Membangun Percaya Diri Sang Anak: Keluar Dari Awan Disleksia Secara Meyakinkan

Saya meyakini di setiap sekolah setiap saat sepanjang tahun ada saja satu dua anak yang menderita disleksia. Sang anak kerap mengalami hambatan di kelas. Segala bentuk menulis atau menghitung seakan hadir seperti monster. “Mengapa aku tidak bisa membaca dan mengeja?” hingga pernyataan sang kepala sekolah di sekolah Indra sebelumnya. Dengan dinginia mengomentari kejadian saat Indra berlari ke lapangan di hari hujan, “Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak bodoh.” Ah, mungkin yang ia maksud dunia pendidikan di Timbuktu, saya tak ambil pusing.

Saya kemudian mencoba mencari tahu keunikan Indra sampai ke akar permasalahan, jauh di bawah permukaan yang dilihat sang kepala sekolah itu. Yang patut dipahami dari Indra adalah kemampuannya dalam bidang koordinasi fisik, kreativitas,  empati dengan orang lain. Kekuatannya mungkin ada di beberapa daerah tersebut. Indra mudah menari jika mendengar musik menghentak (koordinasi fisik). Ia mampu menggambar sejam penuh atas apapun yang menjadi minatnya hari itu (kreativitas). Ia pun mudah jatuh iba akan hal kecil, seperti melihat pengemis kecil di jalan, atau bahkan melihat saya termenung kelelahan di satu sore (empati).

Saya telah mencoba metode pengajaran bahasa semasa kuliah dulu (linguistik) dengan kesadaran fonem. Saya pun mencoba mendapatkan buku-buku menarik dan permainan kata, sebagai fondasi dasar bagi Indra. Saya pun mencoba menyakinkan ia tiap malam dengan mengatakan kepadanya bahwa semua yang ia kerjakan itu baik, bahwa ia adalah anak cerdas. Setiap malam. Walau saya telah mengatakan padanya bahwa selama bertahun-tahun, ia perlu bukti.

Di satu saat, saya pernah melakukan latihan berikut ini, yang bisa memiliki efek pada Indra. Bisa dilakukan sendirian ataupun bersama sang anak . Ambil selembar kertas dan membuat dua kolom: dalam satu kolom menambahkan ‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ dan pada yang lain ‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’

Tulislah daftar ini selama sekitar lima atau sepuluh menit, lalu diskusikan bersama anak Anda. Kajilah dari sudut pandang objektif.  Daftarnya akan terlihat seperti ini, tentu saja tergantung pada minat setiap anak:

‘Hal yang Paling Pandai Saya Lakukan’ (GOOD AT)
o berenang
o menyelam
o bola basket
o merawat kelinci saya
o menggambar
o membuat lukisan
o mengumpulkan perangko
o bermain dengan anak-anak lain
o membersihkan meja
o membuat orang tertawa
o softball
o bersikap ramah kepada kakek
o mengetahui tentang ruang dan planet-planet
o dll

‘Hal-hal yang Tak Terlalu Pandai saat Saya Lakukan’ (NOT GOOD AT)
o ejaan
o membaca
o menulis
o matematika

Saya menaatap wajah Indra untuk memastikan ke dia bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan daripada hal-hal yang ia anggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Dia jelas-jelas orang yang bakal sukses dengan segala kemampuannya.

Tapi di matanya seakan muncul pertanyaan: apakah kelemahannya itu adalah hal-hal yang penting dalam hidup. “Jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus ujian dan mendapatkan pekerjaan?” Ini adalah tahap di mana saya harus berdebat dengannya, dan saya yakinkan bahwa saya menghargai semua jenis kualitas yang Indra tonjolkan, terutama kemampuannya untuk menjadi pribadi ramah, memikirkan orang lain sebelum diri mereka sendiri dan seterusnya. Bukan karena dia tidak mencoba atau bahkan orang tua memberi klaim bahwa sang anak itu bodoh (seperti, sayangnya, ucapan sang kepala sekolah Indra di sekolah lama).

Membangun kepercayaan diri sang anak bisa menjadi satu titik balik – berapa pun usia nya – yang penting bagi  fondasi pembelajaran khusus; yaitu mengeja dan menulis dengan lebih mudah.

My Baby Turns 7 Today

Sudah sekian lama saya tak update blog ini. Kesibukan IRL (in real life) menguras waktu. Saya tak bisa leluasa duduk termenung depan komputer. Hari ini 2 menit sebelum berganti tanggal, saya mensyukuri Indra yang telah mampu membaca lancar. Ia pun kian mampu mengetahui dan menghapal apa yang ia baca.

Alhamdulillah… semoga Indra bisa menghadapi tahun-tahun ke depan lebih mantap lagi.

Terima kasih juga untuk kawan-kawan virtual saya… you are also my hopes to brave this.

Sharing Acara di Manado: DETEKSI MASALAH PERKEMBANGAN ANAK

Acara ini menarik tapi jauh sih. Paling tidak buat siapapun yang tertarik, silakan ke Manado. Detailnya adalah sebagai berikut:

Pra-kongres Nasional VI PDSKJI

Simposium dan Workshop

DETEKSI MASALAH PERKEMBANGAN ANAK DAN PENATALAKSANAANNYA

Keterlambatan bicara, autisme, hiperaktif, kesulitan belajar, dan masalah perilaku

Sintesa Peninsula Hotel, Manado

2 November 2009

Sekretariat Pusat: Alam Segar 10 no 3 Pondok Indah, Jakarta 12310, telp. 021-70226052, 369 71365, 310 7741 ext. 107 (Tiana, Desi, Vina)

Sekretariat Daerah: Bagian Psikiatri FK Unsrat Manado, Rumah Sakit Prof. dr Kandou, Jl Raya Tanawangko, Malalayang, Manado, Telp/Fax: 0431-869 528

Contact person: dr Anita E Dundu SpKJ telp 0815 805 2825 & dr Nenny Eka Wardhani 0431-348 2274

GOOD LUCK!

Motorik Sang Anak

Setiap malam saat memandang Indra tertidur dengan posisi telungkup, saya usahakan mengelus-memijat punggungnya selama 5 menit. Saya biarkan juga ia berlari di lapangan dekat rumah bersama kawan-kawannya. Ia pun senang naik sepeda ayahnya yang cukup besar.

Beberapa bulan ini, clumsiness atau kekakuan gerakan tubuhnya lumayan hilang. Ia jarang menjatuhkan pensil atau setip saat membuat PR. Ia juga tak pernah lagi terjatuh saat berjalan atau berlari (padahal jalanannya lurus dan mulus!).

Sebulan berada di SD baru, ia pun mulai memahami arti sekolah. Setiap saya jemput, ia pasti duduk manis di ruangan sembari menggambar. Latihan menggambar juga menjadi salah satu terapi motorik yang baik selain mengasah daya hayalnya.

Indra dan Sekolah Barunya

“Bu, aku suka di sini, aku sekolah di sini ya!”

Ucapan Indra itu membuat Bu Gayatri tertawa, “Indra memang sekolah di sini.”

Saat ditanya mengapa ia menyukai sekolah barunya, Indra menyatakan bahwa kelas yang hanya berjumlah 6 orang itu nyaman dan tidak berisik. Di SD Negeri tempat Indra dahulu belajar memang cukup ramai, mengingat per kelas bisa mencapai 40 orang! Setiap jam ada murid berolahraga di lapangan, dengan suara-suara yang kerap mengganggu konsentrasi Indra saat menghadapi pelajaran di kelasnya.

Betul, saya memindahkan Indra ke sekolah baru ini. Lebih jauh, tapi masih ada yang dua kali lipat jauhnya daripada jarak rumah-sekolah saya. Informasi sekolah ini saya dapatkan dari sahabat virtual saya, Mbak Aigis, yang kebetulan memang passer-by di blog saya ini. Terima kasih, ya. Mungkin saya terlambat, tapi memang ada masa pembelajaran bagi saya, yang mungkin sebuah kemewahan, karena tak semua orang bisa tahu lebih awal tentang anaknya. Di sekolah Indra dahulu, mulai dari TK hingga SD yang lampau, tak ada yang tahu tentang kesulitan belajar (learning difficulties) yang dialami Indra; apalagi tahu tentang sekolah khusus ini. Apa saja yang diberikan, bagaimana metode belajarnya, dan bagaimana mekanisme seleksi anak murid sebelum diterima; semuanya harus saya pelajari sambil merasakan bagaimana emosi saya terayun-ayun kencang.

Jika tak ada kawan-kawan di blog ini, mungkin saya sudah menyerah pada nasib. Dan jika ada kawan-kawan lain yang belum mengetahui bahwa anaknya mengalami kesulitan belajar, ada deteksi dini terhadap anak yang mengalami kesulitan belajar di tahap awal (prasekolah). Silakan ke Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia di Kampus Salemba, Jakarta Pusat  (klik sini) atau ke Yayasan Pantara di Jl. Senopati 72, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sekali lagi, terima kasih Mbak Aigis. Terima kasih semua kawan virtual saya. It’s just the beginning…

Literacy versus Creativity

Kemarin saya bertemu dengan kepala sekolah sebuah SD swasta di bilangan Jakarta Selatan, sesaat setelah saya  berbicara dengan kepala sekolahnya Indra. Menghadapi dua kepala sekolah dengan orientasi pendidikan anak yang berbeda, saya sungguh tak habis pikir. Di SD negeri favorit ini Indra dianggap nakal hanya karena menadahkan mukanya ke langit saat hari hujan, di tengah lapangan sekolah. Di SD itu Indra dianggap trouble-maker karena ia masuk ke dalam kolam membantu kawannya yang pensilnya terjatuh di sana. Sayangnya, memang ia masih menggunakan kaos kakinya. Salahkah jika Indra impulsif karena ia anak-anak? Indra bukan orang dewasa yang mengenakan baju seragam SD. Ia memang anak kecil. For crying out loud, treat him like a kid!

Bertemu dengan Bu Lili, kepala sekolah SD swasta itu, sungguh saya seperti rasa haus yang disiram air segar. Ingin rasanya saya menangis di pelukannya untuk dapat menyalurkan rasa kesal saya terhadap sistem sekolah negeri (dan seluruh sistem pendidikan di negeri ini). Bukan sebuah kebetulan bahwa saat saya mengutarakan maksud saya memindahkan Indra ke sekolahnya, Bu Lili menyela, “Mengapa minggu ini saya menemui 3 orang tua murid dari SD Anda mau pindah ke sini ya?”

Saya terhenyak. Ach so… I am not alone.

Apakah memang seluruh pemikir pendidikan di negeri ini hanya melihat anak dalam satu dimensi, dimensi literasi? Tak adakah dimensi kreativitas? Bisa membaca, menulis, berhitung adalah segalanya. Bisa menari, menyanyi, bermain bola, tertawa… adalah tindakan edan seorang anak kecil? Kalimat “Indra adalah anak nakal!” keluar dari mulut sang kepala sekolah SD Negeri itu, tanpa mencari alasan mengapa Indra mencemplungkan kakinya ke kolam ikan.

Inilah Indonesiaku… guru dan kepala sekolah negeri hanya melihat anak-anak itu hanya dari kacamata negatif.  Berkreasi dan mengungkapkan perasaan anak adalah hal terakhir yang bisa dilakukan Indra di sekolah itu?

HE’S OUTTA THERE FOR GOOD!

Sistem Sekolah Harus Melihat Keunikan Anak, Harus!

Di satu sisi saya merasa gagal sebagai orang tua; di sisi lain saya juga tak percaya dengan sistem sekolah hari ini  yang menyamaratakan setiap kepala anak. Menonton paparan Sir Ken Robinson di TedTalks Forum 2009, saya terhenyak. Di jaman serba mudah informasi tapi sulit kompetisi, anak harus diajarkan berkreasi selain membaca-menulis-berhitung. Ia sampaikan bahwa siapapun jika punya uang bisa mencapai gelar S1. Tidak cukup S1, ia bisa melanjutkan S2. Jika merasa persaingan kian ketat, S3 bisa mendongkrak gengsi orang itu dalam masyarakat. Orang itu kemudian melupakan ia memiliki otak untuk menciptakan hal baru selain apa yang ia dapatkan turun-temurun di organisasi sekolah. Ia pun tidak berusaha menggerakkan kaki dan tangannya untuk berkreasi. Ia hanya menganggap otaknya berdiri sendiri. Itulah bedanya cara berpikir profesor di negara maju dan profesor pasif di negeri ini; karena saya mengenal beberapa yang suka korupsi dan tidak punya inovasi lain selain ilmunya untuk menggarap “proyek pemerintah”.

Analisis psikolog di LPT UI (sebuah organisasi belajar yang solid kokoh itu) menyatakan Indra cerdas di atas rata-rata, hanya kemampuan membaca-menulis-berhitung yang belum lancar. Sekolah negeri tempat Indra menuntut ilmu HANYA peduli ia tak lancar membaca, menulis dan berhitung di saat semua kawannya sudah mampu berkonsentrasi. Indra yang suka menari, menyanyi, dan loncat-loncat setiap saat dianggap bocah edan. Menganggap kreativitas adalah kegilaan yang harus dihapus?!?!?!?!?!^%#(@&!?

Kemarin saya menangis saat mendengar akhirnya jajaran guru SD memutuskan Indra tidak naik kelas. Mengapa tak naik kelas, jerit saya sekeras-kerasnya di dalam hati. Dengan segala kemampuan yang saya miliki, saya berusaha terbaik untuk dia dua tahun terakhir ini. Indra pun bukan anak pemalas. Seluruh tugas yang saya berikan memang sulit dikerjakannya di saat adiknya menganggu di ruangan, atau ada suara di luar yang membangunkan rasa penasarannya. Jika suasana belajar baik, seluruh buku bisa ia lahap, seluruh pertanyaan di atas kertas bisa ditulisnya dengan jawaban sempurna!

Saya bisa membayangkan saat ia bertanya, “Kenapa aku tak naik kelas, Bu?”

Apa yang harus saya sampaikan besok saat ia menerima rapornya?

Materi Belajar Menulis dan Membaca

Indra telah dua bulan masuk sekolah. Sepertinya saya bisa merasakan apa yang ia rasakan saat-saat pertama ia masuk sekolah, melalui gerbang sekolah tanpa ditemani orang tua (tak seperti waktu di TK). Antara rasa penasaran (matanya nanar mengobservasi setiap sudut dan setiap orang) dan ketakutan (tangannya menggenggam erat tangan saya saat ia harus melangkah sendiri melalui gerbang). Antara rasa bingung memiliki kawan lebih banyak dan rasa senang melihat lapangan yang lebih luas dari lapangan dekat rumah kami.

Saya memang telah lama tak update blog ini (baca: jurnal untuk Indra). Untuk merekap semua, here goes:

Seminggu setelah Indra masuk, saya dan suami saya menemui Ibu Guru. Kami berdua menyampaikan keadaan Indra yang lain dari anak biasa. Yang melegakan saat itu, Ibu Guru menyarankan kami tak perlu khawatir dengan alasan, “Belum ketemu klik-nya, kita tunggu saja ya.”

Selama dua bulan ini, sesungguhnya saya dan suami rajin membantu Indra membuat pekerjaan rumah. Biasanya pekerjaan rumah atau berita apapun ini ditulis atau ditempel Ibu Guru di “buku penghubung”. Sebulan berakhir, saya tak melihat progres yang signifikan dari cara membaca atau menulis Indra. Suatu hari dua minggu yang lalu saya menemui Ibu Guru, dan beliau tak banyak bicara. Ia menyuruh saya menunggu di pintu gerbang dan memanggil Indra untuk ikut masuk mengikutinya ke kelas. Indra kemudian keluar membawa secarik kertas merah muda. Sebuah brosur kursus “menangani anak tak mampu fokus”.

Saya terhenyak…

Ternyata Ibu Guru itu sudah menyerah. Saya pikir waktu telah berjalan cepat, tak akan kembali. Ah, ucapan Ibu Gurup perihal “klik” telah meninabobokan saya. Bergegas saya pulang ke rumah bersama Indra dan adiknya, dan langsung saya membuka dokumen excel baru. Dalam waktu setengah jam, alat bantu ini sudah jadi. Klik sini belajar-menulis-indra dan belajar-membaca-indra untuk alat bantu membaca dan menulis yang saya coba.

Saya memulai dari tahap menulis. Dalam 3 hari saya meminta Indra menyelesaikan 3 lembar berisi kotak suku kata mulai dari huruf A hingga Z. Ia mengerjakan dengan tekun. Semangatnya ternyata juga tinggi, karena (mungkin) ia merasa bingung menghadapi hari-hari di kelas dengan kawan-kawannya yang mampu membaca lancar. Bukti semangatnya yang tinggi ini, hari terakhir saya dan suami saya harus pergi dan meminta Indra menyelesaikan lagi 3 lembar Belajar Menulis Indra. Sepulang dari acara malam itu, Indra sudah tertidur, tapi di mejanya terletak 3 lembar yang sudah rapi dan lengkap terisi.

Saya cium dan peluk dia sampai ia terbangun dan berucap, “Aku tulis, Bu.” Lalu ia tertidur lagi. Ah…

***

Selama sebulan terakhir ini, saya konsisten mengajarnya dua jam sepulang sekolah dan dua jam sebelum tidur setiap harinya. Saya selalu menerapkan punishment dan reward dari setiap usahanya. Jika ia mulai asal-asalan (karena merasa berat, mungkin), saya lalu berikan punishment, “Ibu ambil poin kamu untuk naik busway gandeng ya?” Setiap ia benar menjawab atau menulis, saya berikan “high five” sambil tersenyum atau tertawa bersama. Ternyata acara Metro TV “Nanny 911″ itu memang banyak membantu!

***

Beberapa tips membaca:

1. Untuk membedakan ‘b’ dari ‘d’ atau ‘p’ dari ‘q’, jejerkan pada huruf “a”. Saya selalu katakan, “Arah mana perutnya: tabrakan seperti ‘ba’ atau berbaris seperti ‘da’?”.

2. Pengenalan fonetis penting, terutama saat bertemu dengan huruf mati. Huruf ‘k’ bacalah seperti [keh] atau [ekh]. Saat membaca ‘n’, ucapkan dengan menunjukkan posisi lidah menempel langit-langit atas. Saat mengucapkan huruf bilabial (b, p, m), ucapkan dengan perlahan saat bibir bawah dan atas menutup-buka.

3. Buat dahulu daftar kata-kata yang terdiri dari suku kata yang ‘terbuka’ dan mudah, terutama yang merupakan pengulangan dan erat dengan kehidupan sehari-hari, seperti ‘pipi’ atau ‘gigi’ atau ‘kuku’.

> contoh lain: to-pi, da-si, bu-ku, ta-s, se-pa-tu

4. Selanjutnya bisa memperkenalkan tubuh manusia lebih lengkap lagi; memperkenalkan kata secara asosiatif lebih efektif untuk anak yang suka menghayal jauh.

> ra-m-bu-t, a-li-s, ma-ta, te-li-ng-a, hi-du-ng,

Catatan: untuk ‘ng’, dekatkan ‘telinga’ dan ‘hidung’ dalam memberikan soal ke anak, dan sampaikan perbedaan membaca antara ‘nga’-'ngi’-'ngu’-'nge’-'ngo’ dan ‘ng’ [baca: `eng]

5. Setelah itu, pastikan daftar kosakata (per klaster) berdasarkan fokus huruf/suku kata yang dapat diurut mudah dan erat dengan kehidupan sehari-hari:

> a-bi, a-bu, a-na, a-ni, a-mi, a-pi

> i-bu, i-tu, i-na, i-ma, i-kan, i-da

> u-bi, u-li, u-mi, u-da-ng, u-a-ng, u-mu-r

> ma-ma-n, ma-in, ma-ka-n, ma-ta, ma-lu

> ca-ci-ng, ca-ca-r, ca-n-di, ca-n-ti-k, ca-n-da

> du-lu, du-du-k, du-ka, da-si, da-la-m

Catatan: pisahkan juga ‘ng’ dan ‘ny’ yang dibaca [`eng] dan [`nyeh].

6. Selalu berikan punishment jika ia lengah, tapi selalu juga berikan reward saat ia selesai membaca atau menulis. Pastikan juga suasana belajar yang tenang dan mendukung. Anak yang terganggu konsentrasinya jadi lengah membaca/menulis.

Good luck!

Belajar membaca

Belajar membaca

Ikhsan: Mama I Love You

Mules, Rasa Adil, dan Intesitas Terhadap Anak Disleksik

Akhirnya Indra masuk sekolah dasar favorit!

Sakit perut selama dua minggu intensif melatih Indra membaca-menulis untuk ikut ujian masuk salah satu sekolah dasar (SD) percontohan, saya akhirnya bisa bernafas lega. Indra diterima walaupun hasil akademisnya masih kalah dibanding hasil wawancara dan kesehatan. Di hari kedua ujian (wawancara) saya sempat mules karena melihat Indra tak bisa diam duduk; ia selalu ingin tahu dan nyelonong ke dalam kelas tempat wawancara. Ia diusir keluar dan saat disuruh duduk, kakinya sempat diangkat karena bersandar dengan teman satu TK-nya. Terlihat guru yang ‘menghalau’ ia keluar ruangan menggeleng kepala. Ah…

Perut mules tentu tak berhenti di saat ia diterima di sekolah favorit ini. Masih akan ada tantangan lebih kompleks lagi di masa depan. Menjelang liburan panjang ini, saya ditawari untuk membantu kawan di Kalimantan selama sebulan. Terus terang saya akan membawanya ke sana, untuk menggali pengalaman lain. Mungkin akan ada kecemburuan dari adik atau kakaknya jika saya hanya mengajak Indra. Ah… sebuah dilema yang harus dipikir dalam suasana tenang. Dilema antara “rasa adil untuk setiap anak” dengan “intensitas terhadap anak yang memiliki kekurangan khusus”. Mungkin saya tak sendiri.