DISLEKSIA TAK BERARTI BODOH

Anak yang terganggu kemampuan baca atau tulisnya, biasa disebut kelainan disleksia, ternyata tidak berarti terbelakang atau bodoh. Penanganan dini dibarengi ketekunan serta motivasi yang kuat akan mengatasi kelainan itu.

Bakal calon presiden AS, George W. Bush dari Partai Republik, belum lama ini diberitakan sebagai penderita disleksia. Pasalnya, banyak kata yang diucapkan Bush selama masa kampanyenya salah. Misalnya, ia ingin menyatakan AS sebagai negara peacemaker (pencipta perdamaian), namun mengucapkan “pacemaker” (alat pacu jantung), yang tentu sangat berbeda artinya. Tariffs and barriers (bea dan cukai), diucapkan “terriers” (jenis anjing terier) untuk kata barriers.

Ada beberapa kata lagi yang ia ucapkan secara salah. Kabarnya, pengungkapan kata-kata maupun kalimat salah tadi dilakukan secara konsisten, yang notabene bisa menandakan ia menderita disleksia.

Pernyataan yang dipublikasikan sebuah majalah Amerika itu tentu bisa mengurangi nilai pencalonan Bush sebagai presiden. Maka tim kampanyenya terus berusaha menepis tuduhan itu.

Gajah jadi “jagah”

Kata disleksia diambil dari bahasa Yunani, dys yang berarti “sulit dalam …” dan lex (berasal dari legein, yang artinya berbicara). Jadi, menderita disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis.

Namun, sepanjang seseorang hanya mengalami disleksia murni saja, menurut dr. W. Roan, psikiater, pada umumnya ia hanya mengalami suatu gangguan perkembangan spesifik pada tahap usia tertentu. Pada saat pertumbuhan otak dan sel otaknya sudah sempurna, ia akan dapat mengatasinya. Namun selama mendapat gangguan ia memerlukan pelatihan khusus untuk mengejar ketertinggalannya.

Disleksia bukan aleksia. Yang disebut belakangan ini merupakan gangguan kemampuan membaca atau mengenali huruf serta simbol huruf akibat kerusakan, infeksi, atau kecelakaan yang mengenai otak atau selaput otak sehingga otak kiri korteks oksipital (bagian belakang) terganggu. Padahal bagian otak ini berfungsi mengenali semua persepsi lihat. Karena terjadi gangguan sambungan otak kiri dan kanan, pemulihan aleksia menjadi jauh lebih sulit.

Bentuk klinis disleksia bisa macam-macam. Pertama, sulit menyebutkan nama benda (anomi) amat sederhana sekalipun seperti pensil, sendok, arloji, dll. Padahal penderita mengenal betul benda itu. Gangguan bisa juga dalam kemampuan menuliskan huruf, misalnya b ditulis atau dibaca d, p ditulis atau dibaca q atau sebaliknya.

Bisa juga salah dalam mengeja atau membaca rangkaian huruf tertentu, seperti “left” dibaca atau ditulis “felt”, “band” dibaca atau ditulis “brand”, “itu” ditulis atau dibaca “uti”, “gajah” dibaca atau ditulis “jagah”.

Yang menarik, disleksia ternyata tidak hanya menyangkut kemampuan baca dan tulis, melainkan bisa juga berupa gangguan dalam mendengarkan atau mengikuti petunjuk, bisa pula dalam kemampuan bahasa ekspresif atau reseptif, kemampuan membaca rentetan angka, kemampuan mengingat, kemampuan dalam mempelajari matematika atau berhitung, kemampuan bernyanyi, memahami irama musik, dll.

Repotnya, gangguan disleksia adakalanya diikuti dengan gangguan penyerta lain seperti mengompol sampai usia empat tahun ke atas, nakal dan suka mengganggu teman serta mengganggu di kelas.

Tuduhan terhadap Bush tadi mungkin berkenaan dengan gangguan ketidakmampuan mengungkapkan bahasa ekspresif. Namun, penderita disleksia terbanyak adalah dalam belajar membaca dan menulis.

Seringkali kurang disadari bahwa fungsi pengenalan membaca, huruf, dan bahasa merupakan kesatuan yang melibatkan begitu banyak bagian di otak kita, yakni daya perhatian, daya persepsi pancaindera khususnya indera lihat, dengar, raba, perspektif, daya motorik atau gerak sebagai manifestasi menulis ucapan dan bahasa. Sebab itu bila ada gangguan disleksia, menurut dr. Roan, kita tidak bisa hanya menyalahkan satu bagian kecil otak, karena hal itu merupakan koordinasi dari banyak hal terkait.

Menurut para ahli AS, gangguan emosional ditambah cacat kecil visual para penderita menyebabkan mereka gagal “melatih” otaknya tentang apa yang disampaikan. Adakalanya mereka mampu mengeja huruf-hurufnya tapi sulit membaca rangkaiannya. Entah apa alasannya, tapi sekitar 90% penderitanya adalah kaum pria.

Tidak seperti penyandang cacat mental, intelegensi anak disleksia umumnya normal, bahkan acap kali di atas rata-rata. Walaupun sulit membaca kata-kata, biasanya mereka tidak menjumpai kesulitan dalam membaca angka atau not balok musik, kecuali kalau mereka menderita disleksia angka. Jadi, jangan menganggap anak disleksia anak terbelakang atau bodoh.

Pria dan menurun

Banyak orang terkenal seperti Sir Winston Churchill (1874 – 1965), mantan perdana menteri Inggris, Sir Isaac Newton (1642 – 1727), ahli fisika yang menemukan gaya tarik Bumi, Albert Einstein (1879-1955), ahli fisika lain yang menemukan beberapa teori penting tentang kosmos, dianggap anak bodoh sewaktu mereka kecil karena kurang berprestasi. Namun, di kemudian hari malah dielu-elukan dunia karena prestasinya.

Prof. John Stein dari Universitas Oxford dan Prof. Tony Monaco dari sebuah pusat penelitian tentang gen manusia, telah menemukan tiga gen sama yang berhubungan dengan disleksia dalam sampel darah para penderita. “Penemuan ini membuktikan bahwa disleksia memang karena faktor keturunan atau bawaan,” kata Prof Stein.

Penelitian dilakukan dengan mempelajari sampel DNA (deoxyribonucleic acid atau sel inti) yang terdiri atas materi genetik berupa darah dari 90 keluarga.

Anak dengan kelainan disleksia, menurut penelitian, dilahirkan dari keluarga dengan kesulitan kronis dalam membaca atau mengeja, sekalipun intelegensi mereka cukup tinggi. Selain itu para peneliti menemukan bahwa susunan kromosom kaum disleksia berhubungan erat dengan sistem kontrol imunitas. Ini menunjukkan, para penderitanya rentan terhadap serangan dari antibodi.

Begitu seorang anak ditemukan mempunyai kelainan disleksia, berikan terapi sedini mungkin. Latihan remedial teaching (terapi mengulang) dengan penuh kesabaran dan ketekunan biasanya akan membantu si anak mengatasi kesulitannya. Memberikan motivasi seperti pujian atau hadiah kecil setiap kali ia berhasil mengatasinya akan sangat membantu.

Untuk mereka yang memiliki gangguan penyerta, bisa ditambah dengan terapi perilaku. Atau, tambahan terapi wicara bagi mereka yang disertai kesulitan wicara. (Nanny Selamihardja)

FALUDY, ANAK DISLEKSIA GENIUS

Alexander Faludy, baru berusia 14 tahun tapi sudah berhasil masuk ke Cambridge University, sebuah universitas kebanggaan orang Inggris. Keberhasilannya ini mungkin tidak dianggap luar biasa kalau saja ia seorang anak normal.

Alexander seorang peyandang disklesia berat, karena kemampuan menulisnya sangat terbatas dan tulisannya seperti cakar ayam. Dalam satu menit paling-paling ia hanya bisa menulis dua kata dan hanya dia sendiri yang mampu membacanya. Tapi daya ingatnya luar biasa. Ia mampu mengungkapkan di luar kepala artikel-artikel teologi atau sejarah kebudayaan serta kesenian.

Kesuksesannya ini bukan berkat talentanya yang luar biasa saja, tapi juga berkat jasa orang tuanya yang terus berjuang agar kemampuan yang menonjol tadi terus dipupuk.

Orang tuanya, Andrew Faludy dan istrinya, Tanya, keduanya guru bahasa Inggris di Hampshire, berjuang agar putranya diizinkan meninggalkan pelajaran yang kurang dikuasai seperti matematika dan science ketika usianya mencapai 11 tahun, agar ia lebih berkonsentrasi pada pelajaran yang menonjol saja.

Mereka menyadari Alexander anak “ajaib” setelah anak mereka, ketika itu berusia tiga tahun, mendengarkan cerita Thomas the Tank Engine melalui kaset. Ternyata, ia dapat mengingat kembali secara utuh kata demi kata. Demikian juga dengan cerita-cerita lain.

“Pada usia lima tahun, kemampuannya semakin menakjubkan. Sesuatu di luar kemampuan orang normal ada di kepalanya,” kata ibunya. “Mungkin otak disleksianya diisi dengan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain,” tambahnya.

Semula memang ia tersisih di sekolahnya karena kurang terampil ditambah ketidakmampuannya menulis. Namun, pada usia sembilan tahun ia menjadi orang termuda yang berhasil lulus bahasa Inggris dengan nilai rata-rata B dalam ujian akhir SMU untuk O Level.

Pada usia 11 tahun ia mengikuti ujian SMU lagi, kali ini A Level, yaitu jenis ujian tingkat SMU yang lebih tinggi ketimbang O Level, sebagai persyaratan untuk masuk universitas. Ia lulus dengan nilai B untuk pelajaran sastra, yang berisi analisis tentang Shakespeare, Milton, dan karya penyair metafisika dalam bentuk kaset rekaman. Tetapi, ketika ia sering dikucilkan teman-teman sekelasnya yang lebih besar, orang tuanya menarik dia dari sekolahnya dan mengikuti kuliah di Universitas Terbuka jurusan sastra yang bisa dipelajari di rumah.

“Kemampuan matematika saya memang di bawah normal karena saya demikian benci pada pelajaran itu. Rasanya, tidak ada gunanya untuk mempelajarinya lagi,” demikian alasan Alexander.

“Tulisan saya juga benar-benar tak terbaca tetapi apa yang masuk ke otak saya langsung dapat saya sampaikan lewat kaset rekaman. Dengan demikian saya dapat menguasai pelajaran yang tidak mampu saya lakukan di atas kertas.”

Orang tuanya berkeliling Inggris untuk mencarikan tempat yang mau menerima putranya. Akhirnya, ia diterima di Milton Abbey, sebuah asrama kecil khusus pria di Dorset. Di situ ia dibimbing oleh bapak asrama Andrew Day dan istrinya Yvette.

Dalam tiga tahun Alexander berkembang tidak hanya dalam dunia akademisnya tetapi juga pendidikan sosialnya. Pikir orang tuanya, sudah saatnya ia bisa masuk ke Universitas Cambridge.

“Sebelumnya kami pikir sebaiknya ia tumbuh dalam lingkungan yang sesuai usianya karena usia 11 tahun masih terlalu muda untuk masuk universitas,” kata Ny. Faludy.

“Kini pribadinya sudah siap untuk menghadapi perdebatan-perdebatan dalam kehidupan akademis yang tidak diperoleh dalam kuliah korespondennya.”

Martin Golding, seorang tutornya mengatakan, “Kami mengetes dia dengan teliti agar ia dapat diperjuangkan untuk masuk universitas itu karena kami yakin, ia sangat berbakat.”

Dengan tinggi 182 cm, Alexander kini tampak begitu canggung saat mengenakan stelan pantalon hijau dari bahan corduroy, dilengkapi vest dan dasi. Namun, dibandingkan saat ia masuk ke asrama di bawah asuhan Andrew dan Yvette tadi, kini ia sudah tampak lebih dewasa.

Kini Alexander menghabiskan sebagian besar waktunya di Milton Abbey dengan mendengarkan “buku audio”-nya dan mencoba mengikuti beberapa pelajaran terutama teologi dan sastra.

“Banyak orang dengan berbagai macam minat ilmu datang menemui Alexander untuk mendisukusikan apa saja: politik, sastra, sejarah, dll.,” kata Ny. Day. “Benar-benar menakjubkan melihat seorang anak berusia 14 tahun sudah mencapai tingkat intelegensi yang lebih tinggi walaupun ia penyandang disleksia. (TST/Nn)

 

http://www.indomedia.com/intisari/2001/Mrt/disleksia.htm

About these ads

2 Komentar

  1. tolong berikan contoh sederhana cara penanganannya, karena saya mempunyai murid yg seperti itu????? saya mohon dengan sangat

  2. mohon maaf Ibu Marliyah Ulfa, saya mungkin tak bisa banyak membantu. Ada satu buku tentang penanganan anak ADHD attention deficit hiperactivity disorder. Mirip, tapi mungkin agak berbeda sedikit. Yang pasti, Bu, sabar. Diagnosis dulu untuk kepastian, dan ada banyak situs yang memberikan tips perihal ini. JIka ada kesulitan mencari artikel ataupun menerjemahkannya, saya mungkin bisa bantu satu dua paragraf.

    Salam!
    Mila

    Link:

    http://klinis.wordpress.com/2007/08/30/penerapan-terapi-%E2%80%9Cback-in-control-bic%E2%80%9D-pada-anak-adhd-attention-deficits-hiperactivity-disorder/


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.