alhamdulillah bisa menjadi ajang berbagi informasi (dan beban?) di antara kita. God bless you, too, Bu Ira…

      Satu lagi yang bisa menjadi bahan berbagi, video Youtube tentang Changing Education Paradigm oleh Sir Kenneth Robinson… inspiring & enlightening… enjoy!

  84. Salam Hangat.
    Saya telah melakukan test online sebanyak 5 kali dan hasilnya ternyata hasilnya saya mempunyai kecendrungan diseleksia.
    sejak dari dulu saya menyadari saya kurang mampu memahami secara verbal, tidak sedikit yang menganggap saya aneh. seringkali saya mengalami salah spelling padahal saya sedang serius dan reflek.
    kalo boleh tahu test dieleksia dimana ?
    dan berpa biayanya ?
    makasih

    • Silakan cek ke Lembaga Psikologi Terapan UI (LPTUI) Jl. Salemba Raya No. 4. Jakarta 10430. Telepon, 021 – 314 5078. 021 – 390 7408. 021 – 390 8995. Minta jadwal konsultasi.. Biasanya di konsultasi kedua baru ada tes. Jangan terlalu percaya tes online, sebaiknya memang ikut tes yang lebih komprehensif seperti di LPTUI. Jika Anda di luar Jakarta, silakan cari ke kampus terdekat yang memiliki fakultas psikologi. Good luck!

  85. Mba Mila, salam kenal.. Saya mau tny ciri2 anak disleksia itu seperti apa yah? Apakah anak yg sulit membedakan huruf b dan d termasuk anak disleksia? Thanks sebelumnya yah mba… ^_^

    • Mbak Silvia, disleksia itu cukup kompleks, dan saya bukan pakarnya. Mbak Silvia harus bertemu psikolog karena parameternya ada. Ciri-ciri anak saya itu ada beberapa tahap. Awalnya, terkesan malas belajar, malas membaca (ternyata ia melihat huruf seperti “terbang”). Tahap selanjutnya, ia bisa mengurut alfabet tapi sulit sekali membaca jika konsonan dipadukan vokal. “B”… “C”… “D”… tapi susah kalau jadi ba bi bu, da di du… ini yang kadang dia masih merasa hurufnya “terbang”. Tahap selanjutnya, ia bisa membaca “ba bi bu” tapi logika bahasanya agak ambur-adul. Pengertian subyek, predikat, obyek belum matang. Nah, ini baru soal membaca. Ada juga masalah berhitung (tak bisa hapal cepat, tapi pakai alat peraga pasti jawabannya benar) juga soal menulis (hurufnya besar-besar dan tak teratur). Belum lagi masalah fokusnya, tak bisa membaca huruf apapun lebih dari 3 menit, tapi membaca dengan gambar bisa berjam-jam. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi dari semua itu hasil tes psiko anak saya di atas rata-rata. Seakan malas belajar, tapi kalau menjawab itu bisa. Begitulah rangkuman singkatnya.

  86. Umur brp tahun yah bisa keliatan anak tsb disleksia atau tidak? Apakah dari umur 4th sudah bisa? Anak saya mengenal alfabet dan angka sudah bisa. Wkt ulangan dikte kata gurunya anak saya tidak bisa bedakan b dan d, apakah utk umur 4th hal tsb masih wajar? Anak saya jg sampe saat ini masih suka terjatuh dan tersandung kalo berlari ataupun jalan. Kalo dulu anak mba mila, awal2 bisa terdeteksi disleksia spt apa gejalanya? Kalo buat konsultasi ttg disleksia kemana yah mba?

  87. Saya ingin mengetahui sejaug mana anak yg terlambat dlm calistung dpt menjadi berhasil spt anak2 pd umumnya

    • Ibu Vivi, kecerdasan anak tak hanya calistung. Ada 8 jenis kecerdasan manusia: 1) matematika dan logika atau cerdas angka, 2) bahasa atau cerdas kata, 3) musikal atau cerdas musik, 4) visual spasial atau cerdas gambar, 5) kinestetik atau cerdas gerak, 6) inter-personal atau cerdas teman, 7) intra-personal atau cerdas diri, 8.) naturalis atau cerdas alam. Inter-personal: memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan orang lain, dan intra-personal: memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Mereka cenderung mampu mengenali kekuatan atau kelemahan dirinya sendiri, senang mengintropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya dan kemudian mencoba untuk memperbaiki dirinya sendiri. (sumber: http://www.forumkami.net/family-baby/21582-8-jenis-kecerdasan-anak.html)

      Kenali potensi anak Ibu, dan beri stimuli/rangsangan atau asupan yang sesuai agar anak Ibu bisa menggali sendiri potensi terbaiknya. Anak saya sangat senang detail gambar dan mendengarkan lagu. Jika ia tak terlalu suka membaca, pengenalan gambar akan menggerakkannya untuk membaca tulisan di gambar tersebut. Jika ia menyukai satu lagu, saya memintanya menulis sebaris lirik yang ia sukai.

      Keberhasilan anak di masa mendatang tak ada yang bisa prediksi, bahkan ibunya sendiri pun. Yang bisa kita lakukan hanya memberikan asupan terbaik yang kita mampu berikan ke anak. Sukses ya Bu…

  88. Saya sangat senang telah membaca ttg disleksia

    • Hallo smuanya khususnya mbak Mila salam kenal,senang membaca blog ini, saat ini saya lg bingung campur sedih krna kmrin saya dipanggil guru Teska anak perempuanku tg duduk dikls 2 SD, mengatakan Teska banyak menunjukan ciri khas anak disleksia dan saya jg melihat hal yg sama thd anak saya. Wali kelasnya menyarankan utk dibw k psikologi. & saya sdh buat perjanjian diklinik khusus RS. Hermina. Saya mau tanya apakah selain di LPTUI anak saya bsa mendapat diagnosa & penanganan yg tepat, soalnya kl k LPTUI sangat jauh dr rumah kami dibekasi. Maksd saya apakah test disleksia itu dithn 2011 ini bukanlah hal yg susah sehingga alatnya cuma ada di rs tertentu? Saya ingin sekali secepatnya menangani anak saya dgn tepat agar tidak terlambat. Mhn informasihnya…salam hangat dan •°(*)♣♧•°°•♧♣(*)°•
      ⌣ƬẽƦȋṁɑ̣̇:*Ƙɑ̣̇§ȋħ⌣
      •°(*)♣♧•°°•♧♣(*)°•.

      • Ibu Grace Yth., psikolog praktek di RS Hermina bisa juga ditemui. Ada tes/observasi IQ dan kemampuan. Bedanya dengan SD Pantara Tebet, di SD ini ada observasi kelas, bagaimana sang anak berinteraksi di kelas dengan kawan-kawannya.

        Psikologi Anak dan Dewasa RS Hermina Bekasi
        1. Agustina Ekasari.Psi .Msi
        Rabu 16.00-18.00
        Sabtu 12.30-20.00
        2. DR. Dra. Risatianti Kolopaking.Psi .Msi
        Selasa 13.00-16.00
        Kamis 13.00-16.00

        Hubungi pendaftaran 8842121
        Semoga informasi ini berguna.

  89. Mbak, anak saya jg kelihatannya ada gejala disleksia. Apa yg harus saya lakukan? Adakah terapis di jakarta yg bisa membantu anak saya?

    • Ibu Frida, silakan cek ke LPT UI atau ke Yayasan Pantara:

      Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI)
      Jl. Salemba Raya No. 4
      Jakarta 10430
      Telepon 021 – 314 5078
      021 – 390 7408
      021 – 390 8995
      Facsimile 021 – 314 5077
      E-mail: info@lptui.com

      Yayasan Pantara
      Jl. Tebet Barat Dalam VI No.39-41
      Jakarta Selatan
      Telp 837 00 683 atau 837 96 990.
      Persis di belakang SMA Dewi Sartika, masuk dari McDonalds Jl Soepomo menuju ke Gelael/KFC di Jl MT Haryono. SD Pantara satu gedung dengan STIE Widya Jayakarta.

    • Teman-teman dan Bunda2,
      Sy mempunyai berita gembira. Di Jakarta akan diadakan seminar talk show yg menghadiri dokter spesialis Dyslexia dari Singapura, dr Ang (Clinical Director and Psycholigist of Dyslexia). Dibuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apapun. Akan diadakan di sekolah Binus Serpong. Pd tgl 24 feb, Jumat jam 9-11 pagi, di Mini library Hall lt 3. Topik yang akan dibawakan adalah Understanding & Supporting Children with Dyslexia. Jg akan dipaparkan bgmana mengetahui bila anak kita mempunyai gejala2 Dyslexia. Kalau teman2 berminat bisa lgsg reservasi ke admission dept Binus di 021-5380400 ext 5101 -5103.

      • Bunda, saya sudah telp ke binus ternyata yang datang memang pakar dyslexia tapi dalam seminar besok tidak membahas mengenai dislexia tapi lebih ke difficult learning yg dihadapi anak2 sekolah. jadi seminar tidak menbahas dyslexia.Terima kasih.

      • Hi Vinca,

        Barusan saya telp Binus utk konfirmasi… Talkshownya ttg Irlen atau salah satu tipe Dyslexia yg paling byk ditemukan atau biasa dikenal dgn Visual dyslexia. Karena sebenarnya dyslexia ada 3 tipe: visual, audio dan developmental. Dan saya adalah salah satu pasien dokter yg akan membawakan topik. Saya tau benar apa yg akan dia bahas. Mungkin yg angkat telp bagian admin atau staff yg misunderstanding. Sy mendapat flyer undangan dr mereka. Sy tdk tahu bagaimana post di blog ini, tp kalau mau sy bs email ke kamu disitu lengkap topik2 yg akan dia bahas. Terimakasih.

      • Oh gitu yah, karena tadi pemberi informasinya berkali2 menjelaskan bahwa bukan disleksia yg akan dibahas.nanti saya coba telp kesana lagi. BTW terima kasih yah atas informasinya.

      • Bunda, saya sudah telp ke binus lagi, dan dgn org yg berbeda menjelaskan benar kalo disleksia akan dibawa dalam seminar tgl 24 feb. Bunda bahasa pengantar utk seminar tersebut menggunakan bahasa indonesia atau Inggris yah?Terima kasih.

      • mudah-mudahan dalam bahasa Indonesia… :-)

  90. Mbak, apakah ada lembaga terapan yang sama di surabaya ? Mohon informasinya.

    Berapa usia yang pas untuk membawa anak berkonsultasi ke psycholog ya? usia anak saya 5 tahun.

    Terimakasih atas bantuannya.

    • Untuk konsultasi ke psikolog, khususnya tentang kemampuan dan perilaku anak, di Jakarta sih ada program “intervensi dini” yaitu sejak 3-4 tahun. Untuk pastinya silakan tanyakan ke psikolog hehehe karena saya bukan psikolog, cuma pernah tahu saja. Sukses ya Bu Vierta…

      Coba cek ke Fakultas Psikologi Unair.
      JL. AIRLANGGA 4-6 SURABAYA – 60286
      TELP. 031-5032770, 5014460
      FAX. 031-5025910
      email: fpsi@unair.ac.id

      Atau ke institusi swasta yang dikelola lulusannya:
      Badranaya Yoga (lembaga pendidikan dan terapi yoga-seni)
      Dukuh Kupang Barat Gg. XX/31 Surabaya
      CP: Ms. Linda 0812 3514 9300; 031-741 0505

  91. salam mbak milla saya rita dri medan.saya juga punya anak yg sama ciri2nya semua. Namanya Dimas usianya 9th.Untuk daerah medan ini kalau boleh saya dapatkan alamatnya mbak utk tes Disleksia ini Terima kasih mbak Milla.

    • Ibu Rita… salam kenal! Sudah coba ditanyakan ke Fakultas Psikologi USU?
      Fakultas Psikologi USU
      Jl. Dr. Mansyur No. 7
      Tel. +62 61 8220122
      Fax. +62 61 8220122
      Coba ditanyakan perihal observasi atas anak Ibu. Jika ada, tiap kampus mungkin punya kebijakan berbeda atas observasi atau tes atas anak Ibu. Fasilitas tes yang ada di Jakarta belum tentu ada di kota lain, tapi metodenya mungkin bisa sama. Tips dari saya: sampaikan kesulitan si anak secara mendetail, apakah motorik (gerak tubuhnya), asupan gizinya, pola tidurnya hingga cara ia bersosialisasi dengan anak tetangga.
      Jika Ibu main ke Jakarta, tentu bisa kunjungi LPT UI atau Yayasan Pantara.
      Semoga info ini membantu, Bu… tetap semangat yaaaa!!!!

  92. salam kenal mba mila, mba ada yang mau saya tanyakan, anak saya ciri-cirinya seperti mengalami disleksia, sekarang dia sudah hampir 7 thn dan kelas 1,utk mengeja kalimat sangat terbata-bata, bahkan kalo menulis suka kehilangan adjab,utk membedakan d,dan b juga kadang benar kadang tidak.untuk berbicara pun, bahasanya berantakan.dan waktu bayi dia agak telat berbicara sekitar umur 3 thn dan dia tdk mengalami masa merangkak tapi langsung bisa berjalan diumur 10 bln..utk IQnya superior.dan dia sangat sensitif sekali gampang menanggis apabila ada yg membentak..utk membaca tulisan kecil dia akan sangat kesulitan bahkan dia tidak akan membaca. oleh pihak sekolah saya diminta utk test ke psikologi, tetapi setelah ditest menurut mereka anak saya lebih ke pola asuh yang salah.padahal dia sudah punyak adik dan adiknya tidak mengalami hal ini.menurut mba mila apakah setiap psikologi semua daerah bisa test disleksia atau hanya tempat tertentu saja?karena saya takutnya ternyata anak saya disleksia tapi karena pendapat dari psikologi seperti itu jadi menyesatkan saya. Terima kasih mba mila atas bantuannya.

    • Dear Ibu Vinca… seharusnya memang tes kemampuan anak di tempat yang punya kredibilitas. Saya hanya menyarankan di universitas yang memiliki fakultas psikologi, karena di sana lebih update dan lengkap. Soal kesulitan anak itu bukan masalah salah asuh semata, karena faktornya banyak. Bisa biologis (memang kemampuan kerja otak lemah di satu sisi tapi kuat di sisi lain), bisa juga psikis (sering dibentak sehingga takut berbicara). Yang lebih tahu soal ini ya psikolog. Anak saya juga sangat sensitif, mudah sedih bahkan melihat pengemis lewat sekalipun… dahulu ia juga suka bicara terbata-bata, tapi saya usahakan lebih sabar mendengar ia bercerita sambil saya tatap matanya… alhamdulillah, hari ini ia berani berbicara yang lebih terstruktur.

      Anak-anak disleksia itu juga punya masalah percaya diri yang kurang, dan kitalah yang harus ekstra-dorong mereka. Jika ada materi yang mereka tak kuasai, kita wajib dampingi sang anak (dan kita tak boleh memikirkan pekerjaan lain: masak, cuci, paper kantor, dll biar tuntas masalah sang anak). Kalau mereka sudah kuasai materinya, percaya diri mereka bisa lebih bagus lagi.

      Di kelas, bully itu kerap datang ke anak seperti anak kita itu, entah karena anak kita itu gagap atau terlambat membaca… tapi kita tak harus 24 jam di samping mereka. Kita persiapkan mereka.

      Sebagai ibu di era sekarang itu (supermom?) kita memang harus ekstra-sabar… ekstra-mendengar.

  93. Mbak Mila , terima kasih atas saran dan jawabannya. saya setuju sekali dgn saran mbak. ketika mereka menguasai materi, percaya diri mereka sangat bagus bahkan lebih PD dibanding anak lainya.tapi kalo mereka belum menguasai mereka stres dan akan menanggis.saya juga setuju mba kalo kita harus meninggalkan segala pekerjaan utk mendampingi mereka belajar.dan memang yah mba anak seperti mereka kalo bicara dgn ditatap matanya mereka keliatan sekali lebih nyaman dan bicaranya juga lebih rileks.semoga kita semua bisa menjadi supermom, dimana harus mengurus kerjaan rumah, kerjaan kantor dan membesarkan anak yang berguna dan hebat dimasa depan mereka dengan segala kekurangan mereka. semoga dgn diberikan ekstra kesabaran oleh Tuhan kita pasti bisa.

  94. Hi…
    Sepertinya sekolah menyediakan translator.

  95. Just info: di Jakarta sudah ada center dyslexia, satu2nya cemter di Asia tenggara yang menggunakan metode Irlen. Bertempat di cideng. Contact person Bu Vica +6208988060605

  96. mbak kapan ya ada seminar atau apa gitu ttg “disleksia”, barangkali mbak punya informasi ttg disleksia ,yg bisa saya dptkan d semarang. karena saya tinggal d desa, dan tentunya untuk kebaikan anak saya tercinta.

    • Bapak Tofik Agus Yth., mungkin Bapak bisa bermain ke Undip dan tanyakan langsung ke Fakultas Psikologi di sana. Bapak juga bisa google nomor teleponnya, karena lebih baik telepon dulu sebelum datang. Semoga info ini bermanfaat agar pertanyaan tentang anak Bapak segera terjawab. Terima kasih.

  97. Hi mama-mama yg diberkati memiliki anak dyslexia.. Saya sebagai seorang Ibu yg memiliki anak2 dyslexia beruntung memilki anak dyslexic, karena saya tidak menganggap anak saya mempunyai kesulitan belajar atau inability melainkan ability dalam belajar dgn cara yg lain. Semua ini saya pelajari melalu dyslexia center di Jakarta. Klinik yg melayani anak2 dyslexia di tangani oleh dokter2 singapura. Beralamat di cideng barat dalam no 7. Tlp: 3520688 atau ibu Vica 08988060605.

  98. Saya penyandang “disleksia” tidak mudah hidup dengan disleksia, usia saya 43 tahun, Saya baru tau istilah ini, karena selalu kesulitan kalau belajar sendiri. Saat SMP saya menemukan cara belajar, konsentrasi harus penuh saat guru mengajar di depan, saya merekam semua gerak mulut tangan dan semua yang terjadi di depan kelas ke dalam pikiran saya, jadinya wajah guru-guru itu masih ada dalam ingatan saya dan harus tau cara yang bisa melibatkan belajar yang aktif, Jujur sampai sekarang saya kesulitan dalam bahasa & menulis, sms yang saya tulis harus berulang-ulang saya baca sebelum saya kirim ulang, yang anehnya waktu kuliah saya memutuskan mengambil jurusan akuntansi, dalam belajar dan bekerja saya bener-bener harus ekstra mengalahkan keterbatasan yang ada. Ternyata keinginan yang kuat dan semangat yang ada tidak pernah membuat saya menyerah…

  99. hi….ibu-2 yang penuh semangat dan juga semuanya. Sama seperti pengalaman yang lainnya, saya punya anak sekarang usia 10 tahun mengalami hambatan belajar dalam membaca dan menulis, kami juga menyadarinya setelah anak saya usia 7 tahun saat masuk sekolah dasar, karena saya pikir anak saya hanya telat bicara saja . Namun setelah lancar berkomunikasi, begitu masuk usia sekolah terlihat lagi hambatannya, mulai saya lari kesana kemari dari sekolah Pantara, Sekolah Purba Andika, Sekolah Budi Waluyo, semuanya ditolak alias anak saya IQ dibawah rata-rata 100. sedihhh…………..yang sekolah khusus saja anak saya mengalami penolakan. Bagaimana disekolah reguler atau inklusi(?).
    Akhirnya terpaksa sekolahkan disekolah reguler yang kebetulan kami kenal kepala sekolahnya dan dia siap menerima….dan lagi-lagi rasa kecewa yang saya dapat karena teman-teman sekelasnya menganggap aneh>>mungkin tepatnya “stupid’……setiap hari dia cerita, ‘aku disekolah hanya disuruh menyalin saja…., kan cape Bu tiap hari nulissss terus’ (Karena anak saya menderita disleksia visual dan auditory. jadi dia lebih cepat memahami apabila dibantu dengan gambar dan suara, mangkanya dia pintar sekali menjelajahi komputer dan film, bahkan bisa bahasa inggris tanpa ada yang mengajari).

    Secara kebetulan saya bertemu teman lama yang anaknya autis, dan disekolahkan di sekolah khusus. Saya coba daftarkan disana…dan anak saya benar-benar nyaman…..Alhamdulillah……
    Namun hal ini tidak berlangsung lama, baru 2 tahun, sekolahnya mengalami masalah, dan akhirnya tutup….
    Kemana lagi kami cari sekolah, bayangan penolakan teringat kembali. Dan dilura dugaan semua murid disekolah tersebut juga merasa prihatin dengan kondisi ini….., karena memang hampir 90 % adalah dr keluarga tidak mampu…..tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya…………., akhirnya rumah tinggal saya yang kebetulan kosong dijadikan tempat kami beraktivitas….dan luar biasanya seluruh staf pengajar disekolah yang tutup ikut bergabung….jadi kami benar-benar ‘bedol desa’ termasuk seluruh murid dan staf pengajar….disulap lah rumah kami menjadi sekolah yang layak.
    Saya lanjutkan dengan proses legalitasnya termasuk izin operasional sekolah……Bersyukur Allah selalu melindungi kami….
    tetap semangat……Anak saya dan juga teman-2nya tetap Percaya Diri mereka bisa melanjutkan pendidikannya…walaupun dengan kondisi terbatas, dan dengan dedikasi para staf pengajar alhamdulillah anak-anak ada kemajuan…….

  100. Hi semuanya… saya mau sharing sedikit nih.. Keponakan saya memiliki dyslexia dan sedikit ADHD, nilainya tertinggal di sekolah terutama dalam pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sudah berkeliling tutoring sana sini, tidak ada perubahan yang signifikan. Ada teman yang merekomendasikan (orangtua dari SPH Lippo Village) untuk screening dan mengambil Irlen Method di Irlen Dyslexia Center Jakarta, setelah lewat 3 bulan, anaknya jd lebih tenang perilakunya, hasil2 ulangan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggrisnya pun meningkat :)
    Padahal, terapinya simple sekali. Datang untuk screening, dapat overlays, kemudian diagnostic dengan Dr. Doris Ang, dan pesan kacamata terapinya, dan dipakai sehari-hari. Simple sekali kan?
    Buat ibu2 yang perlu info lebih jelas, mereka ada websitenya http://www.irlendyslexiacenter.com atau telepon ke 021-3520688

    Indahnya berbagi :)

  101. mba anak saya sepertinya mempunyai gejala2 diseleksia , saya baru searching dan sangat sedih sekali karena terus terang sy msh awam mengenai diseleksia dan tidak tahu hrs mulai dr mana menanganinya. anak sy skrg umurnya 5,9 bln br msk SD kelas 1, sulit sekali menggabungkan huruf2 untuk dibaca menjadi satu suku kata (padahal dia sudah tau huruf2 alfabet) dan temen2nya yg lain rata2 sudah bisa membaca dr TK B. Sering bingung membedakan huruf B dan D, menulisnya suka kebalik2 hadap kiri kanannya baik angka maupun huruf. Awalnya saya kira karena kurang fokus saja akibat malas dan byk menonton TV, tp ternyata itu smua merupakan gejala diseleksia.
    Pdahal saya tau dia sangat pintar terutama pelajaran berhitung / matematika (angka) tp untuk menghitung secara visual (gambar) anehnya malah suka bingung.
    Saya mohon infonya bagaimana cara saya untuk membimbing anak saya tsb dalam belajar karena jujur sy sering tidak sabar thd ank sy tsb, dan cara meningkatkan kepercayaan dirinya?
    Adakah info mengenai tes diseleksia di Makassar & komunitasnya di Makassar? trims byk.

  102. Hallo mba mila,sy santi…waktu kecil sy jg dislexia bahkan sampai skrg msh sering salah membaca,dislexia yg bagi org yg tdk tau kt di anggap bodoh dan bahaya nya kdng2 si penderita menganggap hal itu benar dan mempengaruhi kepercayaan diri,sy tersentuh mendengar cerita seorang ibu yg anak nya berumur 11 thn dan masih SD kelas 1(selalu tinggal kelas) dan masiih kesulitan membaca,sy dpt merasakan kesedihan ibu itu,apalagi fasili5as sekolah anak tsb berada di desa yg minim sarana dan pengetahuan tentang dislexia jd yg ter”stempel” di teman2 dan guru nya anak ini bodoh,sy ingin membantu kira2 di mana terapi yg murah untuk daerah parung dan bogor,terimakasih

  103. salam kenal smuanya..kebetulan aq jg lagi nanganin kasus dislexia pada murid q d SMA..miris seh melihat dan mendengarnay,apalagi si anak mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar dan menghadapi masa depannya.perlahan tapi pasti aq berharap d bs menggapai cita2nya even dalam segala keterbatasannya…cman memang si anak jg termasuk ot nya belum mengetahui secara pasti sebenarnya apa yg terjadi pada dr si anak.yg ot dan gr2 tahu d sekolah anak tersebut belum bs bacalah,bodohlah…tp pelan2 sy cb beri pemahaman kpd teman2 mengajar…bahwa even d py keterbatasan bkn berarti d gk berusaha..terbukti d duduk di depan dan selalu mau menjawab pertanyaan2 guru.untungnya jg even ada beberapa temen2nya yg menjauhi setelah tau d krg lancr membaca…d gk ngedrop….mhn kalo ada info lg tentang disleksia tlg d share k sy…bs lwt fb funi eka or email fusibanyuaji@yahoo.com or my phone number 08568938754.trims before

  104. salam kenal mbak mila dan semuanyaa.. :)
    saya nemu blog mbak mila ini saat lagi nyari2 info tentang disleksia. sejak nonton film India yang ada tema disleksia nya, saya jadi tertarik dengan disleksia.. pas saya tau Albert Einstein, Tom cruise, Deddy Corbuzier juga mengalami disleksia, saya salut sama mereka.
    oy, gimana perkembangan Indra mbak? mudah-mudahan perkembangannya semakin baik ya mbak yaa.. :)

    yang pasti, disleksia itu bukan penyakit. itu hanya merupakan masalah yang bisa diminimalisir dengan upaya ekstra dari orang – orang terdekat yang menyadari mereka dalam kesulitan.

    semangat mbak mila. :)
    god bless you.. :)

    • Terima kasih… kamu belum tinggalkan KTP (namamu anggrekmk19 itu maksudnya 19 tahun ya? haha)
      Harapan awal blog ini memang untuk “jurnal Indra” tapi ternyata banyak yang akhirnya jadi “ngeh” kalau anaknya itu pintar cuma punya kesulitan. Indra akhirnya menyukai proyek-proyek sains di kursus GallileOne yang diasuh Prof. Yohannes Surya. Indra akhirnya mengenal ilmu pengetahuan yang non-teks semata…

  105. Ibu… saya sangat senang membaca tulisan anda. Berhubung saya juga sangat penesaran dengan DIslexia ini, boleh saya tau, sudah umur berapa anak anda sekarang? dan bgaimn dgn perkembangnnya hingga skrang

  106. I like it…:)

  107. Asslmkum ….
    Slu kenel bu …
    Saya seorg amatir yg ingin tau lbh bnyk lg ttg disleksia krna adik saya jg memiliki ciri2 anak disleksia …. Saya sedang mencari metode pembelajaran yg tepat untuk anak disleksia,
    Semoga kita bs slig membntu dan berbagi info y bu …

  108. mamanya indar y….wduuu Ibu….. apa kabar ?
    Indra juga apa kbr, pasti udh besar y dia, jadi ingat zaman TK di TK MINI Pak Kasur…
    masih Ingat Zahir Tentunya ( teman Indra TK ), zahir yg wkt TK di Juluki Anak Tanpa Expresi ad yg bilang patung hidup…xixixi,
    sjak masuk SD zahir brubah total bisa bergaul dgn tema2,dan org lain, selain di linkungan rumahnya, bahkan zahir alhamdullilah jadi sang juara 1 terus.
    salam buat indara dari Ali Zahir y bu.

  109. Ass. Senang membaca tulisan ini. Saya sedang melakukan riset kecil tentang Disleksia. Jika sahabat dan teman-teman berkenan membantu, punya Jurnal, Artikel atau hasil penelitian tentang disleksia sudilah dikirim via email : hsofyana@yahoo.co.id terutama jika ada modul, metode atau panduan perawatan anak disleksia di Rumah. Terima kasih.

  110. Dear Mbak Mila,

    Saya adalah seorang pendidik dan pemerhati anak-anak dyslexia. Setahun terakhir saya berusaha mendalami ilmu tentang dyslexia dan cara penanganannya. hampir setahun saya mengajar private seorang murid dyslexia di daerah Gading Serpong dan sedang meneliti murid2 yang saya ajar di sebuah sekolah swasta di daerah Bumi Serpong Damai dan saya sudah menemukan 3 kasus untuk anak-anak usia 7 – 8 tahun. Saya berencana meneliti sekolah negeri tempat anak saya bersekolah bila penelitian saya yang ini sudah selesai.

    sudah sejak lama saya mencari blog atau perkumpulan dyslexia di Indonesia, aduh….sulitnya ga ketulungan. setelah browsing, browsing dan browsing akhirnya menemukan blog ini setelah setahun mencari. Betapa senangnya hati saya. Saya hampir putus asa, dengan pengalaman dan sedikit ilmu yang saya miliki ini, saya tidak tahu harus berdiskusi dengan siapa karena banyak orang yang saya temui hanya manggut2 bila saya ceritakan tentang dyslexia atau malah blank sama sekali….hahahaha…

    Di Indonesia kita bukan hanya harus memikirkan bagaimana cara menjembatani kesulitan anak2 ini dengan guru kelas masing2 tetapi kita juga harus fight ke tingkat yang lebih atas…contoh lulus sd, smpnya mau dimana, lulus smp, smanya mau dimana, kemudian lulus kuliah pekerjaan seperti apa yang cocok untuk mereka plus ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan sekolah2 tersebut agar anak2 dyslexic tetap dapat belajar di sekolah umum namum mendapatkan tata cara pengajaran yang sedikit berbeda…saya dan seorang orang tua murid sedang memperjuangkan agar sekolah tempat saya mengajar dapat memberikan perlakuan khusus terhadap anak2 dyslexic bukan karena mereka bodoh tetapi memang mereka memiliki cara yang berbeda untuk belajar dari anak normal lainnya. doakan semoga berhasil.

    Kalau boleh saya sarankan bagi orang tua yang merasa anaknya dyslexic, sebaiknya bawa anak anda untuk tes dyslexic untuk mengetahui tingkat dyslexia anak2 anda, apakah mild, medium atau severe. setelah mengetahui hal ini akan mudah bagi anda semua untuk menentukan langkah selanjutnya dan perlu juga anda perhatikan bahwa dyslexia dapat juga dibarengi dengan kebutuhan khusus lainnya seperti autis atau ADHD. tapi janganlah anda semua berkecil hati pasti ada jalan untuk membantu anak2 ini selama kita semua mau berusaha.

    saya baca beberapa posting di atas tentang http://www.irlendyslexiacenter.com di cideng barat. coba anak2 anda dibawa kesana untuk di test dan tentang mbak di daerah Parung Bogor yang katanya ada anak umur 11 tahun belum bisa membaca….kalau kita bisa ketemu bagus saya tinggal di Serpong Muncul Tangerang Selatan.

    Nama : Rachma, No. Hp. 0817 166558. Terima kasih.

  111. Saya ingin bertanya, kalau seseorang di suruh menulis langkah langkah malah menjadi langa lanah itu disleksia? Mungkin gak itu karena harus cepat cepat menulis jadi menulis begitu? Tolong di jawab, terimakasih banyak

    • Menulis tangan atau dengan keyboard? kalau tulis tangan mungkin saja ada kemungkinan banyak yang ingin kamu tuliskan, tapi kemampuan menulisnya terbatas… kalau pakai keyboard lebih cepat, tapi kemampuan 10 jari kamu belum maksimal.
      Yah, ini masih kira-kira ya… karena tes disleksia-disgrafia-diskalkulia itu tak cuma sepotong-sepotong. Harus lewat pakarnya, dan saya bukan pakarnya.
      Silakan cek ke Psikologi UI atau kampus terdekat… semoga membantu!

  112. http://www.dyslexiasingapore.com/contact-us.html

  113. Dear mbak Mila yang baik,
    Anak saya berumur 4,5 tahun. Sedang mulai latihan mengenal huruf, dia adalah anak yang sangat pintar, ia mudah belajar dan bila saya saya menceritakan sesuatu ia akan mengingatnya dengan sangat baik, tetapi hal yang membuat saya agak curiga adalah disaat saya mulai mengenalkannya pada angka. Anak saya sulit sekali membedakan angka 1 dan 7, 6, 8, dan 9. sampai saya harus mencari angka 1 yang berupa garis saja baru dia mengerti. sembilan dan enam juga merupakan angka yang susah untuk dia. sepertinya ia mengalami kebingungan. Apakah anak saya mengalami disleksia? sejauh artikel yang saya baca, anak disleksia juga suka mengeluhkan pusing di dahinya, begitupun anak saya apalagi kalau sudah jam belajarnya. Sewaktu kecil dia suka sekali menggunakan tangan kirinya namun sekarang sudah menggunakan tangn kanan walaupun kadang tangan kirinya aktif juga. Apakah ada test disleksia untuk anak berumur 4,5 tahun? Saya hanya ingin memastikan karena saya merasa bila diketahui sedini mungkin maka penanganan sedini mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik. Terima kasih

    • Bu Hana, anak balita (bawah lima tahun) masih akan berkembang, jadi tak perlu terlalu khawatir. Kalau mau dites juga boleh, ada istilahnya “intervensi dini” di Pantara dan beberapa fakultas psikologi di kota besar. Intervensi dini ini hanya melihat gejala, ibaratnya kalau mau flu itu bersin-bersin… tapi jika makan sehat, antibodi kita baik, penyakitnya gak jadi masuk. Jangan khawatir, anak sekarang memang anak yang mengikuti jamannya. Tinggal hari ini Ibu mau ikuti langkah anak, atau sebaliknya….

  114. Anak saya juga menderita disleksia, sempat dikeluarkan dari sekolah karena gurunya tidak sabar mengajari dia. Adakah komunitas ortu yg anaknya mengalami disleksia? Mungkin bisa saya ajak sharing. Bisa hubungi saya di email : mamayangbahagia@yahoo.com

  115. Anak saya laki laki umur 6 tahun 5 bulan sekarang baru masuk sekolah dasar swasta di malang ( 1 guru 18 murid). juga mengalami kesulitan membaca.ingatannya tentang huruf huruf kurang begitu baik. saya pengin coba untuk test dislexia dan mencari dokter atau psikolog yang bisa membantu.mohon bantuan ya mbak, di jakarta atau kota kota lain juga boleh.salam

    • Ibu Likhita Yth.
      Silakan cek ke Kampus UI Salemba. Di sana ada Lembaga Psikologi Terapan. Saya telah posting alamat dan teleponnya di komentar di atas. Semoga ananda bisa segera ditemui kendalanya…

    • http://www.irlendyslexiacenter.com.
      Klinik di Jakarta, ada online tesnya juga, agar tahu apakah anaknya perlu disleksia tes atau tdk.
      Semoga membantu.

      Powered by Telkomsel BlackBerry®

    • http://www.irlendyslexiacenter.com
      Kliniknya ada di Jakarta, ada online tesnya juga agar dpt mengetahui perlu tidaknya mengunjungi klinik disleksia untk melakukan tes disleksia atau tdk.
      Semoga membantu.

  116. hallo mba….saya kartini blog mba bagus dan membuka pikiran saya karna anak saya disleksia mba skrg usianya 8 thn dan sdh skolah di sd umum namun inklusif, saya bingung mba metoda apa yg harus sy terapkan dlm belajar sehari-hari di rumah untuk anak disleksia ini mba…..tolong bantu saya mba

    • Ibu Kartini Yth.
      Ibu pasti mengenali anak Ibu, dan saya tak bisa banyak membantu dari jauh. Saya hanya punya tips untuk memudahkan:
      1) Anak disleksik itu mudah “pecah fokus” sehingga tak mampu konsentrasi atas pelajaran. Tips: anak harus tenang, mungkin selesai mandi masih segar, Ibu ajak belajar di ruangan tertutup dan sejuk, karena suasana tenang dan senang itu membuat anak setidaknya mampu menyerap pengetahuan.
      2) Jadikan kegiatan belajar ini reguler, karena dengan penjadwalan tetap, anak akan terbiasa belajar.
      3) Ibu harus tahu mata pelajaran apa yang paling anak sukai. Selalu mulai dengan pelajaran yang ia sukai dulu di awal, bahkan hanya 10 menit. Setelah itu berpindah ke pelajaran yang mungkin anak rasakan sulit. Ingat, mereka suka “tidak fokus” jadi harus diarahkan terus.
      4) Yang paling penting, Ibu Kartini tak boleh emosional saat mengajarkan anak apapun mata pelajarannya.
      5) Jangan belajar terlalu lama ya… yang penting periodik/reguler.

      Good luck!

  117. Oke mama dila…..thanks ya. Mdh2an gavin bsa lebih baik

  118. selamat malam mba mila.

    salam kenal. saya Derry usia 35 tahun. setelah membaca artikel ttg disleksia dan website mba mila ini saya serta perjalanan hidup saya..sepertinya saya seorang disleksia…hehehe

    yg yang paling saya rasakan saat ini adalah sy cepat lupa dan kemampuan berbahasa kacau sekali baik lisan maupun tulisan baik inggris maupun indonesia. jika berkenan sy ingin diskusi lebih lanjut ttg disleksia ini lewat email. email sy dwanta@gmail.com.

    terima kasih atas waktu dan tanggapannya

  119. Salam kenal, saya Nien usia 49 tahun. anak ketiga saya sepertinya mengalami Disleksia. saat ini anak saya sudah duduk di kelas 1 SMP. Dia baru bisa membaca pada saat kelas 5 SD , Untuk kemampuan menyerap pelajaran mengalami hambatan. Selama ini saya berusaha untuk tidak menekan anak pada teori-teori pelajaran sekolah tapi saya motivasi untuk memaksimalkan hobi anak. Kebetulan anak saya suka bersepeda,bahkan sejak kelas 3 SD dia sudah bisa memperbaiki dan momodifikasi sepedanya serta menyalurkan kesenangan dia pada bidang fotografi dan computer. Alhamdulillah sejak SD hingga di SMP tempat anak saya menimba ilmu tidak seperrti sekolah pada umumnya yang hanya terpancang pada nilai bagus untuk naik kelas, tetapi memiliki prinsip bahwa setiap anak itu pandai, namun kepandaian yang dimiliki berbeda. Dengan landasan tersebut anak-anak diarahkan untuk memaksimalkan potensi yang ada. Yang membuat saya khawatir, belum semua sekolah memiliki prinsip seperti itu , saya khawatir karena disekolah anak saya belum memiliki jenjang pendidikan SLTA. Bagaimana caranya membimbing dan memaksimalkan kemampuan menyerap pelajaran untuk anak disleksia. mohon saran.

    • Salam kenal Ibu Setyaningsih,

      Disclaimer: saya bukan pakar ya Bu. Saya cuma berpikir, untuk usia SMA itu (kata Kak Seto) sudah cukup matang untuk HOMESCHOOLING. Bisa dicoba, Bu. Banyak materi cetak ataupun online, dan ada komunitasnya juga (online atau suka ketemuan di darat “copy darat” untuk sharing). Dengan internet, belajar sekarang sesungguhnya lebih menyenangkan! Good luck…

  120. salam kenal mbk,klo boleh tahu dmn kita bisa melakukam test disleksia.
    karna jujur saya merasa mengalami disleksia walau umur saya sudah 20thn. saya sangat berharap memiliki bnyak pengetahuan ttg disleksia. baik itu penyebab dan obatnya. terima kasih.

    • Hubungi Pantara ya… atau ke Lembaga Psikologi Terapan di Kampus UI Salemba.
      PANTARA
      Jl. Tebet Barat Dalam VI No.39-41, persis di belakang SMA Dewi Sartika, masuk dari McDonalds Jl Soepomo menuju ke Gelael/KFC di Jl MT Haryono. Telp 837 00 683 atau 837 96 990. SD Pantara satu gedung dengan STIE Widya Jayakarta.
      LPT UI SALEMBA
      021 – 314 5078 or email us at info@lptui.com. Copyright © 2013. Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

  121. Salam kenal, anak saya penderita disleksi umur 8 thn, sy tinggal di Semarang, mohon informasi sekolah khusus anak disleksia di semarang

    • Maaf, saya tidak mengetahui sekolah khusus di Semarang. Tapi Anda bisa bertanya/berkunjung ke Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro – Semarang Telp. (024) 7460051 Fax. (024) 76480688 email : psikologi@undip.ac.id. Disleksia itu salah satu yang dikaji di kampus-kampus psikologi. Semoga informasi ini membantu.

  122. Anak saya DS.. saya baca blog ini jd sedih… saya single mother sehingga saya harus kerja (kurang waktu untuk memberi perhatian dalam belajar.. Kalo bisa, saya minta email dong mba, supaya bisa lebih mengerti bagaimana saya harus membanty anak saya. Terima kasih sudah membuat blog ini.

    • mila.h.day at gmail dotcom… please, anything that I can help :-)))

  123. trima kasih jeng atas blog nya…
    bner” ngebantu bgt bt khaza..
    tdinya khaza smpat putus asa tux ngajarin anak yg dah mulai nginjakin usia 10taon tpi blm bza membaca bhkn bedain antara huruf “b” dgn “d” aza dy g bza…
    tpi brkat artikel di blog ini khaza seakn da semangat lgi tux ngajarin anak dgn sabar lgi…
    tpi klo bleh ngasih info ke khaza jeng sklh yg cocok tux anak khaza dimana y..??
    kbtln khaza tnggal dipurwokerto jawa tengah…
    tengkyuu bt infonya….

    • Di Purwokerto Jalan Bank itu ada tempat les Gallileone. Anak Ibu bisa belajar membaca jika menangkap visualisasinya, karena di Gallileone itu diajarkan sains dengan praktek, bukan teori saja. Apalagi kelasnya kecil, jadi anak Ibu bisa lebih fokus belajar.
      sehingga anak Ibu tidak

      • trima kasih bt informasinya…
        tpi trbca dsni trputus stlh kata…
        “sehingga anak ibu tidak….””
        apakah emnk ckup sgtu infonya jeng mila…??
        maaf klo rda criwis…

      • Haha, iya, kemarin koneksi internetnya buruk… maaf, keputus! Iya, maksudnya, sehingga anak Ibu tak perlu cari sekolah jauh-jauh. Cukup dilengkapi saja dengan tutor yang baik.

  124. Salam kenal mba.. saat ini usia saya 28 tahun dan saya baru sadar setelah mendengar cerita teman dan membaca informasi di blog ini sepertinya saya mengalami disleksia. beberapa gejala disleksia saya rasakan. seperti lama untuk menentukan kiri atau kanan, kesulitan dalam memahami bahasa, sulit untuk mengingat angka dan sulit untuk berbicara dengan baik dan teratur.

    saya mau bertanya apakah disleksia bisa diobati? cara penangannya seperti apa?. saya mendengar disleksia bisa diturunkan. saya khawatir anak sy nnti mengalami hal yang sama dg saya.

    terimakasih atas tanggapannya.

    • Dear Mbak Aziza Indah. Disleksia bukan penyakit. Melihatnya gini deh, manusia itu kompleks, dan mengurai kompleksitas itu adalah mengenali diri, segala kekurangan dan kelebihan. Untuk melihat apa saja kekurangannya, ada tes khusus yg diselenggarakan di Fakultas Psikologi di kampus saya, atau universitas apapun yang ada ilmu psikologinya. Konon ada kaitannya secara genetis, tapi ada yg bantah. Masih perdebatan. Mari kita lihat persamaannya saja: ada terapi untuk menambal kekurangan kita. Bukan obat, hanya cara mengenali diri dan bagaimana menuntaskannya. Hubungi saja kampus terdekat yg memiliki fakultas psikologi tersebut. Tabik!

  125. Hi mommy/daddy

    Salam kenal..
    Just share info ya
    saya kenal satu sekolah dimana ada psikolog khusus bagian anak dan dileksia.. Cambridge Semarang School, selain sekolah, mereka mempunyai fasilitas untuk konsultasi dan terapi…
    coba dicek ya

    ini link yg saya temukan di website beserta alamatnya

    https://plus.google.com/113621696830863620380/about?gl=sg&hl=en

    https://www.facebook.com/sekolah.cambridgesemarang?fref=ts

    ‪#‎share‬ ‪#‎helping‬ ‪#‎education‬ ‪#‎internationalschool‬ ‪#‎cambridgeschoolsemarang‬ ‪#‎Semarang‬ ‪#‎pendidikananakdiusiadini‬ ‪#‎helpeachother‬ ‪#‎info‬

    semoga bisa membantu :)

  126. Salam kenal, saya dari malaysia. Saya juga ada anak dyslexia. Add saya di fb zarinazahra. Boleh berkongsi pengalaman. Terima kasih.

  127. Terimakasih…saya merasa senang bahwa sy tdk sendirian menjadi ibu yg membesarkan anak dengan disleksia.

  128. halo mba…
    saya ingin bertanya seputar disleksia, tapi bingung harus bertanya d mana, akhirnya nemu blog ini dan mmutuskan untuk brtanya d sini.
    umur saya 17 tahun dn sekaran sedang kuliah jurusan desain produk semester 1. di jurusan ini saya d tuntut untuk membuat gambar yg terstruktur tanpa menggunakan penggris, dan sini saya kesulitan membuat garis lurus dan sejajar tanpa penggaris (pakai penggaris saja kadang tidak sejajar dan lurus).
    saya penasaran dan mencari d google, dan sayapun menemukan bhwa susah membuat garis lurus adalah salah satu ciri” disleksia. setelah saya baca kembali trnyata ada bbrapa ciri disleksia yg cocok dngn saya. sprti..ktika masih kecil sya sring trtukar antara huruf d dan b, m dan n. lalu sulit membedakan kanan dan kiri (sampai sekarang malah), ingatan jangka pendek yg buruk, sering tertukar kata ketika brbicara seperti boneka lucu jadi lucu boneka, kesulitan memahami instruksi, dani kesulitan memahami segala sesuatu yg sistematis.
    pertanyaannya apa bnar sya disleksia?
    saat masih bayi saya pernah jatuh dan kepala saya trbntur, karna itu sya menderita meningitis, apakah ini bsa.mnjadi salah satu pnyebabnya?
    dan apakah dengan sya yg bukan anak anak lagi msh bsa disleksia?
    bagaimana mengatasinya?

    • Dear Novi, kalau soal kamu disleksia atau tidak, harus dites. Silakan datang saja ke Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia di Kampus Salemba. Kalau soal mengatasinya, ya kamu sudah sejauh ini mengatasinya, you shall always be fine. Nah, kalau mau “better” ya silakan tanyakan ke psikolog di UI. Semua bisa diterapi kok… good luck!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.